Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Nanti Jadi Gemesin


__ADS_3

Gorden putih bergerak-gerak tertiup angin sebab jendela masih terbuka padahal malam semakin larut, seorang wanita paruh baya tengah duduk di atas sajadah dengan tasbih digital di tangannya. Bibirnya terus menggumam dzikir sejak tiga puluh menit yang lalu.


Nampak di hadapannya seorang pria yang masih terlihat gagah meski usia tak lagi muda melakukan hal sama meski tanpa menggunakan tasbih. Hanya ruas jari yang digunakan sebagai penghitung dzikirnya.


Meyakini telah selesai dengan seribu kali berdizikir, pria itu menoleh pada istrinya. "Dek, bicara sebentar ya, Sayang," jelas terdengar nada bujuk dan rayu sebab pria itu menyematkan kata Dek pada kalimatnya.


Merekalah Akash dan Bumi, dua pasangan yang sempat kehilangan harapan untuk bersama. Bumi sedang merajuk, tak ingin Ara, anak yang ia rawat dari bayi merah kembali pada ibu kandungnya.


"Dek. sebentar saja," masih dalam mode membujuk Akash bicara.


"Bicara saja, Ayah, Bunda dengarkan," sahut wanita yang masih nampak cantik itu meski usia tak lagi remaja.


"Kamu sudah tahu apa alasan Ara ingin tinggal bersama ibunya?" pertanyaan yang langsung menusuk kalbu Bumi.


Wanita itu menghela napas, mata sembabnya bukti nyata sedari siang ia tak bisa berhenti menangis.


"Dia ingin Vanya masuk muslim, kamu tahu alasannya mengapa?" Akash kembali berucap sebab tak jua mendapati istri kesayangannya itu menjawab.


"Aku berat sekali berjauhan dengan Ara, membayangkan dia sebentar lagi menikah saja aku selalu sesak. Kali ini dia bilang mau meninggalkan rumah ini?" Bumi mulai menggebu-gebu, "Ara kesayanganku. bahkan Bunda lebih rela tiga anak jagoan yang kadang cuma bikin pening itu yang pergi daripada Salasika Arabella, anak soleha Bunda," lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.


"Waduh, kalau jagoan Ayah dengar bisa bahaya ini. Apalagi kalau si artis itu yang tahu. Kacau dunia persilatan," kelakar Akash dihadiahi pukulan di lengan oleh Bumi.


"Bunda serius, Yah," lagi-lagi merajuk sampai tak ingat umur.


"Ara punya tujuan mulia, mengislamkan Vanya. Dia cerita ke Ayah, kelak bingung harus dengan cara apa mendo'akan Vanya saat dirinya telah tiada. Ara tak ingin Vanya lebih jauh masuk ke dalam dunia kelam. Ara adalah cerminan kamu, Sayang. Hatinya entah seperti apa, sampai sejauh itu memikirkan nasib Vanya. Padahal Vanya ...,"


"Bunda mau ketemu Ara," Bumi memotong kalimat suaminya seraya berdiri melepas mukenanya. Melipatnya sembarang kemudian ia simpan di atas tempat tidur. Memastikan hijabnya sempurna menutupi kepala dan rambut, wanita yang hanya mengenakan daster lusuh itu keluar meninggalkan kamar dan meninggalkan pria yang sering dia sebut si batu yang diberi nyawa.


Akas mengulum senyum, Buminya hanya butuh dibujuk.


***


Tengah malam itu keempat anak muda sedang asyik memakan mie instan dalan panci, kegiatan warisan dari Ibu mereka yang telah menularkannya bertahun-tahun lalu.


"Mas Ar curang, udah aku ambil duluan malah Mas ambil," keluh Ara saat bakso yang hampir ia makan malah berhasil Aro rebut.


"Terkadang kita perlu curang buat jadi pemenang, Pil," dengan mulut mengunyah bakso, Aro menjawab sambil memiringkan kepalanya. Letupan dalam hati Ara kembali tercipta, pesona Aro selalu melangut di jiwa Salasika Arabella.


