Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Bukan Kaleng-kaleng


__ADS_3

Teguran penjual kupat tahu membuat Aro sadar bahwa ia sudah cukup lama melamun sedari kepergian Ara. Ia segera beranjak tanpa peduli lagi pada rokoknya. Perkataan Ara benar-benar telah membuat hatinya gamang.


Sementara Ara sendiri sudah tiba di rumahnya yang sudah lebih ramai. "Bunda ...!" panggilnya pada Bumi.


Bumi yang sedang menyapu di teras tentu menyambutnya dengan pelukan.


"Si cantik Bunda dari mana?" Bumi melerai pelukan, "orang-orang pada nanyain, tuh semua Bunda suruh ke sini buat bantu beres-beres." Bumi menunjuk satu persatu pekerja Kafe yang sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing.


"Terima kasih, Bunda Sayang." Ara kembali memeluk Bumi dan memberinya kecupan di pipi kanan dan kiri bundanya itu.


"Eh, belum dijawab. Kamu dari mana?"


"Makan kupat tahu sama, Mas Ar," jawab Ara, sedikit merasa tidak enak sebab tak memebawa pulang kupat tahu.


"Masnya mana?" Bumi celingukan mencari keberadaan putranya itu.


Ara sedikit kebingungan harus menjawab seperti apa, Ia merasa, sekarang posisi dirinya dan Aro bukan seperti adik kakak. Dia merasakan Aro yang terlalu bersikap aneh, dia merasa Aro lebih manis terhadapnya.


"Tadi aku duluan, Mas mungkin masih di sana," jelas Ara tanpa berani menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Ya sudah, kamu ke kamar gih! tadi Abang udah bawakan barang-barang kamu."


Ara segera masuk ke dalam rumah, nampak rumah semakin bersih dan bau apek sudah hilang. Digantikan aroma segar yang menyeruak membelai indera penciumannya. Ia sapa satu persatu beberapa orang pegawai Kafe yang sedang berada di ruang tengah bersama Vanya, sedang membereskan letak perabotan.


Setelah sempat mengobrol sedikit dengan Vanya, Ara memutuskan untuk masuk ke kamarnya yang tidak ditutup. Di sana rupanya sudah ada Akhza dan Omar. Setelah mengucap salam, Ara menyapa kedua lelaki itu.


"Aro mana, Ra?" tanya Omar yang selalu dengan ciri khasnya, celana selutut, kaos pendek serta topi ala ala anak hip hop.


"Mas ada kok, tadi aku duluan pulangnya," beritahu Ara seraya tertarik melihat lemari pakaian yang sepertinya baru.


"Ini baru, ya, Bang?"


"Iya, suka nggak? kata yang jual itu model terbaru," jelas Akhza ikut berdiri di samping Ara.


Sementara itu Omar memilih pamit keluar dari kamar, sebab sedari tadi sutradara sudah terus saja menelon menanyakan keberadaan Aro. Bisa-bisanya Aro lupa hari ini ada syuting pagi.


"Harusnya nggak usah beli baru, pasti ayah yang belikan, ya?" tebak Ara.


"Siapa lagi, aku kan belum kerja. Belum punya penghasilan besar," papar Akhza membuat Ara tersenyum.


"Ra, tadi aku nemuin ini di bawah tempat tidur kamu," Akhza memperlihatkan banner yang tadi ia temukan saat merapikan barang-barang Ara.

__ADS_1


"Oh, itu. Aku pengen ngikutin jejaknya tante Celyn, Bang."


"Ngadain kumpulan remaja dengan menyuarakan anti pacaran?" tebak Akhza dan diangguki oleh Ara.


Sudah lama Ara ingin membuat perkumpulan seperti yang dibuat Celyn. Hanya saja dia masih belum menemukan waktu yang pas. Ligar adalah satu-satunya teman yang ia punya, justru malah menolak ikut sebab dirinya sendiri memiliki kekasih.


"Sudah ada anggotanya? minta tolong ke Atar aja, Ra. Biar dia bawa temen-temennya," usul Akhza.


"Oh iya, Bang. Aku kok baru kepikiran sekarang, ya?"


"Iya, cocok tuh buat temen-temen Atar yang emang suka dengan hal-hal kayak gini. Nanti kamu aja yang nyampein materinya. Sesekali bolehlah undang Ustazah kondang, tapi kan harus ada biaya."


"Aku sebenernya udah ada kumpulan, cuma sebatas grup chat aja, Bang."


Ara memang sudah kurang lebih dua bulan membentuk grup chat yang berisi remaja putri. Rata-rata masih Sekolah Menengah Pertama. Salah satu anggotanya adalah putri dari Celyn sendiri. Hanya saja mereka belum sempat mengadakan pertemuan, selama ini saling memberi motivasi lewat pesan saja. Di antara semuanya memang Ara paling dituakan. Dia selalu dijadikan tempat berkeluh kesah para adik-adiknya itu.


"Udah banyak anggotanya?" tanya Akhza seraya duduk di tepi tempat tidur.


"Sekitar 30 orang, Bang. Dan masih belum hafal wajahnya juga, rencananya bulan depan aku mau buat perkumpulannya di sini," jelas Ara yang masih berdiri menghadap lemari, tanpa menoleh pada Akhza.


"Aku bangga sama kamu, begitu giatnya menebar kebaikan," puji Akhza.


