Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Aro dan Lidahnya


__ADS_3

"Nggak ngapa-ngapain kok, Bun," jawab Ara gelagapan.


"Ngapa-ngapain dong, Bun," ujar Aro seraya mengambil kaus yang dibawakan Ara dan memakainya. "Bunda pikir cewek sama cowok berduaan semaleman tidur di satu ranjang itu bisa nggak ngapa-ngapain?" lanjut Aro seraya melirik ke arah Ara yang mukanya sudah merah padam.


"Bunda enggak, Bun," sanggah Ara seraya mendekat pada Bumi dan mengguncang lengan Bundanya itu. "Jangan percaya sama mas Ar, kita nggak ngapa-ngapain," jelas Ara hidungnya sampai kembang kempis.


"Ya elah Upil, gue tibang becanda elo serius amat. Bunda mana percaya anak gadis kesayangannya ngelakuin hal serendah itu," Aro tertawa di akhir kalimatnya.


"Udah buruan salat!" ketus Bumi pada putranya, "Sampai kitab samcong ketemu juga Bunda nggak akan percaya," imbuh Bumi seraya mendekat pada putranya dan melemparkan koko. "Koko tuh dipake buat salat bukan buat pajangan lemari. Mau nanti jadi penambah berat hisabanmu sebab tidak digunakan sebagaimana mestinya?"


"Bunda, aku mau salat. Udah ngomelnya nanti aja, udah terlanjur. Udah, berisik," Aro meletakan telunjuknya di depan bibir, manis.


Mas, hatiku sekarang ibarat cadburry yang dimasukin ke dalam microwave, meleleh.


"Bunda nggak ngerti lagi, Ra, harus gimana nyadarin kakak kamu yang satu itu," keluh Bumi seraya keluar dari kamar Ara. Kedua tagannya memegangi kepala.


Tadi, sebelum masuk ke dalam kamar Ara, Bumi terlebih dahulu masuk ke kamar Aro. Dia hanya mendapati Omar di sana. Instingnya kuat untuk masuk ke kamar Ara, hingga melihat putranya itu baru saja mandi dan Ara sedang memegangi sprei. Persis seperti dua orang pengantin baru yang habis mendayung di atas nirwana, seperti yang sering Akash bilang dulu.


Selesai salat yang kesiangan itu, Aro2 kembali merebahkan tubuh ke atas tempat tidur. "Pil, pinjem hape lo deh," ucapnya pada Ara yang sedang merogoh isi tasnya mencari sesuatu.


"Upil, dongo! denger nggak Masnya ngomong?" teriak Aro membuat Ara membulatkan mata demi mendengar kata Masnya dari mulut Aro.


"Mas Ar ngomong apa?" Bumi balik bertanya karena memang tadi tidak mendengar Aro bicara.


"Pinjem hape!" teriak Aro.


"Mas, dari tadi teriak-teriak terus. Ini kamar bukan hutan!" tegas Ara berjalandengan menghentakan kaki. Ia menyerahkan hapenya pada Aro.


"Pil, passwordnya apa?" tanya Aro.


"Tebak, Mas Ar pasti tahu," ujar Mishil kemudian diangguki bahkan dituruti oleh Aro.


Berhasil, hape Ara bisa dibuka dan Aro langsung masuk ke aplikasi chat. "Pil, tukeran hape yu seminggu aja," pinta Aro membuat Ara menggeleng kasar.


"Nggak mau, apa-apaan sih?" sanggah Ara seraya berusaha mengambil hapenya kembali, namun tak berhasil.


"Hape gue lebih mahal," tawar Aro.


"Mahal tidak jadi jaminan membuat nyaman," sanggah Ara.

__ADS_1


"Ah, bodo amat, gue pake hape lo mulai detik ini pokoknya!"


"Mas, kamu selalu seenaknya sama aku. Aku tuh cape tahu dikerjain mulu," keluh Ara memberengut kesal. Kedua tangannya mengepal. Pipinya memerah, matanya memanas dengan kaca yang membingkai sempurna kelopak indah itu. Siao luruh bila tersentuh.


"Capek?" Aro beranjak dari berbaringnya untuk mendekati Ara yang sedari tadi berdiri. "Kalau capek, gendong yuk! mau nggak?"


Ara mencengkram pinggiran gamisnya. Hatinya sudah berdebar tak karuan. Jantungnya rasanya sudah tak lagi di tempatnya. Dadanya naik turun seolah habis lari keliling lapangan sebanyak 50 kai putaran. Perasaan Ara diobrak abrik.


