
Sudah sangat larut saat Aro dan Oji kembali ke rumah sewaan. Tapi, pos ronda yang tadi pagi sempat Aro singgahi masih saja ramai. Ada beberapa orang kru juga yang berkumpul di sana.
"Sana dulu yuk, Ar! Nggak enak kalo kita tetiba masuk," ajak Oji dan diangguki oleh Aro.
Keduanya bergabung ke pos ronda. Seperti tadi siang, mereka sedang meracik tembakau.
Bilang kek kalau mau rokok, gue beliin deh!
Aro bicara dalam hati mengomentari kelakuan tiga orang kakek dan dua orang pemuda yang tadi pagi juga sempat berkenalan dengannya, tapi lupa siapa namanya.
"Cobain, Mas!" tawar seorang pemuda.
"Cobain, Ar. Nggak enak kalo nolak!" bisik Oji, "namanya Ega, bilang makasih!" Oji lanjut berbisik.
Dengan hati yang sebenarnya enggan, Aro akhirnya menerima lintingan papir berisi tembakau racikan itu. Ia menyulutnya seperti sedang menyulut rokok kesukaannya.
Hisapan pertama ia merasa sensasi tembakau yang amat dominan, disusul rasa aneh lain setelah hisapan kedua. Aro mulai merasakan tidak enak, tidak seperti rokok mahal yang sering ia hisap. Ingin ia buang, tapi merasa takut menyinggung Ega yang tengah melihat ke arahnya.
Setelah menghabiskan satu batang, Aro pamit istirahat lebih dulu. Ia merasa bukan hanya tubuhnya yang hari ini lelah, namun hatinya juga. Sehari tak berkabar dengan Ara nyatanya membuatnya gundah gulana.
Aro menjatuhkan diri ke atas kasur, tak lama matanya terpejam. Mulai mengarungi alam bawah sadar, melupakan salat Isya yang belum ia kerjakan. Lagi-lagi.
Sementara itu di tempat lain. Di kamar yang tak terlalu luas. Ara mendudukan diri di atas meja rias. Seharian penuh ia berjaga di klinik karena Ligar sedang ikut ke kampung calon suaminya.
Baru saja Ara menelungkupkan wajah di atas meja rias, ia teringat sesuatu.
"Hapeku!" pekiknya seraya dengan cepat merogoh ponsel di dalam tas yang masih tersampir di pundaknya.
Ara segera mengaktifkan benda pipih itu. Setelah pagi dia mengisi daya batre, Ara lupa untuk mengaktifkan kembali ponselnya sebab kegiatan di klinik yang begitu padat hari ini.
"Mas Ar, maafin aku," gumamnya saat melihat banyak sekali pesan dari Aro.
Sebuah video yang Aro kirimkan begitu menyita perhatiannya.
"Kamu kirim video apa sih, Mas?" monolog Ara seraya menuggu hasil download di ponselnya.
Setelah video berhasil didownload, Ara kaget campur haru saat melihat Aro dengan gaya khasnya yang jahil namun, selalu menghangatkan hatinya.
"Mas, kamu kenapa semanis ini, sih?" gumam Ara seraya terus menonton video yang dikirim oleh Aro.
"Astagfirullah ... Ya Rabb, ampuni hamba!" seru Ara seraya melempar ponselnya ke tengah kasur.
Ia memilih segera ke kamar mandi dan membersihkan badan.
"Mas Ar belum halal buat kamu, Ra ... belum boleh, Ra ... belum!" ucapnya mengetuk-ngetuk jidat sendiri seraya berjalan menuju kamar mandi dengan handuk tersampir di pundaknya.
Sanu dan maminya yang sedang duduk di ruang makan bergantian bertanya pada Ara saat gadis itu melewati mereka.
"Ra, kenapa?"
"Iya, Ra ... kamu kenapa?"
Ara tak peduli, ia memilih melewati kedua orang tersebut tanpa memberikan jawaban.
