Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Abang kenapa, Bang


__ADS_3

Ara memesan dua porsi bakso dengan es jeruk sebagai minumannya, ia duduk di kursi yang menghadap meja kayu. Tak lama Aro datang menyusulnya, ia sedikit menundukan kepala sebab tak ingin pembeli lain menyadari keberadaannya.


"Aku kan suruh pake masker, Mas," protes Ara saat melihat Aro yang terus saja celingukan seperti pencuri yang takut tertangkap basah.


"Pengap dodol kalo pake masker," sahut Aro memutar bola mata.


"Biasa aja dong matanya," ujar Ara membuat Aro melayangkan tinju ke udara, menakut-nakuti Ara.


Bukannya takut, Ara malah membalas melakukan hal yang sama. Hingga akhirnya Aro mengambil salah satu sumpit dan melemparnya ke hadapan Ara. Reflek Ara bagus, sumpit itu dapat ia hindari.


Giliran Ara yang membalas perbuatan Aro, dengan sengaja Ara melempar Aro menggunakan sumpit tadi. Entah Ara yang beruntung, atau memang Aro yang sedang sial. Sumpit itu tepat sekali mengenai mata Aro. Membuat Aro mengaduh sekaligus mengumpat.


"Pil, gila lo! sakit mata gue dodol!"


Ara reflek beranjank dari duduknya dan berdiri di hadapan Aro. Ia sedikit membungkukan badan untuk melihat keadaan mata Aro yang terus dikucek oleh pemiliknya.


"Jangan dikucek, Mas! nanti tambah sakit," reflek Ara meraih tangan Aro dan dengan lembut menangkup kedua pipi mulus kakaknya itu. Dengan sabar Ara meniupi mata Aro yang memang merah.


Aro sejenak terdiam, menikmati hembusan napas Ara pada matanya. Mata yang awalnya perih itu berangsur terasa lebih baik.


"Coba kedip, Mas," suruh Ara dan Aro menurutinya.


"Masih perih?" tanya Ara, kedua tangannya masih menangkup pipi Aro. Aro menggeleng membuat Ara melepaskan pipinya.


"Maaf, ya, artis," ujar Ara dengan nada meledek sebelum kembali duduk.


Aro bersiap kembali untuk melempar Ara, namun niatnya dipangkas oleh kedatangan pelayan yang membawa dua mangkuk bakso dan dua gelas es jeruk.


"Makan dulu!" seru Ara dengan tawa jahil. "Balas dendam juga butuh energi biar tepat sasaran 'kan?" imbuhnya dengan nada meledek membuat Aro mendengus sebal.


***


Ara akhirnya bisa bernapas lega dan tidur di atas kasurnya setelah insiden dirinya yang mendadak menjadi fotografer untuk para barisan pemuja Aro. Tak hanya sekali, berkali-kali ia diminta menjadi juru kamera tiap ada penggemar Aro yang meminta foto bersama. Tak hanya ABG, barisan ibu-ibu juga, sampai pemilik warung baksonya minta foto bersama. Tak henti Ara mengeluh, tangannya beralih memegang satu ponsel ke ponsel lainnya hanya untuk memotret barisan pemuja kakaknya itu.


Ara berguling-guling di atas kasur empuknya, kelakuannya terkadang memang seperti anak kecil. Hingga getaran ponsel di atas meja rias mengganggu kegiatannya. Ara yang mengurai rambut panjangnya, berjalan gontai mengambil ponsel.

__ADS_1


Matanya terbelalak saat mendapati yang menelepon rupanya jidda. Hati Ara berdebar tak karuan, pasalnya tak pernah sebelumnya jidda menelpon secara langsung pada dirinya.


Ara lebih kaget lagi saat mendengar apa yang disampaikan jidda. Akhza sakit, baru saja diantar oleh rekannya ke rumah jidda. Jidda menelpon Ara sebab tak mendapati jawaban saat menelpon Bumi dan Akash.


Begitu mengakhiri panggilan, Ara gerak cepat mengikat rambutnya dan menarik sembarang hijab instan dari dalam lemari. Ia keluar dari kamar dengan tergesa-gesa hingga bertubrukan dengan Aro saat hendak menuruni undakan tangga.


"Upil, jalan tuh pake mata!" sentak Aro.


"Maaf, Mas, aku buru-baru," bela Ara.


"Buru-buru ke mana?" tanya Aro.


"Mau bangunin bunda, barusan jidda telepon katanya abang sakit, Mas," papar Ara langsung pergi meninggalkan Aro.


