Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Berhak Hidup Lebih Baik


__ADS_3

Ara kembali salat sendiri di kamarnya saat Asar tiba. Suaminya kembali ke masjid. Bahkan kali ini Ara dapat mendengarnya melantunkan ikamah lewat pengeras suara.


Ara kemudian sujud lalu segera berdiri memulai salat sunah dua rakaat sebelum melaksanakan salat fardu Asarnya.


Selesai salat, niat hati tak ingin tertidur lagi di atas sajadah, Ara memilih duduk santai di ruang tamu sembari menunggu suaminya pulang.


Ara memijat kakinya sendiri yang ia luruskan di atas sofa panjang berwarna hijau daun.


“Assalamu'alaikum, Neng cantik. “ Aro dengan bibir mengulum senyum masuk seraya langsung berjongkok di hadapan Ara.


Ara menjawab salamnya kemudian mencium punggung tangan suaminya. Lalu sekilas wanita itu mengecup pipi suaminya kanan kiri.


“Pahalanya udah kayak nyium hajar aswad, ‘kan?”


“Enak ya kalau pacaran setelah menikah. Cium aja dapet pahala, “ ujar Aro sembari mencubit pipi Ara. “Apalagi kalau kayak tadi pagi, itu pahalanya .... “


“Mas, udah dong, “ potong Ara tangannya jahil mengambil peci yang dipakai Aro kemudian ia merapikan rambut lebat suaminya yang mengkilap. Aroma mint menguar saat Ara terus saja menyisir dengan jemarinya surai hitam itu.


“Kaki kamu masih pegel? “ Aro menyentuh dengkul Ara yang putih bersih.


Ara mengangguk, “Alisnya kok bisa tebel banget?" Telunjuk Ara bergerak mengikuti lengkungan alis Aro yang hitam dan tebal. Diawali dari sebelah kanan, kemudian ke sebelah kiri lalu menyusuri hidung mancung Aro dan berakhir pada, ah sudahlah.


“Kok berhenti? “ goda Aro menaik turunkan alisnya.


“Idung, alis, mata, kenapa bisa sebagus itu sih? Ketahuan banget kalo aku emang bukan anak ayah sama bunda,” keluh Ara dengan raut wajah tiba-tiba menjadi sendu. “Ayahku seperti apa ya, Mas? “ sambungnya.


Ara menatap pintu kamar bercat putih. Berharap ada sedikit saja gambaran wajah ayahnya di sana.


“Ra, jangan menzalimi diri sendiri dengan hal yang bahkan abu-abu. Hidup kamu udah jelas. Sekarang kita berdua udah menjadi keluarga. Kita suami istri, cuma itu yang perlu kamu pikirin. “ Aro beranjak, ia angkat kedua kaki Ara yang sedang berselonjor kemudian mendudukan diri pada sofa itu lalu menaruh kembali kaki Ara ke atas pangkuannya.


“Apa yang terus-menerus mengganjal pikiranmu?" Aro bertanya seraya memberikan pijatan lembut pada kaki istrinya.


"Aku mau ketemu ayahku, meski cuma pusaranya aja. Aku mau lihat, Mas." Ara berkata lirih dengan bola-bola kristal berjatuhan dari pelupuk matanya.


"Kita cari, asal kamu nggak terus-menerus sedih apalagi nangis kayak gini." Aro mengusap air mata istrinya itu dengan punggung jemarinya.


"Serius, Mas?" desak Ara, terdengar nada bahagia pada suaranya.


"Sukabumi, 'kan?" tebak Aro dan diangguki Ara.


"Bantu bujuk mami biar kasih tahu alamatnya," rengek Ara.


"Aku dapet hadiah nggak kalau berhasil?" sindir Aro malah mendapat pukulan di lengannya dari Ara.


"Menolong itu harus ikhlas," sungut Ara.


"Jangan mengharap balasan dari manusia saat kamu melakukan kebaikan." Ara melanjutkan kalimatnya.


"Karena sebaik-baiknya balasan datangnya dari Allah."


"Dan sebaik-baiknya pemberian juga datangnya dari Allah," sela Aro. "Aku yang banyak dosa bisa dikasih wanita soleha seperti ini. Baik banget 'kan Allah?"


"Aku nggak sebaik itu, kamu yang memujiku berlebihan," sanggah Ara.


