Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Mahija Aro yang Buruk?


__ADS_3

Ramadhan adalah waktu yang selalu dinantikan oleh banyak umat muslim di bumi. Tak terkecuali Ara. Gadis manis berkulit putih itu sedang menuliskan beberapa menu bukaan puasa yang akan dia buat selama sebulan penuh. Ia biasanya akan membuat menu takjil yang berbeda tiap hari dalam porsi yang banyak. Tak hanya untuk dimakan sendiri bersama keluarga, Ara biasanya akan membagikannya pada tetangga dan orang-orang yang membutuhkan.


Ara duduk menghadap meja rias menarikan pena di atas kertas putih pada buku diarynya. Buku diary yang sudah beberapa waktu ini jarang ia sentuh.


Daftar menu bukaan.



Kolak pisang (kesukaan aku, jangan pakai santan)


Cilok kacang (kesukaan Mahija Aro, cepat pulang, Mas)


Pisang, coklat, keju (kesukaan Mahija Atar)


Bubur kacang hijau (resep Bunda)


Kolak biji salak (inget uti)


Pisang coklat lumer (kesukaan ammah Nadia)


Bakwan udang (ini kesukaan aku juga)


Kue pukis (kesukaan Ara banget hehehe)


Risol sayur dan daging (kalo pake mayo takut meleleh)


Klepon (ini resep dari uyut)


Batagor (resep uti juaranya)


Siomay (dapet resep dari bunda Rain)


Donat kentang (Mami juaranya)


Es Dawet (Aku suka kuahnya doang)


Puding ceplok telur (kesukaan ayah)


Martabak manis (kesukaan mama Ayesha)


Cimol (Kesukaan bang Rud)


Puding vla susu (Kesukaan Mahija Ahkza)


Roti goreng (Makanan aneh, dibuat dadakan pas kecil bareng Atar. Tapi enak hehe)


Roti Unyil (minta resep ke teh Ida hehe)



Baru sampai angka 20 ia menuliskan daftar menu yang akan dibuat, Vanya sudah datang menghampirinya. Membuatnya menghentikan kegiatannya.


"Neng, dagingnya mau dimasak apa?" tanya wanita berhijab hitam itu seraya berdiri di belakang Ara.


Pandangan keduanya bertemu di cermin.


"Iih kamu pipinya kok sekarang ada isinya sih, Neng?" Vanya mencubit pipi kiri dan kanan Ara bergantian.


"Iya nih, aku makan mulu deh. Gendut ya, Mi?" Ara menyelisik wajahnya sendiri yang terpantul lewat cermin.


"Ini tuh cantik, jadi kelihatan lebih segar," puji Vanya membungkukan badannya dan sekilas mencium pipi Ara.


"Iya, kata mas Ar aku harus banyak makan. Soalnya aku nanti harus ...."


Ara menghentikan kalimatnya. Bisa-bisanya dia mau menceritakan hal itu pada maminya.

__ADS_1


"Nanti harus apa?" tanya Vanya penasaran.


Ara diam, tidak mungkin dia menceritakan hal memalukan itu.


"Harus apa, Ra?" desak Vanya.


Karena kamu harus melahirkan banyak anak untukku


Kalimat Aro seakan kembali berbisik di indra pendengarannya.


"Kamu mikirin mas Ar? rindu sama mas Ar?" cecar Vanya membuat Ara menggeleng.


"Yakin nggak rindu?" Vanya kembali mendesak.


"Bagiku rindu pada salah satu hamba-Nya adalah menyengaja buang waktu. Dia belum halal bagiku, aku nggak berani merindu," ungkap Ara seraya beranjak dan berdiri menghadap pada maminya.


Ia letakan kedua tangan di bahu Vanya. Ditepuknya pundak itu beberapa kali dan berkata, "Tolong, do'akan agar aku nggak salah langkah. Tolong pinta pada Rabb agar memelihara Salasika Arabella ini dari jerat cinta semu, ya Mi."


Vanya mengangguk, "Tapi ini bukan berarti kamu nggak mencintai mas Ar 'kan?"


Aku bahkan sudah menaruh rasa padanya sejak masih mengenakan seragam putih biru.


"Aku nggak mau terlalu mengumbar kata cinta, aku sama mas Ar beda. Biar kami menunjukan rasa dengan cara yang tak sama, tapi Insya Allah kami satu tujuan. Sama-sama mengharap cinta yang diridhoi oleh Allah," papar Ara panjang lebar.


