
Ara sedang menaruh barang-barang yang tidak lagi terpakai di teras rumah saat Aro dan dua orang pekerja Kafe tiba di rumah Vanya. Dia tersenyum hangat menyapa Rayan dan Arya, pemuda tanggung yang bekerja sebagai pelayan Kafe.
"Kalian emang nggak cape bantuin aku?" tanya Ara begitu kedua pemuda itu berada di dekatnya, kemudian disusul Aro yang nampak angkuh, tanpa senyum sedikitpun.
"Nggak kok, Teh," sahut Rayan, si pemilik tubuh kurus dengan kacamata tebal menghiasi wajahnya.
Ara menggeleng, "Jangan panggil Teteh atuh, panggil Ara aja!"
Sementara, Aro masih enggan menyapa lebih dulu, ia masih pura-pura sibuk dengan ponsel hingga membuat Ara yang mengalah.
"Mas juga nggak capek nih bantuin aku?" selidiknya menyelisik ke wajah Aro yang tampak datar.
"Capek dong, tapi demi bunda makanya gue mau bantuin. Jadi lo jangan ge-er," ujar Aro seraya menyuruh Rayan dan Arya masuk terlebih dahulu.
"Mas kalau nggak ikhlas nggak usah bantuin," Ara melangkah meninggalkan Aro, ia ingin mengkondisikan Arya dan Rayan untuk mrngangkut barang-barang milik Vanya di lantai atas.
"Tungguin!" Aro mencekal lengan Ara, menariknya kasar hingga tubuh Ara menabrak dadanya.
"Mas tuh kasar banget sih!" Ara menjauhkan tubuhnya, meski lengannya masih dipegang Aro. "Mas bisa nggak sih jangan suka seenaknya sama aku?" sekali lagi Ara berusaha lepas dari cengkraman Aro, namun gagal.
"Lo beneran mau pindah dari rumah bunda?"
"Iya, kenapa? Mas pasti seneng kan?" Ara mendongakan kepalanya demi bisa menatap wajah Aro.
"Nggak tahu terima kasih! udah diurus dari bayi, segede gini mau pergi ninggalin bunda," bisik Aro membuat Ara menghela napas dalam.
"Mas, aku capek banget. Aku nggak mau ribut sama kamu, kalau Mas nggak ikhlas, Mas bisa pulang," Ara berkata lirih menahan tangis. Entah apa penyebab kalimat Aro terasa menusuk hatinya.
Aro yang menangkap kesedihan Ara, seketika merasa sakit hati juga. Ia merasa menyakiti dirinya sendiri.
"Gue mau makan dulu!" Aro mengalihkan pembicaraan membuat Ara mendengus kesal.
"Cuma ada roti, Mas mau roti bakar?" tawar Ara dan diangguki oleh kakaknya itu.
"Ya udah lepas dulu tangan akunya," pinta Ara seraya melirik lengannya yang masih dipegang Aro.
Ara segera melangkah ke dapur setelah Aro melepaskan dirinya. Dalam hati ia mengomel, dirinya saja yang sejak tadi merasakan kelaparan tak sempat membuat makanan sebab ingin segera menyelesaikan tugas, dirinya baru datang sudah minta makan.
Ara mengolesi roti dengan selai nutella kesukaan Aro. kesukaannya juga. Dia buat beberapa agar nanti Ari tak menyuruhnya membuat kembali bila dirinya masih lapar.
Tak lama, roti itu jadi dan Ara menghidangkannya di meja makan. Ditambah coklat hangat sebagai oelengkap.
"Sini duduk!" Aro menyurh Ara duduk pada kursi kosong di sebelahnya. Ara menurut, ia duduk walau hati masih mengomel sebab tak pernah bisa melawan saat Aro memperlakukannya seenaknya begini.
Aro memotong-motong roti jadi beberapa bagian, kemudian ia mengambilnya menggunakan garpu dan menyuapkannya pada Ara.
"Buka mulut lo!" suruh Aro, "Gue yakin lo belum makan kan?" tebaknya, benar.
