
Kabar kehamilan Ara tentu menjadi kebahagiaan seluruh keluarga. Tak terkecuali Akhza, ia sangat mewanti-wanti Aro agar bisa lebih mengerti kondisi Ara di usia kehamilan yang masih muda.
"Inget, kurang-kurangin mainnya!" pesan Akhza saat malam itu berkunjung ke rumah Aro hanya untuk mengantarkan arum manis, rambut nenek sihir kalau kata Ara.
Ada banyak drama ketika harus berjuang mendapatkan arum manis itu bersama Tala yang berujung dengan pertengkaran di antara keduanya.
"Aranya yang selalu pengen duluan tahu," bisik Aro membuat Akhza memutar bola mata, kesal.
"Gi la lu!" umpat Akhza seraya cepat naik ke motor untuk segera pulang daripada terus mendengar celotehan unfaedah kembarannya itu.
Aro segera kembali ke dalam rumah setelah Akhza pergi. Ia tak menyangka jika kembarannya itu rela pergi ke Pocin demi membelikan arum manis rambut nenek yang sedang Ara idamkan.
Di kamar bersama Fenti, Ara sedang memakan arum manisnya. Ia hanya bisa makan yang manis-manis. Tak bisa makan nasi apa lagi gorengan.
"Karesel Teteh mah nungguin kamu terus," keluh Fenti yang kembali Aro minta ke rumahnya demi untuk menemani Ara.
"Teteh, aku mah wangi nggak kayak soang dan bebek Teteh. Nggak boleh gitu ke aku," omel Ara dengan mulut mengemut arum manis.
"Kamu nyusahin, aneh-aneh terus mintanya. Kumaha sih?" ketus Fenti, padahal dia sudah menganggap Ara seperti adiknya sendiri.
"Yang mau dedeknya, bukan aku." Ara mengusap perutnya yang mulai terlihat sedikit buncit di usia kehamilan 8 minggu.
"Udahlah Teteh ke klinik dulu ya, kasian Ceya sendirian." Fenti pamit setelah seharian menemani Ara yang tambah manja.
"Iya Teh nggak apa balik ke klinik aja, biar saya yang jaga tuan putri." Aro yang baru masuk ke dalam kamar ikut menyahuti perkataan Fenti.
"Tah, datang pawangna," seloroh Fenti seraya beranjak kemudian pamit pergi.
Aro yang memegangi laptop merangkak ke atas kasur dan memposisikan diri tengkurap di samping Ara yang sedang berbaring miring.
"Iih nggak suka ah bawa-bawa laptop gitu," keluh Ara seraya menutup kembali laptop yang baru Aro buka. "Jangan ngurusin kerjaan depan aku," sambung Ara memasang wajah memberengut kesal.
"Sebentar aja, ya?" pinta Aro seraya membuka kembali laptopnya. "Ayo kamu sambil ngomong, cerita seharian ngapain aja nggak ada aku. Ghibah apa sama Teh Fenti?"
Semenjak dua minggu yang lalu laptopnya ada yang mengembalikan, baru kemarin sore Aro membukanya lagi. Tak ada yang berubah. Sampai detik itu, Aro belum berhasil mengungkap siapa dan apa motif penyekapan Ara? Jika memang bukan Davina pelakunya.
"Kok diem, atau mau aku yang cerita?" usul Aro membuat Ara mengangguk.
"Mampus, masa gue harus cerita hari ini Ayuni bawa temen-temennya ke outlet," batin Aro.
Tadi siang Ayuni datang bersama lima orang teman artisnya yang juga merupakan teman lama Aro. Aro berpikir sejenak, mencari kosa kata yang pas untuk menyampaikan ceritanya
"Tadi siang ada Ayuni sama temen-temen Mas ya ke outlet?" tebak Ara seraya menggeser laptop dengan kepalanya sehingga kini posisi wajahnya tepat berada di bawah Aro.
Di mata Aro, Ara semakin terlihat cantik dengan pipinya yang tambah berisi. Wanita itu meski jarang makan nasi, tapi selalu berusaha memaksakan diri tetap mengkonsumsi karbo dalam bentuk kentang atau ubi jalar.
