
"Bunda, Mas Ar ke mana sih?" Ara sudah dua jam mondar-mandir dari dapur, ke lantai dua lalu kembali ke teras dan hasilnya tak nampak batang hidung suaminya itu.
"Bunda enggak lihat, Sayang." Bunda sekilas menoleh sebab sedang mencuci gelas kotor.
Dari arah luar terdengar seseorang mengucap salam dan membuat Ara segera menghampirinya sebab ia yakini itu adalah suaminya.
"Mas dari mana, sih?" Ara mengekor langkah suaminya menuju kamar.
"Mas dari mana?" ulang Ara seraya berdiri di belakang suaminya yang sedang mencari sesuatu dalam lemari.
"Mas, hape gue!" pekik seseorang.
"Hape gue balikin!" pekiknya lagi.
"Mas, itu Atar ngomong." Ara menepuk bahu suaminya itu.
Aro membalikan badan, menatap Atar dengan sorot mengintimidasi.
"Elo suka ke Tala?" tuding Aro tanpa basa-basi.
"Apaan sih?" sanggah Atar seraya berusaha merebut ponselnya dari tangan Aro, namun pria itu malah mengancungkan ponsel Atar ke udara.
"Di galeri lo banyak banget foto dan video Tala." Aro berjalan mengitari adiknya itu.
"Tala itu udah dewasa, elo masih bocil." Aro berbisik pada adiknya itu.
"Gue mahasiswa, ya!" ralat Atar tak terima dikatai bocah cilik.
"Elo hapus atau gue yang hapus?" tawar Aro seraya menyodorkan ponsel itu pada Atar.
"Gue aja," sambut Atar namun malah Ara yang mengambil ponsel itu.
"Aku aja yang hapus," timpal Ara seraya tertawa.
"Pinter banget," puji Aro seraya mendekat ke arah istrinya itu dan sekilas mengecup kedua pipinya.
"Kalian bener-bener nggak sopan!" umpat Atar seraya berjalan ke arah tempat tidur dan menjatuhkan tubuhnya di sana.
"Anak kalian lahir, gue siksa nanti!" ancam Atar tapi tak dihiraukan oleh suami istri itu.
"Mas nyari apa?"
"Celana pendek sama kaus yang gombrong itu kamu taro mana sih?"
Ara membuka lemari sebelahnya, lemari itu terdiri dari tiga pintu. Pakaian Aro semua. Pria itu memang tidak tahu di mana letak pakaiannya sebab selalu sudah Ara siapkan saat hendak memakai baju.
"Ini Sayang ...." Ara menunjuk pada bagian atas lemari. "Makanya bilang kalau nyari apa-apa tuh!" lanjutnya seraya mengambil satu celana pendek dan kaos gombrong favorit suaminya itu.
Ara kemudian menyerahkan pakaian yang diinginkan suaminya itu.
"Aku pergi lagi sebentar ya?" pamit Aro membuat Ara memberengut.
"Iiih mau ke mana sih?" tanyanya dengan nada tinggi.
"Ke klinik. Abang kecelakaan," beri tahu Aro.
"Abang ... aku mau lihat kondisi abang," rengek Ara kali ini dengan suara rendah. "Apanya yang luka?" lanjut Ara dengan mata berkaca-kaca.
"Ish, biasa aja dong nanggepinnya," komentar Aro. "Enggak usah seolah aku yang lagi kesakitan," sambung pria itu menarik tisu dari atas meja rias dan disusutkan pada genangan yang hampir luruh dari mata Ara.
"Suami cemburuan gitu tenggelamkan, Teh!" teriak Atar, meledek. Namun Ara tak menanggapi.
"Abang kenapa?" Kali ini bicara dengan nada normal.
"Luka di telapak tangan dan lengan. Udah dijahit sama Tala," jelas Aro.
"Kenapa bisa luka?" desak Ara.
Aro menggeleng, "Belum tahu, Tala keburu pulang dan abang udah tidur."
"Aku ikut lihat abang," pinta Ara.
"Besok pagi aja, ya?" tawar Aro tak langsung diiyakan Ara.
