
Ara baru saja selesai mendandani bayi yang lahir beberapa jam lalu. Bayi berjenis kelamin laki-laki. Berat badannya 2,9 kilogram dengan tinggi badan 55 sentimeter. bayi yang dilahirkan dari rahim seorang wanita berusia 16 tahun. Hamil di luar nikah dengan kekasih yang tak mau bertanggung jawab.
"Jadi anak yang saleh ya, Sayang," gumam Ara seraya mengusap pipi merah sang bayi.
Mata Ara berkabut, mengingat bahwa dirinya pernah ada pada posisi seperti itu. Hanya saja bayi itu lebih beruntung, sang ibu dan sang nenek terlihat amat menyayanginya.
Ara membawa bayi itu ke ruang perawatan sang ibu yang bernama, Eva. Di tempat tidurnya, Eva sedang berbaring ditemani ibunya yang duduk pada kursi di samping tempat tidur.
"Nih, dedeknya udah ganteng," ujar Ara seraya memberikan bayi itu pada sang nenek yang menyambutnya dengan senyum bahagia.
"Gimana keadaan kamu, Ev? masih lemas atau pusing?" tanya Ara pada Eva seraya mengusap kaki Eva yang terbungkus selimut.
"Cuma lemas aja sih, Bu," sahut Eva.
"Panggil Teteh aja, Ev," ralat Ara yang sudah merasa dekat dengan Eva sejak kedatangannya kemarin pagi.
"Eh iya, Teh," ucap Eva seraya menutup mulutnya dengan sebelah tangan.
"Aku mau pergi. Nanti ada asisten aku yang stand by. Makan siang nanti dibawain sama Teh Fenti," beber Ara seraya memandang Eva dan ibunya yang bernama, Lela bergantian.
"Oh iya, Teh. Hatur nuhun," (terima kasih) sahut Lela seraya berdiri menimang bayi mungil yang menggeliat di gendongannya.
"Sami-sami, Bu. Jangan sungkan ya, kalo butuh apa-apa langsung minta ke Teh Fenti atau Ceya," pesan Ara seraya melangkah meninggalkan ruangan itu.
Ara kembali ke kamarnya yang berada di lantai atas. Semenjak dibuka beberapa bulan lalu, Ara sudah memiliki beberapa pasien tetap yang sering cek kandungan, imunisasi bayi, suntik KB, dan memeriksakan kesehatan.
Karena kesibukannya itu, ia jarang pulang ke rumahnya. Vanya kini tinggal sendiri di sana, sedangkan Sanu sudah menikah dengan Miza dan diboyong ke Jakarta.
Ara menyapu wajahnya menggunakan kapas yang sudah dibasahi menggunakan cairan pembersih wajah. Bibirnya tak lepas dari ulasan senyum. Hatinya tentu berbunga, hari ini sebuah janji harus ia tepati.
Rasa segar menembus pori-pori wajah Ara. Ia kemudian memulaskan pelembab dan sedikit bedak tabur pada permukaan wajahnya. Tak lupa lipmatte pink nude, selalu itu andalannya, ia sapukan pada bibir mungil yang terus saja mengulas senyum.
"Aku kok senyum-senyum terus gini sih?" ucapnya mengomentari diri sendiri.
"Mas, apa kabar? jahilnya masih ada? tengilnya gimana? aku rindu ...." Mata Ara tiba-tiba berkabut.
Betapa tiga tahun lalu Ara mengesampingkan perasaan cintanya pada Aro untuk meraih cita-citanya terlebih dahulu. Ia berlaku seolah-olah kuat berjauhan dengan Aro. Ia tutup mata dan telinga dari kabar tentang Aro.
Ara benar-benar hanya fokus pada tujuannya. Dalam malam-malam panjang di kamarnya saat di Surabaya, gadis itu sebisa mungkin menepis bayangan tentang Aro. Bukan hal mudah, tapi ia mampu lewati. Saat mengingat Aro, ia alihkan untuk berdzikir.
Ara menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Sedikit ketenangan ia rasakan setelah sesak yang tiba-tiba menyerang. Bergulung-gulung rindu yang ia tampik selama tiga tahun ini harus segera dituntaskan.
