
Saat semua bersuka cita saling melempar canda, kedatangan Akhza dengan wajah masam membuat Bumi keheranan. Pria itu juga tak menyalami Bumi. Ia berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Tak lama Omar datang, ia yang masih saja tertawa membuat Bumi tambah bingung.
"Abang kenapa, Kak?" tanya Bumi.
"Iya, Bang Za kenapa, Kak?" timpal Ara.
"Abis dihajar Tarzan, Bun," sahut Omar membuat Ara dan Bumi saling pandang tak mengerti.
"Jangan ngada-ngada, Mar!" sentak Akhza yang kembali turun dan sudah berganti pakaian.
"Apa kabar Bun?" sapanya pada Bumi seraya mencium punggung tangan Sang Bunda.
"Kamu kok kurusan, ya?" Bumi mengusap pipi putranya itu.
"Inget lambung, Bang!" Ara ikut bicara, pasalnya Akhza memang terlihat kurus.
"Salim dulu ke yang lain, ya," pamit Akhza, malas bila sudah membahas tentang dirinya yang selalu dikatai tambah kurus.
"Kenapa sih, Kak?" Ara masih penasaran ada apa dengan Akhza.
"Enggak kenapa-napa, cuma ada kejadian sedikit menegangkan aja," jawab Omar malah semakin membuat Ara penasaran sementara Bumi sudah mengikuti anaknya ke ruang tamu menemui keluarga yang lain.
"Kamu makan dulu gih, bareng Ara tuh dia juga belum makan," ucap Bumi membuat Akhza mengangguk lalu pergi ke ruang makan.
Ara sedang duduk pada salah satu kursi yang menghadap meja makan. Gadis itu sedang menyendokan opor ayam pada piring yang berisi potongan ketupat.
"Abang mau makan juga?" tanya Ara sedikit kaget dengan kedatangan Akhza.
"Tapi aku mau makan nasi, ada nggak?" Akhza balik bertanya.
"Ada, bentar aku ambilin," sahut Ara segera beranjak dan mengambil nasi.
Akhza sudah duduk saat Ara kembali membawa sepiring nasi yang mengepul. Aroma pandan menggugah selera Akhza untuk segera memakan nasi putih itu.
"Nggak ada tempe, Ra?" Akhza bingung, pasalnya ia tak terlalu suka makan rendang ataupun opor ayam. Lebih suka ayam goreng serundeng.
"Nggak ada, Abang. Makan yang ada aja!" saran Ara seraya menyuapkan makanan ke dalam mulut.
Akhza akhirnya hanya menaburkan bawang goreng pada nasi hangatnya. Beruntung kerupuk udang masih tersisa. Membuat Akhza lebih tertarik memakannya daripada harus memilih rendang ataupun opor.
"Kasihan nanti istri kamu kalau makannya pilih-pilih, Bang," komentar Ara.
Perkataan Ara membuat Akhza kesulitan menelan nasi yang telah dikunyahnya.
"Lagian emang apa salahnya sih makan daging? Nyusahin aja," gerutu Ara membuat Akhza melemparnya dengan remahan kerupuk.
"Bawel!" cibir Akhza seraya tersenyum miring.
"Ish, kalau kayak gitu siapa cewek yang mau?" ledek Ara seraya menjulurkan lidah kemudian beranjak membawa piring kotor ke arah wastafle lalu Akhza mengikutinya.
"Duh mentang-mentang mau nikah, berani ya ngeledekin."
Kalimat Akhza membuat gerakan tangan Ara yang sedang menyabuni piring terhenti.
"Cie, mau nikah," goda Akhza lagi membuat Ara semakin merasa tersudut.
"Aku mau study lagi, Bang. Mau buka praktek dulu. Baru nikah," ungkap Ara membuat Akhza reflek menjatuhkan piring kotornya, untung tidak pecah.
"Ra, lama loh itu. Mas Ar gimana?"
"Cita-citaku dari dulu buka praktek sendiri. Aku justru takut kalau ngejalanin pernikahan dibarengi ngejar keinginanku. Aku ini kayak petasan cabe, kalo udah kesulut api, nggak bisa kalem. Aku takut jadi istri pembangkang, Bang."