"Prinsip lo curang banget sih, Mas. Bukannya mengambil sesuatu yang bukan hak kita itu namanya mencuri," Akhza yang setengah cemburu melihat adik perempuannya bahkan terang-terangan menatap Aro, beranjak dari duduknya, berpindah dari atas karpet itu menuju sofa.


"Mencuri itu kalo yang punya nggak tahu, kalo yang punyanya tahu sih namanya meminta. Iya nggak, Pil?" Aro jahil dengan gerakan cepat mencium pucuk kepala adiknya itu, lalu dengan santai kembali pada panci, kali ini beradu ketangkasan dengan Atar, adik bungsunya.


Mas, aku bisa mati mendadak kalau kamu terus-menerus membuat degub jantungku seakan enggan berada di tempatnya. Dia memaksa melompat, Mas.


Ara berusaha mengendalikan diri meski sendok yang terjatuh dari tangannya adalah bukti nyata, betapa dirinya telah porak poranda dibuat oleh Aro.

__ADS_1


"Neng ...," sapaan lembut Bumi mengalihkan keempat anak muda itu.


Bumi berdiri seraya merenrantangkan tangan, berharap Ara segera datang menyambutnya. Ara tentu beranjak, ia mengangkat sedikit gamisnya agar dapat berlari menuju Bundanya.


"Bunda, jangan diemin aku lagi. Aku takut," akunya seraya menenggelamkan wajah pada dada Bumi.


"Maafin Bunda ya, Sayang. Bunda mengambil sikap kekanak-kanakan tanpa dengar penjelasan Ara. Bunda terlalu sayang sama Ara," ungkap Bumi menjalarkan rasa hangat dalam hati Arabella.


Gadis itu melerai pelukannya, menarik diri sedikit agar dapat menatap bundanya. "Ara juga sayang Bunda, maaf kalau perkataan Ara buat Bunda jadi sedih. Ara nggak niat sedikitpun untuk itu," jelas Ara kembali memeluk Bumi.


Jahilnya Aro memang tak kenal tempat, tak kenal waktu, tak kenal situasi. Aro beranjak, dengan santainya melenggang ke arah dua wanita beda usia yang sedang berpelukan itu.


Tangan Aro yang kekar ikut memeluk dua orang itu, Ara kaget sebab merasa badannya terhimpit.


"Aku juga sayang Bundaaaaa ...," ucap Aro, tepat di telinga Ara sebab posisinya dia memeluk dari arah punggung Ara.


"Mas, pengap akunya!" protes Ara, hatinya yang pengap.


"Mas, udah lepas!" omel Bumi seraya mencubit pinggang anak lelakinya itu.


Aro melepaskan pelukannya, namun sempat-sempatnya menepuk-nepuk pucuk kepala Ara. "Makanya berenang, punya badan pendek banget," ledeknya seraya berlalu, melangkah lebar-lebar meninggalkan ruangan itu, sepertinya hendak ke kamarnya.


"Ngobrol bentar, yuk!" ajak Bumi pada Ara, "eh tapi udah salat isya, eh udah pada salat isya belum?" tanya Bumi pada ketiga anaknya itu.


"Aku udah," jawab Ara.


"Aku belum, abis aku kan masih polos nggak banyak masalah kayak kalian," timpal Atar yang langsung membuat Bumi segera mendekatinya dan memberikan putra bungsunya itu jeweran.


"Belajar salat tepat waktu itu harus sejak dini," omel Bumi melepaskan jewerannya.


"Maaf, Bunda. Iya aku salat sekarang," Atar memberengut kesal seraya beranjak dari duduknya.


"Pancinya bawa, Langit cerah!" teriak Bumi, menyebut julukannya pada Atar.


"Udah, biar aku aja nanti, Bun," Ara yang menyahuti perkataan Bumi sebab Atar enggan kembali. Anak itu berlari menaiki undakan tangga.


"Kita duduk, yuk!" Ara menuntun langkah Bumi untuk duduk.


Setelah itu Akash datang, tepat waktu, sebab tidak melihat kejadian-kejadian yang bisa membuatnya ikut pening, cukup biarkan Bumi yang pusing dibuat Aro dan Atar.