Ara melepas hijab instan dan menggantinya dengan pashmina lebar berwana broken white. Ia mematut diri pada cermin ketika hijabnya sudah sempurna menutup kepala, dada hingga punggungnya.
"Terima kasih, Bunda. Sudah mau merawatku dan mengizinkan aku mencintai putramu," ucap Ara sambil mengetikan kalimat itu pada layar ponsel dan mengirimnya pada kontak yang ia namai Surgaku.
Sekali lagi Ara mematut diri, kemudian melangkah. Ia ambil sling bag yang tergantung di balik pintu, memasukan ponsel ke dalam saku gamisnya dan berjalan meninggalkan kamar itu.
"Mau ke mana, Ra?" tanya Fenti seraya mengendus ke arah Ara. "Meuni seungit orok," sambungnya. (Wangi bayi banget)
"Mau nemuin calon suami," bisik Ara.
"Si Aro?" tebak Teh Fenti.
Ara tak mengiyakan, tak juga mengangguk. Ia hanya tersenyum seraya menyalami Fenti dan berpesan agar menjaga Eva dan menutup saja tempat praktek hari ini.
***
Aro memarkirkan mobil di jalan OTISTA, ia kemudian berjalan beberapa meter hingga sampai di gerbang pintu masuk 1 Kebun Raya Bogor. Suasana di sana masih sepi. Belum banyak orang yang berkunjung. Keadaan kini berbeda dari beberapa tahun lalu saat ia dan Ara sempat mendatangi tempat ini.
Tatanan kotanya kini lebih tertib dan tertara rapi. Toko yang dulu menjual pernak-pernik sudah tak ada. Pedagang yang biasa menjajakan makananan pada bahu jalan juga sudah tak nampak. Aro memandang ke sekililing, Bogornya berbeda.
Pria itu berdiri di bawah rindangnya pohon guna melindungi diri dari terik matahari yang jumawa bersinar siang itu. Berkali-kali matanya melirik jam pada pergelangan tangan.
"Sepuluh menit lagi," gumamnya.
Ia terus memperhatikan angkot yang berhenti, mungkin saja yang turun dari dalamnya adalah Ara. Sayang, hingga sepuluh menit berlalu, Ara masih tak kunjung datang. Aro mulai panik, apakah Ara melupakan janjinya? Benaknya memupuk prasangka.
Sementara di tempat prakteknya, Ara kedatangan Akhza sebelum dirinya benar-benar pergi.
"Aku mau lihat perkembangan kamu," begitu ucap Akhza seraya masuk tanpa menunggu Ara mempersilahkannya.
Ara menepuk jidatnya, ketika Akhza langsung masuk tanpa bertanya Ara hendak kemana. Ara mengikuti pria itu yang berjalan tergesa-gesa.
"Abang, aku mau pergi," ucap Ara berharap Akhza membiarkannya pergi.
"Tunggu!" teriak Akhza yang sedang mengecek kelengkapan obat pada lemari kaca. Ia periksa satu per satu obat itu.
"Abang, aku pergi. Abang boleh di sini sampe kiamat juga," rengek Ara. Ia tak ingin terlambat.
Akhza mendengus, "Aku meriksa tempat kamu biar kinerja kamu makin baik. Kamu malah mau pergi, gimana sih?" tuding Akhza.
"Abang, bukan gitu. Tapi, aku mau ketemuan sama Mas Ar," elak Ara dengan nada memelas.
"Dia bisa nunggu, sedangkan aku nggak punya lagi waktu," tukas Akhza seraya melangkah menyusuri ruangan lain.
"Kalau bukan Bunda yang terus-menerus nyuruh aku ke mari, aku juga nggak mau, Ra!" teriaknya kemudian.
__ADS_1
Ara tertegun, ia merasa memang harus menghargai kedatangan kakaknya itu. Biar bagaimana ia lebih ahli darinya. Benar apa yang Akhza bilang, Aro bisa menunggu. Begitu pikir Ara.
Cukup lama Akhza berada di tempat praktek Ara. Hingga toilet saja tak luput dari pemeriksaannya. "Bersih, nyaman," komentarnya.
