Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Siapa Ayahku?


__ADS_3

Ara masih enggan menjawab pertanyaan pria yang terus saja memandanginya itu. Lagu Marry Your Daughter milik Bryan McKnight mejadi back sound di antara keduanya yang saling berdiam.


Setiap lirik yang Ara dengar dari lagu itu justru makin membuat hatinya terasa disayat-sayat. Perih, dan membuatnya merasa menjadi manusia paling kerdil. Ara menghela napas berkali-kali.


Can marry your daughter


And make her my wife


I want her to be the only girl that I love for the rest of my life


And give her the best of me 'til the day that I die, yeah


Ara mengusap dadanya. Kegelisahan yang beberapa hari ini terus saja merajai diri kembali hadir dan bertahta. Aro yang menangkap segala risau Ara lewat wajahnya yang muram, penasaran apa yang sedang gadis itu pikirkan?


I'm gonna marry your princess


She'll be the most beautiful bride that I've ever seen


"Ra, kamu nggak lagi mikirin sesuatu yang bisa bikin kita nunda nikah lagi, 'kan?" tebak Aro, memulai percakapan setelah mereka berdiam cukup lama.


Ara menggeleng, "Suudzon ...."


"Terus apa?" Aro sampai mencondongkan kepalanya untuk lebih dekat dengan Ara.


"Iiih!" Ara mendorong bahu Aro karena merasa risih didekati seperti itu. "Nggak pernah berubah," sungutnya kemudian.


Aro tertawa, "Kamu PMS? marah-marah terus."


"Aku kesel sama kamu!" sentak Ara memberanikan diri menoleh ke arah Aro hingga matanya beradu pandang dengan pria itu.


"Jangan berpaling lagi, Ra," pinta Aro dengan tatapan memohon, tapi malah membuat Ara membuang pandangannya lurus ke depan.


Matahari sedang terik-teriknya bersinar. Jalanan mulai padat oleh kendaraan. Suara klakson saling bersahutan, dibunyikan oleh sang pengemudi yang tak sabar ingin lebih dulu melajukan kendaraan. Terlihat beberapa pejalan kaki juga menggunakan payung berlindung dari panasnya terik matahari.


"Kamu ragu?" tanya Aro.


Ara menggeleng sebagai jawaban. Ia kembali tertunduk. Beberapa hari ini ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Siapa ayahku? Pertanyaan yang terus memenuhi benaknya.


"Apa yang kamu pikirin?" desak Aro, lagi-lagi hanya gelengan yang Ara berikan.


Aro menghela napas, ia merogoh ponsel dalam celananya. Beberapa pesan masuk dari Omar. Pria itu memberi tahu bahwa beberapa kaos pesanannya sudah datang.


"Mas ...." Suara Ara terdengar lirih.


Aro segera menyimpan ponsel ke atas dashboard. Ia menoleh ke arah Ara yang masih memandang lurus ke depan dengan tatapan kosong.


"Mas. ayahku siapa sih?" Pertanyaan Ara membuat Aro mengerenyitkan dahi.


"Siapa wali nikahku nanti?" Ara mulai terisak.


Aro terbelalak, kenapa gadis itu sampai berpikiran ke arah sana?


"Ra, ayah kamu ya ayah. Papa," sela Aro meyakinkan.


Ara menggeleng, "Mas, aku cuma anak yang lahir tanpa ayah. Apa kamu nggak malu saat ijab kabul nanti yang menjadi waliku adalah wali hakim? namaku akan dinasabkan pada mami. Semua orang akan tahu siapa aku."


"Akhir-akhir ini aku mikirin hal itu, Mas. Aku hanya Ara, anak yang lahir dari sebuah kesalahan. Bayi yang sempat tak diinginkan keberadaannya," papar Ara panjang lebar membuat Aro ikut merasakan sakit hati.


Ara menaikan kedua kaki ke atas jok mobil, ia tekuk lututnya kemudian menyembunyikan wajahnya di sana. Punggungnya terus bergetar, seirama dengan rintihan tangis penuh luka.


Beberapa hari ini, Ara sering merasa asing tiap kali bangun tidur. Ia selalu bertanya, ayahku siapa?


Aro tak menyangka jika Ara sampai berpikir sejauh itu. Ia kira Ara sudah benar-benar melupakan masa lalu itu. Bagi Aro, semua itu tak penting.


"Kamu istimewa." Aro mengusap pucuk kepala Ara berharap gadis itu dapat tenang.