Vanya kemudian memeluk gadis yang kini memang memiliki postur tubuh sedikit berisi tersebut. Anak yang dulu sempat ingin ia pangkas nafasnya. Segumpal darah yang pernah ia racuni untuk keluar dari perutnya. Seonggok daging yang sempat hampir disayat pisau bedah. Kini, ia tumbuh menjelma jadi gadis yang tak hanya cantik rupa, namun juga cantik hatinya.


Ara melerai pelukannya sebab dering ponsel yang ia simpan di meja rias menarik perhatiannya. Terpampang nama Aro saat Ara melihat layar ponselnya. Ara segera menjawab panggilan itu.


"Assalamu'alaikum, Mas."


"Wa'alaikumsalam, Ra. Lagi apa? udah sarapan?"


"Barusan lagi ngobrol sama mami."


Ara melirik maminya yang melambaikan tangan dan pergi meninggalkan kamar Ara. Ara balas melambai dan tersenyum.


"Rindunya sama Allah, Mas. Jangan sama aku terus."


"Tapi kamu ngangenin."


"Ungkapan cinta kalau terlalu diumbar lama-lama jadi hambar."


"Kalau aku enggak dong, hidup kamu justru bakal hambar kalau nggak dapet ungkapan cinta dari aku."


Ara tersenyum, lelaki di seberang sana itu memang selalu bisa mendebarkan jantungnya. Membuatnya melambung, tanpa mengizinkannya kembali.


"Udahlah jangan gombal mulu, besok puasa pertama. Malam ini tarawihnya jangan sampai terlewat."


"Siap calon makmum. Tarawih pertama 'kan pahalanya sama dengan menjadikan kita sebagai makhluk yang baru saja terlahir, dosa kita keluar semua dari tubuh. Aku juga mau dong kayak gitu."


"Syukurlah kalau Mas Ar tahu."


"Aku memang bukan orang saleh, tapi demi mendampingimu aku akan belajar untuk itu."


"Aku juga bukan wanita soleha, Mas. Kita masih harus sama-sama belajar."


"Makanya kita harus bergandengan untuk menyamakan langkah. Sebab kamu adalah penuntun arah."


Ara berdecak kesal, kenapa mulut calon suaminya itu sangatlah mudah berucap manis. Seperti tak pernah habis stok kata-kata dalam otaknya.


"Udah ah, Mas! lagian ini aku mau masak. Mas, jangan lupa salat ya!"


Setelah Ara memutus panggilan dan mengucap salam, Aro yang baru saja mandi itu kembali ke kamarnya untuk segera berpakaian. Bisa-bisanya ia menelpon Ara dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan haduk sebatas pinggang.


Jauh dari keluarga di hari pertama Ramadhan bukan hal baru lagi baginya. Bahkan beberapa tahun yang lalu ia sempat merayakan idul fitri di negeri orang saat menjalankan syuting.

__ADS_1


Kali ini semua terasa beda, dalam hati kecil ingin merayakan Ramadhan di rumah dengan keluarga, dengan Ara tentunya. Tapi, kondisinya lain. Ia terlanjur sudah dari jauh hari menandatangani kontrak projek kali ini.


Aro keluar dari kamarnya hanya mengenakan celana pendek dan kaos hitam. Menurut Wisnu, Sang Sutradara, syuting hari ini akan dilaksanakan setelah dhuhur nanti.


Merasa lapar, Aro menanyakan sarapan pada kru yang lain. Mereka bilang sarapan berupa sego tiwul (lagi), sudah habis.


Aro melihat beberapa piring kotor dengan noda sisa-sisa lauk pauk berserakan di meja. Nampak di sana juga terdapat beberapa kru dan juga Oji sedang berkumpul mengelilingi meja dengan asap rokok mengepul.


Aro sebenarnya tidak terlalu suka dekat dengan mereka, yang Aro pikir mulutnya seperti lambe murah, lain depan lain belakang. Tak jarang saat berkumpul bersama, mereka sering membicarakan keburukan salah satu teman yang tidak ikut berkumpul. Hal itu cukup menjelaskan bagaimana sifar mereka. Penjilat. Pecundang, Atau apalah itu.


Aro mengacuhkan ajakan Oji yang meneriakinya untuk bergabung. Ia memilih menuju ke halaman belakang rumah karena tertarik dengan aroma harum masakan yang menurutnya sangat membelai indra penciumannya.


Aroma kuah sayur santan yang kuat, entah karena perutnya yang lapar atau memang hidungnya yang peka? Tiba di halaman belakang, ia melihat Erna, pemilik rumah yang ia dan teman-temannya sewa, sedang duduk menghadap tungku yang diatasnya terdapat kuali besar.


