
Sudah dua hari ini Hika demam. Tak mau ngemil, minum ASI pun hanya sebentar kemudian menangis. Rewel semalaman membuat orang tuanya juga tak bisa tidur. Tak mau digendong Ara, hanya mau digendong Aro itu pun tak mau berhenti menangis.
“Ini efek dari tumbuh gigi, mau bisa jalan juga kayaknya. Soalnya kata Ceya, Minggu lalu Dede bisa ngelangkah pas aku tinggal salat,” papar Ara berusaha menjawab kerisauan suaminya.
Hika dalam gendongan Aro baru saja tertidur dengan sesekali masih terisak. Bekas air matanya tak berani Ara usap sebab takut membuatnya terbangun.
“Telepon abang coba, Ra,” pinta Aro.
Ara tak setuju menelepon Akhza, ia bukan sekali dua kali mendapati bayi seusia Hika demam. Tapi, paniknya Aro malah membuat Ara jadi risih.
“Udah, Mas tidur aja. Mumpung Dede tidur,” bujuk Ara saat pagi hari Hika kembali tidur setelah ganti popok dan pakaian. Bayi itu baru mau lepas dari gendongan Aro.
“Enggak, gimana bisa tidur kalau anak sakit.” Pasalnya baru kali ini Hika demam hingga tiga hari begini.
“Mas, semua anak mengalaminya,” jelas Ara seraya menyentuh dahi suaminya itu. “Tuh ‘kan ikut anget,” imbuh Ara lalu memegang leher Aro yang juga terasa hangat.
“Sekarang Mas ikut tidur, temenin Dede.” Ara menepuk pelan tempat kosong di samping Hika.
Pria itu pun akhirnya menurut, berharap bisa terpejam agar segala cemasnya ikut teredam.
***
Aro mengerjap, indra pendengarannya sayup-sayup mendengar suara ramai di luar kamar. Ia meraba tempat di sampingnya, sudah tidak ada Hika di sana.
Pria itu segera melompat dari tempat tidur, panik karena tak mendapati putrinya di sana.
Aro keluar kamar dengan muka bantalnya, ia sedikit kaget sebab di ruang tengah sudah ramai banyak orang dengan Hika yang sedang dalam posisi tengkurap di pangkuan seseorang.
“Anakku diapain?” pekiknya kemudian menatap Ara penuh tudingan.
Ara beranjak, ia mendekat ke arah Aro dan menggandeng suaminya menuju dapur.
“Dede lagi diurut, badannya sakit semua kata Mak Eha,” beri tahu Ara.
“Tadi bunda telepon, aku bilang aja Dede masih nangis terus. Eh nggak lama bunda sama ayah dateng bawa Mak Eha,” jelas Ara.
“Terus kenapa dedenya?” Aro masih merasa panik.
“Sakit badan, dia kan terlalu banyak yang gendong.” Ara mengambilkan minuman dingin dari kulkas, membuka seal-nya lalu memberikannya pada Aro.
“Minum dulu, abis ini makan,” suruh Ara dan Aro menurutinya.
“Ini pasti gara-gara ayah sering ajak dede main di luaran juga,” tebak Aro membuat Ara memukul lengannya.
“Jahat, ih!” protes Ara.
“Kan emang bener, ayah tuh seenaknya aja bawa dede pergi. Aku aja papanya khawatir,” sela Aro.
Ara tak menanggapi, ia memilih mengambilkan Aro nasi. Namun, ada yang aneh saat dia membuka tutup penanak sekaligus penghangat nasi itu. Ara diserang mual hebat saat mencium uap nasi. Ia tak bisa menahan gejolak dalam perut yang merangsek minta dikeluarkan. Dengan segera wanita itu menuju wastafel dan mengeluarkan dorongan kuat dari dalam perutnya.
Aro refleks berdiri dan menghampiri istrinya, diusapnya punggung Ara selagi wanita itu memuntahkan isi perutnya.
Ara tak bisa menghentikan muntahnya, wajahnya dipenuhi peluh yang banyak. Perutnya keram dengan tenggorokan yang terasa sakit dan pahit.
“Mas, pusing,” keluh Ara saat berusaha menegakkan kepala, namun lagi-lagi mual menyerangnya. Wanita itu kembali muntah tanpa ada yang keluar dari dalam sana. Tadi ia sudah memuntahkan seluruh isi perut hingga cairan berwarna kuning.
“Mas, sakit,” beri tahu Ara sambil memegangi perutnya.
“Ra, kamu?” Aro malah merasa senang. Ia menangkap wajah Ara yang dipenuhi peluh.
“Ra, kamu hamil?” Tak ada lagi yang terlintas dalam pikirannya, selain Ara hamil.
“Ara, kita mau punya anak lagi?” Aro memeluk Ara yang terlihat semakin melemah.
