
Rusuh, itulah yang terjadi setelah kedatangan tiga jagoan Bumi dan Akash. Meski jelas hanya Aro dan Atar yang mendominan, tapi sudah cukup membuat suasana jadi ramai.
"Aro lebih cakep aslinya, ya?" puji Rain membuat tingkat rasa percaya diri Aro meningkat.
"Ini baru setenghanya Tan, belum dikeluarin maksimalnya," sahut Aro membuat Akhza yang duduk di sampingnya memiting lehernya.
"Sombong, lo. Kalo lo cakep, gue lebih cakep. Inget, di atas langit masih ada langit."
Aro menyingkirkan tangan Akhza dari lehernya, gantian dia yang memiting leher Akhza. Perbuatan keduanya hanya mendapat gelengan dari Bumi dan Akash. Sementara yang lain masih serius menatap dengan seksama adegan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Muka kita emang sama persis, tapi soal pesona gue ahlinya."
Tak terima dengan perlakuan kembarannya, Akhza menyingkirkan tangan Aro dari lehernya. Ia berusaha merapikan kemeja dan tatanan rambutnya.
"Coba lihat mana yang mempesona? kok masih jomlo aja? nggak pernah gitu ada gosip seorang aktor kawakan ini punya pacar," ledek Akhza.
"Elu, Bang! kayak sendirinya punya pacar aja, yang ada juga elu mau ditinggal kawin."
Rain jadi tertarik dengan ucapan Aro, Akhza ditinggal menikah?
"Waaah siapa gadis beruntung itu?" tanya Rain serius, "dia harusnya menyesal karena nggak milih kamu," imbuhnya membuat Ara dan Akhza bersitatap.
"Ada pokoknya Tante, kasihan 'kan?" ucap Aro menatap Akhza dan Ara bergantian. Keduanya jadi salah tingkah, Aro sendiri tersenyum puas.
"Saingan lo berat, man," bisik Aro pada Akhza.
Akhza sekilas menatap Sakaf. Pria matang, serius dan pasti mapan. Dia beralih menatap Ara. Gadis itu, tatapan teduh dengan wajah yang selalu dihias senyum. Tak ada yang tahu isi hatinya, apa sebahagia yang ditampilkan wajahnya.
"Jadi gimana, mau ke intinya langsung atau ...."
"Langsung aja, Ba," sahut Sakaf menyela perkataan Ragga.
__ADS_1
"Waah udah nggak sabar tuh calon mempelai prianya," seloroh Aro tapi, tak ada yang berani menanggapi.
Situasi menjadi canggung, hening. Mungkin efek dari dinginnya sikap Sakaf. Rain berusaha memangkas kecanggungan dengan mulai mengeluarkan kotak cincin dari dalam tasnya.
"Ok, langsung aja nih, nggak mau ada pantun atau apa dulu gitu?" tanya Rain menatap suaminya dan Akash minta persetujuan.
"Udahlah, Yang, kayak kita sama siapa aja? iya 'kan Kash?" Ragga minta persetujuan Akash dan tentu saja diangguki oleh Akash.
"Bissmillahirrahmanirrahiim, saya juga gugup tapi ...," ujar Rain, tangannya gemetar membuka tutup kotak berwarna merah itu. Sebuah cincin emas putih yang designnya sangat sederhana namun mempesona. Dibeli dan dipilih langsung oleh Sakaf sebagai tanda keseriusannya untuk menikahi Ara.
"Kaf, mau Bunda yang bilang atau kamu yang utarakan langsung?" tanya Rain pada putra sulungnya itu.
"Bunda saja," jawab Sakaf cepat.
"Nggak seru nih, harusnya calonnya dong yang bilang 'Ara will you marry me?' gitu, dong ...," ujar Aro yang lagi-lagi tidak ditanggapi. Bumi sudah kesal dibuatnya, jika bukan di hadapan calon besannya, ia ingin rasanya menghajar Aro.
"Siapa saja, yang penting niatnya tersampaikan," sela Akash membuat suasana kembali sedikit hangat.
Rain beranjak dari duduknya, ia berjalan ke arah Ara dan berjongkok di hadapan Ara.
"Iya, Mbak, duduk aja," Bumi merasa tak enak dengan perlakuan Rain.
"Nggak, biarkan saja begini," sanggah Rain.
"Ara, terimalah cincin ini sebagai tanda bahwa Sakaf serius ingin membina rumah tangga dengan Ara. Siapkah mulai hari ini Ara menjaga hati hanya untuk Sakaf?"
