Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Seribu langkah


__ADS_3

Aro berkali-kali mengumpat perbuatan abangnya, dia sampai menendang-nendang pintu kamar kembarannya itu. Sementara Akhza, dia malah memilih mengeraskan murotal Al-qur'an yang ia putar dari ponselnya.


"Gue nggak mau kalah, ya, Bang!" monolognya, meninju pintu kamar Akhza kemudian berlalu ke kamar Atar.


Atar sedang belajar saat Aro tiba di kamarnya. Adik bungsunya itu begitu serius menyalin surah Ar-rum ayat 1 hingga ayat 10 dari Al-qur'an ke buku tulisnya.


"Dek, lo lebih sayang gue apa abang?" tanya Aro seraya menjatuhkan diri ke atas tempat tidur, tanpa basa-basi.


"Mas Ar! ngagetin aja!" seru Atar seraya mengusap dada. "Ucap salam kek kalau masuk kamar orang," lanjutnya mendengus kesal. Atar sampai harus kembali meneliti tulisannya, khawatir ada yang tercoret.


"Emang lo orang?" ledek Aro, ia telentang di tengah tempat tidur. Matanya ia pejamkan, dan ada Ara di dalamnya. Tersenyum manis. "Shit, kenapa jadi muka dia yang nongol sih!" umpatnya pelan seraya mengusap kasar wajahnya. Aro menggasak surai hitamnya, memukul-mukul kepalanya. Berharap bayangan Ara hilang dari pikirannya.


"Muka siapa, Mas?" Atar yang selesai dengan kegiatannya menutup kembali Al-qur'an. Ia segera menaruh buku tulis ke dalam tasnya, agar tak tertinggal besok. Bisa jadi celaka dua belas bila sampai tidak terbawa, pasalnya, Guru PAI di kelasnya dikenal tegas.


"Muka lo, jelek!" teriak Aro menyulut amarah Atar.


"Gue jelek lo lebih jelek, Mas!" balas Atar segera menyerang Aro. Ia duduki tubuh kakaknya itu, "Pilih, neraka Hawiyah atau neraka Hutamah?"


"Minggir! sakit, bege!" Aro hendak meninju Atar, namun dengan sigap tangan Atar menangkap tangan Aro.


"Beliin gue hape baru dong, Mas!" pinta Atar, "nanti gue turutin deh apapun titah lo," lanjutnya memberi penawaran.


Tiba-tiba Aro seperrti mendapat angin segar, ia berpikir bisa memanfaatkan Atar untuk seribu langkah lebih maju mendapatkan Ara. Anak itu bisa jadi mata-mata saat dirinya tak di rumah. Memastikan Ara tak didekati Akhza.


"Boleh juga, minta hape apa lo?" selidik Aro.


Atar menyebutkan merk ponsel yang ingin ia miliki. Menurutnya, ponsel tersebut adalah keluaran model terbaru.


"Bege, lima belas juta itu harganya!" seru Aro seraya menarik tangannya dari genggaman Atar. "Awas dulu, sakit perut gue!"


Atar akhirnya menyingkir, dia kembali duduk di kursi yang menghadap meja belajarnya. Aro sendiri beranjak, dia duduk di tepian tempat tidur dengan kaki menjuntai ke lantai. Ia membuka hoddie kuningnya, rambut bagian depannya yang sudah sedikit gondrong ia kumpulkan menjadi satu, lalu ia ikat menggunakan karet jepang yang ia ambil dari saku jeansnya.


"Mas, iya nggak?" Atar tak sabar menunggu jawaban sang kakak yang nampak lebih tampan dengan gaya rambutnya, bukannya malah jelek.


"Jangan yang itu, yang lain aja!" Aro kali ini melepas jeansnya, ia lempar sembarang celananya itu ke arah Atar yang langsung menangkapnya sigap.


Atar kembali menyebutkan merk ponsel, Aro lagi-lagi menolaknya. Dia ganti dengan merk lain dan Aro menyetujuinya.


"Sekalian beliin sepatu juga ya, Mas?" Atar sepertinya memang memanfaatkan keadaan kakaknya itu.


"Atar, hape lo aja harganya udah lima juta!" sentak Aro melempar Atar dengan bantal. "Ngelunjak, lo. Minta ayah kalau mau beli sepatu," lanjutnya seraya kembali merebahkan diri.