"Sekarang udah malem banget, kasihan dede," bujuk Aro seraya mengusap perut Ara.
"Nurut, ya ... biar nanti dede juga jadi penurut." Aro mengusap pipi Ara dengan ibu jarinya membuat gadis itu mengangguk.
Aro bisa meninggalkan Ara dengan tenang, setelah ia menitipkan pada Atar. Sejak kejadian penyekapan tempo hari, Ara masih tak berani diam di kamar sendirian.
"Nanti aku suruh Teh Fenti ke sini," ucap Aro sebelum benar-benar keluar dari bibir pintu.
"Ok!" seru Ara, ia selalu suka bicara dengan Teh Fenti yang lucu dan blak-blakan.
"Teh, beneran mau dihapus foto Kak Talanya?" Atar beranjak duduk dengan wajah memelas.
"Kamu suka ke Tala?" tuding Ara.
"Jawab!" sentaknya saat Atar malah diam.
__ADS_1
"Suka banget, atau cuma ngefans?" desak Ara.
"Cuma suka aja ngeliatnya, Kak Tala orangnya asik. Ribut, dia itu kayak punya magnet. Bikin pengen ngedeketin terus. Dia nggak jaim tapi nggak malu-maluin, dan selalu punya topik pembicaraan menarik. Tahu banyak soal musik, soal film, soal fashion, dan cantik." Atar mengabsen seluruh sisi positif Tala.
"Tapi aku cuma suka bukan naksir, lagian dia kan nanti juga jadi sodara kita. Mama Eca bilang nikahnya bentar lagi. Tahun ini 'kan?" tebak Atar dan diangguki Ara.
"Diam-diam kamu suka nguping ya?" Ara menyentil telinga adiknya itu.
"Bukan nguping. Bunda sama Mama Eca kalau ngobrol satu RT bisa denger, Teh," komentar Atar membuat Ara tertawa.
"Tapi ini sebaiknya dihapus, Tar. Nggak baik berlama-lama memandang lawan jenis, apalagi ehm ...."
"Apalagi apa?" desak Atar.
"Apalagi kalau menimbulkan syahwat, itu termasuk zina," jelas Ara dan tentu Atar sendiri tahu akan hal itu.
"Aku nggak sampe ke situ Teh kalo liatin foto Kak Tala. Lagian bukan naksir," elak Atar.
"Tetep hapus, Tar. Kamu harus kasih contoh yang baik ke Fadan. Eh iya mana dia?" Ara baru sadar, biasanya di mana ada Atar di situ ada Fadan.
"Tidur sama mami Teh Ara di kamar atas," beri tahu Atar dan di oh kan oleh Ara.
"Udah, balik ke topik awal. Hapusin foto Tala. Kamu masih bisa cari gadis lain," saran Ara.
"Aku lagi suka sama temen seangkatanku, Teh. Si jilbab biru," celoteh Atar.
"Jadi kalo naksir ke yang berjilbab, nih?" goda Ara.
"Biar digampangin sama bunda," sahut Atar.
"Masih kicil, mana boleh sama bunda. Sekarang hapus dulu foto Tala," titah Ara seraya menyerahkan ponsel Atar.
"Katanya mau Teteh yang hapus?" tanya Atar.
"Kamu aja, tadi Teteh cuma pengen Mas Ar cepetan balikin hapenya. Kalau Mas Ar yang hapus, bisa-bisa game kamu juga dihapus." Ara menyerahkan ponsel itu pada Atar dan tentu diterima dengan baik oleh adiknya itu.
"Teteh emang terbaik," puji Atar.
"Hapus ya, Tar. Teteh ke kamar mandi dulu." Ara beranjak meninggalkan adiknya itu.
Sementara saat kembali tiba di klinik, Aro mendapati Akhza masih tidur.
"Dia pingsan atau tidur sih?" tebak Aro seraya duduk di tepi tempat tidur dan meletakan bajunya di samping Akhza.
Aro perlahan mengguncang bahu Akhza, "bangun, Bang!"
Akhza menggeliat, ia kemudian mengerjapkan mata dan melihat sosok kembarannya itu sedang tersenyum.
"Pake baju dulu, Bang!" Aro menunjuk dada telanjang Akhza dengan dagunya.
