Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Aku, Mau


__ADS_3

Ara menggeleng, ia tak peduli dengan perkataan Aro. Masih kesal sebab Aro membohonginya perihal bunda yang sakit. Ara mengambil mukena dan sajadah dalam lemari, ia segera mengenakannya dan membentangkan sajadah ke arah kiblat.


"Mas, keluar gih!" titahnya pada Aro yang sedang tengkurap, kedua tangannya menopang dagu. Tak berkedip memperhatikan Ara dengan seulas senyum tipis di bibirnya yang tetap merah walau seorang perokok.


"Nggak mau!" sahutnya tanpa mengalihkan pandangan.


"Aku mau salat," ujar Ara seraya merapikan kembali letak mukena pada kepalanya, "Masnya jangan liatin aku," lanjutnya seraya mengibaskan atasan mukena ke wajah Aro.


Aro tertawa, ia merubah posisinya jadi berbaring miring membelakangi Ara. "Doakan aku ya, Ra. Minta sama Allah, mudahkan langkah kita untuk menjadi kekasih halal."


Ara membulatkan mata mendengar penuturan Aro. Dadanya berdegup kencang. Belum sempat merapikan hatinya yang tadi berantakan, kini Aro kembali membuatnya lebih parah.


"Ingat Ra, namaku Assyam Mahija Aro. Aku mencintai Salasika Arabella," lanjut Aro tanpa menoleh, malah erat memeluk guling dan memejamkan mata.


Ara menggeleng seraya memegangi dadanya. Berkali-kali membuang nafas lalu menghirupnya kembali. Lututnya terasa lemas, hatinya mencelos. Tulang belulang rasanya lepas semua dari tubuh.


Ara beristighfar, ia usap lembut wajahnya dengan kedua tangan. Mulai membaca Bissmillah dan mengawali salatnya


***


Selesai salat subuh, Ara pamit pada bundanya, ia harus segera pulang sebab akan mengantar Fadan sekolah. Baru akan keluar dari pintu, hijab bagian belakangnya ditarik seseorang.


"Ra, kok Mas nggak diajak sih? Mas juga kan mau ikut nganter Fadan sekolah."


Suaranya tak asing bagi Ara, gadis yang mengenakan hijab berwarna mustard itu memejamkan mata dan membuang nafas perlahan. Dia melipat bibirnya kedalam kemudian berdecak pelan.


"Mas, kamu emang nggak ada kerjaan?" tanya Ara seraya berbalik.


Dari penampilannya, Aro sepertinya habis mandi. Kesegaran aroma mint menguar, membelai indra penciuman Ara. Tadi saat adzan subuh Ara memaksanya untuk pergi dari kamarnya, dan tumben sekali pria itu menurut.


"Aku mau promo ke CCM jam 9, tapi ada yang mau aku bicarain dulu ke kamu!" tegas Aro seraya menarik pergelangan tangan Ara.


Memaksa Ara mengikuti langkahnya menuju halaman belakang rumah. Ara berusaha menyingkirkan tangan Aro, namun, seperti biasa, dia gagal. Aro menghentikan langkahnya di depan keran yang dulu biasa digunakan mereka untuk mencuci sepatu.


"Ingat tempat ini, nggak?" tanya Aro dengan senyum manis.


"Tempat Mas menyiksaku, maksa aku buat cuciin sepatu Mas," sahut Ara cepat seraya menepis tangan Aro dan kali ini berhasil.


"Bukan tempat kamu mulai mencintaiku?" tebak Aro membuat pipi Ara merona. "Iya juga nggak apa-apa, Ra," lanjutnya seraya memiringkan kepala.


Ara tak menjawab, ia malah memalingkan wajah agar tak bersitatap dengan Aro.


"Ra, aku serius ngajak kamu nikah," ungkap Aro


"Jangan becanda, Mas!" sanggah Ara.


"Harus dengan apa aku buktiin keseriusanku, Ra?" tanya Aro, putus asa terpancar dari matanya yang menatap sayu pada Ara.


Ara menggeleng, "Aku nggak tahu, Mas."


Aro menyentuh bahu Ara, namun Ara segera menggedigan bahunya. "Mas, jangan suka seenaknya, deh!"


"Maaf, Ra. Tapi, aku bener-bener serius," beber Aro penuh keyakinan.


"Aku nggak bisa segampang itu percaya, Mas!" sela Ara membuat Aro menggeram frustasi. "Aku pamit, Mas nggak usah mikirin Fadan, biar aku yang antar dia. Mas selesaikan kerjaan hari ini. Baru kita bicara lagi," sambung Ara seraya melangkah, namun berhenti kembali.