Terakhir yang Akhza periksa adalah ruang perawatan yang kini tengah diisi oleh Eva dan bayi serta ibunya. Akhza meneliti satu per satu kelengkapan peralatan di ruangan itu. Semua lengkap membuat Akhza mengangguk senang. Ara terus saja gelisah, pasalnya waktu sudah menunjukan pukul 10.15 menit. Ia sudah sangat telat.
"Abang, aku pergi sekarang ya?" pinta Ara.
"Kamu nggak mau ngasih aku minum dulu?" selidik Akhza.
"Abang!" sentaknya, "aku udah telat," merendahkan suara.
Akhza tertawa keras, "Aku anter."
"Nggak usah," tolak Ara, ia takut masalahnya melebar ke mana-mana bila datang bersama Akhza.
"Mau kejebak macet di Cilebut? belum di Kebon Pedes?" ucap Akhza membuat Ara jadi memberengut karena sudah pasti kawasan itu macet.
"Tuh, aku aja ke sini pinjem motor Atar. Gak nahan macetnya," keluhnya seraya menunjuk motor matic yang terparkir di depan.
"Itu kan gegara Abang. Kayak sengaja aja datang pas aku mau ketemuan," sungut Ara
"Ayo aku anter!" seru Akhza seraya menarik sling bag Ara membuat gadis itu akhirnya menurut.
Setelah memastikan Ara mengenakan helm dan duduk dengan posisi ternyamannya, Akhza melajukan motor itu dengan hati-hati.
"Ngebut ya, Bang. Nanti Mas Ar kelamaan nunggu aku," teriak Ara suaranya kabur oleh deru kendaraan lain namun masih dapat didengar Akhza.
"Tiga tahun aja dia jabanin, masa cuma beberapa jam dia nyerah?" balas Akhza berteriak membuat Ara memukul helm pria itu.
"Lama-lama kok jadi nyebelin sih ini orang?"
Ara tak lagi selera bersuara, padahal Akhza berkali-kali bicara. Lagipula tak jelas apa yang pria itu ucapkan.
Benar saja, kawasan stasiun Cilebut memang juaranya macet. Beruntung mereka menggunakan motor jadi bisa salip kanan kiri.
"Coba kalau naik angkot, bisa lama nyampenya."
Ara tak menjawab, ia hanya mengiyakan dalam hati sambil terus memandangi jam pada layar ponsel yang sudah menunjukan pukul 10.55.
"Tuh, sampe dua kali gini kan kereta lewatnya."
Lagi-lagi Ara tak berminat menjawab, ia merasa sangat bersalah pada Aro. Kini, satu jam sudah ia terlambat datang.
"Tuh, kasih duit buat bapaknya!" Akhza menepuk dengkul Ara seraya menunjuk bapak-bapak yang mengatur lalu lintas pada palang pintu kereta yang berada di sekitar Kebon Pedes.
Ara mendengus, bukan kesal disuruh memberi uang. Tapi kesal lututnya disentuh Akhza. Ara kemudian mengambil uang 50 ribu dalam dompet pada tasnya.
"Nggak ada lagi, aku cuma punya itu. Udah jangan bawel kenapa sih? biasanya juga nggak banyak omong!" keluh Ara seraya memutar bola mata, kesal.
"Sensi banget," cibir Akhza.
"Awas ya, kalo sampai Mas Ar gak nunggu aku. Itu salah Abang!"
"Kalo sampai Mas Ar nggak nunggu kamu, aku tikung!"
"Abaaaaang!" teriak Ara seraya memukul helm pria itu.
"Canda, Ra. Nggak ada manis-manisnya banget ke calon kakak ipar."
Talang pembatas kembali dibuka, Akhza segera melajukan motornya. Berlomba dengan pengendara lain untuk melaju terlebih dahulu. Ara segera memberikan uang itu pada bapak yang bertugas mengatur lalu lalang kendaraan saat melewatinya. Sang bapak berteriak terima kasih sambil mengangguk tersenyum pada Ara. Ada pula beberapa orang yang memberinya uang serta makanan pada bapak itu.
"Sehat-sehat, ya pak," gumam Ara.