"Mas juga pasti pengen imbalan 'kan dari gue?" tebak Atar membuat Aro kembali duduk. Aro berpikir sejenak, ia tersenyum seraya memiringkan kepalanya.

__ADS_1


"Seneng gue, lo ngerti maksud gue," Aro beranjak dari duduknya, ia melangkah mendekati Atar.


Aro Berdiri di belakang kursi yang Atar duduki, kedua tangan menumpu pada sandaran kursi, badannya sedikit membungkuk lalu setengah berbisik ia kembali bicara, "Lo cukup jadi mata-mata gue buat mantau Ara supaya jauh dari bang Za," ucapan Aro membuat Atar malah terbahak.


"Lo ngerti nggak maksud gue?" Aro menyalak seraya memukul tengkul Atar, ia kembali menegakkan badannya.


"Cukup paham, udah gue duga, pesona teh Ara emang kuat. Gue aja kalo lebih tua dari dia udah gue kawal sampe halal," cerocos Atar malah kembali dihadiahi Aro pukulan di tengkuknya.


"Sakit atuh, Bang!" keluh Atar seraya mengusap tengkuknya yang cukup terasa panas.


"Sekali lagi lo ngomong suka sama Ara, gue sumpel mulut lo pake petasan cabe yang siapa meledak!" ancam Aro membuat Atar bergidig sekaligus tertawa geli. Ia tak menyangka, masnya yang selama ini sangat jahil pada Ara justru memiliki perasaan juga terhadap kakak perempuannya itu.


Tak lama, pintu kamar diketuk kemudian dibuka dari luar, lalu masuklah seseorang ke dalam kamar Atar, wanita cantik yang telah melahirkan keduanya datang membawa segelas susu di tangannya.


"Mas, kok bisa di sini?" tanya Bumi seraya menyerahkan susu pada Atar. Biarpun Atar sudah besar, Bumi tetap memperlakukannya seperti anak bayi.


Aro segera meraih tangan bundanya, ia cium punggung tangan itu kemudian tak lupa menghujani pipi bundanya dengan ciuman hangat. Aro memang tak seperti Akhza yang terkesan cuek, ia lebih ekspresif dan hangat.


"Bunda dari mana?" alih-alih menjawab, Aro malah balik bertanya, tangan kanannya melingkar di pinggang Bumi.


"Dari rumah maminya Ara," jawab Bumi lantas kembali mengambil gelas dari Atar, dalam sekejap susu hangat itu tandas dari dalam gelas. "Kamu besok syuting, nggak?" tanya Bumi seraya melepas ikatan rambut Aro, ia rapikan rambut anaknya itu. Bumi paling tak suka Aro mengikat rambut seperti itu.


"Kenapa emang?" Aro sepertinya memang benar-benar lebih suka bertanya balik daripada menjawab.


"Maksud Bunda?" Aro tak mengerti, ia sedikit menjauhkan diri dari Bumi, kemudian berdiri menghadap tepat di depan bundanya itu. Tubuhnya yang tinggi, membuat tinggi Bumi hanya sebatas dadanya.


"Ara katanya mau pindah ke rumah baru sama maminya," jelas Bumi membuat Aro tersulut emosi, ia tiba-tiba merasa kesal.


"Eeh kok gitu? nggak bisa dong, Bunda!" seru Aro seraya kembali duduk di tepi tempat tidur, ia angkat kaki kirinya dan ditumpangkan di kaki kanan. "Bunda sama Ayah udah jagain dia. Tiba-tiba udah gede mau diambil. Enak aja!"


"Kamu kenapa jadi peduli sama Ara?" todong Bumi, ia melangkah mendekati Aro dan berdiri di hadapan putranya yang memakai kaos putih itu. Wajahnya yang putih bersih terlihat sangat bercahaya ditimpa sinar lampu.


"Aku cuma kasihan sama Bunda, bukan Ara," ralat Aro cepat, "Bunda besarin dia dengan penuh cinta, udah gede pergi gitu aja," lanjutnya menggebu-gebu.


"Sudah, ah! Bunda cuma tanya, bisa nggak bantuin Ara? soalnya abang kan sakit," jelas Bumi.


Aro pura-pura berpikir, dalam hati sesungghnya dia senang sekali. Ditambah Akhza yang masih dalam kondisi sakit. Hal ini bisa jadi kesempatan untuknya seribu langkah maju di depan Akhza.