"Kamu adalah sebaik-baiknya rupa yang Allah pahat dengan indah, Sayang."


"Deuh, mulai deh gombalnya," cibir Ara seraya memutar bola mata. "Lebay!" sentaknya.


Aro tertawa. Istrinya memang dari dulu tak suka bila ia berkata-kata manis.


"Itu bukan gombalan, itu kenyataan," kilah Aro dengan jahilnya mencubiti betis Ara membuat wanita itu mengaduh manja.


***


Rumah Bunda


Kesibukan masih nampak jelas di rumah Akash. Malam ini akan diadakan syukuran malam ketiga pernikahan Ara dan Aro.


"Bang, mas Ar udah dikasih tahu 'kan malam ini ada syukuran?" tanya Bumi pada Akhza yang sedang memegangi kamera.


Pria itu baru saja memotret Fatimah yang sedang bermain-main dengan kucing peliharaannya.


"Udah, Bunda." Akhza menjawab tanpa menoleh pada Bumi.


"Bundanya tuh ini, bukan kamera," sindir Bumi seraya menaruh pisau ke atas meja makan. Ia baru saja memotong-motong melon, buah kesukaannya.


Akhza tersadar, ia letakan kameranya di atas meja makan itu. Pria itu dengan senyum simpul mendekati Bumi.


"Maaf, ya. Bundaku yang paling cantik. Jangan marah," bujuk Akhza memeluk Bumi dari belakang.


Bumi tertawa, ia usap kepala putranya itu penuh sayang kemudian membalikan tubuhnya agar berhadapan dengan putra pertamanya itu.

__ADS_1


"Abang, semoga Abang dapat jodoh yang baik ya," harap Bumi.


"Nggak seru deh ngomongin jodoh. Aku masih fokus sama sekolahku. Nggak mau mikirin cewek," kilah Akhza seraya mengambil satu potong melon dengan garpu kemudian menyuapkannya pada Bumi. "Mending aku suapin Bunda makan melon," lanjutnya seraya menarik kursi dan meminta Bumi untuk duduk.


"Emang temen satu angkatan nggak ada yang menarik perhatian kamu?" Bumi kembali mendesak Akhza.


"Yang aku perhatikan itu pelajaran, bukan cewek," sela Akhza seraya kembali mengambil potongan melon dan menyuapkannya pada Bumi.


Kemudian Bumi melakukan hal yang sama, ia mengambil garpu dari tangan Akhza dan menusukkannya pada melon lalu menyuapkannya pada putranya itu.


"Atau Nauna, gimana? kemarin om Guntur ngajak ayah besanan, tuh," cerita Bumi menahan tawa.


"Bunda, dia bedain pil sama tablet aja sampe sekarang masih salah," sela Akhza.


Bumi tertawa, "Bunda becanda, Sayang. Tala sih udah ditandai duluan sama mama Ayesha," sesal Bumi.


"Bunda, udah dong," potong Akhza. "Maaf aku potong ucapan Bunda, tapi aku nggak suka bahas soal jodoh," lanjut Akhza dengan suara lirih.


Bumi jadi merasa bersalah, ia raih jemari tangan anaknya kemudian menggenggamnya.


"Maaf, Sayang. Bunda nggak tahu kalau --"


"Bunda, kita bahas yang lain aja. Cucu Bunda, misalnya?" Akhza lagi-lagi memangkas perkataan Bumi.


"Duh, kita tunggu aja. Itu sih sepertinya nggak lama lagi," sahut Bumi kembali terbayang leher Ara. "Dasar," gumamnya.


***


Ara keheranan saat melihat keranjang pakaian kotor yang kini sudah kosong. Ia berniat mencucinya setelah mandi. Namun, begitu selesai membersihkan diri, pakaian kotor itu sudah tidak ada. Ia memutuskan untuk cepat berpakaian agar segera pergi ke rumah Bumi. Tak enak bila terlalu siang datang ke sana.


Ara kembali mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil, sebelum mengikatnya dan menggunakan inner serta hijab.


Mata Ara memicing membaca note yang tertulis pada sobekan kertas yang ditempel pada cermin meja rias.


Hairdryer di laci kalau kamu mau keringkan rambut.


"Mas, bilang langsung 'kan bisa," gumam Ara seraya membuka laci meja rias dan mendapati benda yang akan sangat membantunya mengeringkan rambut.