"Nggak akan aku biarin siapapun berkata buruk tentang kamu."


Perkataan Aro membuat Ara kembali menegakan badannya. Ia dengan wajah basah penuh air mata menoleh ke arah Aro.


"Kamu bisa dapetin orang yang masa lalunya lebih baik dari aku," rintih Ara.


"Jangan macem-macem!" bentak Aro tak sadar malah membuat Ara kaget.


"Kamu bentak aku?" tuding Ara dengan sorot penuh luka.


"Enggak, aku nggak bentak. Aku nggak suka kamu memperumit hal yang sebetulnya gampang."


"Apa yang gampang, hah?" desak Ara, "semua ini gak gampang," lanjutnya.


Aro memijat keningnya yang tiba-tiba saja terasa pening.


"Ra, ada aku. Aku yang bakal bikin semuanya jadi gampang," bujuk Aro.


Ara tetap menggeleng. "Aku takut."


"Jangan mikirin hal-hal yang belum jelas kepastiannya, jangan mendzalimi diri sendiri!" tegas Aro lagi kemudian mengusap air mata Ara dengan lengan hoodienya, "nggak ada tisu, kalo pake tangan nanti kamu marah karena kulit kita bersentuhan."


Ara tersenyum, membuat Aro merasa lega. Selesai mengusap air mata Ara, Aro kembali meraih ponselnya dan mengetikan pesan pada Omar. Dia meminta pria itu datang membawakannya makanan dan minuman.


"Sekarang kita salat dulu, tuh di bawah ada masjid." Tanpa menunggu Ara mengiyakan, Aro segera keluar dari mobil. Ara pikir pria itu meninggalkannya, namun ia dikagetkan saat Aro membuka pintu mobil dari luar, "jangan biarin Allah nunggu kita."


Ara terbelalak mendengar ucapan pria itu, sepertinya banyak yang ia lewatkan tentang kehidupan Aro. Ara melangkah keluar dari mobil lalu berjalan terlebih dahulu menuju masjid. Ia tak menoleh lagi pada Aro. Terus melangkah hingga sampai di masjid dan langsung menuju tempat wudhu wanita.


Setelah menyelesaikan salat, keduanya kembali ke mobil dengan Aro yang sudah lebih dulu duduk di balik kemudi.


"Aku harus pulang, Mas. Ada pasien yang abis lahiran," beri tahu Ara begitu duduk kembali di tempatnya.

__ADS_1


"Tunggu, aku anterin," sela Aro.


"Nggak usah, nggak enak berduaan terus," kilah Ara seraya merapikan hijab dan mengusap wajahnya.


"Tunggu, bentar. Omar nanti ke sini, jangan ngeyel. Jadi anak yang manis, ok!" pinta Aro seraya mengedipkan mata membuat Ara tak bisa lagi menjawab.


Selang beberapa menit nampak Omar turun dari ojek online dengan membawa satu kantong plastik di tangannya. Dari raut wajahnya, terlihat sekali pria itu kesal. Omar masuk ke dalam mobil dan kembali menutup pintu dengan membantingnya kasar.


"Rusak woy mobil gue!" teriak Aro membuat Ara menutup kupingnya.


"Elo nggak ngotak, gue lagi ribet ngurusin barang datang malah nyuruh ke sini!" balas Omar dengan teriakan pula.


Ara menggeleng mendapati sikap kedua lelaki itu, mereka tidak pernah akur. Selalu ribut, tapi diam-diam saling perhatian. Saling menggunjing dan meledek sudah jadi makanan sehari-harinya.


"Nih, burger tanpa beef sama chatime tanpa boba. Aneh banget tuh pesenan!" Omar melayangkan kantong plastik ke wajah Aro.


Aro tersenyum sumringah, ia mengeluarkan isi dari dalam kantong itu dan menyerahkannya pada Ara.


"Makan dulu, nangis itu ngabisin energi banyak." Ara menerimanya, ia memang lapar.


"Apa nggak aneh makan burger tanpa beef?" tanya Aro saat Ara mengunyah makanannya.


Ara tiba-tiba saja menyuapkan burger bekas gigitannya pada Aro. Pria itu reflek menggigitnya, kemudian mengunyahnya.


"Gimana?" tanya Ara.


"Manis," sahut Aro.


"Hah, kok manis?" Ara tak mengerti.