"Ara kenapa deh, Mi?" Sanu penasaran.
"Mami juga nggak tahu," sela Vanya.
"Galau ditinggal mas Ar kali?" tebak Sanu.
__ADS_1
"Bisa jadi, mereka 'kan dari kecil deket banget," ungkap Vanya. "Eh Miza gimana?" lanjut Vanya membuat pipi Sanu merona.
"Dia kasihin ponselnya ke aku, sering telepon juga," papar Sanu dengan suara bahagia.
"Alhamdullillah, semoga abinya cepat sadar dan bisa menerima kalian," timpal Vanya dan diangguki Sanu.
***
"Pagi ini kita ngambil set di sekitaran sini, Ar," terang sang Sutradara bernama Wisnu itu, membuat Aro yang baru saja mandi dan sedang mengeringkan rambutnya menoleh sekilas dan berkata iya.
"Ar, mau sarapan nggak? ada sego tiwul, nih!" tawar Ayuni yang sudah lengkap mengenakan pakaian muslim dengan hijab coklat muda.
Hijab coklat muda, lagi-lagi mengingatkannya pada Ara.
"Mau nggak, Ar?" tanya Ayuni memukul lengan Aro.
"Apaan tuh sego tiwul?" Aro balik bertanya.
"Ya semacam nasi, tapi berbahan dasar singkong yang udah dikeringkan atau gaplek. nah gaplek ini biasanya ditumbuk sampe jadi tepung," jelas Ayuni, sudah persis tour guide saja dia.
"Setelah jadi tepung baru dikasih air hangat dan gula jawa secukupnya," lanjut Ayuni menerangkan pengetahuannya tentang sego tiwul. "Setelah itu dicampur sambil diuleni. Pas udah jadi butiran kecil, barulah dikukus sampai nasi tiwul berwarna coklat kekuningan."
"Lo lama-lama kayak pemandu tur, Ay," tegur Aro seraya tertawa mendengarkan penjelasan Ayuni tentang sego tiwul.
"Gue serius Mahija Aro!" seru Ayuni, kesal.
"Iya, bentar gue pake deodorant dulu. Ntar gue nyusul," sahut Aro. "Bang, gue ganti dulu, ya!" lanjut Aro pamit pada Wisnu.
"Jangan lama-lama, Ar!" balas Wisnu dan diiyakan oleh Aro.
***
"Tumben lo, Bang kasih gue lawan main seasyik Ayuni," puji Aro pada Wisnu.
"Hati-hati naksir lo ke Ayuni," ledek Wisnu.
"Njiir, kagak! gue udah punya calon istri!" Aro menendang kaki Wisnu seraya berlalu meninggalkannya ke dalam kamar.
Baru ia akan memejamkan mata, suara ketukan di pintu membuatnya kembali terbangun. Dengan malas ia membuka pintu dan mendapati Ayuni di hadapannya.
"Ngapain sih ganggu orang aja?" ketus Aro membuat Ayuni menendang dengkulnya.
"Si Oji sakit, muntah-muntah. Anter gue ke Swalayan beli obat. Sekalian gue mau nyari sinyal juga," jelas Ayuni membuat Aro jadi teringat Ara.
"Ya udeh, gue pake jaket dulu. Lo ambil kunci motornya di bang Jak!" titah Aro seraya kembali menutup pintu dengan kasar tanpa memperdulikan Ayuni.
"Njiir, model begini jadi idola kaum hawa. Sakit!" umpat Ayuni seraya berlalu.
Setelah mengenakan jaket, Aro kembali keluar. Ia memutuskan untuk pergi ke warung mi ayam Bu Untari lagi.
Tiba di tempat yang dituju, Ayuni pergi ke swalayan sementara Aro langsung ke warung Bu Untari yang saat itu sedang sepi.