Ara mengambil piring yang dijatuhkan Akhza lalu menyabuninya.
"Aku nanti titip surat ya buat, Mas Ar."
Akhza menggeleng, biar bagaimanapun ia tahu sebesar apa perasaan Aro pada Ara. Akhza takut, Aro tidak mau menerima keputusan Ara. Ia khawarir kembarannya itu malah menjadi semakin terpukul.
"Ra, apa nggak sebaiknya kamu sendiri yang nemuin Mas Ar?" usul Akhza membuat Ara menggeleng.
"Nggak bisa, Bang. Itu akan semakin membuat perasaanku rumit," tolak Ara seraya menaruh piring pada rak.
"Tapi, Ra ... kasian Mas Ar, dia butuh kamu buat bangkit," bujuk Akhza agar Ara tak menunda lagi pernikahan bila nanti Aro sudah bebas.
"Aku titip sesuatu buat Mas Ar kalau Abang mau ke sana," timpal Ara tak menggubris bujukan Akhza. Kemudian ia memilih meninggalkan dapur menuju kamarnya.
***
Idul fitri kali ini terasa beda oleh Aro. Bukan karena ia menghabiskan waktu di tahanan, melainkan rasanya kali ini benar-benar khidmat. Semalam ia bisa dengan khusu melantunkan takbir. Tahun-tahun lalu biasanya dirinya disibukan syuting saat malam takbir. Atau malah hura-hura tidak jelas. Kali ini, ia justru menikmati malam takbir dengan perasaan gembira.
Allah menyelipkan hikmah di balik musibahnya, dan Aro mampu mendapatkannya. Lewat surat Ara tempo hari, pria itu dapat mengkaji diri. Betapa selama ini dirinya telah banyak salah dan mengukir dosa.
Ia mendapatkan titik balik di hidupnya dalam tempat yang mungkin paling terhinakan. Tapi, siapa sangka, malam-malam di ruangan yang jauh dari kata nyaman itu ia habiskan dengan mengetuk langit lewat do'a. Bahkan ia mampu melewati 10 malam terakhir di bulan Ramadhan itu dengan membaca Al-qur'an. Hal yang tak mungkin ia lakukan bila dirinya masih berada di dunia hiburan.
__ADS_1
Hari itu ia didatangi Omar, Akash, Bumi dan Akhza. Bumi tentu saja bahagia melihat sang putra yang mengenakan sarung, koko serta peci saat menemuinya. Bumi tak henti terus menciumi wajah Aro yang terlihat semakin bersih.
"Bunda kangen banget, Sayang," ujar Bumi mengucapkan kalimat itu berkali-kali dengan tangis yang tak kuasa ia bendung.
"Aku baik-baik aja loh di sini, jangan sedih," hibur Aro.
Bumi mengangguk, cukup lama ia berbincang dengan Aro. Membicarakan banyak hal termasuk Ara. Saat Bumi menyampaikan niat Ara, Aro tentu kaget. Ia patah hati saat itu juga. Prasangka dalam dirinya memupuk begitu saja.
Apa kamu ternyata kecewa sama aku, Ra?
Apa kamu emang niat ninggalin aku, Ra?
Perasaan galau itu Aro kesampingkan saat bicara dengan Akhza dan Omar. Celotehan Omar mampu membuatnya tertawa meski berkali-kali membuatnya ingin menendangnya juga.
"Bibir Abang sekarang udah nggak pwrawan, Ar," beri tahu Omar membuat Aro penasaran.
"Gimana, gimana?" tanya Aro antusias.
"Malem dia takbiran sama Rea, si Reanya pake lingeri merah marun udah kayak mau malam pertama," sahut Omar membuat Aro tertawa puas.
"Mas, gue begini demi bantu pihak berwajib bekuk si Tarzan. Elo malah ketawa ngeledek!" sentak Akhza.
"Gimana rasanya, Bang?" goda Aro
"Gue nggak ngerasain apa-apa. Lagian cuma sebentar kok," terang Akhza.
"Waah nggak seru. Mar, gimana sih?" Aro meninju bahu Omar.
