Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Peluruh Resah


__ADS_3

Aro terus saja menyalah-nyalahkan Omar hingga mereka tiba di rumah. Ia benar-benar tak habis pikir, mengapa dalam project kali ini sampai kecolongan tentang lawan mainnya.


"Tahu gini, dari awal gue nggak ambil film ini," keluh Aro begitu sampai di rumahnya.


Omar tak berani menimpali, ia lebih berinisiatif menyulut rokok dan memberikannya pada Aro. Ia tahu, artisnya itu jika marah hanya sebentar. Seperti petasan cabe, begitu tersulut langsung meledak-ledak. Hanya tak lama, nanti akan kembali diam.


Aro dengan senang hati menerima uluran rokok dari Omar. Tak hanya rokok, Omar juga mengambilkan minuman kaleng bersoda dari dalam lemari pendingin untuk Aro. Ia sengaja tempelkan terlebih dahulu kaleng itu pada pipi Aro, berharap si petasan cabe itu segera damai dan diam. Perkiraannya salah, Aro malah menangkis tangannya hingga membuat kaleng itu terlempar dan tentu saja menumpahkan sebagian isinya. Mengotori lantai dengan warna merah berbusanya.


Omar segera berlari ke dapur. Mengambil kain pel dan langsung membersihkan cairan berwarna merah tersebut. Ia sampai sedikit ketakutan, biasanya Aro tak seperti ini. Dia memang seperti petasan cabe, tapi tidak sekasar ini juga.


Aro menggasak kasar surainya, seraya berkali-kali memukuli kepalanya sendiri. Pikirannya benar-benar kacau. Dia meminta Ara menjauhi Akhza, tapi dirinya sendiri justru akan berdekatan dengan Rea, mantan kekasihnya.


Semua keluarganya tahu siapa Rea, termasuk Ara. Aro tak ingin membuat Ara salah paham. Ia ingin menjelaskan terlebih dulu pada Ara, tapi merasa gengsi sendiri. Bagaimana jika Ara besar kepala? begitu pikirnya.


Omar yang sudah selesai dengan kegiatannya, melirik wajah Aro. Ia menangkap kerisauan di sana. Omar melirik jam yang melingkar pada pergelangan tangannya. Ia memutuskan untuk menghubungi seseorang, mungkin bisa membantu meredakan kegundahan hati Aro.


***


Kamar baru sangat terasa asing bagi Ara. Bukan bentuknya yang kecil dan sangat sederhana, melainkan kehampaan yang tercipta di sana. Langit-langit nampak menguning, cat dinding yang banyak mengelupas di sana-sini. Bahkan ruangan itu tak memiliki kamar mandi khusus. Tak seperti kamarnya di rumah Bumi yang besar dan mewah.


Setengah terkantuk Ara menyelesaikan bacaan surah Al-kahfinya. Ia segera beranjak dari atas sajadah dan berjalan ke arah meja kecil di samping tempat tidurnya untuk menaruh mushaf. Matanya melirik baner yang masih tergeletak di lantai sedari siang, setelah tadi ia berbicara dengan Akhza. Ara tak berniat memindahkannya, ia memilih melepas mukena lalu melipatnya dan menggulungnya bersama sajadah. Setelah itu ia taruh di ujung tempat tidur, agar tak susah lagi nanti ketika akan shalat malam.


Baru akan merebahkan diri, ponsel yang masih ia taruh di tas kecil yang digantung di belakang pintu berdering, tanda ada panggilan masuk.


Setengah malas ia berjalan ke arah pintu, mendengus kecil sebab kesal siapa yang berani mengganggunya malam-malam begini?


"Ka Omar?" bertanya pada diri sendiri seraya langsung menjawab panggilan itu.


"Assallamu'alaikum, kak ...."


"Waalaikum salam, Bu Bidan. Lagi apa?"

__ADS_1


"Maunya lagi tidur, tapi ini ada pasien yang mau lahiran. Udah berapa menit sekali kerasanya, Bu?"


"Ara, lo kira gue emak-emak!"


Ara tertawa mendengar respon Omar, kantuknya tiba-tiba menguap. Ia memilih duduk bersila di tengah tempat tidur seraya memeluk guling.


"Kok belum tidur? ada siapa aja di rumah?"


"Mau tidur ada kak Omar telepon, jadi keganggu deh. Ngapain nanya ada siapa, mau sensus penduduk?"