"Iya 'kan?" desak Ara seraya menyentil ujung hidung Aro. "Tadi Teh Fenti telepon sama Kak Omar pas Mas lagi ngobrol sama temen-temen Mas itu," lanjut Ara sembari telunjuknya menyusuri garis alis tebal milik suaminya.
Ara tertawa, "Nggak usah tegang gini mukanya." Telapak tangan lembut Ara mengusap wajah Aro. "Aku yakin kok, suami aku nggak aneh-aneh. Yakin, soalnya kalau macem-macem dia takut sama CCTV yang paling tidak bisa diragukan lagi, yaitu Allah."
"Nakal, ngajak main ini sih." Aro menyentuh sekilas wajah istrinya itu, namun tidak meneruskannya sebab hatinya masih gamang dengan misteri penyekapan Ara.
Pria itu lebih memilih menarik istrinya ke dalam pelukan dan menyuruhnya tidur, sementara dirinya masih bergelut memikirkan kejahatan yang sempat terjadi di rumahnya.
Seperti wanita hamil pada umumnya, Ara mengalami morning sickness yang penuh drama. Mulai dari aroma sabun yang akan membuatnya emosi, sabun mandi, sabun cuci piring, apa lagi detergen untuk mencuci pakaian. Menjadi musuh bagi Ara. Bahkan aroma mint dari sampo yang sering suaminya gunakan kini sudah tak menarik lagi.
Jadwal praktek kerjanya juga diubah menjadi pukul 09.00 hingga pukul 12.00 untuk pagi. Untuk sore menjadi pukul 14.00 hingga pukul 17.00. Semoga setelah melewati tri semester pertama, kondisi Ara bisa lebih baik begitu pikir Ara.
Gemericik suara air dari kamar mandi membuat Ara yang masih terlelap pagi itu akhirnya mengerjapkan mata. Ditambah suara dering ponsel Aro yang tergeletak tepat di samping kepalanya.
Ayuni calling
Ara menyipitkan mata, alisnya mengerung membaca nama yang tertera pada layar ponsel.
Ayuni calling
Ara mendesah, ada apa Ayuni menelepon suaminya? Ia tak berani menjawab panggilan itu.
Ponsel behenti berdering bersamaan dengan keluarnya Aro dari kamar mandi. Pria itu tak cepat menghampiri Ara. Memilih menuju meja rias untuk mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.
Ponsel Aro kembali berdering, Ara pura-pura tidur. Memupuk kesal dalam benak. Aro sendiri tak mendengar bahwa ponselnya berdering, atensinya teralihkan oleh suara bising dari hair dryer.
Ayuni calling
Ara geram, ia yang awalnya berbaring miring berganti menjadi tengkurap. Aro biasanya akan marah, padahal apa salahnya bila tengkurap? Kandungan masih muda, begitu pikir Ara.
__ADS_1
"Eh, Ara ... kok gitu tidurnya?" Aro segera naik ke atas tempat tidur.
Ponsel Aro masih berdering.
Ayuni calling
Aro memiringkan senyum, dia tahu apa alasan istrinya itu merajuk. Perkara panggilan dari Ayuni rupanya.
"Ra, aku jawab panggilan Ayuni, ya?"
Ara tak menjawab.
"Aku loud speaker, nih."
Ara masih tak menjawab, membuat Aro menciumi leher belakangnya dan membiarkan suara Ayuni di seberang sana berteriak memanggil namanya.
"Aro, elo denger nggak?"
"Ayuni teriak-teriak tuh," goda Aro menciumi telinga Ara.
"Aro, bang ke. Jawab gue!"
"Jawab, Mas. Kasihan," desah Ara.
Aro tersenyum menang. "Balik dulu dong kamunya, kasihan dedek."
Ara menurut, ia berbaring miring dengan mata yang masih terpejam. Malu.
"Kenapa Ayuni? lo ganggu gue aja. Lagi nanggung, nih." Aro tersenyum ke arah istrinya yang malah mencubit perut suaminya.
"Sakit dong," bisiknya pada Ara.
"Eh gi la, masih pagi!"
"Buruan ... buruan ada apa?" Aro bicara sambil menciumi ceruk leher istrinya.
"Mas, ih!" desah Ara merasa kegelian.
"Ara buka jam berapa, Ar? Gue mau bawa adek gue berobat."