"Abang lo dorong si Rea. Kalo gue sih udah pasrah aja. Liat begituan auto gue ajak melayang dah."
"Kenapa nggak diem aja sih, Bang. Simulasi sebelum nikah, Bang!"
"Apaan sih, otak kalian nggak jauh dari gituan ya?" tuding Akhza membuat Aro dan Omar tertawa.
"Cie yang bibirnya udah nggak perawan. Takbiran kali ini beda ya, Bang," goda Aro kemudian saling bertos ria dengan Omar.
"Sabar ya, Bang. Ujian jomlo emang berat," ledek Omar masih dengan tawanya.
Akhza sudah kehabisan kata. Semakin dia menyanggah, semakin bisa Aro dan Akhza meledeknya. Hingga akhirnya mereka pamit, barulah Akhza menyerahkan titipan Ara untuk Aro.
Aro membuka bingkisan dari Ara. Hatinya kembali diliputi resah karena audah mengetahui niat Ara dari Bumi. Aro membuka simpul pita pada kotak berwarna biru itu. Isinya adalah dua toples kastengel yang sengaja dibakar agak gosong dan pashmina berwarna coklat muda yang wangi khas Ara.
Aro masih tak mengerti, ia berharap ada surat seperti tempo hari untuk menjelaskan semua ini. Kali ini surat dikemas menggunakan amplop berwarna senada dengan kotak, biru. Aro perlahan membuka amplop itu dan mengeluarkan secarik kertas dari dalamnya.
Assallamu'alaikum, Mas. Semoga Mas baik-baik aja, ya. Mas, aku bingung mau mulai dari mana, tapi aku harap Mas mengerti sama apa yang mau aku bilang ke Mas. Mas, aku mau kembali melanjutkan study biar lebih mantap lagi ilmu kebidanannya. Aku mau buka praktek. Mas marah? semoga tidak ya, Mas.
Aku bukan pergi untuk tak kembali. Aku takut di usia kita yang masih sama-sama labil kita malah terjebak dalam hubungan yang saling menyakiti. Aku tahu, Mas pasti ngerasa heran. Aku yang minta nikah, aku juga yang minta nunda. Asal Mas tahu, aku udah lama pengen punya praktek sendiri. Mengingat asal-usulku terlahir dari siapa dan seperti apa, itu bikin aku jadi pengen bisa bantu banyak orang buat ngelahirin, Mas.
Aku takut, kalo kita nikah dan aku melanjutkan study, aku lebih fokus ke duniaku bukan ke kamu. Aku ingin saat kita bersama nanti, hanya kamu yang menjadi prioritas. Hanya kamu yang mampu membuatku menatap tanpa mengalihkan pandangan.
Mas, bisa menengerti aku?
Aku putuskan buat tiga tahun ke depan untuk fokus dengan duniaku. Mari jangan saling bertemu walau rindu selalu menggebu.
Mahija Aro aku menyayangimu, hehe. Duuh aku malu nih nulisnya.
Apapun yang terjadi nanti, 3 tahun lagi di tanggal yang sama dengan hari ini tepat jam 10.00, kita bertemu di depan pintu gerbang utama Kebun Raya. Pastikan saat kita bertemu namaku masih berada di hatimu. Sebab, hatiku tak mau sendirian menyebut namamu.
Salam hangat penuh sayang
Salasika Arabella, Upil kamu, Mas hehe.
Ara tak menjelaskan untuk apa pashmina itu ia berikan pada Aro. Tapi, Aro mengartikannya sendiri. Pashmina itu dapat menjadi pelipur rindunya pada Ara.
***
Akhza dan Omar kembali pulang membawa surat balasan dari Aro untuk Ara. Tak banyak kata yang Aro sampaikan saat Omar dan Akhza pamit. Bahkan candaan Omar sama sekali tak membuat Aro tersenyum apalagi tertawa.
Omar kembali ke Bogor bersama Akash dan Bumi yang sudah menunggu mereka di mobil. Akhza sendiri kembali ke Rumah Sakit karena ia tak bisa meninggalkan tugas.
