
Aro
Tiba di Ibu Kota, Omar sudah menunggu Aro sedari pagi di rumahnya. Pria bertubuh tambun itu bersungut-sungut karena kesal Aro datang terlambat. Aro menyogoknya dengan ayam goreng buatan Bumi. Omar masih bersungut, namun tetap saja mulutnya tergiur mencicipi ayam goreng lezat itu.
"Sama orangnya kesel, sama makanannya suka," cibir Aro seraya membuka hoodie hitamnya. Ia bergegas mandi, sebab menurut jadwal yang diberikan Omar, hari ini ia akan disibukkan dengan syuting di beberapa tempat.
Sementara Aro mandi, Omar membantu merapikan perlengkapan yang akan dibawa artisnya tersebut. Beberapa potong baju ganti, sepatu, dan tas kecil berisi charger, rokok, serta permen karet.
Tak lama Aro menuntaskan kegiatan mandinya, ia keluar dari kamar dengan rambut yang masih basah.
"Gimana acara semalam?" tanya Omar penasaran.
"Biasa aja, aneh malah," sahut Aro seraya mengambil satu batang rokok. Mulutnya terasa asam sebab tak merokok dari kemarin sore.
"Sampe kapan lo ngerokok sembunyi-sembunyi dari keluarga lo?" tanya Omar.
"Berisik, lo," ujar Aro berlalu ke dapur untuk membuat kopi. "Ngopi nggak? pusing gue kalo ngerokok nggak pake kopi," imbuhnya seraya mengambil satu kemasan kopi instan yang iklannya ia bintangi sendiri.
"Kemakan iklan lo ngopi begituan?" tanya Omar dengan nada meledek.
"Gue bintang iklannya bang**t," umpat Aro segera kembali duduk di dekat Omar.
Rumah minimalis yang ia bangun itu, baru beberapa bulan yang lalu ia tempati. Awalnya ia tinggal di rumah Zahra, namun merasa tak enak karena sering pulang larut bahkan dini hari, akhirnya ia memutuskan membangun sendiri rumah yang hanya memiliki dua kamar, satu ruangan bersantai dan dapur kecil.
Bagi Aro yang terpenting ada tempat untuk menaruh barang-barang dan beristirahat. Hari-harinya biasa lebih banyak dihabiskan di lokasi syuting.
"Tante Christie nanyain lo mulu," ujar Omar membuat Aro mengerutkan kening dalam.
Ia menyesap kopi setelah menghisap rokoknya, kemudian menjawab, " Yang jadi emak gue di film kemaren?"
"Yoi, suka kayaknua do'i sama lo," ungkap Omar seraya menaik turunkan alisnya.
"Siapa sih yang nggak suka sama gue?" Aro menyombongkan dirinya dan membuat Omar meninju bahunya.
"Sombong banget, lo breng**k!" umpat Aro.
"Bukan sombong, cuma percaya diri aja. Dikasih muka seganteng ini masa mau ngeluh," sahut Aro diakhiri dengan kekehan.
Asap rokok mulai membuat ruangan itu pengap dan bau. Tak hanya satu batang, melainkan beberapa batang Aro habiskan selama kurang lebih satu jam itu. Setelah kopinya tandas, ia dan Omar segera meluncur ke lokasi syuting.
__ADS_1
***
Ara
Setelah insiden anak remaja yang ingin membeli pil KB, kali ini datang lagi sebuah insiden yang tak kalah menghebohkan. Seorang siswi SMP yang habis melahirkan di sekolahnya dengan keadaan si bayik yang meninggal. Siswi itu dibawa oleh dua orang Guru beserta temannya.
Saat dibawa ke klinik, keadaannya sudah lemas. Menurut teman-temannya, siswi tersebut tidak kelihatan hamil sebelumnya. Proses melahirkannya tiba-tiba dan sangat singkat.
"Bayinya sekarang di mana?" tanya Ara yang baru saja selesai memasang selang infus di tangan sang pasien bernama Rura itu. Rura sudah tertidur pulas.
"Meninggal, Mbak. Dibawa ke rumah orang tua Rura," jawab salah seorang teman Rura.
"Suaminya ... eh maksudku laki-laki yang menghamilinya siapa?" tanya Ara penasaran. "Eh nama kamu siapa?"
"Namaku Nuna, Mbak, dan ini Krea," sahut Nuna cepat kemudian ia menjawab pertanyaan Ara sebelumnya yang menanyakan perihal siapa laki-laki yang menghamili Rura.
Ara sedikit kaget sebab nama sekolah yang disebutkan Nuna adalah nama sekolah tempat Atar menuntut ilmu.