"Yah manis lah orang yang Aro pikirin bibir elo, Ra!" Malah Omar yang menjawab membuat Aro melemparnya dengan botol air mineral yang isinya masih setengah.


"Ngaku dodol, otak lo ketebak!" Omar memukulkan botol barusan pada tengkuk Aro.


"Otak lo kotor!" Aro meloncat ke kursi belakang. Memiting leher Omar seraya berbisik, "jangan ngebacot sembarangan depan Ara. Bisa-bisa gue kena damprat!" Aro kemudian menyentil ujung hidung Omar dan segera kembali ke kursi kemudi.


"Kayak anak kecil!" ledek Ara seraya menyesap minumannya.


"Sekarang mau nanya, apa rasanya minum chatime tanpa boba? nih cobain!" Ara menyodorkan minumannya pada Aro yang kemudian menyesapnya.


"Cihuy, itu malah lebih manis," seloroh Omar membuat Ara menoleh padanya.


"Emang manis, Kak!" seru Ara.


"Bocah, meuni teu ngarti (nggak ngerti banget)," geleng Omar. "Bisa-bisa diajak takbiran terus lo, Ra," lanjut Omar membuat Aro ingin kembali menyerangnya.


"Takbiran? emang mau lebaran?" gumam Ara.


"Si Ara meuni polos (Ara polos banget)." Omar menggeleng lagi, tak mengerti kenapa ada orang sepolos Ara yang sama sekali otaknya tak mengarah pada hal-hal 'menyenangkan' versi Omar.


Selesai menghabiskan makanan dan minumannya, Ara meminta Aro untuk segera mengantarnya pulang. Ia tak enak berlama-lama meninggalkan pasiennya. Apalagi kondisi Eva sudah mulai membaik. Dia dan bayinya dipastikan sudah bisa pulang sore ini.


Di kamar itu, Aro merebahkan tubuhnya di tempat tidur Ara. Seperti biasa, aroma minyak telon mendominasi ruangan milik Ara. "Kamu nggak berubah," gumam Aro.


Sedangkan di lantai bawah, Ara dikagetkan oleh kehebohan keluarga Eva. Dua orang kakak serta ayah Eva yang seorang polisi hari itu datang menjenguk.


Setelah Eva mendapat pemeriksaan ulang, Ara mengizinkan pasiennya itu pulang dengan catatan tiga hari lagi harus kembali membawa bayinya untuk diperiksa.


Sebelum pulang, Lela sempat bertanya perihal Aro.


"Kenapa jadi berubah tampilannya?" tanya Lela.


Ara menjelaskan bahwa Aro dan Akhza adalah dua orang berbeda. Mereka memang kembar, tapi dengan karakter yang berbeda. Saat Ara bilang bahwa Akhza adalah dokter, barulah Lela ingat dirinya pernah dirawat oleh Akhza.


"Masa sih bu?" Ara sedikit tak percaya mengingat kejadian itu sudah berlalu sejak tiga tahun yang lalu.


Lela tak salah, ia tadi pagi sempat ingin menanyakan hal itu langsung pada Akhza. Namun, sikap serius Akhza membuatnya urung melakukan hal itu.


Setelah Eva dan keluarganya pulang, Ara memutuskan untuk ke kamarnya. Ia tak ingin Aro mengacaukan isi kamarnya. Saat memasuki tempat ternyamannya itu, Ara mendapati Aro sedang tidur dengan dengkuran halus. Pria itu berbaring memeluk guling.


"Kebiasaan ...." Ara menggeleng seraya kembali meninggalkan Aro.


Ara kembali ke lantai bawah. Hari itu, ia benar-benar menutup kliniknya. Gadis itu berpikir banyak yang harus diselesaikan termasuk ajakan Aro untuk menikah. Hal iyu harus kembali dibicarakan dengan keluarga besar Ara.


Di ruang tunggu pasien, Ara mendapati Omar sedang mengobrol dengan kakaknya, Fenti. Keduanya tampak asyik, candaan dengan tawa yang menular.


"Ngke Teteh di ditu jeung saha?" (nanti Teteh di sana sama siapa). "Loba bebegig."(banyak dedemit) Omar melarang Fenti kembali ke Subang.


"Maneh bebegina," ledek Fenti (kamu dedemitnya) "barina nyaah ka na bebek," lanjut Fenti (lagian kasihan ke bebek) lanjutnya.


"Jadi leuwih karunya ke sato daripada ka adi?" tebak Omar (Jadi, lebih kasihan ke binatang daripada adik sendiri)


"Ngomongin apa sih, seru amat?" Ara ikut duduk di samping Fenti.