"Makan mie nggak ajak-ajak Ayah, nih?" sindir Akash seraya duduk di samping istrinya.


"Udah lanjut usia makanan harus dijaga," seloroh Atar yang sedari tadi hanya diam, menahan cemburu yang gejolaknya susah sekali diredakan.


"Calon dokter bersabda," balas Akash Membuat mereka tertawa bersama.

__ADS_1


Ara mulai kembali mengutarakan niatnya. Ia yang ingin membawa Vanya keluar dari jeratan hutang, ingin membuat wanita yang melahirkannya itu masuk islam. Penuturan Ara menohok hati Bumi yang tak pernah berpikir sejauh itu. Bagaimana cara mendo'akan mami kelak?


"Oh itu kan rumah Mak Masnah, Neng. Tukang pijat bayik, ya?" tebak Akash saat Ara membicarakan rumah yang akan dijual. Tempatnya dekat dengan klinik Ara bekerja.


"Iya, Ayah. Ayah bisa bantu?" pinta Ara.


"Kenapa kamu nggak minta Ayah buat bayarin hutangnya tante Vanya aja sih, Ra?" tanya Akhza.


"Kalau semudah itu, mami nggak akan jemu berbuat salah, Bang. Aku mau mami jera, aku mau mami hidup di jalan yang benar," sahut Ara memberi alasan atas keputusannya.


"Udah, nanti Ayah bantu," Akash memangkas emosi Ara.


"Iya, nanti kita bicara ke mami kamu. Bunda bantu bujuk, ya," timpal Bumi.


"Ya udah, aku cuma bisa bantu do'a, Ra," tambah Akhza.


"Do'anya orang soleh pasti didengar Allah. Makasih, Abang Dokter," ucap Ara membuat mata Akhza berbinar. Detik selanjutnya Ara menyesal telah mengatakan itu. Bukankah dirinya sedang berusaha membuat Akhza melupakannya?


Malam semakin larut, keempatnya membubarkan diri. Berpindah menuju kamar masing-masing. Ara dan Akhza beriringan berjalan ke lantai atas menuju kamar mereka.


"Jangan lupa baca do'a, Ra," Akhza memperingati saat Ara membuka pintu kamarnya.


"Abang juga," sahut Ara tanpa menoleh pada lawan bicaranya.


Pemandangan indah kembali terpamlang di hadapan Ara begitu masuk kamar. Pujaan hatinya tengah duduk manis di sofa tempat Ara membaca novel. Sebatang rokok yang sedang dihisap mengakibatkan ruang kamar jadi pengap.


Ara buru-buru berlari ke arah jendela kamar, membuka lebar-lebar jendela itu agar asap rokok tak memenuhi kamarnya.


"Mas, seneng banget bikin aku kesel!" Ara menyalak.


"Emang itu tujuannya," sahut Aro santai.


"Mas nyebelin!"


"Nanti lama-lama juga bilang Mas gemesin," sahut Aro.


"Nggak akan!"


"Sembarangan, udah sana tidur! besok pagi-pagi ikut gue ke Kebun Raya buat syuting."


"Nggak mau," sanggah Ara seraya berusaha mengibaskan asap rokok.


"Ikut atau gue apa-apain malam ini?" ancam Aro seraya menyudahi kegiatan merokoknya. Ia masukan puntung rokok ke dalam gelas berisi air bekasnya minum.


"Iya aku ikut, tapi jam dua belas aku harus pulang. Mau masuk kerja lagi," sahut Ara kalah.

__ADS_1


Aro tersenyum senang, dia bahagia selalu bisa mengerjai Ara. Tak ingin terus-menerus merasakan gejolak dalam dada yang membuat tubuhnya menjadi tak baik, Ara segera mengusir Aro dari kamarnya, meski Aro tetap menjahilinya dengan membawa selimut kesayangan Ara, buat elap iler, begitu ucap Aro membuat Ara kesal namun gemas dalam waktu bersamaan.


__ADS_2