"Dari mana Mas tahu ...," belum sempat Ara melanjutkan Bicara, Aro sudah memasukan sendok berisi potongan roti ke dalam mulut Ara.
__ADS_1
"Kunyah, Ara!" suruh Aro saat Ara hanya melongo.
"Jangan suka telat makan, Ra!" Aro kembali menyuapkan roti pada Ara yang menurut saja, perutnya memang perih sedari tadi. "Nanti kalau udah kayak abang, susah sembuhnya. Jangan bikin bunda khawatir," lanjutnya seraya kembali menyuapkan roti ke dalam mulut Ara
Jadilah roti dan coklat yang dibuat Ara itu habis oleh dirinya sendiri. Meski Aro sedikit memaksa saat menyuapinya, tak bisa dipungkiri bahwa Ara merasa sangat senang. Setelah selesai. keduanya memulai kembali mengemas barang yang masih berceceran.
***
Dengan senyum sumringah Akhza menyapa Bumi dan Akash pagi ini. Ia bahagia dapat mengambil kunci kamar Ara dan menggagalkan Aro yang akan tidur di dalamnya.
"Bun, Ara nggak pulang?" tanya Akhza, penasaran.
"Belum, dia semalam nginep di rumah maminya," sahut Bumi yang sedang menyendokan nasi goreng untuk Akash.
"Mas Ar belum bangun?" tanya Akhza lagi, dia sampai celingukan mencari keberadaan kembarannya itu.
"Mas Ar ke tempat Ara sedari malem, bantuin Ara berkemas."
Mendengar jawaban Bumi, Akhza yang sedang minum reflek menyemburkan air yang ada di mulutnya. Dia ambil kunci kamar Ara, tapi Aro malah berhasil menemui Ara.
"Hati-hati, dong, Mas!" seru Akash seraya mengusap punggung Akhza.
"Kenapa Bunda nggak nyuruh aku aja yang bantuin Ara?"
"Kamu lagi sakit, nanti malah tambah menurun kesehatannya," jelas Bumi memberikan Alasan.
"Ya udah aku bantu di rumah barunya, aja ya, Bun?" tawar Akhza berharap diperbolehkan.
Akhza mendengus pelan, lagi-lagi Aro melangkah cepat darinya. Apalagi setelah diketahui kini Ara sudah tak sedang menjalin hubungan apapun dengan lelaki. Akhza tambah gusar saja dengan kedekatan Aro dan Ara.
Sementara di rumah barunya, yang letaknya tepat berada di seberang klinik tempat Ara bekerja, truk besar pengangkut perabotan sudah tiba. Ara dan Vanya sendiri datang bersama Aro yang hingga pagi masib mengenakan celana pendek dan kaos saja.
"Mas nggak mau pake masker? kalau mau aku ke klinik dulu ambil maskernya," tawar Ara saat Aro berkali-kali bersin terkena debu yang masih saja ada padahal rumah itu sudah dibersihkan oleh orang suruhan Akash.
"Nggak usah, deh, udah jangan!" cegah Aro seraya membantu mengangkat koper ke dalam rumah.
Rumah yang amat sederhana, hanya memiliki dua kamar dan satu ruang tamu. Kamar mandi dan dapur yang bergabung jadi satu. Catnya sudah banyak mengelupas di mana-mana. Langit-langitnya bahkan sudah menguning, lantai yang terbuat dari keramik berwarna putih juga sudah banyak yang retak.
"Lo yakin mau tinggal di sini?" tanya Aro saat melihat kamar tidur berukuran kecil, beda dengan kamar Ara yang ada di rumah bundanya. "Atau lo butuh duit buat renovasi lagi?" tawar Aro.
Ara tersenyun seraya menggeleng, " Nggak usah, makasih Mas. Tapi, ini udah cukup kok," jelas Ara menatap ke sekeliling ruangan. Berpikir mungkin nanti bisa dicat ulang agar lebih terang.
"Ra, gue salut sih sama lo. Lo mau mengorbankan kenyamanan lo demi bimbing nyokap lo di jalan yang bener," untuk pertama kalinya Aro memuji Ara. Membuat pipi gadis itu tentu bersemu merah.