"Iih serius capek lo, Pil? sampe gemeteran gitu?" Aro berjalan mengitari Ara. Mengelilingi gadis manis yang mengenakan hijab berwarna fuchia tersebut.


"Ra, lo naksir sama gue, ya?" tanya aro tepat di telinga Ara setelah baru saja ia mengitari tubuh Ara sebanyak dua putaran.


"Enggak, siapa bilang?" elak Ara, rasanya ingin sembunyi saja di lubang semut atau sekalian di lubang buaya.


"Iyalah pasti enggak, gue kan cuma cowok bobrok yang nggak pantes buat cewek sesolehah elo," papar Aro kemudian dengan sengaja mengusap oucuk kepala ara dan keluar dari kamar itu membawa ponsel Ara.


"Mas, nggak gitu. Andai semua nggak rumit kayak gini." keluh Ara. Matanya menangkap ponsel Aro di atas meja riasnya. Aro benar-benar membuktikan ucapannya untuk bertukar pakai ponsel.


***


Matahari hari ini nampak malu-malu, sedari pagi sudah mendung bahkan sesekali gerimis, menjatuhkan keadaan paling romantis.


Khawatir dengan keadaan outrinya itu, Bumi mendatangi kembali kamar itu setelah tadi oagi terjadi insiden dirinya memarahi Aro gara-gara koko.


Ara sedang melepas hijabnya saat Bumi masuk. Rambutnya yang panjang nampak basah, baru beberpa menit yang lalu selesai mandi.


"Kamu kenapa, Sayang?" selidik Bumi.


"Nggak apa, Bun," jawab Ara seraya menggeleng.


"Kamu jangan bohong ke Bunda, cerita aja," bujuk Bumi, tangannya terangkat menggusar perlahan surai indah milik Ara.


"Mami, Bun. Mami kelilit hutang sampe ratusan juta," beber Ara yang sedang duduk bersandar pada headboard tempat tidur.


" Bisa gitu, Sayang?" tanya Bumi tak percaya.


Ara mulai menjelaskan duduk perkaranya. ia ceritakan secara detail tentang Wena. bumi tentu khawatir. Ia merasa iba, namun pada Ara.


"Aku ada rencana buat jual rumah mami biar bisa bayar hutang dan sisanya ...."

__ADS_1


Sisanya buat apa?" seka Bumi.


"Beli rumah lagi,Bun, dan ...."


"Dan?"


"Aku mau nemenin mami nanti, Bund." suara Ara lirih menahan tangis.


"Kamu mau ninggalin Bunda?" todong Bumi.


"Nggak ninggalin, Bun," elak Ara.


"Bunda nggak mau, Bunda nggak mau Ara pergi," ujar Bumi seraya berdiri, berlari, dan menangis.


Ara tentu mengejar Bumi, ia tak menyangka respon bumi akan seperti ini. Sesayang itu ternyata Bumi pada Ara.


"Bunda, tunggu, Bun!" teriak Ara, ia terus berlari mengejar Bumi yang bergerak ke kamarnya.


"Bunda, aku bisa jelasin, Bun!" seru ara saat Bumi tak memberinya kesempatan bicara dan memilih mengunci pintu dari dalam.


Ara berdiri di hadapan daun pintu bercat coklat itu. Ia berdiri dengan tubuh bergetar dan deraian air mata yang sudah tak dapat tertahan lagi.


"Bunda, denger Ara dulu, Bun," lirih suara Ara, ia meraskan tubuhnya melemas.


.Ara menjatuhkan diri ke atas lantai tepat saat Akhza juga ingin menemui Bundanya.


"Ra, kena, Ra?" panik Akhza berjongkok di


hadapan ara.


"Bang, aku takut bunda marah. Abang, tolongin aku," ungkap Ara kemudian menangis dengan kencang


Akhza mengusap-usap bahunya yang naik turun. Ia tak bisa berkata-kata untuk menghibur adiknya itu. "Ara, ada apa sebenernya?"


Ara akhirnya memutuskan untuk cerita Pada Akhza. Akhza setia mendengakannya dengan sesekali tersenyum melihat ekpresi ara yang lucu saat bicara, namun masuh sesenggukan.


"Udah, jangan nangis!" hibur, Akhza. "Nanti aku bantuin ngomong ke bunda, ya?" bujuk akhza.


"Abang kan sibuk?" tanya ara.

__ADS_1


"Buat kamu abang sempetin, Dek!"


__ADS_2