Akhza kali ini sedang bertanggung jawab atas pasien bernama King Kenzo Wisnutama. Bocah berusia 10 tahun yang menderita diare hebat. Saat datang kemarin sore, Kenzo mengalami dehidrasi yang menyebabkan dirinya lemah bahkan pingsan.
Tiba di Rumah Sakit, Akhza berlari-lari kecil sebab merasa sudah sangat terlambat. Ia tak mau kejadian tempo hari terulang lagi. Saat memasuki ruangan Kenzo, terlihat di sana ada satu perawat magang dan juga Bundanya Kenzo -Ibu Ayu-
Akhza kaget sebab kini Kenzo sedang tidak diinfus.
"Kenapa infus Kenzo dilepas?" todong Akhza pada perawat magang.
"Siapa yang melepasnya, Bu?" Akhza mengalihkan pertanyaan pada Ibu Ayu, ibunya Kenzo.
"Kakak perawat yang pakai seragam pink," jawab Ayu sedikit gugup mendapati Akhza yang terlihat emosi.
Bersamaan dengan itu, Tala masuk membawa beberapa peralatan infus dalam nampan. Ia berjalan bersisian dengan perawat senior yang selalu membimbingnya. Ia tersenyum kecil mendekati pasien Kenzo.
__ADS_1
Sebetulnya Akhza ingin marah saat itu juga pada Tala, namun keberadaan perawat senior bernama Alma itu mengurungkan niatnya.
"Dipasang lagi ya nak ganteng infusnya," bujuk Alma
Kenzo menggeleng, ia menangis tak mau diinfus lagi sebab sakit rasanya. Tala berusaha menenangkan bocah itu. Ia membantu Ayu membujuk putranya itu.
"Mau ya, anak ganteng." Tala mengusap surai hitam Kenzo yang sedang memeluk ibunya.
"Aku janji rasanya nggak sakit, cuma kayak digigit semut dikit," rayu Tala kemudian.
"Iya, Ken mau ya. Kasihan kakaknya kalau Ken nggak nurut," Ayu ikut berkata meyakinkan Ken.
"Kalau diinfus, nanti cepet sehat lagi. Kalau udah sehat enak bisa main lagi," ucap Alma mengusap punggung Kenzo.
Bocah itu akhirnya menurut, ia mengangguk dan berkata jangan sampai membuatnya sakit.
"Ayok, Pasang. Praktekan apa yang saya ajarkan. Buat pasien senyaman mungkin," titah Alma pada Tala dan diangguki gadis berparas manis itu.
Tala kembali menyuruh Kenzo berbaring. Lalu Tala mulai memasangkan infus untuk Kenzo. Akhza dan perawat magang bernama Zevi hanya memperhatikan. Dalam hatiny, Alma memuji kelihaian Tala dalam melakukan tugasnya.
Setelah semua pemeriksaan terhadap Kenzo selesai, mereka semua termasuk Akhza keluar dari ruangan itu. Diam-diam Akhza membuntuti langkah Tala yang masuk sendiri ke ruang penyimpanan alat-alat medis.
Akhza memberanikan diri mengetuk pintu yang ditutup kembali oleh Tala begitu ia masuk. Tak lama Tala kembali membuka pintu, ia kaget karena keberadaan Akhza. Akhza menyapu ruangan itu. Hatinya bersorak sebab di sana tak ada siapa-siapa. Akhza merangsek masuk dan kembali menutup pintu membuat Tala sedikit kaget
"Kamu kenapa ceroboh sekali dengan mencopot begitu saja infusan pasien Kenzo?" sentak Akhza membuat Tala gemetaran.
"Kalau sampai keadaannya memburuk gimana, mikir!" geram Akhza seraya memukul dinding di sampingnya.
"Tadi a-ak sa-saya ...."
"Makanya, kerja tuh yang bener!" sentak Akhza lagi tanpa mau mendengarkan Tala.
Tala sudah tak kuasa lagi menahan gerombolan sesak dalam dada yang berdesakan minta dikeluarkan. Bibirnya bergetar hebat dengan cairan bening yang luruh begitu saja pada pipi mulus yang chubby itu. Tala menutup mulutnya dengan telapak tangan agar tak mengeluarkan suara tangisnya. Bahu gang naik turun adalah bukti betapa sakit hatinya dituduh yang tidak-tidak oleh Akhza. Tala menangis tanpa suara dengan dada yang sesak.