"Assalamu'alaikum, Mas. Semoga diberi kemudahan buat acara hari ini. Hati-hati, jangan lupa salat," pesan Ara kemudian benar-benar meninggalkan Aro dalam kegamangan hati yang tak kunjung redam.


"Ra, aku harus gimana biar kamu percaya?" gumam Aro memandangi kepergian sang pujaan hati yang berlari-lari kecil


***


Setelah mengantar Fadan ke sekolah, Ara bergegas kembali pulang. Ia hari ini akan membawa Vanya bertemu dengan seorang Ustaz yang akan membimbing Vanya masuk Islam. Bumi baru saja menelepon tidak bisa ikut mengantar sebab ada sedikit kendala di Kafe.


Begitu sampai di rumah, Vanya yang hari itu mengenakan balutan pakaian muslim sudah menunggunya. Tak butuh waktu lama lagi, mereka berangkat menuju masjid di mana hari ini ada pengajian yang diadakan di sana. Ara sudah membuat janji dengan Sang Ustaz. Tentu saja atas bantuan bundanya.


Hanya menumpang angkot selama 10 menit mereka sudah sampai di Masjid yang dituju. Di sana, para jamaah baru saja selesai menggelar pengajian. Sesuai dengan waktu yang dijanjikan, Ara dan Vanya masuk ke dalam masjid meski malu karena merasa ditonton oleh jamaah.


"Assalamu'alaikum." Ara mengucap salam.


Sang Ustaz menyambut keduanya dengan ramah dan langsung memperkenalkan Ara juga Vanya pada jamaah. Tak lupa beliau juga memberitahukan maksud kedatangan Ara dan Vanya.


"Namanya siapa, Bu?" tanya Sang Ustaz yang memakai sorban hijau tua, wajahnya terlihat teduh dengan suaranya yang lembut saat bicara.

__ADS_1


"Vanya, Pak Ustaz," sahut Vanya.


"Saudara Vanya asli agama apa?"


"Kristen Protestan."


"Sudah yakin mau masuk agama Islam?" tanya Sang Ustaz.


"Iga, saya sudah yakin," jawab Vanya, mengangguk mantap.


"Kalau begitu, ikuti saya mengucap dua kalimah Syahadat!" seru Sang Ustaz, serius.


Kemudian Ustaz tersebut membimbing Vanya membaca dua kalimat Syahadat lengkap dengan artinya. Vanya yang sebenarnya sudah hafal, tidak mengalami kesulitan saat melafalkannya.


"Alhamdullillah, semoga istiqomah ya, Bu Vanya," harap Sang Ustaz.


"Alhamdullillah, terima kasih Pak Ustaz," balas Vanya dengan mata berkaca-kaca.


Ara di sampingnya sudah menangis bahagia, ia kini tidak lagi merasa bingung dengan pertanyaannya sendiri tentang kelak harus dengan cara apa mendo'akan Vanya saat dirinya tiada.


"Sekarang Bu Vanya sudah tidak punya dosa, silahkan buka lembaran baru. Banyak-banyak melakukan ibadah dan kebaikan sebagaimana anjuran agama Islam," pesan Sang Ustaz membuat Vanya mengangguk.


"Nah, dido'akan juga ya oleh para Ibu soleha sekalian agar Ibu Vanya ini dapat istiqomah menjadi seorang muslimah," ujar Sang Ustaz pada para jamaah dan serentak diaamiinkan oleh mereka.


Setelah semua dirasa cukup, sang Ustaz memberikan beberapa wejangan pada Vanya. Ara dan maminya yang kini sudah menganut agama Islam pamit dan segera pulang karena Ara harus bekerja.


***


Selama di klinik, Ara tak lepas beberapa jam sekali menelpon Vanya. Menanyakan keadaan Sanu dan juga Fadan. Dari maminya itu Ara tahu, keduanya baik-baik saja.


Klinik hari itu sepi. Ditambah Bidan Army juga ada acara, membuat wanita tersebut menyuruh Ara pulang saja saat jam baru menunjukan pukul 17.00.


Dalam hati Ara juga merasa lega. Ia rasanya ingin cepat-cepat pulang dan merebahkan tubuhnya di kasur. Punggungnya sudah terasa sakit. Bayangan kasur yang nyaman sudah melambai-lambai di pikirannya.


***


Tiba di rumah, Ara dikejutkan oleh kehadiran Laut dan Ayesha. Bukan apa, ini kali pertama mereka berkunjung ke kediaman Ara.


"Bu Bidan ada acara, jadi tutupnya cepet," jawab Ara seraya mencium tangan Vanya.


Ara juga menemui Laut dan Ayesha, mereka berbincang di ruang tengah.


"Kamu heran ya kenapa Papa sama Mama ke sini?" tanya Vanya menangkap kerisauan di wajah Ara.


