Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Lidah Sunda


__ADS_3

Ara semakin mempercepat langkahnya saat melihat mobil milik Sakaf sudah terparkir rapi di depan klinik. Cuaca siang itu cukup terik, membuat Ara berlari dan langsung masuk ke dalam mobil. Ara duduk di kursi penumpang, ia tadi bingung harus membuka pintu yang mana.


"Emangnya saya supir?" sindir Sakaf membuat Ara menepuk jidatnya.


Salah lagi


Ara segera keluar dari kursi penumpang untuk pindah ke depan. Dengan wajah memberengut Ara duduk dan mulai memakai sabuk pengaman.


"Kamu suka makan di mana?" tanya Sakaf tanpa basa-basi.


"Hah? gimana maksudnya?" Ara balik bertanya tak mengerti.


"Saya disuruh Bunda ngajak kamu makan siang, kamu maunya makan di mana?" Sakaf mengulang pertanyaannya.


"Aku makan siang di rumah, dong," jawab Ara dengan senyum berbinar berharap Sakaf juga tersenyum, tapi tidak sama sekali


"Makan siang di restoran mana?" tanya Sakaf lagi, wajahnya tetap datar.


"Nggak pernah, 'kan ayahku pemilik restoran. Jadi, kalau makan di restoran ya udah tentu restoran ayah, dong," jawab Ara membuat Sakaf bingung.


"Kita makan di restoran ayah kamu?" tanya Sakaf.


"Yeeaay nggak modal, nanti ayah nggak mau dibayar. Cari restoran lain," sahut Ara membuat Sakaf sedikit kesal.


"Saya cuma memastikan kamu ingin makan di restoran mana?" Sakaf menoleh ke arah Ara. Keduanya sontak bertatapan dengan Ara yang lebih dulu membuang pandangannya.


"Terserah Kakak, deh," jawab Ara salah tingkah. Bisa gila kalau setiap hari berdekatan dengan manusia seperti Sakaf. Begitu pikir Ara.


"Mau makan apa?" lagi-lagi Sakaf bertanya hal yang membuat Ara geram sendiri.


"Aku lagi pengen makan pizza ... kita ke gerai pizza aja," jawab Ara.


Sakaf tak menganguk ataupun menggeleng. Ia segera melajukan mobil, mulai membelah jalanan yang masih sepi karena belum masuk jam pulang kantor. Cuaca terik membuat tenggorokan Ara terasa kering. Ia merasa sangat kehausan.


Ara melirik ke sana ke mari, berharap ada air minum, namun nihil. Tak ia temukan di manapun. Mobil Sakaf sangat bersih, rapi dan harum seperti pemiliknya. Ara menelan ludahnya sendiri untuk menetralisir rasa hausnya.


"Kamu kenapa gelisah?" tanya Sakaf saat melihat Ara terus saja tak bisa diam. Bergerak ke sana ke mari, tentu mencari air minum.


"Nggak apa, kok," jawab Ara.

__ADS_1


Sakaf terkekeh, ia kemudian bertanya, " Kamu takut saya apa-apain?"


Ara membulatkan mata mendengar pertanyaan Sakaf yang ambigu. Selain aneh dan kaku ternyata Sakaf nemang memiliki tingkat percaya diri yang tinggi.


"Enggak, kok. Kenapa mikir kayak gitu?" Ara balik bertanya.


"Terus apa yang bikin kamu nggak bisa diam? saya risih melihatnya."


"Aku haus, Kak. Dari tadi cari minum dan nggak ada," ungkap Ara.


"Saya nggak pernah menaruh minuman dan makanan di mobil. Mau turun dulu beli minuman?" tawar Sakaf membuat Ara menggeleng.


"Nggak usah, Kak. Sebentar lagi kita sampe 'kan?" sanggah Ara membuat Sakaf diam kembali.


Keheningan kembali tercipta, Ara tak berani membuka percakapan. Dia takut salah dan memilih diam. Hingga mobil yang dilajukan Sakaf memasuki pelataran gerai pizza.


Keduanya turun tanpa ada adegan Sakaf membukakan pintu untuk Ara. Sakaf bahkan tak menunggu Ara saat melangkah masuk ke dalam gerai. Mereka berdua lebih mirip driver online dengan penumpangnya. Sama sekali tidak seperti sepasang calon pengantin.


Sakaf memilih tempat duduk sembarangan, yang terpenting baginya adalah duduk. Ara ikut duduk berhadapan dengannya. Hati Ara masih dongkol. Kapan menemukan kecocokan jika Sakaf terus-menerus bersikap dingin begitu?


"Kamu mau pesen apa, Kak?" tanya Ara.