"Aurat elo udah dilihat Tala tadi," celoteh Aro membuat Akhza celingukan mencari gadis itu
"Dia udah balik," ucap Aro seolah tahu apa yang dicari kakaknya itu.
"Siapa yang nyari dia?" elak Akhza seraya duduk sambil menahan sakit di sekujur tubuhnya. Definisi serasa digebugi warga sekampung.
"Bang, tadi elo tidur apa pura-pura pas Tala ciumin elo?" selidik Aro, dirinya tadi melihat sebelum pulang Tala menciumi wajah Akhza kemudian berbisik, entah apa?
"Gue nggak ngerasa," sanggah Akhza, memang benar-benar tak merasakan apa-apa.
"Dia cium elo di sini." Aro menunjuk pada kening Akhza.
"Terus di sini," lanjut Aro menunjuk kedua mata Akhza.
"Kemudian di sini," sambungnya lagi menunjuk kedua pipi Akhza.
"Terakhir di sini." Aro menunjuk bibir penuh Akhza. Untuk yang satu ini, tentu saja Aro berbohong.
"Elo udah nggak perawan," bisik Aro membuat Akhza ingin memukulnya, namun urung sebab ia merasa kesakitan saat mengangkat lengannya.
"Udah, jangan sok sok an mau lawan gue," ledek Aro seraya terkekeh kemudian berdiri dan mengambil kaus gombrong warna putih dengan gambar popeye.
"Pake baju dulu, nanti Ceya lihat berabe!" Aro kemudian memasukan kaos itu pada leher Akhza. Pria itu menurut saat Aro membantunya memasukan bagian tangan.
"Buka sendiri sabuknya bisa nggak?" Aro menunjuk pada sabuk yang masih melingkar di pinggang Akhza.
"Elo pikir?" sindir Akhza.
"Judes banget sih, lo!" omel Aro seraya membantu membuka sabuk Akhza, kemudian melepaskan celana yang membungkus kaki panjang kembarannya itu.
"Eh ternyata elo juga udah pake celana pendek," guman Aro.
"Gue mau makan," pinta Akhza selanjutnya.
"Gue kira cuma orang yang minta makan?" ledek Aro membuat Akhza mendengkus sebal.
"Bentar, lagi disiapin ama Teh Fenti," ucap Aro.
Benar saja, tak lama Teh Fenti datang dengan sepiring nasi beserta lauk pauk.
__ADS_1
"Gue nggak mau makan gituan," tolak Akhza saat melihat dalam piring ada daging rendang dengan sambal goreng ati.
"Kerupuk udang aja," pintanya kemudian membuat Fenti memutar bola mata kesal.
"Risi ih!" Fenti menyalak seraya kembali pergi.
"Bang, kasihan nanti istri elo kalo makan aja pilih-pilih," komentar Aro membuat Akhza teringat dengan perkataan Ara tempo hari.
"Bang, kenapa bisa kayak gini sih?" Aro mulai menanyakan kejadian yang menimpa Akhza.
"Begal kali," jawab Akhza enteng.
"Masih siang mana ada begal, Bang?" komentar Aro.
"Terus apa?" Akhza masih mengira orang-orang itu adalah kawanan begal.
"Nggak tahu juga, tapi kalau begal motor elo pasti diambil," pikir Aro.
"Motor Atar," ralat Akhza.
"Makanya, aneh gue mah kenapa seolah pengen elo mati. Elo sih jadi orang nyebelin, bikin orang pengen bunuh jadinya," ungkap Aro panjang lebar.
"Si al an, gue baik gini," sela Akhza.
Baru akan kembali membalas, Fenti keburu datang dengan nasi putih bertabur bawang goreng dan setoples kerupuk udang.
"Bisa sendiri nggak makannya?" tanya Fenti
"Teteh kira?" Akhza menunjuk dengan ujung mata pada telapak tangannya.
"Ku Teteh huapan lah," tawar Fenti membuat Akhza mengangguk. (Sama Teteh suapin deh)
Akhza tak ingin dia disiksa bila disuapi Aro. Pasti mulutnya dijejali dengan kasar, begitu pikir Akhza.