"Aelah, tinggal dijawab doang, Ra. Ada siapa aja?"


"Nggak ada siapa-siapa, aku aja sama mami. Bunda sama yang lain udah pulang dari sore."


"Kalau abang?"


"Abang tadi siang nggak lama setelah mas Ar pergi, ikut pergi juga. Katanya balik ke rumah jidda."


"Abang udah balik, ngerti nggak sih?"


Bumi menyalak, sudah dibuat kesal karena tidurnya terganggu. Kini ditambah mulut bawel Omar yang bertanya berkali-kali akan hal yang sama.


"Udah, ya kak. Aku ngantuk banget."


"Ya udah, have a nice dream beauty. Sweet dream."


Setelah panggilan diputus, Ara merebahkan diri. Ia sebenarnya ingin bertanya tentang Aro pada Omar, namun urung sebab merasa untuk apa bertanya?


Ara membiarkan begitu saja ponselnya lepas dari gengamannya. Rasa kantuk kembali menyerang. Matanya perlahan tertutup, mengajak diri untuk segera larut merajut mimpi. Dihantar iringan do'a dan bibir yang masih lirih mengucap kallam Allah, Ara menyudahi harinya yang sangat melelahkan.


***

__ADS_1


"Puas lo!" sentak Omar pada Aro yang sedang tersenyum.


"Puas apa?" Aro pura-pura tak tahu maksud Omar.


"Abang lo nggak di sana, lo denger sendiri kan Upil lo bilang apa barusan?" kali ini Omar sampai menoyor kepala Aro, membuat rambut depannya menutupi mata.


Aro tak menjawab, ketakutannya akan Ara yang didekati Akhza tiba-tiba menguap. Ia merasakan kelegaan dalam hatinya, merasa tenang ternyata prasangka yang dipupuknya sedari tadi tidak ada benarnya.


Setelah itu Aro segera berkemas, ia memasukan beberapa potong pakaian saja. Untuk kostum kebutuhan syuting biasanya disediakan, meski ia sebenarnya lebih nyaman memakai miliknya sendiri.


Bibirnya tak henti mengulum senyum, dulu saja saat bersama Rea hatinya tak sebahagia ini. Kali ini, Pada Ara rasanya lain. Perasaannya seperti terus berkembang setiap waktu tanpa tahu kapan dimulainya. Sulit dijelaskan oleh kalimat, namun sangat indah memenuhi ruang hatinya.


Aro tak sengaja menyentuh sajadah dan kain yang terlipat jadi satu di lemari paling bawah. Sudah lama rasanya ia tak menggunakan kedua benda yang selalu diwanti-wanti bunda agar ia bawa kemanapun pergi. Ragu-ragu ia masukan ke dalam koper kedua benda tersebut.


Aro memang salat, tapi selalu ala kadarnya. Hanya melakukan ibadah yang justru menjadi tihang agama itu sesempatnya saja. Entah sedari kapan dirinya menjauh dari Sang Pencipta, ia hanya berfikir rezekinya saja mengalir deras bahkan meluap, itu artinya Allah masih sayang bukan?


Setelah memastikan segala kebutuhannya sudah masuk ke dalam koper, Aro meletakannya di dekat pintu. Di atas koper ia taruh masker, kaca mata serta topi agar esok pagi tak repot lagi mencari.


Waktu sudah menunjukan pukul 01.30, Omar bahkan sudah terlelap sedari tadi. Tubuh gempalnya menguasai tempat tidur Aro, membuat sang pemilik terpaksa tidur di sofa ruang tamu.


Sebelum benar-benar terlelap, Aro membuka ponselnya. Mencari galeri tempatnya menyimpan foto. Ia ingat, masih menyimpan foto masa-masa kecil bersama Ara. Ara yang selalu ceria, semua foto menunjukan dirinya sedang tersenyum.


"Jahat banget ya aku dulu sama kamu, Ra. Secantik ini aku sebut Upil?" gumamnya saat melihat foto Ara di masa sekarang yang sedang saling merangkul dan menempelkan pipi bersama bundanya.


Aro tertidur dengan ponsel masih dalam genggamannya. Ia lupa satu hal, isyanya terlewat.


.


.


Salat kita jangan sampai terlewat ya kak!

__ADS_1


__ADS_2