"Pizzanya rasa apa?" tanya Ara lagi seraya melihat-lihat buku menu.


"Saya nggak suka pizza, lidah saya lidah sunda," jawab Sakaf membuat selera makan Ara tiba-tiba menghilang. Ia menyesal sekali telah memberikan pilihan pizza saat Sakaf mengajaknya makan siang.


"Terus kita nggak jadi makan?" tanya Ara dengan wajah frustasi.


"Kamu pesen aja yang kamu mau, saya cukup air putih," sahut Sakaf tanpa ekspresi.


Akhirnya Ara mengurungkan niat memesan pizza, tak mungkin makan pizza sendirian. Pasti rasanya tidak enak. Dia akhirnya hanya memesan Vanilla Milkshake dengan kentang goreng saja. Sungguh acara makan siang yang membosankan.


Tak butuh waktu lama untuk menghabiskan menu camilan itu, keduanya memilih kembali pulang sebab Sakaf berkata masih ada pekerjaan.


Saat sudah menaiki mobil, Sakaf keluar kembali. Masuk lagi ke dalam gerai tanpa berkata apa-apa pada Ara.


"Dasar cowok aneh," gumam Ara yang masih merasa kesal.


Tak lama Sakaf kembali, membawa tiga box pizza berukuran reguler. Ia langsung memberikannya lada Ara.

__ADS_1


"Buat oom dan tante," ucapnya singkat tanpa senyum sedikitpun.


Mata Ara berbinar, akhirnya angan-angannya untuk makan pizza terlaksana. Dia bisa pesta bersama Atar di rumah. Ara sedikit menyesal karena sedari tadi sudah banyak mengumpat Sakaf dalam hati.


"Makasih, ya, Kak," ucap Ara dan hanya dijawab anggukkan oleh Sakaf yang kemudian melajukan mobilnya dan meninggalkan pelataran gerai pizza.


***


Akhza


Malam semakin dingin di kamar Akhza yang bercat putih. Kamar yang dulunya adalah milik Akash itu sudah beberapa tahun ini ia tempati. Akhza duduk pada sofa panjang yang menghadap langsung ke jendela. Angin malam membelai pipinya, meluruhkan rasa lelah setelah seharian tadi berkutat di rumah sakit.


Hari ini Akhza beruntung sebab bisa pulang lebih cepat. Setelah makan malam bersama jidda, ia memilih langsung naik ke kamarnya untuk istirahat.


Langit yang dapat ia pandang meski berada di dalam kamar mengukir indah wajah Ara. Senyum Ara terlukis jelas pada hitamnya langit malam. Akhza sedikitpun tak dapat menepikan nama Ara di hati dan pikirannya.


Terkadang merasa sangat marah terhadap jidda dan juga Zahra yang begitu keras melarang dirinya menikahi Ara. Jauh di lubuk hatinya, Akhza ingin sekali keluar dari rumah jidda. Melihat jidda dan Zahra yang meskipun baik terhadap Ara, tapi tak jarang membicarakan tentang masa lalu Ara membuat Akhza kadang geram.


Sayang, Akhza bukan Aro yang sesuka hati mampu berontak terhadap orang tua. Akhza memilih menurut, tapi dalam hati memupuk kemelut. Seperti gulungan benang yang tiada ujungnya.


Sedang asyik-asyiknya memandang langit malam yang ia lukis dengan wajah Ara, dering ponsel yang ia simpan di atas tempat tidur mengganggunya.


Akhza terpaksa beranjak dan mengambil ponselnya, terdapat nama Ara dalam layar ponsel. Senyum Akhza mengembang, bersinar bak matahari di pagi hari. Ia serta merta menjawab panggilan itu.


Dirinya sedikit kecewa ternyata saat mengucap salam, bukan suara Ara yang menyambutnya. Justru suara Bumi yang lantang menjawab salamnya.


"Lagi apa, Bang?"


"Lagi santai, Bun."


"Sudah makan?"


"Udah, dong. Bunda lagi apa?"


"Lagi makan pizza, nih. Tadi dibeliin sama calon adik iparmu."


Demi mendengar kata calon adik ipar, hati Akhza rasanya sakit. Seperti diiris sembilu, perih. Dia memilih tak menjawab, kemudian saat Bumi bertanya hal lain dirinya hanya menjawab seperlunya. Dengan alasan mengantuk, Akhza menyudahi percakapannya dengan Bumi.


Akhza kembali termenung, bukan tak ikhlas, hanya saja kali ini sepertinya Tuhan sedang menguji kesabarannya. Akhza kembali menatap langit, mengukir wajah cantik Ara. Menikmatinya sendirian bersama angin malam.

__ADS_1


__ADS_2