Kalimat panjang Ara membuat Akhza terenyuh, dia tak menyangka bahwa adiknya itu ternyata menyimpan luka lama itu dengan sangat dalam. Masih jelas dalam ingatan saat Ara dihina dan diolok-olok oleh teman-temannya saat Sekolah Menengah Pertama. Mereka meneriaki Ara, mengatainya tidak pantas bersekolah di tempat yang berbasis islami.


Bukan tanpa alasan, saat itu Ara diolok-olok. Ia yang memang cantik banyak sekali membuat lawan jenisnya tertarik. Hingga ada beberapa siswa yang yang menyatakan cinta, namun tentu saja Ara menolaknya. Mungkin karena sakit hati, siswa tersebut menyebarkan aib Ara hingga mencuci otak teman-temannya untuk ikut menyerang Ara.


"Kebaikan akan tetap menjadi kebaikan walau sebesar biji dzarah kan, Bang?"


"Sejauh ini, banyak orang hanya berlomba dalam menggapai dunia. Cita-citanya bagaimana bisa mendapat penghidupan yang bahagia kelak. Namun, amat jarang kita perhatikan orang-orang berlomba dalam hal akhirat. Sedikit orang yang mendapat rahmat Allah yang mungkin sadar akan hal ini." Akhza mulai meungutip kalimat Ustaz yang sering ia ikuti kajiannya.


"Coba aja perhatikan gimana orang-orang lebih seneng menghafal berbagai nyanyian daripada menghafalkan Al Qurโ€™an Al Karim. Bahkan lebih senang menjadi nomor satu dalam hal tembangan, lagu apa saja yang dihafal, daripada menjadi nomor satu dalam menghafalkan Kalamullah."


"Aku bangga sama kamu, teruslah berjuang, Ra. Hingga mereka sadar, bahwa Salasika Arabella, bukan kaleng-kaleng," seloroh Akhza di akhir kalimatnya, membuat Ara yang sebenarnya sudah memupuk air mata malah jadi tertawa.


"Jadi Abang dukung apa yang mau aku lakuin?" tanya Ara, ia sebetulnya tahu kalimat siapa yang barusan Akhza sampaikan.


"Allah menyuruh kita berlomba-lomba dalam kebaikan, apa yang mau kamu lakukan tentu sebuah niat mulia. Teruskan, Ra." Aro memberi semangat membuat Ara tambah yakin untuk membentuk komunitas anti pacaran


"Makasih, Bang. Aku sayang sama Abang."


Tepat pada bagian Ara mengucapkan kalimat itu, seseorang masuk begitu saja seraya menarik pergelangan tangan Ara. Sangat kencang, sampai membuat Ara kesakitan.

__ADS_1


"Mas, sakit!" Ara berusaha melepaskan tangannya yang masih dipegang Aro.


"Kamu kenapa ninggalin aku?" tanya Ari penuh penekanan. Hatinya sedang memupuk cemburu. "Kalo aku nyasar terus diculik gimana?"


"Buktinya kan nggak nyasar? dan nggak diculik juga!" sentak Ara sebab pergelangan tangannya semakin terasa sakit.


"Denger, aku mau pergi syuting. Kamu jangan deket-deket sama Abang, atau ...."


"Lepasin dong, Mas!" Akhza yang geram melihat tingkah Aro beranjak dari duduknya.


Sementara tak ingin membuat kedua kakaknya bertengkar, Ara memilih pura-pura merasa nyaman saja dengan keadaannya.


"Nggak apa-apa, Bang. Bentar ya, Bang. Aku antar Mas ke kamar mandi dulu," bohong Ara seraya melangkah membuat Aro ikut melangkah.


Sebelum benar-benar melangkah lebih jauh, Aro sempat-sempatnya berbisik pada Akhza. "Gue nggak mau ngalah kalo soal Ara."


"Ayok, buruan!" Ara semakin mempercepat langkah saat merasa Aro tak juga melangkah.


"Iya, bawel!" serunya, seraya melingkarkan lengannya di leher Ara, namun dengan cepat Ara menjauhkan diri dan mengancam dengan sebuah pelototan.


Mereka sampai di halaman belakang, tidak luas namun cukup bersih.


"Mas ngapain sih, dateng-dateng bikin tangan aku sakit?" protes Ara seraya mengusap pergelangan tangannya yang memerah.


"Serius sakit, Ra?" selidik Aro hendak memegang pergelangan tangan itu.


"Nggak usah pegang-pegang!" Ara menepis tangan Aro dengan kasar.


"Denger, Ra. Waktu aku nggak banyak buat ngomong. Jadi sekali aku ngomong kamu harus ngerti, aku mau syuting. Seminggu ke Jogja, kamu jangan deket-deket sama abang, ok?"


"Kenapa nggak boleh deket-deket?"


"Pokoknya nggak boleh, jangan bikin aku khawatir."


"Emang kenapa, Mas?" desak Ara, tapi Aro malah berlalu meninggalkannya seraya hanya tersenyum miring. Ia berlari hingga ke dalam rumah. Kembali berpamitan pada kedua orang tua dan juga orang-orang yang ada di sana. Sementara Ara hanya terdiam tanpa menyusul Aro yang sudah melajukan mobilnya bersama Omar.


"Jogja? seminggu?"


"Mas ...!"


Saat sadar, Aro justru sudah tak ada. Ia sudah pergi, tanpa berpamitan yang jelas pada Ara.

__ADS_1


__ADS_2