Sebenarnya ia tak pernah menggunakan benda itu. Sedari sekolah, hingga kini Ara biasa mengeringkan rambut secara alami dengan berdiam diri di kamar sambil menyalakan kipas angin dan menggerai rambutnya.


Ia tak pernah ke salon, jika terpaksa harus memotong rambut, maka Bumi atau Sita yang melakukannya.


Setelah menyempurnakan tampilannya dengan hijab pashmina yang menutup punggung dan dadanya ia memutuskan mencari keberadaan suaminya. Ara yakini pria itu ada di luar, memanaskan mobil mungkin. Ternyata tidak ada.


Ara memutuskan ke lantai dua dan barulah mendapati Aro yang berada di ruangan yang sepertinya dibuat khusus untuk tempat mencuci pakaian, menjemur sekaligus menyetrika.


"Mas, lagi apa?" Ara menyapukan pandangan pada ruangan itu.


Pakaian sudah rapi tergantung pada jemuran yang terbuat dari besi. Tiga buah seprai bahkan sudah tergantung pula di sana.


"Mas, harusnya aku yang cuci," sesal Ara kali ini menatap pakaian dalam yang dijemur terpisah pada tempat lain. Perasaan bersalah sekaligus tak enak memenuhi relungnya.


"Kamu udah cantik, mau berangkat sekarang?" Aro mengalihkan pembicaraan.


"Kamu jangan ngalihin pembicaraan," omel Ara seraya menarik handuk yang tersampir di pundak suaminya. "Udah mandi 'kan?" sambung Ara kemudian memasukan handuk itu ke dalam keranjang.


"Udah, mau bikin aku mandi lagi?" goda Aro.


Ara berdecak pelan, "Udah deh!"


"Iya udah ... udah, ayo berangkat!" ajak Aro seraya meraih tangan Ara dan melangkah kemudian Ara mengikutinya.


***


"Kata bunda beli bolu sangkuriang dulu, Mas. Jadi kita lewat jalan baru, ya." Ara mengingatkan saat mereka baru beberapa meter meninggalkan rumah.


"Kamu mau jajan apa?"


"Makaroni panggang, Mas. Sama makaroni ***** juga."


"Makaroni ngehenya nggak usah," sanggah Aro.


"Kalo nggak usah kenapa nawarin?" sungut Ara.


"Emang mau? ngidam bukan tuh?" goda Aro.


"Kalau ngidam boleh dong?" timpal Ara.


"Apa aja boleh," sahut Aro.


Ia santai mengemudikan mobil dengan jalanan yang masih belum terlalu ramai. Diiringi lagu dari Calum Scott yang berjudul You Are the Reason yang mengalun indah dengan suara yang tak terlalu kencang. Sesekali keduanya bersenandung saat tiba pada lirik yang mereka hafal.

__ADS_1


"I'd climb every mountain, and swim every ocean."


"Just to be with you, and fix what i've broken."


"Cause i need you to see. That you are the reason."


Keduanya saling melempar senyum setelah selesai menyanyikannya. Lalu Aro meraih tangan istrinya kemudian mencium punggung tangan nan lembut itu penuh kasih. Kegiatan itu berulang hingga dua kali selama lagu diputar.


"Inget ke jalan baru dulu!" Ara mengingatkan.


"Kamu ngerusak suasana aja, ah," keluh Aro saat dirinya hampir berhasil kembali meraih tangan istrinya.


"Abis genit sih," ledek Ara namun tak ditanggapi suaminya yang kembali meresapi lagu berikutnya.


"Ini lagu cocok banget buat kamu," ucap Aro seraya menjawil pipi Ara. "Dengerin liriknya."


"Lagu lama banget ini, papa Christian Bautista," canda Ara.


"The way you look at me," timpal Aro menyebutkan judul lagu yang sedang diputar.


"Terima kasih Ara, sudah mau menerimaku. Memandangku dengan cara baik saat dunia bahkan memandangku rendah. Menguatkanku dengan cara indah meski aku selalu salah. Aku bukan lelaki baik, tapi kamu terus meyakinkanku bahwa siapa pun kita di masa lalu, kita berhak mempunyai kehidupan terbaik di masa depan."


Lagi-lagi Aro meraih tangan Ara, kali ini tak hanya mencium punggungnya namun juga meletakannya di dadanya.