"Ini, Ra. Teh Fenti minta balik ke Subang," beri tahu Omar mbuat Ara kaget.


"Ya jangan, Teh. Aku tuh udah klop banget sama Teteh. Apa ada sikapku yang menyinggung?" tanya Ara menebak apa yang membuat Fenti ingin pulang. "Ara bikin kesel?" desak Ara. "Ara mau nikah loh, Teh."


"Jadi kamu mau nikah sama aku?" ucap seseorang yang baru datang membuat Ara menutup mulutnya. Bisa besar kepala pria itu, pikir Ara.


"Mau, Ra?" ulang Aro.


"Karunya atuh, Ra. Ulah digantung wae," (kasihan, Ra. Jangan digantung terus) ujar Fenti mengingatkan. "Bisi disalip ku batur ngke Ara merana," lanjutnya seraya tertawa (nanti diambil orang, Ara merana)


Ara ikut tertawa, "Coba aja kalau dia berani, Teh."


Aro mendengus sebal, benar-benar merasa semakin ditarik ulur oleh Ara. Kesal karena sulit sekali membuat Ara langsung berkata iya. Gadis itu mempersulit keadaan yang sebenarnya mudah.

__ADS_1


Melihat wajah muram Aro, Ara jadi tak enak hati. Ia sedikit mengalah, Ara berkata agar Aro menemuinya lagi nanti malam di rumah Vanya.


"Kamu mau aku lamar lagi?" Aro menebak apa yang dipikirkan Ara.


"Terserah Mas menganggapnya apa," sambut Ara tak memperjelas keinginannya.


Aro memilih meninggalkan klinik Ara. Ia sudah mengerti apa yang diinginkan gadis itu. Sepanjang perjalanan ia sibuk menghubungi Bumi dan Ayesha untuk menyiapkan kejutan bagi Ara nanti malam.


"Mas Ar bener-bener sayang banget ke Ara," ujar Bumi di hadapan Akash setelah menerima telepon dari Aro.


"Sama kayak Ayah ke Bunda," sahut Akash tanpa memalingkan pandangan dari layar laptop yang menunjukan angka-angka pendapatan restorannya. Bumi hanya menggeleng menanggapi perkataan suaminya itu.


Di tempat lain, Ayesha sedang memasangkan selang infus pada putranya, Rud. Pria itu sedang sakit, namun tak ingin dirawat di rumah sakit.


"Siapa yang telepon?" tanya Rud dengan suara lemah.


"Mas Ar, minta Mama ke Bogor. Boleh nggak?" Ayesha mengusap wajah putranya yang pucat. "Nanti Mama suruh Tala buat nemenin kamu," lanjut Ayesha membuat Rud mengangguk setuju.


Setelah memastikan keadaan Rud terkondisi dengan baik dan Tala datang, Ayesha dan Laut segera berangkat ke Bogor. Tepatnya mereka ke rumah Ara. Saat sampai di sana, Ara juga ternyata baru tiba di rumah itu.


"Loh kok ada Mama dan Papa?" Ara menyeret kopernya. Ia berniat menukar pakaian di klinik dengan pakaian di rumahnya.


"Biasa, titah calon suami kamu," seloroh Ayesha.


Ara tersenyum seraya menggeleng. Saat diminta Ayesha untuk berdandan Ara menolak. Bukankah lamaran sudah dilangsungkan beberapa tahun lalu? kali ini apa lagi yang akan dilakukan pria itu.


Tepat menyelesaikan salat isya berjama'ah, ayah, bunda, Atar, Fadan serta Aro datang. Meski Ara sudah tahu apa yang akan dibicarakan. Gadis iyu tetap merasa gugup. Ia duduk diapit oleh Ayesha dan Vanya. Aro sendiri malam ini nampak rapi mengenakan celana bahan dan kemeja berwarna abu yang digulung hingga menampakan lengan yang kokoh.


"Ara udah tahu apa maksud kedatangan kami?" Akash memulai pembicaraan dan Ara menanggapinya dengan anggukan.


"Ayah udah tahu apa yang bikin pikiran kamu terganggu, Mas Ar yang cerita." Akash sejurus menatap ke arah Ara yang nampak gugup. Gadis itu sedikit merasa bersalah sebab tak menyiapkan diri dengan baik. Hanya rok plisket berwarna lilac dan sweater kebesaran yang ia gunakan malam itu. Terkesan santai.