Ara terharu diperlakukan sebaik itu oleh Rain. Matanya dibingkai kaca yang kapan saja siap luruh. Gemuruh dalam dadanya bersesakan minta dikeluarkan, namun Ara tahan.
"Ara siap, Bunda. Semoga Kak Sakaf nggak menyesal udah pilih Ara sebagai calon istri. In SyaAllah Ara siap menjaga hati," jawab Ara dengan suara bergetar menahan tangis.
Rain meraih jemari Ara yang mungil. Ia mengulurkan cincin dan mulai menyematkannya di jari manis Ara. Pas, dan sangat cantik menghias jari lentik dengan kulit seputih kapas itu.
__ADS_1
Ara mengusap cincin pada jemarinya. Hatinya harus kuat, harus ikhlas, dan harus menerima. Bersamaan dengan ucapannya tadi, Ara mulai meneguhkan hati untuk mengubur perasaannya terhadap seseorang. Hatinya harus kuat menolak setiap getaran yang diberikan oleh seseorang itu.
"Allhamdullillah," ucap para orang tua berbarengan. Tanpa tahu ada hati yang saat itu juga patah. Hancur berkeping hati Akhza menyaksikan dengan mata kepala sensiri gadis pujaannya diambil orang.
Dia bagai pesakitan yang pasrah disuntik mati oleh dokternya. Akhza kalah, bahkan sebelum berperang.
"Nah, sekarang tinggal makan. Ayok, pasti semuanya sudah lapar 'kan?" tanya Bumi memangkas ketegangan yang ada.
"Waah kalau ditawari makan kita mana bisa nolak, iya 'kan Kaf?" Ragga menyenggol putranya yang sedari tadi memasang wajah datar. Sakaf hanya mengangguk dengan seulas senyum yang terpaksa.
Akhirnya mereka semua beranjak menuju ruang makan, segera menduduki kursi yang membuat mereka nyaman. Aro sengaja sekali menempati kursi di samping kursi Ara. Mulutnya sudah gatal ingin menjahili adiknya itu.
Bumi mulai menyendokkan nasi pada setiap piring tamunya, khusus untuk Sakaf, Bumi menyuruh Ara yang mengambilkan. Ara menurut, dia menawarkan beberapa lauk pauk yang terhidang dan Sakaf hanya memilih ayam goreng beserta sambal saja.
Kedua keluarga mulai menikmati makanannya. Dalam suasana hening, Aro gatal sekali ingin menjahili adiknya. Ia sengaja menendang kaki Ara, namun Ara diam saja tak selera menanggapi.
"Lo yakin mau hidup sama cowok kayak gitu? lihat, mukanya kaku kayak kanebo kering," bisik Aro sengaja mendekatkan bibirnya pada daun telinga Ara yang terbungkus hijab mustard.
Ara tetap diam, tak ingin terpancing oleh Aro. Padahal ingin sekali rasanya balas menendang atau menyahuti ledekan Aro.
"Gimana jadinya nanti rumah tangga lo, lo nya warna-warni kayak pelangi sedangkan do'i hitam kayak malam," Aro terus saja menjahili Ara.
Ara kesal sekali dibuatnya, ia diam-diam mencubit paha Aro dengan sangat keras membuat Aro mengaduh tanpa suara. Sebab, mau berteriak dia takut Bumi marah.
"Lepas, Pil. Sakiiiit ...," lagi-lagi Aro berbisik agar tak menimbulkan rasa curiga.
Tanpa keduanya ketahui, Sakaf sedari tadi memperhatikan kelakuan Aro dan Ara. Dirinya merasakan gelagat aneh. Tidak seperti seorang kakak kepada adiknya. Sakaf menangkap sesuatu yang lain antara keduanya.
"Mas janji dulu jangan bisik-bisik lagi," bisik Ara mengendurkan cubitannya membuat Aro mengangguk.
Selanjutnya Ara aman, dia tak lagi mendapati Aro meledeknya. Suasana kembali hening, hanya dentingan sendok yang beradu dengan piring yang terdengar. Makan malam yang khidmat, namun mencekam bagi Ara.
__ADS_1
Lepas makan, Sakaf mengajak Ara bicara empat mata. Sontak saja hal itu menjadi buah bibir seluruh keluarga. Tak henti Akash dan Ragga menggoda keduanya.
Ara mengajak Sakaf ke halaman belakang, mungkinkah ini awal yang baik bagi kisah keduanya?