
Tiba di tukang kupat tahu, Ara langsung membuat pesanan sementara Aro langsung duduk pada kursi plastik berwarna merah yang menghadap meja panjang. "Dua ya, Mang. Yang satu komplit, satunya lagi kupatnya setengah aja, tahunya banyakin, jangan pakai toge sama nanti bumbunya dibanyakin terus bawang gorengnya juga banyakin ya, Mang!" pinta Ara membuat sang penjual mengerutkan kening dalam.
Aro yang mendengar hal itu langsung tertawa, mana hafal si penjual bila pesanan Ara aneh seperti itu. Akhirnya, Aro beranjak dan mendekati Ara yang masih berdiri di dekat gerobak dengan sang penjual yang sedang memotong kupat dan menaruhnya di atas piring putih.
"Kamu tuh kalau bicara yang ringkas aja, dipikir si amangnya ngerti apa yang kamu bilang tadi?" Aro memukul dahi Ara dengan ponselnya.
"Mas Ar, jahil!" sentaknya seraya berlalu, memilih duduk manis dan menunggu pesanan.
"Mang, hafal nggak dia bilang apa barusan?" Aro berbisik pada si penjual.
"Enggak. mau saya tanyain takut ngomongnya panjang lebar lagi," sahut si penjual, bila Ara mendengarnya habislah dia pasti mengomel.
"Ya udah, bikin aja yang buat dia kupatnya dua, tahunya empat, bumbu sama bawang gorengnya banyakin," jelas Aro seraya menepuk bahu si penjual.
"Nah, kalau bicaranya pelan gini kan jadi saya ngerti," ujar sang penjual seraya menggeser piring berisi kupat tahu Aro yang sudah siap.
"Ya udah, nanti anterin ke meja!" suruh Aro seraya mengangkat piring, namun dicegah sang penjual.
"Yang ini bayarannya beda loh, Mas!" katanya seraya menunjuk pada piring pesanan Ara.
"Bila perlu saya borong sama gerobaknya, Mang!" jiwa sombong Aro mulai kekuar, ia menyalak seraya memukul gerobak pelan agar tak didegar Ara.
Sang penjual menyelisik ke wajah Aro, ia menyipitkan mata lalu kembali pada kegiatan sebelumnya yaitu menyiramkan bumbu pada piring pesanan Ara. Seperti mengingat sesuatu, sang penjual kembali memandang Aro yang baru akan melangkah.
"Mahija Aro, ya? artis kan?" tebaknya.
Aro menggeleng, "Bukan, salah orang."
"Masak, sih? tapi wajah congaknya mirip," sang penjual kembali menyelisik wajah Aro. Beruntung keadaan sekitar sepi, jadi Aro bisa leluasa tanpa memakai masker dan kaca mata.
"Udah, deh, Mang. Ini udah jadi kan?" Aro menunjuk piring pesanan Ara seraya mengambilnya.
Ia meninggalkan sang penjual dan gerobaknya tanpa berkata-kata lagi. Membiarkan lelaki bertubuh kurus dengan kulit hitam terbakar sinar matahari itu melongo.
"Nih, punya kamu," Aro meletakan piring yang memiliki bumbu dan bawang goreng paling banyak.
"Ini nggak salah?" tanya Ara keheranan melihat isi piringnya yang penuh.
"Salah apanya?" Aro pura-pura tak tahu kejanggalan apa yang ada pada piring itu.
"Ini banyak banget, Mas!" seru Ara seraya mendorong piringnya ke tengah meja hingga beradu dengan piring Aro. "Nggak sanggup makan sebanyak itu," keluhnya seraya melipat kedua tangan di dada dan mengerucutkan bibir.
__ADS_1
"Kamu tuh, Ra ... makan aja deh, kita butuh energi banyak buat beresin rumah kamu!" tegas Aro seraya beranjak.
Ia membawa kursinya mengelilingi meja, lalu menyimpannya tepat di pinggir kursi yang diduduki Ara. Aro membungkuk seraya mengetuk meja dengan jari-jarinya.
"Kamu mau aku ...."
"Iya, aku makan nih!" Ara yang tak ingin Aro melanjutkan kalimatnya itu, segera menggeser kursi Aro menjauh dari kursinya. Ara menarik kembali piringnya dan mulai mengambil sendok yang tersimpan di tengah meja pada keranjang kecil berwarna biru.
"Udah, sana!" sentak Ara saat Aro masih berdiri memperhatikannya.
"Nggak mau, mau duduk di sini biar bisa mantau kamu," sanggah Aro seraya mengambil piringnya kemudian duduk.
Keduanya tak lagi bicara, lebih memilih fokus terhadap apa yang mereka makan. Aro melirik Ara yang nampak kesusahan menghabiskan makanannya. Dia sendiri sudah selesai menghabiskan makanannya. Aro pamit sebentar untuk meninggalkan tempat itu, tak bilang hendak ke mana pada Ara. Ara sendiri enggan bertanya.
"Ini pasti kerjaan dia yang nambahin kupatnya," gumam Ara setelah Aro pergi. Ingin tak menghabiskan sayang, tapi kebiasaaannya makan sedikit, sangat sulit menghabiskan kupat tahu itu.
Hingga Aro kembali, Ara baru bisa menyelesaikan kegiatan makanannya walau dengan perut yang terasa penuh. Terlihat dari tangannya yang memegang bungkus rokok, Aro sepertinya habis dari warung.
"Mas, ngerokok mulu deh," protes Ara saat pria itu kembali duduk, tapi agak jauh dari Ara.
"Asem, tahu!" sahut Aro seraya mengembuskan asap Rokok ke udara.
