Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Aku Sayang Kamu, Ra ....


__ADS_3

Ara tak percaya dengan perkataan Aro, ia beranjak dari duduknya dan berdiri di samping tubuh tinggi pria yang baru saja kembali membuat hatinya berantakan.


"Matikan dulu, Mas kompornya!" seru Ara saat melihat asap mengepul dari atas pan pemanggang roti dan daging. "Terlalu besar, lagian Mas malah bengong!" sentak Ara menyembunyikan rasa nervous. Padahal hatinya jelas sedang meletup-letup seperti jagung yang sedang dibuat menjadi pop corn.


Ara merebut spatula dari tangan Aro, ia segera membalikan roti dan daging itu. "Alhamdullillah, nggak gosong cuma coklat aja," imbuh Ara, tersenyum kegirangan.


"Aku nyatanya memang membutuhkanmu untuk membuat segalanya menjadi sempurna," ujar Aro tangannya tiba-tiba terangkat mengusap pucuk kepala Ara. "Ra, aku ..."


Belum sempat Aro melanjutkan bicara, suara seseorang dengan derap langkah tergesa-gesa menghampiri keduanya.


"Mas, Teh, dipanggil bunda!" seru Atar, yang sepertinya baru pulang sekolah.


Damn.


Umpatan dalam hati Aro bersahutan, hampir dia bisa mengungkapkan perasaannya pada Ara. Dia tak peduli biar di dapur, disaksikan wajan, pan, spatula, kompor, baskom, piring, apapun itu, ia akan memberanikan diri mengutarakan perasaanya pada Ara.


Ia tak ingin kalah dari siapapun, ia harus jadi pemenang hati Ara. Tapi, semua sirna dengan kedatangan Atar. Anak itu sudah merusak strategi yang ia susun sedari tadi. Ia mati-matian memojokkan Akhza dengan Nauna agar dirinya dapat mengecoh pikiran Akhza dan membawa Ara pergi. Sekarang tinggal sedikit lagi perasaannya tersampaikan, malah Atar mengganggu.


"Mas, gimana dong ini rotinya?" tanya Ara, ia malah lebih peduli pada roti.


"Udah sana, bilang sama Bunda gue nanti turun. Tunggu sejam lagi!" sentaknya pada Akhza seraya mendorong bahunya.


"Sejam pala lo, Mas. Gue aja yang lagi dalam menuntut ilmu disuruh balik karena mau berangkat ke rumah uti, apalagi Mas yang lagi nyoba rayu-rayu teh Ara, nggak ada penting-pentingnya, harus turun sekarang juga!" balas Attar seraya berlalu.


Attar sudah merasa lelah, baru datang disuruh kembali ke atas untuk memanggil Aro. Belum lagi rentetan pesan tidak penting dari Loli, anak gadis Damar, sahabat Akash yang terus saja spam chat terhadapnya.


Atar kembali ke ruang keluarga dengan wajah masam. Ia menjatuhkan dirinya ke sofa panjang yang sedang diduduki pula oleh Akhza dan Rud.


"Nyebelin banget, kalau bukan kakak udah gue hajar tuh Mas Ar!" gerutu Atar, seraya mengusap wajahnya yang terasa panas.


"Kenapa, Dek?" tanya Akhza, ia yang awalnya sedang berbalas pesan dengan Guntur mengalihkan perhatiannya pada adiknya yang terlihat kesal itu.

__ADS_1


"Lagi kesel banget sama semua orang!" ketusnya seraya memandang tajam ke arah Akhza, "jangan ikut-ikutan bikin kesel!" omelnya kemudian kembali mengalihkan pandangan.


Akhza hanya menggeleng, Rud sendiri malas mengajak bicara Attar. Bocah itu biasanya akan meminta hal-hal aneh ketika diajak bicara. Minta diajarkan caranya mencontek yang baik dan benar, misalnya. Dipikirnya Rud tukang mencontek?


Sementara di dapur Kafe, Ara dan Aro akhirnya menyerahkan urusan roti pada peramu saji. Keduanya turun untuk memenuhi perintah Bumi. Ara berjalan terlebih dahulu, meninggalkan Aro yang sempat-sempatnya memesan kopi pada Lina dan berpesan nanti diambil setelah menemui bundanya.


"Ra ....!" panggilnya, namun Ara yang sudah berjalan jauh tak begitu mendengar teriakan Aro. Gadis itu tetap berjalan dengan langkah lebar-lebar.


Dalam benak Ara berkecamuk banyak pertanyaan. Tentang rasa yang dipendam, tentang diri yang tiba-tiba merasa insecure, merasa tak memiliki arti di mata Aro. Dia merasa kecil, tak ada apa-apanya dibanding teman-teman artis Aro yang cantik.


Aku hanya Salasika Arabella, pantaskah mengharap cinta Mahija Aro sang bintang yang bersinar di langit? Aku merasa kecil, aku hanya seonggok daging berbalut aib.


