
Syuting hari kedua Aro meminta cepat segera dilakukan, menurut Sutradara bila kedua bintang itu profesional seperti kemarin, bisa dipastikan lusa mereka bisa kembali ke Ibu Kota. Pagi sekali selesai sarapan, Aro dan Omar sudah bersiap untuk pergi ke lokasi.
"Lo nggak mandi, Ar?" tanya Omar menyenggol bahu Aro yang berjalan di sampingnya.
"Nggak usah dibahas!" sentak Aro, suaranya terhalang oleh masker yang ia kenakan.
"Suka sama cewek alim, mandi aja jarang. Lo nggak inget ada hadist yang bunyinya gini 'anna uhibbuka fillah' sesungguhnya kebersihan itu adalah sebagian dari iman."
Sontak Aro menghentikan langkah seraya menendang keras bokong Omar, membuat pria yang hari itu memakai kaos kaki bercorak pulkadot yang menutupi setengah betisnya mengaduh kesakitan.
"Lo tuh oon banget sih!" umpat Aro berdecak kesal.
"Lo yang nggak tahu diri, kebersihan aja nggak lo jaga apalagi nanti Ara?" ledek Omar membuat Aro tak bisa lagi menahan diri untuk tidak meninju perutnya.
"Yang bener tuh Anna dhafatul Minal Iman, bukan yang tadi lo sebutin!" Aro geram sekali sampai mengambil topi yang dipakai Omar dan melemparnya jauh ke depan.
"Malu-maluin lo!" tegas Aro seraya kembali melangkah tanpa peduli pada Omar yang sedang memegangi perutnya yang terasa mual akibat ditonjok Aro.
"Laah terus anna uhibbuka fillah itu artinya, apa?" gumam Omar seraya berlari mengambil topinya, "topi lapan ratus ribu gue," ujarnya seraya mengusap-usap topi kesayangannya, kemudian segera menyusul langkah Aro.
***
Ara sedang sibuk mengganti kain bekas lahiran kucing yang baru ia ketahui adalah kucing jenis British Shorthair. Jenis kucing yang tidak terlalu aktif bergerak, Sehingg membuatnya memiliki badan yang gemuk.
Induk kucing itu mengeong, matanya seperi hendak menangis.
"Kamu kenapa?" Ara mengusap kepala kucing itu.
Dengan suara lembut lagi-lagi kucing itu mengeong seraya menggerak-gerakan kepalanya ke telapak tangan Ara. Ketiga anaknya masih sibuk menyusu, seraya bergerak-gerak kecil. Menggelikan sekaligus menggemaskan.
"Aku lupa!" Ara menepuk jidatnya sendiri.
"Kaki kamu kan luka, ya?" Ara menyentuh salah satu kaki kucing berwarna abu itu, "aku ambil dulu kotak obat, sebentar!" seru Ara.
Ia berlari menuju kamar dan mengambil kotak P3K yang tersimpan di meja riasnya. Ia mematut sebentar wajahnya dalam cermin, "Lingkar mataku item banget," gumamnya, kemudian kembali berlari ke dapur.
"Kamu tahan sedikit, ya. Ini bakal perih banget," ucapnga begitu lembut mengusap luka kucing dengan tisu basah.
Kucing itu mengeong lembut, kakinya yang lain ikut digerak-gerakan.
"Ini baru pakai tisu basah udah perih, ya?" Ara mengusap lembut kepala kucing itu, semoga memberinya ketenangan.
"Yang ini lebih perih, aku mau basuh pakai alkohol," ujar ara seraya meletakan kaki kucing yang terluka ke atas telapak tangannya yang ia lapisi dengan kain lembut.
__ADS_1
"Bissmillahirahmanirahiim."
"Allohumma Sholli ‘ala sayyidinaa muhammadin thibbil qulubi wa dawa ihaa wa ‘afiyatil abdaani wa syifaa ihaa wa nuuril abshoori wa dhiyaa ihaa wa ‘alaa aalihi wa shohbihi wa sallim"
Setelah membaca sholawat thibbil qulubi itu, Ara menuangkan alkohol 70 persen ke kaki kucing yang luka. Kucing itu sontak mengeong keras seraya mengejatkan kakinya yang sedang Ara pegangi.
"Sabar, kan aku udah bilang sedikit sakit," Ara kembali mengelus kepala si kucing. Kali ini ia sampai memainkan kalung milik kucing itu hingga bunyi gemerincingnya membuat ia tertawa sendiri.
"Nah sekarang pakai antiseptik dulu, Insya Allah nanti cepat sembuh."
Ara membubuhkan beberapa tetes cairan berwarna merah pekat itu ke atas luka si kucing dan meniupinya perlahan-lahan.