“Iya, Mas. Maaf baru ngasih tahu,” aku Ara nyaman dalam pelukan.
“Lemes, Mas,” ungkap Ara.
“Tapi, kenapa baru bilang?” protes Aro seraya mengusap peluh di wajah Ara.
“Mau kasih kejutan, tapi malah gini hehehe.” Ara tertawa lemah.
“Udah, ke kamar yuk! Istirahat dulu,” ajak Aro kemudian membimbing Ara menuju kamar.
Saat melintas di ruang tengah, bunda dan ayah bertanya kenapa tadi Ara muntah.
“Hika mau punya ade,” beri tahu Aro dengan wajah berbinar.
“Fix sekarang panggilannya kakak, bukan dedek lagi.” Aro memandang putrinya yang kini sudah kembali berpakaian dan sedang minum susu dalam pangkuan bunda.
Bunda serta-merta memindahkan Hika ke pangkuan ayah. Tadi saja berebut ingin gendong Hika, sekarang malah diberikan begitu saja.
__ADS_1
“Sayang, kamu hamil?” Bunda menghampiri Ara.
“Jalan enam Minggu bunda. Maaf baru bilang,” sesal Ara, namun tak menjadikan bunda marah.
***
Acara ulang tahun Hika tetap dilaksanakan meski Ara sedang dalam keadaan hamil muda. Kali ini keadaannya benar-benar tak baik. Bahkan sudah tiga hari ini bunda menginap di rumah Ara.
Mami yang kini sudah menikah dengan Monde, belum bisa datang sebab sedang sibuk dengan kegiatan anak sambungnya.
“Jangan ikut-ikutan kerja, deh,” larang Aro saat Ara ikut membereskan sampah bekas air mineral.
Hika juga lebih sering dibawa menginap ke Bogor oleh bunda. Bayi gembul itu, kini minum susu formula. Sudah bisa makan nasi pula, asal dengan kuah dia akan makan banyak.
Di bulan ke-5, jenis kelamin bayi sudah diketahui. Yakni, perempuan lagi.
“Kamu kecewa, Mas?” Ara menangkap raut wajah Aro yang datar saat mendengar penjelasan dokter.
“Enggaklah, malah seneng. Itu artinya, coba lagi sampai dapet anak laki,” seloroh Aro.
“Terus kenapa kelihatan kayak nggak seneng?” tuding Ara.
“Deg degan bayangin kamu ngelahirin, Sayang,” ringis Aro.
Ara tertawa, “akunya biasa aja, Mas.”
“Malah nggak sabar lahiran lagi,” lanjut Ara seraya mengelus perutnya.
Seolah mengerti, bila sedang ada di rumah Hika malah menempel pada papanya. Dia jarang mau merepotkan Ara. Selain membersihkan diri sehabis buang air besar, selebihnya Hika selalu meminta bantuan papanya.
Tepat di usia Hika yang ke 1,5 tahun, Ara menerapkan toilet training pada putrinya itu. Bukan tanpa alasan Ara melakukannya. Ia sering mendapati popok Hika yang tetap kering setelah dipakai selama dua jam. Bahkan, terkadang putrinya itu tak mau buang air besar meski masih memakai popok kering. Toilet training bagi Hika bukan hal mudah memang. Sedangkan Ara saja telah memasuki bulan ke delapan masa kehamilan. Kondisi yang sangat tidak stabil.
Seminggu pertama menjalani toilet training tentu kacau, Hika baru bilang pipis saat sudah melakukannya. Baru bilang ee saat sudah keluar pula hajatnya itu. Tapi Ara tak patah arang, ia sabar meski selama seminggu itu juga suaminya sibuk ikut pameran bersama Alisha dan suaminya.
Sering pergi ke Jakarta dan Bandung juga. Pulang larut saat Ara dan Hika sudah dibuai mimpi. Ara tak bisa melarang, sebab memang itu impian suaminya. Produknya bisa dikenal luas oleh berbagai kalangan.
Hingga tiba di minggu ke-40, lewat dua minggu dari hari perkiraan Lahir, Ara masih belum merasakan tanda-tanda akan segera melahirkan juga. Tapi, ia berusaha tenang. Banyak ibu hamil yang melahirkan Bahkan lewat dari 40 minggu.
Yang paling ribut akan hal ini tentu Aro, dia cerewet menanyakan kapan Ara lahir karena sudah lewat dari perkiraan. Ara setenang mungkin menjelaskan bahwa yang dialaminya adalah hal biasa.
Wanita itu bahkan menyarankan lebih baik Aro fokus dengan kegiatannya saja. Tak usah memikirkan keadaannya. Berdoa yang terbaik. Dari pada menghabiskan waktu dan energi dengan prasangka buruk. Bukankah Allah itu sebagai mana hati hamba-Nya? Jadi berprasangka baik saja.