"Kapan mulai proses masuk islamnya? nyokap lo suka kan?" tanya Aro lagi membuat Ara yang sedang senyum-senyum sendiri tak terlalu fokus dengan pertanyaan Aro. Ia hanya mendegar Aro bicara 'lo suka kan?'
"Iya, Mas ... aku juga suka," gumam Ara. namun masih dapat didengar Aro karena jarak mereka yang berdekatan.
"Suka apa, Ra?" Aro tanpa sadar sudah tak lagi menyebut Ara dengan sebutan Upil.
__ADS_1
"Suka ...," reflek Ara membulatkan mata dan menutup mulutnya, ia sepertinya sudah salah bicara. Ara sudah bingung harus menjawab apa.
"Ra, suka apa?" desak Aro membuat Ara tambah bingung, namun beruntungnya di saat itu juga perutnya berbunyi. Menandakan cacing-cacing dalam perut itu minta diisi.
"Lo lapar?" tanya Aro seraya terbahak, mereka memang belum sarapan. Ara memang lebih sibuk mengemasi barang daripada memikirkan perutnya.
"Iya, Mas ...," jawab Ara seraya tersipu malu.
"Makan kupat tahu di deket klinik, yuk?" ajak Aro membuat Ara mengingat kupat tahu yang tempo hari dikirimkan untuknya.
"Enak nggak, Mas?" tanya Ara pura-pura tak tahu.
"Waktu itu gue pernah ngirim ke klinik deh, enak nggak?"
Ara mengangguk mengerti, jadi benar pengirimnya adalah Aro, bukan Akhza. "Oh, jadi itu dari Mas Ar?"
Aro seketika teringat sesuatu, ia baru sadar bahwa saat itu mengenalkan diri sebagai Akhza pada orang yang ia titipi kupat tahu itu.
"Sorry, gue waktu itu ngerasa bersalah sebab bikin lo nggak sarapan. Dan, gue takut kalo lo tahu itu dari gue, lo ntar nggak mau makan," jelas Akhza panjang lebar seraya mengusap tengkuknya berkali-kali.
Ara tertawa, ia merasa berada di atas angin. "Sekesel-keselnya aku sama seseorang, makanannya mah nggak akan ditolak," Ara kembali tertawa, menampakan barisan giginya yang putih dan rapi.
"Dasar!" umpat Aro seraya menjitak jidat Ara seraya ikut tertawa.
"Mas ketawa? serius Mas ketawa buat aku?"
"Apa sih? tibang ketawa apa salahnya?"
"Nggak salah, cuma biasanya kan Mas tuh sama aku jutek banget. Senyum aja nggak mau," keluh Ara seraya menunduk membuat Aro merasa iba.
"Udahlah, nggak penting. Lebih baik kita sarapan, hm?" tawar Aro, berharap Ara mengiyakan.
Ara mengangguk senang, ia segera berpamitan pada maminya yang sedang mengatur beberapa orang yang sedang memasukkan barang-barang.
"Lo tahu, nggak. Kata Bunda, gue nggak boleh manggil lo dengan sebutan lo lagi," ucap Aro saat keduanya sedang dalam perjalanan.
"Maksudnya gimana, Mas?" Ara tak mengerti.
"Iya, jadi kata bunda, gue harus manggilnya aku kamu," jelas Aro.
"Jadi Mas Ar, nggak panggil Upil juga?" selidik Ara.
"Iya, kata bunda panggilnya harus aku dan kamu," jelas saja Aro berbohong. Sejak kapan Bumi bicara seperti itu? Tentuu itu hanya akal-akalan dirinya saja.
"Ya udah, aku sih kan memang manggilnya aku kamu," sahut Ara, polos. Tak sadar telah ditipu.
Aro tersenyum senang, ia memalingkan wajah dan berkali-kali berucap yes seraya mengepalkan tangannya. Ternyata semudah itu mengecoh Ara.
"Kamu kerja jam berapa?"
__ADS_1
"Hah?"
Tentu Ara akan setiap hari mendengar panggilan aku kamu itu. Aku, kamu akankah menjadi kita, Mas? batin Ara.