"Bentar, istri gue pake baju dulu." Aro melirik Ara dengan senyuman membuat Ara memelototinya.
"Jam berapa, Sayang?" Kembali menyentuhkan wajahnya, kali ini Ara tak menolak.
Mereka berdua tak peduli dengan panggilan Ayuni yang masih berlangsung, padahal di seberang sana wanita itu sedang sibuk menenangkan seorang gadis yang sedang kesakitan.
"Mas, udah ih!" Ara menepis tangan suaminya yang hendak menelusup masuk ke balik kaosnya.
"Datang aja jam 10 bilangin," ucap Ara seraya menyapu bibirnya dengan punggung tangan, hal itu malah membuat Aro kembali menyentuhnya. Membuat bibir Ara basah.
"Jangan suka dilap, nggak sopan!" protesnya pura-pura marah membuat Ara gemas dan menciumi wajah Aro.
"Jam 10, jangan kurang jangan lebih." Aro menegaskan pada Ayuni.
"Share lock ya, Ar. Gue datang jam segitu." Ayuni kemudian mematikan panggilannya.
"Terusin yuk!" Aro kembali menjelajahi ceruk leher istrinya.
"Kamu udah mandi, loh!" Ara mengingatkan.
"Tinggal ngulang mandi," jawab Aro semakin dalam membenamkan wajahnyanpada leher Ara membuat wanita itu memejamkan mata.
Keduanya menikmati sensani gelenyar indah dalam diri yang menumbuhkan keinginan untuk menyusuri lembah indah bersamaan. Saling memberi kehangatan dalam sentuhan lembut nan membuai. Memacu detak jantung memompa lebih cepat. Deru napas yang saling memburu, ketika kembali menyatukan wajah.
"Napas, Sayang," bisik Aro semakin membuat Ara merasa sedang berada dalam lembah keindahan yang membuatnya selalu candu berada di sana. Tak ingin berakhir. Definisi dari the real surga dunia.
***
Tepat jam 10, Ayuni bersama gadis berhijab lebar yang dia katakan adalah adiknya datang. Gadis cantik yang nampak pucat meski matanya terlihat cekung dengan gurat hitam yang melingkar membingkai netranya.
"Aro ke outlet, Ra?" Ayuni celingukan mencari keberadaan Aro.
"Mau ketemu pelanggan katanya, jadi cepet-cepet berangkat." Ara tersenyum ramah seraya memandangi wajah gadis bernama Azla yang duduk di samping Ayuni yang selalu nampak cantik.
Rambut panjang Ayuni tergerai indah. Dengan memakai dress lengan panjang berwarna mustard yang sempurna membungkus tubuh rampingnya. Ayuni selalu terlihat sempurna. Tertutup, tapi masih terkesan seksi dengan gerak tubuh yang indah. Mempesona.
__ADS_1
Setelah mendengar keluhan gadis itu, Ara sedikit mengerungkan alis. Gadis itu masih berusia 18 tahun dan tak memiliki suami. Ara menyuruh Azla berbaring, ia memeriksa perut bagian bawah gadis itu.
"Sakit, Kak," keluh Azla.
Ara menggeleng, hatinya berdenyut nyeri atas apa yang dialami Azla. Ara menyarankan Ayuni untuk membawa adiknya itu ke rumah sakit atau dokter kandungan untuk USG.
"Aku nggak bisa mastiin kenapa, cuma apa Azla sempat keguguran?" tanya Ara membuat air muka Ayuni berubah khawatir.
"Aku sengaja ke sini biar nggak ada yang tahu masalah ini," aku Ayuni gugup.
"Ke rumah sakit tempat abangku kerja, aja." Ara memberi saran.
"Kasihan Azla, aku nggak bisa bantu banyak." Ara membujuk dan Ayuni setuju.
"Aku teleponin Mas Ar biar hubungin Abang Za, jadi nanti kamu sama Azla langsung ke rumah sakit."
Ara tak berani langsung menghubungi Akhza sebab suaminya pasti mengomel. Bahkan, tak ada kontak Akhza pada ponsel Ara.
Seperginya Ayuni dan adiknya, benak Ara dipenuhi tanya. Penasaran dengan apa yang sebenarnya pernah dialami gadis itu?