Akhza kembali mempercepat laju motornya saat kembali membelah jalanan. Gadis itu bersorak senang saat mereka sudah melewati rumah sakit Salak yang berada di jalan Jendral Sudirman. Ia tambah sumringah saat lapangan sempur sudah nampak. Kemudian rumah sakit Siloam sudah terlewat pula dan Tugu Kujang sudah terlihat itu artinya tinggal beberapa menit lagi dirinya akan bertemu Aro.
"Ra, tuh mobil Mas Ar." Akhza memperlambat laju motor agar Ara dapat melihat dengan jelas Mobil Aro terparkir di sekitar jalan OTISTA.
Ara tersenyum, Aro masih menunggunya. "Makanya cepetan!" sentak Ara membuat Akhza tertawa, ia ikut bahagia jika kedua adiknya bahagia.
Yang dituju akhirnya sampai. Akhza menghentikan motornya tepat di hadapan Aro yang tak sadar akan kedatangan mereka. Ara segera turun dan membuka helmnya kemudian memberikannya pada Akhza. Aro masih belum tahu tentang kedatangan Ara sebab pria itu menghadap ke arah lain. matanya tertuju pada sebuah Mall yang berdiri kokoh di ujung sana.
"Mas, Assalamu'alaikum." Bergetar suara Ara mengucapkan salam itu.
Aro tak lekas menoleh, ia takut itu hanya halusinasi saja. Pria itu menunduk sebentar kemudian memejamkan mata lalu berbalik arah dengan kedua netra yang masih tertutup.
"Mas, ini aku. Ara." Ara kembali bicara dengan cairan bening yang memupuk dikedua matanya.
Aro perlahan membuka matanya. Kini, gadis yang selalu dirindukannya berdiri nyata dihadapannya dengan senyuman mengulas di bibir.
"Assalamu'alaikum, Mas. Apa kabar?" Ara kembali mengulang salam.
"Waalaikumsalam, Ra. Aku rindu," jawab Aro seraya memusatkan pandangan pada wajah manis Ara.
Belum sempat Ara menyahuti perkataan Aro, Akhza telah lebih dulu bicara.
"Ra, aku pamit ya. Sama-sama, walaupun kamu nggak bilang makasih."
__ADS_1
Aro menoleh pada sumber suara. Senyum di bibirnya tiba-tiba memudar. Ia soroti Ara dengan tatapan penuh tanya. Sementara Akhza kembali melajukan motornya tanpa mau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Kamu telat gara-gara dia?" tuding Aro.
"Mas, aku bisa jelasin," sela Ara.
"Kenapa harus sama abang?" desak Aro dengan suara bergetar.
"Mas, aku terpaksa. Aku nggak mau bikin kamu nunggu lebih lama."
Aro menghela napas seraya mengusap kasar wajahnya. Satu jam lebih ia sabar menunggu sedangkan bisa-bisanya Ara datang bersama Akhza.
"Mas, maaf. Tadi tuh abang dateng periksa tempat praktek aku. Dia lama banget di sana, kupikir kalau aku harus naik angkot bakal lebih lama lagi. Makanya aku minta anter abang." Ara terpaksa sedikit berbohong sebab tak ingin Aro semakin salah paham dengan Akhza.
Aro tak menjawab, ia memilih berjalan meninggalkan Ara. Gadis itu lantas mengikuti langkah Aro yang tergesa.
"Mas denger dulu, Mas!"
Aro tak peduli, ia tetap terus berjalan dengan langkah lebar-lebar membuat Ara harus sedikit berlari agar dapat mensejajarkan diri dengannya.
"Mas, stop!" teriak Ara begitu mereka sampai di jembatan.
"Mas, kita tiga tahun gak ketemu kamu marah cuma gara-gara tadi?" Ara mulai terisak. Ia berjongkok sebab merasa lututnya sangat lemas.
"Aku nggak bisa nahan cemburu." Aro yang masih berdiri memunggungi Ara berkata dengan tegas.
"Nggak ada yang perlu bikin kamu cemburu," ucap Ara dengan suara melemah. Air matanya mulai mengalir, ia kesal kenapa pertemuannya jadi kacau seperti ini.
"Aku bisa nahan rindu, tapi gak bisa nahan cemburu." aku Aro.