"Adikku juga sekolah di sana, namanya Atar, kenal nggak?" tanya Ara bergantian memandang Nuna dan Krea.
"Enggak, Mbak," sahut Nuna dan Krea berbarengan.
Ara kembali ke mejanya dengan perasaan gamang dan hancur. Ia sedikit menyayangkan perbuatan Rura. Ingin sekali rasanya bertemu dulu dengan bayik Rura yang sudah meninggal itu.
Ara menuliskan sesuatu pada buku besar, buku laporan pasien yang datang. Bidan Army selalu menyuruhnya menuliskan di buku sebelum data dipindahkan ke laptop. Atasannya itu selalu minta hal sekecil apapun harus bisa dijelaskan secara detail.
Getaran pada ponsel di atas meja membuat Ara yang sedang mencatat kehilangan konsentrasinga. Ia segera mengambil ponsel, dan betapa terkejutnya saat mendapati balasan dari Sakaf.
[Apa maksud kamu mengirim saya pesan nggak penting seperti itu?]
Ara membulatkan matanya, bukannya Sakaf bilang dia menunggu Ara menghubunginya. Kenapa setelah dihubungi malah jawaban seperti itu yang Ara dapat?
[Kan kemarin kamu yang nyuruh aku buhungin kamu]
Lama Ara menunggu jawaban dari Sakaf, namun tak kunjung dibalas. Hingga akhirnya datang kembali pasien yang membawa seorang bayik mungil. Kedatangan pasien itu untuk mengimunisasi bayiknya yang baru berusia dua bulan.
"Nggak kerasa kayaknya baru kemaren deh disuntik, sekarang udah waktunya suntik lagi," ujar Ara seraya menggendong bayik itu untuk ia timbang.
Dengan seksama Ara membaca angka yang ditunjukkan oleh jarum pada timbangan bayik itu, "Empat ribu lima ratus gram," gumamnya seraya kembali menggendong si bayik dan memberikannya pada sang ibu.
__ADS_1
Ara menuliskan beberapa keterangan pada buku kesehatan ibu dan anak milik bayik tersebut. Setelah data terisi lengkap, Ara mengantar ibu dan bayiknya menuju ruangan Bidan Army yang akan memberikan imunisasi pada bayi itu.
"Kamu harus belajar menyuntik bayik, dong, Ra," ujar Bidan Army.
"Takut, Bu. Aku nggak mau lihat deh," jawab Ara seraya memilih keluar dari ruangan Bidan Army.
Saat kembali ke mejanya, ternyata Ligar sudah datang. Gadis itu sedang asyik memainkan ponselnya.
"Kamu udah dateng aja, jam berapa ini?" tanya Ara membuat Ligar tersentak kaget.
"Ya Rabb, Araaa, aku kaget tahu!" seru Ligar seraya mengusap dadanya.
"Gantian, kemarin kamu yang bikin aku kaget," sahut Ara seraya melihat jam pada ponselnya. Ternyata sudah jam 14.00.
"Eeh gimana semalam acara lamarannya?" tanya Ligar penasaran.
"Ya gitu aja, nih," jawab Ara seraya memamerkan cincin yang tersemat di jari manisnya.
"Uluuh so sweet ...."
"Kamu sama Bang Regas kapan? kalian pacaran udah lama 'kan?" selidik Ara.
Ligar menghela napas, " Nggak tahu deh, Ra. Hubunganku sama dia jalan di tempat aja, nih."
Ara tak berani menjawab lagi, jika sudah seperti itu berarti sedang ada masalah antara keduanya. Ara lebih memilih segera merapikan barang-barangnya. Ia sudah sangat mengantuk, tidurnya semalam tidak nyenyak. Dalam pikirannya ia ingin segera pulang dan tidur nyaman di kasurnya.
Saat akan memasukkan ponsel ke dalam tas, benda pipih itu berdering. Ara menatao layar ponsel dengan perasaan bergemuruh. Nama Calon Suami terpampang nyata di layar ponsel. Ragu-ragu ia menjawab panggilan itu.
"Saya di depan klinik, ayok pulang bareng."
"Hah? apa? kamu di mana?"
"Cepat, jangan buang-buang waktu!"
Panggilan terputus dengan Ara yang masih tak percaya apa yang diucapkan Sakaf pada panggilan barusan.
"Kenapa, Ra?" selidik Ligar melihat kepanikan di wajah Ara.
"Kak Sakaf jemput aku, aku duluan. Dadaah Ligar," sahut Ara seraya cepat-cepat melangkah. Ia takut membuat Sakaf terlalu lama menunggu.
__ADS_1