Saat atensinya masih tertuju pada mobil Ayuni yang mulai menghilang, samar-samar suara berita di televisi mengalihkan perhatian Ara.
"Diduga terkena serangan jantung, seorang wanita penghuni lapas ... meninggal dunia tadi malam."
"Wanita yang merupakan mantan artis berinisial RA yang ditahan sebab kasus penyalahgunaan narkoba kini sudah dibawa ke rumah duka di daerah Jaksel."
Ara membulatkan mata demi melihat wajah Rea menghiasi layar kaca. "Innallillahi wainnailaihi raji'un. Rea," guman Ara kemudian melakukan panggilan pada suaminya.
Ara tentu merasa shock, meski Rea pernah berbuat tak baik padanya. Berita meninggalnya Rea menghiasi layar kaca seharian itu.
"Rea pasti bukan dalang di balik penyekapan Ara," gumam Aro yang sempat menuding Rea atas musibah yang terjadi pada Ara.
Aro sempat menolak saat Ara mengajaknya untuk takziah, namun pada akhirnya tetap kalah. Bersama Omar juga Akhza, mereka datang ke rumah duka.
Di sana banyak pula artis lain yang datang. Wisnu dan Davina sempat terlihat di antara banyaknya para pelayat.
Seorang wanita paruh bayah yang merupakan ibu Rea, menangis meraung-raung di hadapan jenazah yang siap dikebumikan.
"Bang, jangan kebayang kejadian waktu malam takbiran, ya," goda Omar pada Akhza saat perjalanan pulang.
"Mar ... udahlah, pake diingetin. Nanti abang kepengen lagi," timpal Aro yang duduk di kursi belakang dengan Ara yang tidur pulas di pangkuannya.
"Jangan becanda mulu!" sentak Akhza.
"Pikirin siapa dalang di balik penyekapan Ara. Jangan sampai kecolongan lagi. Kalau bukan Davina, terus Rea sekarang meninggal, kalian curiga ke siapa lagi?" tegas Akhza membuat Aro kembali gusar.
Sedangkan Omar mulai tak enak hati karena pasti jadi orang yang paling direpotkan.
Aro menatap wajah istrinya yang terlelap, meski Ara sudah ikhlas dengan kejadian itu diam-diam Aro tetap mencari tahu siapa dalangnya.
Semakin hari mual muntah Ara mulai berkurang meski tak sepenuhnya hilang. Wanita itu kini mulai memiliki keinginan yang kadang membuat suaminya geleng-geleng.
"Ya udah kalau kamu nggak mau aku bisa oergi sama Teh Fenti," rengek Ara saat Aro menolaknya membonceng wanita itu keliling kebun raya dengan motor.
"Udah turutin aja," bisik Fenti saat itu.
Keinginan Ara tak sampai situ, hari-hari berikutnya Ara malah meminta jalan-jalan menggunakan motor di malam hari.
"Aku mau makan martabak air mancur," rengek Ara tapi hanya dua potong yang ia makan.
"Pukisnya sekarang gak enak, kamu aja yang makan." Menyuapkan pukis bekas gigitannya ke dalam mulut Aro.
"Tiba-tiba aku ngeri ih lihat kepitingnya. Aku liatin kamu aja deh," kilah Ara sambil menopang dagu hanya memperhatikan Aro.
Omar dan Fenti tertawa puas saat melihat Aro menghabiskan kepiting itu sendirian.
"Teteh juga udah kenyang," sanggah Fenti saat Aro menawarinya
"Gue alergi kepiting," sahut Omar ketika mata Aro mendelik padanya.
Penyelidikan Aro terhadap kasus penyekapan itu jadi terbengkalai akibat mengurusi keinginan Ara yang menyita waktunya. Omar sendiri sampai lupa karena sendirian mengurusi outlet. Akhza yang mulai sibuk dengan study dan oekerjaannya juga tak lagi banyak mengingatkan Aro.
Ditambah kandungan Ara yang sudah memasuki bulan ke-4, membuat Aro lebih fokus menyiapkan acara syukuran empat bulanan ketimbang menyelidiki pelaku kejahatan terhadap Ara yang seolah tiada titik terang. Terlebih tidak ada pula tanda-tanda kejahatan yang akan menerpa kembali, Aro tenang-tenang saja.
.
__ADS_1
.
.