
Ara beranjak membenahi bantal agar Akhza dapat segera beristirahat. Ia susun bantal menjadi dua tumpuk lalu menepuknya beberapa kali dan berkata, " Abang tidur, nanti aku liatin sampe bener-bener nyenyak."
Akhza menyelisik wajah adiknya itu, ia tak yakin Ara akan melakukannya. Akhza menyipitkan matanya, dengan sorot tudingan ia bertanya, "Yakin mau nunggu sampai aku tidur?"
"Kapan aku bohong sama Abang?" Ara balik bertanya seraya beranjak menuju sofa yang sering Akhza gunakan untuk menatap langit malam, mengukir wajah Ara.
"Tentang menungguku, kamu berbohong, Ra," sahut Akhza, bukannya berbaring ia malah ikut beranjak ke arah Ara yang sudah duduk di sofa itu.
Ara menghela nafas dalam, ia dapat merasakan Akhza menghampiri dan duduk di sampingnya. Ara mencengkram kuat pinggiran roknya, "Aku nggak berbohong, Abang yang nggak datang."
"Kalau aku datang sekarang, gimana?" pinta Akhza tangannya terulur meminta tangan Ara menyambutnya.
Ara mengangkat tangan kirinya. Ia menunjuk pada cincin yang tersemat di jari manisnya, "Abang tahu ini artinya apa?"
Akhza tak mau tahu, ia meraih tangan Ara dan membawanya ke dalam genggaman. Ia tahu ini salah, tapi bolehkah Akhza berharap? tiba-tiba besok Sakaf memutuskan pertunangannya sebab bertemu dengan wanita lain misalnya, bolehkah berpikiran seperti itu?
"Bolehkah aku berharap pernikahan kalian gagal?" Akhza mengutarakan keinginan yang sempat terbesit dalam pikirannya.
Ara menarik tangannya dari genggaman Akhza walau sedikit harus memaksa. Ia menaikan kedua kakinya ke atas kursi dan menekuknya. Ara meletakan dagu di atas dengkul seraya kedua tangan memeluk kakinya sendiri.
"Berdo'anya yang baik, Abang. Nanti kalau diijabah gimana?" tanya Ara dengan tatapan lurus mengarah pada gorden yang bergerak-gerak tertiup angin. Dalam benaknya berpikir, jika jendela dibuka pasti langsung dapat menatap langit malam.
Akhza tertawa seraya berdiri menyingkap gorden. Ia berdiri membelakangi Ara dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. Dengan suara lirih Akhza berkata, "Kalau diijabah, aku senang dong."
"Abang kok jahat, adeknya gagal nikah malah seneng." sungut Ara seraya menaikan kepalanya dan ikut memandangi langit seperti yang sedang Akhza lakukan.
"Kamu juga jahat sudah mengabaikan suratku begitu lama," balas Akhza seraya duduk karena kepalanya kembali terasa pusing.
__ADS_1
Ara menangkap keringat sebesar biji jagung di pelipis Akhza, ia segera menurunkan kakinya dan mendekatkan diri pada Akhza. Tangan Ara terangkat menyapu keringat di dahi kakaknya itu.
"Abang demam lagi, Bang!" pekiknya kemudian beralih menyentuh leher Akhza dengan punggung tangannya. Punggung tangan Ara terasa hangat bahkan nyaris panas saat menyentuh bagian leher Akhza.
"Udah, ayok, istirahat, Bang!" Ara berdiri dan menarik paksa tangan Akhza untuk ikut berdiri dan melangkah menuju tempat tidur.
"Kamu khawatir sama aku?" tanya Akhza penuh pengharapan.
Ara tak menjawab, ia sibuk menyibak selimut dan merapikan tempat yang akan ditiduri oleh kakaknya. Setelah dirasa rapi, Ara segera menyuruh Akhza berbaring.
"Aku pergi deh kalo Abang nggak mau tidur juga!" ancam Ara membuat Akhza mencekal lengannya.
"Iya, aku tidur," ucap Akhza seraya cepat berbaring dan membuat Ara tersenyum menang.
Akhza kembali merasakan tubuhnya gemetar dengan perut yang terasa perih seperti disayat dan ditaburi garam. Kepalanya yang semakin pusing membuat Akhza tak bisa menyembunyikan kondisi tubuhnya yang memburuk.
"Pijit lagi aja sampai aku tertidur," pinta Akhza seraya memejamkan matanya berharap segera terlelap dan mengakhiri rasa sakit yang dideritanya.