Saat tadi ia memeriksa pasien Kenzo, anak itu mengeluh pegal pada bagian tangan ketika Tala hendak maungganti cairan infus dengan yang baru. Ayu meminta Tala untuk melepas sebentar infusan sebab saat diperiksa tangan Kenzo juga merah.
Tala fikir tak ada salahnya melepas sebentar infusan itu, sebab iapun sudah meminta izin pada Ayesha dan Alma, perawat senior. Sambil menunggu kondisi tangan Kenzo sedikit nyaman, Tala pergi ke ruangan penyimpanan alat medis untuk mengambil peralatan infus dan sarung tangan, sebab ia lupa tak membawanya.
Kejadiannya begitu cepat, Tala kembali setelah Akhza datang. Terjadilah kesalahpahaman ini. Tala yang berniat meringankan pekerjaan Akhza -terlepas dari memang ini tugasnya- malah mendapat amarah Akhza yang meletup-letup.
"Nggak usah caper ke saya!" sentak Akhza
"Jangan mentang-mentang saya pernah baik ke kamu," Akhza menghela nafas lalu mengangkat telunjuknya ke hadapan wajah Tala, "kamu seenaknya sama pasien saya. Kalau ada apa-apa, saya yang kena!" imbuhnya dengan nada tinggi membuat Tala menutup kedua kuping serta memejamkan matanya.
Bersamaan dengan itu, pintu dibuja dari luar oleh seseorang. "Ada apa ini?" setengah teriak suara seseorang menghampiri mereka.
"Kalian sedang apa berduaan di sini?" tuding perawat yang ternyata adalah Ayesha.
"Nih, perawat so' tahu bikin ulah. Buat apa dia sembarangan copot infusan pasien aku? itu anak lagi diare, dehidrasi hebat dia main lepas infusan aja."
"Cuma se-bben-tarr kok, Bb-bbu ...." Tala memberanikan diri bicara.
"Saya dan perawat Alma yang kasih izin, makanya jam kerja tuh jangan keluyuran terus!" sentak balik Ayesha seraya menendang betis Akhza.
"Siapa cewek yang mau dekat-dekat kalo kelakuan kayak gitu?" ledek Ayesha seraya maunggiring Tala. Hendak membawa gadis itu ke ruangannya.
"Urus pasien yang bener!" pesan Ayesha sebelum pergi dengan nada tinggi membuat Akhza merasa menyesal telah memarahi Tala.
***
Malam hari, Ara bersama mami dan Sanu kembali pulang ke rumahnya. Ara masih belum membuka surat dari Aro. Sirat yang ditulis pada sobekan kertas tak beraturan itu sempat sekilas Ara lirik.
Tiba di kamarnya, barulah Ara memberanikan diri memvuka lipatan kertas itu.
Waalaikumsalam, Ra.
Hai, sehat-sehat ya calon makmum. 3 tahun ya? Kita nggak ketemu dulu 3 tahun? belum ada sebulan aku udah rindu. Tapi, kamu benar. Aku juga masih harus menyelesaikan kuliahku. Banyak hal yang harus aku selesaikan. Aku harus sukses dan banyak uang biar bisa bikin kamu gemuk (tuh kan jadi pengen unyel-unyel pipinya hehehe).
Pergilah, tapi jangan pernah lupa ada yang sedang menunggu dengan setumpuk rindu.
*Semangat Ara, semangat kesayanganku. Di atas sajadahmu aku menunggu dengan do'a yang terus tertuju padamu*.
3 tahun dari sekarang, apapun yang terjadi, aku akan menunggumu datang. Ingat! namaku Mahija Aro, aku mencintaimu.
Kutitipkan hatimu pada Allah, jadi jangan main-main!
Wassalam.
Air mata mengalir begitu saja membasahi pipi Ara lalu berjatuhan mengenai kertas, membuat sebagian tinta luntur. Ara cepat-cepat memeluk kertas itu lalu membawanya berbaring.
"Terima kasih, Mas. Aku juga mencintaimu."
.
__ADS_1
.
.