“Kasih tahunya nanti aja pas aku udah di rumah sakit,” cegah Ara saat Akhza ingin menelpon Aro.
Akhza yang saat itu sedang di Aceh, bahkan dipaksa pulang beberapa hari untuk menemani Hika juga memantau keadaan Ara. Pria itu terpaksa menurut untuk meninggalkan sesaat tugasnya di salah satu rumah sakit di Aceh sana. Selain mengurusi Ara, ada hal lain yang ingin dokter itu lakukan di ibu kota.
Sore itu, saat sudah diperiksa dokter, Ara dinyatakan sudah mulai kehilangan air ketuban meski tak banyak. Ia dilarang kembali pulang padahal awalnya hanya ingin memeriksakan kandungan.
Malamnya Aro datang tentu dengan panik tingkat tinggi. Ia bahkan tak henti minta maaf pada Ara sebab sudah telat pulang dan membiarkan Ara ke rumah sakit tanpa dirinya.
Obat yang dimasukan lewat bagian bawah tubuh Ara tak bereaksi apa-apa, hingga saat subuh tiba Ara mendapat kunjungan sang dokter ia kembali diberi obat perangsang yang dimasukkan lewat infus.
Sambil menunggu kontraksi, Ara diperbolehkan jalan-jalan tapi Aro melarangnya. Ia tak mengizinkan istrinya itu untuk turun dari tempat tidur.
Tangannya tak melepas tasbih, sambil menggumamkan doa dan zikir ia terus duduk di samping Ara. Menghujani wajah istrinya itu dengan ciuman. Rasanya sudah segala bacaan ia amalkan termasuk do’a Nurbuat. Namun, hingga Asar, Ara tak kunjung merasakan kontraksi. Sedangkan pergerakan bayinya sudah tak lagi terasa.
Aro semakin dilanda cemas saat sentuhannya tak direspon sang calon putri. Ia panik sampai memaksa dokter untuk kembali memeriksa istrinya.
Hingga magrib, barulah Ara merasakan panas mulai menjalari punggung, pinggul hingga perut. Kontraksi terasa lebih sering.
Saat dokter memeriksa, baru bukaan dua tapi Ara segera dipindahkan ke ruang bersalin. Hingga saat kembali diperiksa sudah bukaan 8, Ara dengan di luar kendalinya dilanda kontraksi yang amat menyakitkan. Lebih sakit dari saat melahirkan Hika.
Hingga saat ketuban pecah sampai mengenai pakaian dokter yang memeriksa, Ara sudah tak sadar. Ia hanya sakit merasakan kontraksi. Aro sendiri cemas melihat keadaan istrinya yang penuh peluh di dahi. Berkali-kali Aro lap, namun kembali mengucur.
"Sabar, Ra ... ini udah bukaan 9, sambil nunggu lengkap, Ara duduk yuk!" saran dokter Sarah setelah ia kembali dengan mengganti pakaian
Ara didudukan dengan bantuan Aro.
"Mas, masih inget 'kan gimana cara bantuin aku biar lahirnya gampang?" Ara bertanya memastikan suaminya itu selalu siaga.
"Ingat kok, tenang aja." Aro mencoba tenang.
Hingga dokter Sarah berkata bukaan sudah lengkap. Dan, kejutan. Ara hanya dalam satu kali mengejan langsung bisa mengeluarkan bayi perempuannya. Rasa sakit yang sempat menyiksa, langsung menguap begitu saja ketika proses imd. Bayi itu diletakan di perut Ara. Rambutnya lebat, masih memejamkan mata setelah tadi menangis histeris
Plasenta masih belum keluar juga. Dengan sabar dr. Sarah beserta bidan dan juga perawat membantu Ara untuk bisa mengeluarkan plasenta. Ditarik pelan-pelan dari bawah. Kemudian perut Ara juga sedikit didorong. Sentuhan kecil, namun sangat sakit. Ara sampai mengeluarkan air mata.
Hingga satu jam kemudian, barulah plasenta berhasil keluar dan hal itu membuat Ara bernapas lega. Hika saat itu sedang berada di rumah bunda. Sengaja tak diajak, agar tak membuat gadis cilik itu merasakan ikut panik.
Besoknya sekitar pukul 11.45 WIB, Ara sudah diizinkan pulang. Melihat bayi lucu itu menggeliat sungguh menyenangkan.
Ara memutuskan untuk pulang ke rumahnya saja. Bukan ke rumah Bogor sesuai keinginan bunda. Kali ini bunda mengalah, membiarkan Ara dengan pilihannya.