"Malam, Bu. Masih inget nggak sama saya?" sapa Aro hangat, pada Bu Untari. "Eh, ibu jangan pake bahasa jowo deh, pake bahasa kayak saya aja," sela Aro sebelum bu Untari bicara.
"Oalah, kamu ini, Mas. Banyak mau," ujar bu Untari dengan logat medoknya.
"Kan biar nyambung, Bu. Biar ada chemistry," goda Aro.
"Emang kita lawan main film musti ada chemistry?" sergah bu Untari membuat Aro tertawa.
__ADS_1
"Waah Ibu gaul nih bisa tahu chemistry," puji Aro yang malah mendapat lemparan serbet dari bu Untari.
"Becanda, Ibu. Saya pesan teh manis ya, Bu!" seru Aro pada bu Untari yang melenggang menuju dapur.
"Iyo, Mas. Iyo!" teriak bu Untari.
Setelah itu Aro mulai membuka ponsel dan memanggil nama My Adore pada kontaknya.
"Assalamu'alaikum calon makmum, akhirnya diangkat juga."
"Wa'alaikumsalam, Mas. Maaf ya kemarin lupa nyalain hape."
"Tapi kamu baik-baik aja, 'kan?"
"Alhamdullillah, Mas. Mas baik juga 'kan?"
"Tadi sih enggak, sekarang baru baik."
"Kenapa gitu? Mas sakit?"
"Sekarang udah baik-baik aja karena denger suara kamu."
"Mas, ih! aku serius khawatir lho!"
"Ra, aku ini harus pergi jauh cuma buat dapet sinyal. Ini aku jalan sama Ayuni, lawan mainku."
"Oh, gitu."
Terdwngar suara Ara berdecak kesal di seberang sana.
"Cuma lawan main, bukan temen. Aku udah jujur nih sama kamu. Kamu jangan mikir macem-macem!"
Hening. Ara tak menjawab. Lalu datang bu Untari menghidangkan teh manis. Aro mengucapkan terima kasih tanpa mengeluarkan suara. Bu Untari mengangguk seraya mengambil serbet yang tadi ia lempar pada Aro lalu kembali ke dapur.
"Ra, ngomong dong!"
"Iya, Mas. Aku cuma lagi mikirin aja. Lusa itu puasa, kamu di sana tanpa kak Omar apa bisa?"
"Ya ampun, Ra ... aku udah gede. Masa nggak bisa?"
"Mas harus puasa, tarawih juga!"
"Iya, masa enggak?"
Sedang asyik bicara, Ayuni datang dan segera mengajak Aro kembali ke penginapan sebab gerimis sudah mulai turun. Aro terpaksa mengakhiri panggilannya dengan Ara. Ia menghabiskan teh manis yang masih setengah. Kemudian beranjak.
Aro segera menemui bu Untari dan pamit serta berkata besok-besok akan kembali.
Benar saja prediksi Ayuni, baru saja keduanya tiba di perkampungan, hujan deras turun mengguyur bumi. Membuat orang-orang yang awalnya memenuhi pos ronda kini masuk ke dalam rumah.
Tak ketinggalan Ega beserta seorang temannya yang bernama Ardi jiga ikut masuk.
"Mas Ar, mau cobain lagi nggak tembakaunya?" tawar Ega seraya menyerahkan sebatang rokok kebangsaan Ega dan kawan-kawannya pada Aro.
"Ambil, Ar. Nggak enak ditolak. Ntar disangka sombong!" bisik Oji yang terlihat pucat.
Aro mengangguk saja, ia fikir menghabiskan sebatang saja tidak ada salahnya sebelum beranjak tidur malam ini. Setelah beberapa menit ikut bergabung dan mengobrol dengan kru. Aro seperti biasa pamit istirahat lebih dulu. Hari ini ia sedikit lega karena bisa mengobrol dengan Ara. Meski rindunya sedikutpun tak menguap, bahkan nyaris meluap-luap.
.
__ADS_1
.