Sedangkan Aro masih berpikir keras siapa yang menyerang kembarannya itu. Seolah motifnya bukan pencurian. Atau mungkin Tala yang menjadi sasaran? Benak Aro memupuk tanya.
***
Bumi tentu kaget saat pagi hari Aro memberi tahunya tentang kondisi Akhza. Bersama Akash dan juga Ara, Bumi segera ke klinik memastikan kondisi Akhza yang sedang Aro papah, habis dari kamar mandi.
"Abang, kenapa jadi gini?" Bumi histeris mengabsen tiap sudut tubuh putranya.
"Nggak sakit kok, Bun," sanggah Akhza seraya tersenyum, tentu bohong. Bahkan dia merasakan badannya demam.
"Badan kamu anget, Nak," ucap Bumi menyentuh leher dan kening Akhza dengan punggung dan telapak tangannya bergantian.
"Efek dari luka kayaknya, Bun. Aku periksa ya, Bang?" tawar Ara.
"Eh, nggak boleh. Ceya aja yang periksa!" cegah Aro membuat Ara menggeleng kesal.
"Lagian aku belum sarapan," lapor Aro seraya berjalan mendekati istrinya itu. "Aku mau makan, kita pulang yuk!" lanjutnya merangkul bahu Ara.
"Aku baru sampe, loh. Lagian aku mau buka klinik takut ada yang datang. Itu makanannya udah aku bawain," beri tahu Ara. Dia tadi memang membawa sarapan berupa nasi goreng buatan maminya.
"Udah, Ra. Kasih makan dulu suami kamu. Nanti biar Ceya yang periksa," saran Bumi yang kesal dengan sikap Aro.
"Ya udah, Bun. Aku tinggal ya. Ayah, aku duluan. Abang cepet sembuh ya," ucap Ara memandang satu per satu orang-orang yang ia sebut namanya.
Suami istri itu kemudian berjalan ke luar bersamaan. Ara segera menyiapkan sarapan untuk Aro, dihabiskan dalam waktu sekejap oleh pria itu.
"Aku mau tidur di atas, boleh ya?" pinta Aro menunjuk ke arah tangga.
"Ya udah sana!" sahut Ara merapikan nasi berserakan di meja.
"Sama kamu," pinta Ara.
"Mas, nanti ada yang nyari aku," tolak Ara.
"Aku pusing banget, Ra. Aku nggak tidur semalaman." Aro memijat keningnya sendiri.
"Ya udah sana tidur," saran Ara seraya tangannya terangkat ikut memijat kening suaminya.
"Temenin dulu." Aro merajuk. "Sebentar, 30 menit. Sama mandi jadi 45 menit deh. Yuk?" bujuk Aro.
Ara sudah tak bisa menolak bila suaminya seperti itu. Masih jam 08.00, dan Ara memilih menuruti keinginan suaminya itu. Masih satu jam menuju jam 09.00.
Jadi bukan menemani seperti seorang ibu menemani bayinya untuk tidur, hasilnya jika sudah seperti itu malah Ara yang ingin tidur lebih lama.
"Ra, aku jadi khawatir ke Tala," bisik Aro selesai dengan kegiatan membuai istrinya itu.
"Kenapa?" Ara dengan suara serak bertanya. Matanya masih terpejam dengan wajah bersembunyi pada dada suaminya.
"Kalau memang itu begal, motor abang udah diambil dong." Aro mengusap lembut surai hitam Ara, kemudian menciuminya penuh sayang.
"Jadi penjahatnya ngincer Tala, gitu?" tebak Ara.
"Mungkin, ah udah deh. Yuk mandi. Aku mau ke outlet ya?" Aro beranjak duduk.
"Katanya tadi mau tidur?" Ara ikut duduk.
__ADS_1
"Nggak jadi, takut Omar marah. Aku mandi duluan!" Aro segera memakai kembali celananya, sekilas mencium pucuk kepala Ara dan melangkah menuju kamar mandi.
Ara memandangi kepergian suaminya dengan senyuman. Dia memang pemaksa, tapi manis. Si al nya, Ara selalu terbuai.