Ara semakin kencang berlari menuju kamar Bumi. Ia menggedor pintu kamar Bumi dengan tak sabaran. Bumi yang sayup-sayup mendengar pintu digedor disusul suara Ara yang memanggil segera beranjak dari tidurnya.


"Bunda, abang sakit, bun," adu Ara begitu Bumi membuka pintu kamarnya.


"Sakit apa? siapa yang kasih tahu? gimana sekarang keadaannya?" pertanyaan bertubi-tubi dari Bumi membuat Ara bingung menjawab.


"Ada apa, Ra?" tanya Akash yang ikut terbangun.


"Jidda barusan telepon, Yah, Bun, abang katanya pingsan tadi," papar Ara.


"Aduh, Yah, ayok kita pergi sekarang juga, ayok Ayah cepet!" seru Bumi panik membuat Akash segera beranjak untuk mengganti pakaian.


"Aku ikut, ya, Bun," pinta Ara dan diangguki oleh Bumi yang langsung kembali ke dalam kamar untuk bersiap.


Ara segera kembali berlari menuju kamarnya, dalam benak ia bertanya-tanya sendiri tentang keadaan Akhza. Ara dengan cepat mengganti pakaiannya setelah tiba di kamar. Ia bahkan memasukan beberapa potong gamis dan hijab untuk ganti.


Bersamaan dengan ia yang kembali keluar dari kamar, Aro menghadang langkahnya.


"Mau ke mana?" tanya Aro melirik tas berisi pakaian yang dipegang Ara.


"Ke rumah jidda, tengok abang," sahut Ara kembali melangkah.

__ADS_1


Aro segera mencekal lengan Ara seraya berkata, " Naik mobil gue aja."


"Aku mau sama bunda aja," tolak Ara membuat Aro geram.


Ara menarik lengannya yang dipegang Aro kemudian berlalu meninggalkan kakaknya itu. Perasaannya masih kacau akibat jadi juru foto dadakan. Ara masih memupuk kesal akibat Aro memperkenalkan dirinya sebagai asisten saat penggemarnya bertanya siapa Ara.


Aro segera kembali ke kamarnya, mengganti pakaian dan memasukkan barang-barang pribadi ke dalam tas. Tak lupa ia ke kamar Atar untuk membangunkan adiknya itu agar ikut bersamanya. Atar langsung bangun saat Aro mengguncang tubuhnya dengan kasar. Atar bersungut kesal dengan kelakuan kakaknya. Aro bahkan tak mengizinkannya mengganti pakaian dan langsung menyeretnya ke bawah.


Di bawah, Bumi, Akash dan Ara sudah bersiap untuk pergi.


"Aku ikut juga, Bun" cegah Aro saat ketiga orang itu baru beranjak melangkah.


"Aku juga ikut," ucap Atar, padahal masih mengenakan kaos oblong dan celana pendek.


Jika keadaannya sedang tidak genting, mungkin kondisi Atar sudah jadi bulan-bulanan kedua kakaknya. Setelah perdebatan alot, akhirnya Bumi menyuruh Ara untuk satu mobil dengan Aro.


Aro berseru senang, sedangkan Ara mendengus kesal. Bukan apa, bagi Aro merupakan kebahagiaan tersendiri jika dapat terus-menerus mengerjai Ara.


Akhirnya mereka berangkat tak peduli padahal waktu yang sudah menunjukan pukul 23.30. Kekhawatiran terhadap Akhza lebih besar dari rasa kantuk mereka. Apalagi Bumi, ia terus risau tak tenang memikirkan keadaan Akhza.


"Lo jangan tidur, ya," ujar Aro saat keduanya sudah berada dalam mobil.


"Iya, aku juga takut kalau tidur," sahut Ara.


"Takut kenapa?" tanya Aro mulai melajukan mobilnya.


"Takut diapa-apain, Mas Ar," jawab Ara seraya menyandarkan kepalanya ke pintu mobil.


Raut wajah Ara terlihat lelah. Jelas saja, seharian otaknya dipaksa bekerja dengan perasaan yang sempat kacau sebab kelakuan Aro. Hingga larut, dia belum sekejapun memejamkan mata.


"Pede banget lo pengen gue apa-apain," ujar Aro seraya tertawa meledek.


"Tadi juga Mas mau cium aku 'kan?" tuding Ara tanpa merubah posisinya.


"Lo beneran mau gue cium?"

__ADS_1


.


.Like dan komennya kutunggu.


__ADS_2