"Kamu jangan banyak pikiran, Ayah yang urus semuanya." Akash meyakinkan Ara.


"Kamu anak Ayah, kamu anak Bunda. Kamu punya papa dan mama juga punya mami. Nggak semua orang punya orang tua selengkap ini. Jangan pernah merasa diri kamu itu hina, sebab itu akan menyakiti hati Ayah yang sudah membesarkan kamu dengan penuh kasih sayang. Ayah marah pada siapapun yang merendahkan putra putri Ayah, termasuk kamu sendiri." Dengan suara bergetar Akash bicara panjang lebar membuat pipi Ara panas.


Ara menundukkan kepalanya, merasa bersalah sebab sudah berpikiran yang tidak-tidak. Gadis itu secara tidak langsung juga sudah tidak mensyukuri apa yang Allah gariskan untuknya bila terus-menerus merasa dirinya hina.


"Ara boleh pulang ke ayah kalau suatu hari mas Ar nyakitin Ara. Ayah berdiri paling depan untuk melindungi Ara." Akash dengan suara tegas kembali bicara. Kini, pandangannya beralih pada Aro, "dan kamu. sekali kamu menyakiti Ara, maka selamanya Ayah nggak akan mengizinkan Ara kembali padamu." Nada penuh penekanan saat bicara pada Aro membuat pria itu mengangguk mantap.


"Aku nggak bisa janjikan hidup Ara selalu bahagia sama aku, tapi aku pastikan nggak akan nyakitin Ara apapun alasannya." Aro berjanji, berkata penuh keyakinan menimpali ucapan Akash.


"Ingat, di sini banyak saksi. Bahkan malaikat mencatat apa yang kamu ucapkan. Ayah harap kamu bisa tetap menjaganya." Akash menepuk bahu putranya, menaruh harapan banyak.


"Gimana, Ra. Apa lagi yang bikin kamu ragu buat nerima aku sebagai suami kamu?" tanya Aro.


"Nggak ada, Mas." Ara menggeleng.


"Jadi kamu udah yakin mau nikah sama aku?"


Ara mengangguk seraya tersenyum membuat seluruh keluarga mengucap hamdalah. Hal yang seharusnya sudah terjadi dari dulu, namun bila memang belum waktunya maka Allah tidak mengizinkannya.


"Jadi boleh dong nikah besok?" seloroh Aro namun berharap diiyakan oleh keluarganya


"Nggak boleh!" teriak Bumi dan Ayesha bersamaan.


"Jangan mengulang kisah orang tua kalian," tambah Laut.


"Iya seenggaknya ada acara lah. walaupun sederhana. Nggak dadakan seperti itu tuh." Ayesha menunjuk ke arah Akash dan Bumi dengan ujung matanya.


"Iya, Bunda setuju. Kasih Bunda waktu sebulan buat menyiapkan semuanya." Bumi menoleh pada Aro.


"Kelamaan, Bunda. Seminggu," tawar Aro.


"Kecepetan, belum nyebar undangan," sela Ayesha.


"Dua minggu, Bunda minta waktu dua minggu buat menyiapkan semuanya." Bumi bergantian memandang Ara dan Aro. Ara terlihat mengangguk tulus sementara Aro menyayangkan keputusan bundanya.


"Bunda ingin pernikahan kalian menjadi hari spesial," lanjut Bumi mengusap pundak Aro.


Aro lagi-lagi hanya mengangguk, meski rasanya sedikit kecewa dengan keputusan bundanya.


"Jangan kesel gitu," pesan Ara saat Aro akan pulang.


"Dua minggu nggak lama, tiga tahun aja kuat," lanjut Ara meyakinkan.


"Boleh ketemu terus kan?" pinta Aro.


"Insya Allah," sahut Ara.


"Boleh telepon?"


"Kalau sempat," timpalnya.


"Boleh peluk?" goda Aro.


"Mas ...." Ara melotot membuat Aro berlari menuju mobilnya dan meninggalkan Ara yang detik selanjutnya mengulum senyum melihat tingkah Aro.


.


.


.


Ig dan Fb aku ganti ya kak


Ig : Syaesha05

__ADS_1


Fb : Syaesha


Terima kasih atas dukungannga. Hanya Allah yang akan membalas kebaikan kakak-kakak semua. Aku sayang kalian semuanya, love sekebon raya.


__ADS_2