__ADS_1
Kepulangan Ara disambut meriah oleh seluruh keluarga besar. Adalah Alisha dan suaminya yang paling semangat mendekor rumah. Di ruang tengah bahkan dipasang kata-kata selamat datang untuk Ara.
Selamat datang di rumah, Bubu dan babby girl.
"Kita belum tahu nih, siapa nama adenya Hika," celetuk Alisha yang tengah hamil besar.
Ara dan Aro yang sedang menggendong Hika hanya saling melempar pandang. Belum mau mempublikasikan nama putri kedua mereka.
"Hika sekarang jadi kakak. Ini dede," ujar Ara pada Hika yang duduk di sampingnya sedangkan adiknya tengah berada dalam pangkuan.
Malam hari suasana rumah kembali lengang, bunda dan ayah juga tak menginap sebab mendapat telepon dari Nadia bahwa jida jatuh di kamar mandi.
Mami baru akan datang besok, sedangkan Teh Fenti dan Omar sedang pulang ke Subang untuk mempersiapkan syukuran kehamilan istri Omar. Akhirnya, Omar akan jadi seorang ayah.
Akhza sendiri bahkan sudah kembali ke Aceh sebelum Ara melahirkan. Ada sedikit rasa bersalah pada diri Ari sebab telah memaksa sang Abang pulang. Pasti dia lelah sekali.
Hika sudah tidur sejak pukul 20.00. Dia sudah tak mengompol, sudah pintar ke toilet juga. Awalnya tadi bunda akan mengajak Hika ke rumah jida, tapi Ara melarangnya. Ia sangat rindu pada Hika.
"Terima kasih ya, sudah kembali melahirkan bidadari cantik," bisik Aro yang berbaring di samping Ara yang baru selesai megASIhi putri kecil mereka.
"Jadi namanya siapa?" Ara sendiri masih belum tahu nama apa yang akan Aro berikan pada putri kedua mereka.
"Nanti aja bahas nama, sekarang mending bahas kita." Aro membelai lembut pipi Ara.
"Mau bahas apa?" tanya Ara.
"Bahas upil?" goda Aro.
"Mas Ar," sela Aro.
"Inget nggak sih masa-masa pdkt kita?" kenang Aro.
"Ih, nggak ada ya kita pdkt. Mas tuh nyebelin!" sela Ara seraya tersenyum mengingat bagaimana dulu saat Aro jahil padanya.
"Nyebelin tapi gemesin, ya?" tebak Aro.
"Enggak!" sanggah Ara, namun dengan luluman senyum di bibirnya.
"Enggak salah," sahut Aro.
"Enggak bener!" tegas Ara.
"Enggak ada yang bener selain cintaku ke kamu."
"Ara, terima kasih udah lahir ke bumi dan melengkapi hidupku."
"Terima kasih sudah menerima segala egoku, marahku, merajuknya aku, dan sudah rela menyerahkan ini." Seraya menyentuh perut Ara.
"Menjadikan zuriyatku tumbuh di dalamnya, hingga memberiku dua bidadari cantik. Eh jadi tiga sama kamu. Mungkin nanti jadi empat," seloroh Aro meski keinginannya memiliki anak lelaki masih besar.
"Mari saling erat berpegangan, sebab jalan di depan belum bisa kita tebak akankah mulus atau berlubang?"
"Mari saling berangkulan, menguatkan di setiap langkah agar tetap pada garis ketaqwaan."
"Ingatkan aku kalau udah mulai nggak waras, hehehe."
"Tegur aku kalau udah mulai tak pantas."
Hingga cuap-cuap Aro yang panjang lebar itu malah membuat mata Ara berkaca-kaca.
"Aku mencintaimu, itu akan selalu." Aro mencium sangat lama dan dalam kening istrinya hingga Ara meloloskan cairan bening di kedua matanya.
"Terima kasih sudah memilihku di antara banyak bintang yang datang padamu, Mas."
"Terima kasih mempercayaiku untuk jadi ibu dari anak-anakmu."
"Tegur aku juga kalau udah mulai nyebelin. Aku enggak mau dipulangin, Mas harus selalu cinta dan sayang ke aku. Aku mau jadi satu-satunya selamanya," papar Ara membalas semua perkataan Aro.
"Jadi kapan siap untuk anak ketiga?" goda Aro seraya menyapu air mata Ara.
"Mas, yang kedua aja belum ada namanya," protes Ara.
"Namanya ...."
Namun Hika keburu bangun, gadis kecil itu tiba-tiba duduk sambil menangis. Sontak adiknya juga ikut bangun dan menangis.
Ara segera meraih tubuh mungil itu ke dalam dekapan. Aro juga melakukan hal sama terhadap Hika.
Kedua pasangan itu saling berpandangan kemudian tertawa.
"Selamat menjalani hari-hari penuh warna."
__ADS_1