"Sabar, ya, kalau kita sakit itu artinya Allah lagi sayang sama kita," ucap Ara kemudian perlahan-lahan meletakan kembali kaki si kucing ke tempat semula.
Ia kemudian beranjak dari dapur, merapikan kain bekas lahiran kucing itu. Ara masukan ke dalam plastik hitam dan menaruhnya ke depan rumah. Biasanya nanti ada petugas kebersihan yang mengangkut sampah.
Ara kembali ke kamarnya, melihat kembali ponselnya. Entah apa yang ia harapkan dari melihat pesan, balasan dari Aro?
"Aku nggak boleh kayak gini," gumamnya seraya mengambil banner yang masih saja tergeletak di atas lantai seperti hari kemarin.
Ara membuka banner itu kemudian membaca lamat-lamat apa yang tertulis di sana. "Ini cukup jadi acuan buat aku nggak usah terlalu jauh mendalami perasaan sama mas Ar."
***
"Cut! bagus Ar ...!" teriak sang Sutradara seraya mengancungkan dua ibu jarinya ke arah Ara.
"Kamu nafsu banget Ar pas adegan ki****g tadi," ujar Rea saat Aro baru saja hendak melangkah.
"Kamu juga menikmatinya kan?" selidik Rea seraya memegangi lengan Aro, namun pria yang memiliki dagu belah itu segera menepisnya.
"Gue cuma berusaha profesional!" tegas Aro menyoroti Rea dengan tatapan tajam. Yang ditatap malah tertawa mengejek.
"Aku masih selihai dulu kan Ar?" tebak Rea, tangannya terangkat untuk memegangi dagu Aro, namun lagi-lagi Aro menepisnya.
"Kamu lupa kita dulu gimana?" Rea kembali menggoda Aro.
"Bukannya lo emang udah biasa kayak gitu, bukan cuma gue doang kan? lo pikir gue nggak tahu kelakuan lo gimana di belakang gue dulu?" Aro mulai tak bisa menahan amarahnya terhadap Rea. Gadis itu berlaku sok suci di hadapannua padahal banyak main belakang dengan teman prianya.
"Aku kayak gitu karena kamu yang selaku sibuk, kamu lebih mentingin karir kamu daripada aku," ucap Rea memberikan alasan pada Aro atas segala kesalahannya.
"Lo kalo ngantuk ya tidur, bukan malah minum kopi. Gitu juga dengan hubungan, lo kalo nggak nyaman ya jujur bukan malah selingkuh!" tegas Aro kemudian berlalu meninggalkan Rea yang sedang dirundung penyesalan bertubi-tubi.
Aro benar-benar sudah melupakannya, dia sudah menyapu bersih nama Rea dalam hatinya. Tak ada lagi sedikitpun rasa untuk Rea yang dulu pernah ia puja. Semua sudah selesai antara dia dan Rea.
__ADS_1
Aro menghentak-hentakan kakinya menghampiri Omar yang sedah berbincang lewat telepon. Aro menatapnya penuh selidik, siapa yang ditelepon Omar hingga lelaki itu tertawa bahagia.
Aro mengambil rokok dalam tasnya, ia dengan gerakan cepat menyulut rokok itu dan menghisapnya dalam. Kekesalannya pada Rea semakin memuncak. Ia hanya berharap syuting bisa diselesaikan hari ini juga.
"Ooh, Aro, ada nih. Lo sama Aro dulu ya, gue mau ke kamar mandi," Omar segera memberikan ponselnya ke hadapan Aro.
"Ajakin Ara ngobrol, gue kebelet!" titah Omar seraya berakting seolah sedang menahan hasrat ingin buang air kecil.
"Hallo, Mas?"
"Ha ha hallo, Ra?"
"Mas kenapa? suaranya kayak orang takut?"
Iya gue takut lo nggak mau sama gue.
"Enggak gue abis lihat leak di sini."
"Leak bukannya adanya di Bali, Mas?"
"Lagi jalan-jalan ke sini kali Leaknya,"
"Mas kapan pulang?"
"Lusa, kenapa?"
"Aku minta beliin bakpia keju ya, Mas?"
"Apalagi?"
"Sama kain batik dong, Mas. Nanti aku bayar di sini."
"Ya udah, apa lagi?"
"Udah, ya udah Mas, aku mau siap-siap kerja dulu. Jangan lupa salat, Mas."
Selalu pesan itu yang Ara sampaikan, jangan lupa salat.
Ara mengetukan ponsel ke keningnya, merutuki kebodohannya mengapa bisa bicara seperti tadi.
"Duuh kenapa aku jadi gugup gini sih?"
"Tenang, Ra ... Mahija Aro itu kakak kamu. Inget, Ra. Kakak!" tegas Ara pada dirinya sendiri.
__ADS_1