Ara berjalan melewati ruang tamu dan ruang keluarga tanpa menoleh pada orang-orang yang ada di sana. Tujuannya sekarang adalah kamar, dia hendak mengambil ponsel untuk menelpon mami dan juga Bidan Army.


Saat melintas di kamar Attar, Ara melongok ke dalam ruangan yang pintunya terbuka itu, dan didapatinya Bumi sedang mengemasi baju ganti Attar.


"Bun, tadi manggil aku?" tanyanya seraya memeluk Bumi daei belakang, bundanya itu sedang memilih kaos Atar yang akan dimasukan ke dalam tas.


Ara sengaja tak membawa semua bajunya ke rumah baru, sebagian masih ada di lemari kamarnya.


"Kita nginep berapa hari?" Ara melerai pelukannya sebab Bumi terlihat kesusahan saat akan memasukan kaus ke dalam tas Attar, gerakannya terhambat oleh tangan Ara yang melingkar di perutnya.


"Sehari aja, besok sore pulang lagi. Kan kalian punya kesibukan masing-masing," jelas Bumi membuat Ara mengangguk.


Setelah itu, Ara pamit ke kamarnya untuk berkemas juga. Saat keluar dari kamar Attar, ia berpapasan dengan Akhza. Sedikit salah tingkah, Ara mencoba tersenyum. Masih merasa bersalah sebab tak membaca pesan Akhza.


"Bang, maaf ya, aku belum baca pesannya," ucap Ara, jelas sedang menyembunyikan rasa gugup, lebih tepatnya tak enak hati.


"Nggak penting juga kok, Ra," sahut Akhza terdengar dramatis.


"Jangan ngomong gitu, aku jadi nggak enak."

__ADS_1


"Jangan dimakan kalau nggak enak," kelakar Akhza, tawanya pecah juga.


Ara ikut tertawa, "Abang, aku jadi makin merasa bersalah, nih."


"Jangan suka menyalahkan diri sendiri, itu diam-diam hanya akan melukai hatimu." Akhza meninju bahu Ara, pelan.


Sudah tak tahu lagi apa yang harus dibicarakan, Ara memilih masuk ke dalam kamarnya. Banyak yang harus ia lakukan, berkemas dan menghubungi mami serta Bidan Army saja belum ia lakukan.


Dengan berat hati Akhza mengiyakan Ara masuk ke kamarnya. Akhza lain dengan Aro yang selalu seenaknya pada Ara. Akhza lebih mengutamakan kenyamanan Ara, tadi saat mengajak Ara bicara, jelas terlihat Ara tak nyaman. Tangannya berkali-kali merapikan letak hijab yang bahkan sudah melengkung sempurna.


Tiba di kamar, Ara segera menghubungi Vanya, kemudian Bidan Army, Setelah itu, ia memasukkan dua potong gamis dan baju tidur ke dalam tasnya. Tak lupa ia juga masukan beberapa barang yang menjadi prioritasnya saat berpergian. Tasbih digital selalu menjadi hal utama yang ia bawa.


Merasa sudah tak ada lagi yang tak tertinggal, Ara meletakan tasnya di dekat pintu. Ia kembali ke tepi ranjang kemudian menjatuhkan dirinya di sana. Punggungnya terasa rileks, ia pejamkan mata, mengembuskan nafas berkali-kali. Menghirupnya perlahan, berharap ketenangan masuk bersama udara yang dihirup.


Hingga sesuatu yang dingin terasa menetes di dahinya, Ara membuka mata dan mendapati sosok yang tak asing.


Lagi-lagi dia, sang pemilik hati yang tanpa permisi selalu membuat dirinya berantakan. Sengaja sekali meneteskan air dari rambutnya yang basah.


"Jorok, ih!" seru Ara seraya duduk dan mengusap dahinya berkali-kali, basah.


"Air wudu tuh, masa jorok?" tanya Aro yang langsung duduk di samping Ara.


"Hidup kamu nggak bahagia ya kalau nggak jahil sama aku?" tuding Ara seraya memukul Aro menggunakan bantal.


"Aku nggak mau jauh dari kamu, Ra. Aku maunya deket terus, apa ini namanya jatuh cinta, Ra?" pertanyaan yang membuat Ara tak bisa menjawabnya.


"Kita udah sama-sama dewasa. aku rasa ungkapan aku sayang kamu terlalu seperti anak SMP yang baru kenal cinta. Meskipun, pada kenyataannya aku memang sayang kamu, Ra ...."


.


.

__ADS_1


.Huaaa segitu aja dulu yaaaa. Aku lagi dalam mode yang berantakan sekali ini gengs. Hatiku berantakan kalau lihat hidung Mas Ar. Maaf baru nongol, do'akan supaya besok mah lancar. Aku sayang kalian, maaf baru berani menyapa kalian, baru pede nih. Insecure suka nyampe tulang. Terima kasih buat semuanya.


__ADS_2