"Nggak baik, Mas!" nasihat Ara, namun hanya dibalas senyum kecil oleh Aro.
"Ngomong aja!"
"Mas, kalau syuting bisa nggak, nggak usah ada adegan senonohnya?" Ara sangat hati-hati mengucapkannya, ia sampai memelankan suaranya.
"Emang kenapa?" tanya Aro santai.
"Pernah mikir nggak Mas, gimana perasaan ayah sama bunda pas lihat adegan kayak gitu?"
"Mereka selama ini diam aja," Aro kembali menyulut rokok keduanya, cepat sekali ia menghisap benda yang dapat mengakibatkan kerusakan paru-paru itu.
"Mereka diam karena nggak mau debat terus sama, Mas," beritahu Ara tangannya terangkat untuk merapikan rambut Aro yang menutupi mata pria itu.
"Mas, pulang ya, Mas. Kita semua tuh sayang loh sama kamu. Mas masih bisa cari rezeki lain tanpa harus menyalahi aturan agama kita."
"Kamu kenapa tiba-tiba ngomong gini, sih?" tanya Aro heran, biasanya Ara tak banyak komentar.
"Cici yang cerita, dia denger Mas diajakin pakai obat sama kru di lokasi syuting kan?" desak Ara yang memang mendengar segala keburukan Aro dari Cici.
__ADS_1
"Ember banget si Frea!" makinya seraya memukul meja.
"Bukan Cici yang ember, aku yang tanya," sanggah Ara.
"Kapan lo tanya dia?" Aro mulai memupuk amarah.
"Semalam, sebelum Mas datang," ungkap Ara hati-hati.
"Kenapa kamu tanya-tanya tentang aku sama dia? kamu bisa tanya langsung sama aku!" sentak Aro.
"Emang kalau aku tanya langsung, Mas mau jujur?" balas Ara.
Aro diam, dia merasa perkataan Ara memang ada benarnya. Dirinya tidak mungkin menceritakan segala keburukannya pada keluarganya. Dia memang sudah merasa terlalu jauh dari Sang Pencipta. Kehidupannya membuatnya terbuai untul lalai dan masa bodoh dengan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Memiliki orang tua dan keluarga yang religius tidak serta merta membuatnya ikut turut berada di jalan yang sama. Ia terlalu larut dengan teman-teman satu profesinya. Memang masih salat, tapi selalu telat bahkan sengaja terlewat.
"Mas, maaf banget. Aku sayang sama kamu, aku nggak mau Mas terlalu jauh melangkah. Ayah sama bunda nggak mau terus menerus bawel sebab nggak mau berdebat sama kamu. Tapi, aku tahu mereka khawatir sama kamu," Ara sampai merubah posisi duduknya agar berhadapan dengan Aro. Ia kembali merapikan rambut pria itu. Kepalanya yang tertunduk membuat rambutnya kembali menutupi mata indah Aro, Ara sampai menarik dagu itu agar Aro menaikkan kepalanga.
"Maaf, tapi aku mau Mas kembali. Anggap aja yang ngomong ini Bunda," ujar Ara dengan tatapan sayu membuat Aro luluh.
Tangan Aro segera menangkap tangan Ara yang masih berada di dagunya, lagi-lagi masuk perangkap, pikir Ara yang merutuki kebodohannya karena telah menyentuh dagu pria di hadapnnya itu.
"Kamu mau nemenin aku buat ninggalin semuanya?" pinta Aro, tangannya kini menggenggam tangan Ara. Ara berusaha menarik tangannya, namun lagi-lagi tak bisa. Selalu begitu, terus saja masuk ke dalam jebakan yang ia buat sendiri.
"Mau, Ra?" desaknya membuat Ara menggeleng dan tentu menyulut amarah Aro.
Aro mengempaskan tangan Ara, tentu saja ia kecewa. Aro kembali menyulut rokok. Hatinya memupuk prasangka, seburuk itukah dirinya hingga Ara menolaknya?
Ara beranjak, meninggalkan Aro yang masih asyik merokok.Dia merasa harus segera kembali ke rumah, sudah terlalu lama meninggalkan Vanya. Dirogohnya uang dua puluh ribuan dan diserahkan pada si penjual.
"Kurang, Neng," ujar penjual itu, Ara mengerutkan kening.
"Harganya naik?" tanya Ara.
"Kurang lima ribu, kan punya si Neng kupatnya nambah," jelas si penjual membuat Ara membulatkan mata dan mandang tajam ke arah Aro yang masih santai menghisap rokoknya.
Ara kembali merogoh saku di pinggiran gamisnya, tepat sekali. Uang pecahan lima ribu yang ia ambil. Ia serahkan pada si penjual seraya mengucapkan terima kasih. Kemudian Ara segera pamit dan kembali pada Aro.
Di hadapan Aro, Ara berdiri. Tangan Ara terangkat untuk merebut rokok yang sedang dihisap Aro seraya berkata, "kalau mau aku temenin, stop temenan sama barang ini. Baru aku temenin."
Ara membuang sembarang rokok yang masih tersisa setengah itu kemudian dengan sengaja menginjaknya, membuatnya hancur.
__ADS_1
"Satu lagi, jangan suka seenaknya sama aku," ucapnga kemudian pergi begitu saja tanpa menunggu Aro yang melongo memperhatikan kepergiannya.
Aro sendiri seperti tersihir, ia segera menjauhkan bungkus rokok beserta korek di hadapannya. Benarkah Ara akan menemaninya bila ia bisa berjauhan dengan benda yang bahkan membuatnya candu itu?