"Iya, aku jadi kaget," aku Ara tertawa sumbang.


"Mending sekarang kamu mandi terus istirahat dulu, ada waktu sampai magrib. Nanti baru Mama kasih tahu kedatangan Mama sama Papa," usul Ayesha semakin membuat Ara penasaran.


Ara berusaha menepis prasangka buruk, ia menurut saja pada ucapan Ayesha. Ara mandi kemudian merebahkan tubuhnya sejenak di kamar. Sanu juga menemaninya. Wanita itu tak mengenakan pakaian minim lagi, karena Ara memang tak punya baju seperti itu.


Ara tak bisa memejamkan mata, ia hanya dapat berbaring melemaskan otot-ototnya.


"Sanu bisa ngaji 'kan?" tanya Ara teringat sesuatu.


"Bisa, kenapa emangnya, Ra?" Sanu balik bertanya.


"Banyakin ngaji surah Yusuf sama Maryam ya, San," pesan Ara seraya memiringkan tubuh menghadap Sanu, "rajin baca sholawat juga," tambahnya seraya mengusap perut Sanu.


"Iya, Ra ... Makasih, kita baru kenal, tapi kamu udah baik banget sama aku," ungkap Sanu, penuh haru.


"Sesama hamba Allah itu harus saling menolong," sahut Ara lalu keduanya tertawa.


Bersamaan dengan itu Ayesha masuk ke kamar dan mengingatkan bahwa sudah adzan Magrib. Ara sempatkan memperkenalkan Sanu pada Ayesha, meski belum paham duduk perkaranya, Ayesha nampak ramah menyapa Sanu.


Ara bergegas wudhu, tak lupa membimbing Vanya juga untuk mensucikan diri. Ternyata Vanya sudah menguasai gerakan wudhu tinggal menghafal kembali niat, bacaan, dan do'anya.


Mereka shalat berjama'ah dengan Ayesha sebagai Imam. Sementara Laut mengajak Fadan untuk pergi ke Masjid.


Selesai salat magrib, Ayesha segera menyuruh Ara mengganti pakaian dengan stelah kain batik dan kebaya brokat berwarna coklat susu yang ia bawa.


"Ini mau ngapain sih, Ma?" tanya Ara yang masih merasa heran.


"Udah Ara ganti dulu, nanti pakai make up dikit, ya," sahut Ayesha meminta Ara segera mengganti pakaiannya.

__ADS_1


Ara menurut saja, ia baru pertama kali mengenakan kebaya brokat seperti ini. Nampak pas di tubuhnya, Ayesha sangat puas dengan hasilnya. Setelah itu, Ara mendapat riasan tipis di wajahnya oleh Ayesha. Dia yang tak biasa dandan, nampak cantik walau hanya sentuhan bedak tipis-tipis dan lipmatte berwana nude.


"Nah, sekarang udah siap. Ayo keluar!" ajak Ayesha seraya merapikan hijab pashmina yang Ara gunakan. Penampilannya benar-benar anggun dan manis.


Saat tiba di ruang tamu barulah prasangka Ara mengurai. Ia dapati ayah dan bunda beserta keluarga besar nampak di sana. Satu orang yang membuatnya tambah yakin dengan prasangkanya adalah Aro.


Laki-laki itu mengenakan kemeja batik lengan panjang, nampak rupawan dengan rambut yang disisir rapi dan senyum manis menghiasi wajahnya.


Ayesha membimbing langkah Ara untuk segera duduk. Meski sudah tahu apa maksud dari semua ini, Ara tetaplah gugup. Ara dibawa duduk di atas karpet yang di gelar di ruang tamu itu. Ia duduk diapit Vanya dan Ayesha.


Saling bersebrangan dengan keluarga Akash. Ara menatap satu persatu anggota keluarganya itu. Saat pandangannya tertuju pada Aro, netra itu seolah Aro kunci agar hanya memandanginya. Seperti biasa, seringai jahil menghias wajah Aro. Dia seolah sedang mengatai Ara 'kamu pakai lipstik?' seperti tempo hari saat dirinya baru saja kembali dari Jogja.


Akash memulai pembicaraan, ia membuka acara dengan mengucap salam dan do'a. Setelah itu dirinya mengutarakan kedatangannya pada Laut.


"Ini sebenarnya terdengar aneh. Saat Ara sebetulnya adalah anak kami, tapi namanya justru tersemat di Kartu Keluarga Laut. Entah, mungkin ini rencana Allah, sebab nyatanya putra saya, Assyam Mahija Aro telah menjatuhkan hatinya pada putri saya sendiri yaitu, Salasika Arabella," papar Akash panjang lebar membuat Ara di tempat duduknya menunduk seraya memupuk air mata.