***


Kedatangan pengantin baru itu kembali menjadi bulan-bulanan keluarga. Terlebih Laut, pria itu senang sekali menggoda Aro. Yang digoda malah lebih senang menimpali setiap candaan yang dilontarkan.


"Nyesel kenapa nggak dari dulu nikahnya," sahut Aro saat ditanyai bagaimana rasanya menikah dengan adik sendiri.


"Kenapa nggak dari SMA aja, ya?" candanya kemudian dilempari oleh semua orang dengan kulit kacang. Mereka sedang makan kacang rebus. Terhidang pula bolu talas, makaroni panggang dan keripik pisang.


"Kebayang tuh udah berapa cucu yang aku hasilkan buat Bunda," lanjut Aro seraya menjawil dagu Bumi yang duduk di sampingnya


"Iya nggak, Ra?" Kali ini menjawil pipi Ara yang duduk di sebelah kanannya.


"Ngaco ah kalau ngomong," sungut Ara seraya mengusap ujung bibir Aro dengan ibu jarinya. "Udah mau jadi papa minum kopi aja belepotan," lanjut Ara meledek suaminya itu.


"Duh, Ra. Kalau mau romantisan jangan depan jomlo!" teriak Miza menunjuk dengan dagu pada Akhza yang lebih asyik melihat gambar hasil bidikannya pada kamera kesayangannya.


"Gue nggak lihat!" timpal Akhza, ia sedang menzoom gambar Tala yang sedang makan di pojokan ruang istirahat.


"Shit, pake baju yang bener makanya," gumamnya sebab pada foto lain, paha Tala terlihat saat gadis itu berjinjit untuk menaruh sesuatu ke atas lemari di ruang istirahat.


Miza penasaran pada apa yang dilihat Akhza, tapi akhza lebih pintar. Pria itu dengan cepat mengganti foto sehingga saat Miza melihatnya, yang nampak adalah foto Fatimah yang sedang mengelus kucing.


"Waah, enak aja anak gue dijadiin objek foto." Miza berusaha mengambil kamera Akhza, namun Akhza tentu sigap menghalanginya.


"Barang gue gak biasa disentuh orang lain," canda Akhza seraya berdiri.


Pria itu sempat melihat saat Aro menyuapi Ara makaroni panggang. Ia berdecak kesal, mengapa Ara masih saja terlihat manis dengan senyum dikulumnya?


***


Acara pengajian selesai tepat pukul 21.00. Aro tak langsung ke kamar untuk menemui istrinya. Ia sengaja menghampiri Sita yang sedang merapikan meja makan.


"Mi, boleh ngobrol sebentar?" pinta Aro.


"Boleh, mau bicara di mana?" Sita meletakan serbet yang digunakannya untuk mengelap meja.


"Di sini aja," sahut Aro seraya menarik salah satu kursi dan mempersilahkan Sita duduk.


"Saya to the point ya, Mi."


"Ok, Mami dengarkan."


"Kasih tahu saya alamat keluarga ayahnya Ara. Please, Mi," pinta Aro membuat Sita tiba-tiba merasakan sesak di dadanya.


Sita tak langsung menjawab. Bukan sekali dua kali Ara merengek meminta diberi alamat lelaki yang dulu sempat ia cintai.


"Untuk apa, Mas?" Suara Sita lirih menahan tangis.


"Mami tahu Ara seperti apa, 'kan? Saya nggak mau istri saya terus-menerus memikirkan hal ini. Tolong, kasih Ara sedikit kebebasan buat mengenal ayah kandungnya. Dia sering nangis akhir-akhir ini. Dan saya nggak suka istri saya menangis. Istri saya harus bahagia." Aro bicara penuh penekanan membuat Sita akhirnya luluh dan memberi tahu alamat ayah Ara.


"Besok, Mami kasih lihat fotonya. Bawa dan tunjukan pada orang tuanya. Semoga mereka masih ada," ucap Sita kemudian beranjak dan pamit terlebih dahulu sebab tak kuasa lagi menahan sesak dalam dada yang terus berdesakan minta dikeluarkan.


.


.


Terima kasih sudah selalu setia menunggu up Ara. Terima kasih untuk segala bentuk dukungan. Semoga kita semua selalu ada dalam lindungan Allah. Yang sakit semoga segera disehatkan. Yang gundah semoga segera diberi ketenangan. Salam manis dari aku, love kalian semua.

__ADS_1


__ADS_2