Ara menggeleng, tak tahu lagi harus bicara apa agar Aro bisa percaya padanya. Tubuh yang tadinya berjongkok, kini merosot duduk dengan kepala menunduk dan kedua jemari saling meremas.
"Aku cuma cinta sama kamu, Mas." Ara akhirnya mengucapkan kalimat itu.
Aro terbelalak, ia tak menyangka jika akting pura-pura marahnya akan berujung pada Ara yang mengakui perasaannya lewat kalimat.
Aro berjongkok sebab mendengar gumaman Ara meski tak jelas apa yang gadis itu ucapkan. Bila lebih dekat dengannya mungkin bisa mendengarnya.
"Aku cintanya cuma sama kamu. Kamu kenapa nggak percaya sih? cuma lihat aku datang sama abang kamu udah segitu marahnya, Mas?"
"Kamu anggap aku apa? kamu pikir tiga tahun ini aku baik-baik aja? kamu pikir cuma kamu yang rindu?"
"Kenapa sih, kenapa? pertemuan ini harusnya indah, Mas!"
Ara menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia menumpahkan segala kesalnya lewat tangis. Mungkin juga itu kesalnya selama tiga tahun ini merasa sesak tiap kali mengingat Aro.
Aro tersenyum, ia akhirnya bisa mendengar pengakuan cinta dan rindu dari gadis itu. Beberapa pasang mata memandang ke arah keduanya saat berjalan melewati mereka. Aro tak peduli, ia hanya peduli bahwa Ara juga mencintai dan merindukannya.
"Ra ... aku cuma becanda. Aku mana bisa marah ke kamu," ucap Aro mengetuk pucuk kepala Ara dua kali dengan telunjuknya.
"Udah nangisnya, jangan bikin aku meluk kamu di sini!" Aro kembali menyentuh pucuk kepala Ara, kali ini hanya sebuah usapan dan membuat Ara mendongakan kepala, menampakan wajahnya yang basah penuh air mata.
"Mas, kamu jahilnya kenapa nggak ilang-ilang? kenapa hal sensitif kaya gini kamu jadiin becandaan?" Ara memukul bahu pria di hadapannya itu dengan tenaga lemah.
"Aku benar-benar takut kamu marah," keluh Ara pukulannya menggantung di udara menyebabkan tangannya terjatuh lemas di pangkuannya.
Aro tertawa, ia meminta Ara berdiri dan segera meninggalkan tempat itu sebab kelakuan mereka berdua sudah mengundang perhatian beberapa orang yang berlalu lalang.
"Kita pulang ke mana?" tanya Aro saat keduanya sudah sampai di dalam mobil.
"Aku mau ke Bunda," sahut Ara masih memberengut kesal.
"Udah dong keselnya." Aro tertawa, kepalanya ia sandarkan pada setir mobil sambil mengarah ke hadapan Ara yang sedang menunduk dangan wajah cemberut. Tangan Ara meremas-remas tisu yang tadi digunakannya untuk mengusap air mata di pipinya.
"Kamu nyebelin!" umpat Ara.
"Kamu gemesin," sahut Aro.
"Aku kesel!" teriak Ara.
"Aku sayang," sela Aro.
"Aku marah!" tegas Ara.
"Kamu boleh marah, tapi jangan nolak ya kalau aku ajak nikah."
Ara reflek menoleh pada pria yang kini tengah tersenyum manis ke arahnya. Pria itu menegakan badannya tanpa mengalihakan pandangan dari Ara.
"Please, jangan bikin aku nunggu lagi."
.
.
.
Terima kasih masih setia membaca kisah ini. Semoga kakak semua selalu diberikan kesehatan. Maaf bila masih banyak kekurangan di dalamnya.
__ADS_1
Pintu 1 atau gerbang pintu masuk utama Kebun Raya Bogor terletak di sebelah utara, yaitu di ujung Jalan Juanda. Gerbang ini tepat di pertigaan jalan pertemuan dengan Jalan Otto Iskandardinata dan Jalan Suryakencana.
Bagi yang tidak membawa kendaraan, kalian bisa masuk melalui gerbang ini. Di sebelahnya ada pintu masuk bagi yang ingin membawa kendaraan. Namun pada hari Minggu atau apabila ada acara tertentu, pintu ini biasanya ditutup.