Ara kaget, terharu, bahagia, namun juga merasa sedang dikerjai oleh Aro. Berkali-kali dirinya terus saja dikagetkan dengan perbuatan Aro.


"Kedatangan kami mengantarkan putra kami untuk melamar Salasika Arabella. Anak gadis kami sendiri. Anak yang sangat kami cintai, anak gadis yang selalu kami anggap sebagai bayi kecil kami. Anak yang paling baik dan selalu bisa membanggakan kedua orang tua. Ara bagi kami adalah harta yang tak ternilai harganya, kehadirannya di tengah keluarga kami sudah memberikan warna yang begitu indah. Sekarang kami datang kemari, meminta kesediaan Ara untuk menjadi menantu kami. Ara, maukah Ara menerima lamaran dari Mas Ar?" tanya Akash membuat air mata Ara luruh.


Alih-alih menjawab Ara malah menangis tanpa suara, bahunya naik turun dengan tangan sebelah kiri dia letakan di dada dan tangan sebelah kanan menutup mulutnya. Ayesha langsung merengkuhnya. Membawa Ara ke dalam dekapannya. Bumi sempat ingin beranjak, namun Akash menahannya.


"Ara, mau jawab sendiri atau Papa yang jawab?" tawar Ayesha, "Ara boleh bisikin ke Mama jawabannya," lanjut Ayesha mengusap pucuk kepala Ara.


"Aku ... aku ... aku mau, Ma ... Aku mau," jawab Ara di tengah sedu sedannya membuat Ayesha berhamdallah dan segera memberi tahu pada suaminya.


Laut mengangguk mengerti, " Baiklah, setelah mendengar jawaban Ara, sepertinya Ara enggan untuk ...."


"Papa jangan main-main!" sentak Aro saat Laut malah menggantung kalimatnya.


"Santai, Bro!" seru Laut membuat Aro berdecak kesal.


"Ara enggan untuk menolak, dia menerima lamaran dari Assyam Mahija Aro ...."


Ucapan Hamdallah menggema di seluruh ruangan. Bahkan para wanita itu sampai mengeluarkan air mata karena ikut terharu dengan suasana yang tercipta. Terlebih Ara masih saja menangis, bahkan menenggelamkan wajahnya di dada Ayesha.


Bumi tak tahan lagi, ia beranjak dan segera mengambil alih memeluk Ara.


"Sayang, udah, Nak!" hibur Bumi memeluk erat tubuh anak gadisnya itu.


"Terima kasih sudah mau menerima Mas. Terima kasih, Sayang. Bunda bahagia, selamanya kita bisa selalu bersama. Bunda sayang sama Ara," ucap Bumi membuat Ara semakin mengeratkan pelukannya.


"Sekarang, Ara pakai cincin dulu ya?" bujuk Bumi seraya melerai pelukannya.


Ara mengangguk, Bumi kemudian mengalihkan pandangan pada putranya. Aro mengerti, ia beranjak dari duduknya. Tak lupa membawa beberapa lembar tisu untuk mengelap air mata Ara.


"Hei, jangan nangis!" hibur Aro seraya tersenyum hangat. Tangannya jahil mengusap pucuk kepala Ara.


Ara hanya mengangguk, wajahnya basah oleh air mata. Tangan Aro terangkat untuk mengusap pipi Ara, namun segera ditepis oleh Bumi.


"Bunda aja!" seru Bumi merebut tisu dari tangan Aro.


Aro hanya tertawa, kemudian ia mengeluarkan kotak cincin dari saku celananya.


"Bunda aja yang pakaikan!" lagi-lagi Bumi berseru membuat Aro mengusap tengkuknya.


Bumi membuka kotak cincin itu, ia meraih tangan Ara dan segera menyematkan cincin itu di jari manis Ara. Ara memandanginya dengan perasaan haru. Ia usap cincin itu dan mengatakan terima kasih pada Bumi.


"Ke aku nggak bilang makasih? yang beli cincinya aku loh?" ujar Aro membuat Ara berdecak kesal.


"Ara, terima kasih sudah mau menerimaku. Sekali lagi aku katakan, aku tidak bisa janjikan akan membuat harimu selalu indah, tapi aku hanya akan berusaha menjadi langitmu. Langit untuk Ara."


.


Percakapan antara mami Vanya dan pak Ustaz aku kutip dari prosesi orang Kristen Protestan menjadi masuk Islam oleh Buya Yahya yang diunggah di akun YT 3 tahun yang lalu.


Terima kasih sudah sejauh ini menemani Ara.


Makasih buat vote dan hadiahnya


Makasih buat komen dan likenya


Semoga selalu sehat semuanya

__ADS_1


__ADS_2