"Iya, deh mau. Tapi, ini demi Bunda. Bukan demi Ara!" tegasnya, dalam hati sudah ingin waktu berubah jadi esok hari. Wajah Ara kembali terekam jelas di dalam otaknya, ia sampai memukul-mukul kepalanya sendiri agar bayangan itu hilang. Sayang, wajah cantik Ara yang memakai kerudung mocca begitu terlihat nyata dan susah dihilangkan.


*Shit! kenapa gue jadi kangen banget sama dia*?


***

__ADS_1


Sementara di kediaman Vanya, Ara masih sibuk memasukan pakaian Vanya ke dalam tas dan koper. Ia memilih dan memilah pakaian mana yang masih layak atau tidak untuk dipakai. Allah benar-benar memudahkan urusannya. Akash berhasil menego pemilik rumah, dan malam itu juga urusan itu dapat diselesaikan dengan cepat. Membuat Ara dan Vanya dapat segera mengisi rumah itu esok hari.


"Barusan bunda telepon ke Mami," Vanya yang baru kembali dari lantai bawah membawa kardus besar bicara tanpa aba-aba membuat Ara kaget. Ara sampai mengusap dadanya seraya beristighfar.


"Besok kita dibantu mas Aro, dia pagi-pagi ke sini katanya," beritahu Vanya membuat hati Ara tiba-tiba terasa hangat.


Kedua ujung bibir Ara terangkat, ia besok akan bertemu Aro setelah beberapa waktu lalu merasa gusar sebab orang tua Sakaf bergurau soal perjodohan Ainun dan Aro.


"Kita nggak pagi-pagi, ayah bilang urusannya juga baru beres barusan. Rumahnya harus dibersihkan dulu," sahut Ara kembali memasukkan pakaian ke dalam koper. Sudah satu koper dan dua tas besar, tapi pakaian Vanya masih banyak saja.


"Bunda juga bilang, nanti ada orang yang bersih-bersih rumahnya. Kita fokus aja beresin di sini," jelas Vanya. Ia melangkah ke lemari tempat penyimpanan tas-tas branded.


Pantas saja terlilit hutang, ia selama ini membeli barang tidak sesuai fungsi hanya beralaskan gengsi. Dia berencana melelang semua koleksi tas itu pada temannya. Ia berharap ada modal untuk memulai usaha baru, seperti yang diinginkan Ara.


"Neng, kamu nggak sedih kan nggak jadi nikah?" tanya Vanya seraya mulai memasukkan tasnya ke dalam kardus, beberapa di antaranya memang hanya tas biasa saja.


"Enggak dong, Mi," sahut Ara cepat seraya menutup resleting koper. Kemudian ia dorong koper itu hingga ke dekat pintu.


Ara menepuk-nepuk kedua telapak tangannya, ia sesungguhnya sudah merasa sangat lelah. Waktu yang mepet membuatnya harus segera merapikan barang-barang malam ini juga. Ponsel yang ia taruh di meja rias bergetar menandakan panggilan masuk.


Saat dilihat, pelakunya adalah Bumi, Ara segera menerima panggilan itu.


"Neng, beres belum? kalau belum ada bala bantuan mau datang ke situ."


"Belum sih, Bunda. Memangnya siapa bala bantuannya?"


"Ini beberapa pegawai Kafe dan juga Mas Ar, mereka ke situ sekarang, ya?"


Ara membulatkan mata demi mendengar nama Aro disebut, waktu sudah menunjukan pukul 00.15, sementara barang yang harus dipak masih banyak. Bala bantuan sungguh dibutuhkan. Apalagi bila yang datang pujaan hatinya.


"Iya, Bunda. Makasih sebelumnya."


Bumi segera menutup panggilan setelah mengucap salam, lalu ia beritahukan pada Aro untuk segera menuju ke rumah Vanya. Aro pura-pura malas, padahal dalam hati ia sungguh ingin segera berlari melihat sang adik.


Bumi sampai harus membujuknya lagi, padahal Aro sudah ingin dari tadi menawarkan diri untuk membantu Ara. Aro tanpa mengganti pakaian, baru pergi setelah berakting merajuk pada Bumi. Dalam hati ia mengucapkan yes berkali-kali dan bersorak senang. Aro kembali seribu langkah lebih maju dari Akhza.


Komen


Like


Vote


Beri hadiah

__ADS_1


Maaf atas keterlambatan up, aku sayang kalian semua.


__ADS_2