"Assalamu'alaikum, Mbak Er!" sapa Aro yang langsung berdiri di samping Erna.


"Wa'alaikumsalam, Mas," jawab Erna setengah kaget, badannya hampir terjungkal ke belakang jika reflek kakinya tidak bagus.


"Hati-hati, Mbak!" tegur Aro merasa bersalah karena mengagetkan Erna.


"Ada apa kemari, Mas?" masih dengan suasana hati yang kaget Erna bertanya.


"Saya lagi laper, Mbak. Terus tadi kayak nyium bau masakan enak. Ternyata ini biangnya," ungkap Aro menunjuk dengan dagunya pada kuali besar di agas tungku.


"Ini sayur nangka muda, semacam gudeg kalau di Jogja bedanya ini gak semerah dan semanis gudeg Jogja," terang Erna membuat Aro menelan salivanya. Ia benar-benar lapar.


"Udah boleh dimakan?" selidik Aro. Ketahuilah, selain percaya diri, kadang jika lapar Aro juga bisa bertindak tidak tahu malu.


"Boleh Mas, boleh. Kebetulan ketupatnya juga sudah ada yang matang. Ayam goreng juga ada, Mas mau?" tawar Erna yang tentu saja disambut anggukan mantap oleh Aro.


Tak butuh waktu lama, piring berisi sayur nangka, ketupat dan ayam goreng telah berada di tangan Aro. Sekejap pula pria pemilik tubuh menjukang tinggi itu menghabiskan hidangannga.


"Mas suka masakan apa saja?" tanga Erna yang diam-diam memperhatikan gerak-gerik artis tidak tahu malu itu.


"Apa aja saya suka asal nggak bikin sakit perut dan ...."


"Dan apa?" desak Erna saat Aro menggantung kalimatnya.


"Dan nggak bikin sakit hati, Mbak," lanjut Aro cepat dengan gerakan kepala dimiringkan kemudian ia pergi meninggalkan Erna dan berteriak mengatakan terima kasih untuk sarapannya.


***


Suasana taraweh hari pertama selalu ramai, halaman masjid sampai penuh terisi. Tahu ini adalah tahun pertama bagi Vanya menjalankan puasa dan taraweh tentunya.


Ini juga jadi tahun pertama bagi Fadan menjalankan puasa berjauhan dengan Yati, ibunya. Meski begitu, bocah itu tetap merasa bahagia sebab ada Atar yang sangat menyayanginya.


Sanu juga merasakan suasana Ramadhan yang lain, meski jauh dari keluarganya, ia tetap merasa utuh karena kebaikan Ara dan juga keluarganya, yang semoga akan benar-benar menjadi keluarganya juga.


Ara lain, ia merasakan hati yang gundah jauh di dasar sana. Perasaannya selalu tak enak sejak pertama kepergian Aro tanpa Omar. Magrib tadi dirinya sempat berbalas pesan dengan Omar. Ara menyampaikan kekhawatirannya, namun menurut pemaparan Omar, Aro pasti bisa baik-baik saja sebab ada Oji yang akan membantu Aro.


Keterangan Omar tidak serta merta membuat hatinya tenang. Selepas tarawih, setelah salat witir, Ara kembali bersujud. Secara khusus menyebut nama Aro dalam do'anya.


Ya Rabb, lancarkan segala urusan Mahija Aro. Bila dia memang yang terbaik untukku, jangan berikan rintangan bagi kami untuk menuju jalan halal. Kuatkan hatinya, condongkan hanya pada hal-hal kebaikan hingga waktu yang kami tentukan tiba.


Sementara jauh di sana, Aro benar-benaer menepati janjinya pada Ara untuk tarawih. Penampilannya mengenakan sarung, koko serta peci putih sempat menjadi bulanan kru tak terkecuali Ayuni, gadis itu bahkan sempat mengambil foto Aro saat berwudhu di Masjid. Penampakan yang langka, begitu ucap Ayuni.


Aro selama ini memang menutup rapat identitas keluarga besarnya. Mereka tak mengetahui betapa religiusnya keluarga besar Aro. Saat Omar tanya kenapa dia melakukan hal itu, dengan santai Aro menjawab Biar hanya keburukan gue yang mereka tahu, supaya pas gue berbuat salah mereka udah nggak aneh lagi. Manusia tuh kadang rese, sejuta kali kita buat kebaikan, tapi pas bikin salah sekali aja, hilang sudah kebaikan itu. So, biar aja mereka kenal gue sebaga Mahija Aro yang buruk.


.


.


.


Minal aidzin walfaidzin semuanya.

__ADS_1


Terima kasih untuk semua dukungannya.


__ADS_2