Ara menurut, ia terus memijat lembut kening Akhza. Cukup lama hingga ia merasa tangannya sangat kebas dan pegal. Ara menarik dirinya untuk segera turun dari tempat tidur begitu meyakinkan diri bahwa Akhza telah tertidur nyenyak.
Sebelum pergi, Ara menarik selimut hingga ke dada Akhza. Ia sibak rambut Akhza yang menempel di dahinya karena terkena keringat. "Maaf, Abang. Kisah kita terlalu rumit untuk diteruskan, akan banyak pihak yang tak suka dengan hubungan kita. Aku hanyalah Salasika Arabella, si anak yang lahir dari sebuah kesalahan. Kamu terlalu sempurna untuk bersanding denganku. Langit bukan untuk Ara meski Ara selalu ingin berada di bawahnya. Terlalu tinggi, terlalu sempurna untuk aku meraihnya. Tanganku hanya mampu terangakat, tak mampu menggapai apalagi menyentuhmu."
Ara melangkah keluar dari kamar Akhza dengan perasaan khawatir berbalut pilu. Ia berharap Akhza tak lagi menanyakan tentang balasan suratnya. Ara dulu sudah menjawabnya, meski salah sasaran karena Aro yang mendengarnya.
Ara melangkah menuju kamar Nadia yang tak tertutup rapat. Ia mengintip dan mendapati Aro sedang melakukan video call entah dengan siapa. Awalnya Ara berpikir ia dapat tidur di kamar itu. Melihat Aro ada di dalamnya, ia memilih turun untuk melihat kamar tamu.
Tangannya terangkat untuk memutar kenop pintu, namun ternyata pintu dikunci. Ara akhirnya memutuskan untuk merebahkan tubuh di sofa pada ruang santai saja. Ia meyakini bahwa kamar tamu satunya lagi pasti dipakai juga oleh orang tuanya atau Atar.
__ADS_1
Tubuhnya sangat lelah, dalam sekejap saja matanya sudah tertutup sempurna dan tidur terlelap dengan posisi berbaring membelakangi sandaran sofa.
Aro
Selesai mengobrol dengan Omar via panggilan video, ia memutuskan untuk turun ke dapur mencari minuman. Tujuannya tentu kulkas dengan sasaran utama adalah minuman dingin. Senyum Aro mengembang saat mendapati minuman yang diinginkannya terjajar rapi di bagian pintu kulkas, " Rezeki anak soleh," gumamnya seraya langsung menenggak satu botol minuman itu hingga tandas.
Saat akan kembali ke atas, ujung matanya menangkap sosok yang sedang berbaring di sofa ruang santai, "mana mungkin rumah ustazah ada hantunya," ucapnya meyakinkan diri sendiri.
Aro mengendap mendekati sosok yang sedang tertidur itu. Suara dengkuran membuatnya yakin bahwa itu bukan hantu melainkan manusia
"Upiiil ...!" pekiknya seraya menutup mulut.
"Lo ngapain tidur di sini? pake ngorok lagi."
"Lo capek, banget, ya?"
Aro terus bermonolog seraya memandangi punggung Ara yang tidur mendengkur.
Rasa iba dalam dirinya mendorong Aro untuk menggendong tubuh Ara yang sedikit berisi itu. Pelan-pelan Aro meletakkan kepala Ara pada lengan kirinya. Tangan kanannya ia gunakan menopang bokong Ara.
"Kalau berat gue lemparin lo, ya, Pil," ucapnya tentu pada diri sendiri.
Aro hati-hati melangkah menggendong tubuh Ara. Dia bahkan sempat beberapa kali berhenti saat menaiki undakkan tangga. Wajah Ara yang tenang, namun dengan dengkuran membuat Aro sekuat tenaga menahan tawanya.
Tiba di kamar, Aro pelan-pelan membaringkan tubuh gadis itu. Ia berusaha sebisa mungkin agar Ara tak terusik. Tubuh Ara kini sempurna berbaring di atas tempat tidur. Aro membentangkan selimut menutupi tubuh gadis itu hingga sebatas dagu. Aro menyelisik ke wajah manis yang memiliki kulit seputih kapas sebelum meninggalkan kamar itu.
"Gila, jangan sampai gue naksir," gumamnya kemudian meninggalkan Ara yang makin lelap dibuai mimpi.
__ADS_1
itu yang tekan like, tolong tinggalkan komen juga dong.