
Gelak tawa memenuhi ruang tengah sekaligus ruang makan rumah Fadan. Aro menghabiskan banyak sekali cilok kacang buatan Ara kolaborasi dengan Yati. Ia berkali-kali berdecap, mengatakan sangat lezat.
"Lembut, gurih, manis, dan bikin nagih," bisiknya pada Ara saat gadis itu bertanya kenapa tidak bisa berhenti memakan ciloknya?
Jawaban Aro yang terdengar ambigu sebab ia ucapkan dengan sorot mata sayu, seolah memiliki arti lain, membuat Ara memukul lengan Aro.
"Kamu mesum ya?" tebak Ara dan malah lagi-lagi dijawab dengan kalimat lebih ambigu.
"Kalau udah ngerasain, pasti lebih nagih dan pengen ngulang, Ra."
Siraman satu gelas air di wajah Aro membuktikan betapa kesal Ara akan ucapan pria yang beberapa waktu lalu itu bersikap manis padanya.
"Otaknya itu ... kenapa kotor sekali?" sambil membantu Yati mencuci alat makan dan perabotan bekas memasak, Ara terus mengomel.
Saat hari mulai beranjak sore, keduanya pamit dari rumah Fadan. Tak ada percakapan selama perjalanan. Hanya alunan musik yang menemani keduanya.
Tiba kembali di rumah uti, rupanya keluarga yang lain sudah bersiap untuk pulang. Bumi menegur Ara yang susah sekali dihubungi. Begitu juga dengan Aro. Merasa bersalah, Ara diam saja tak menjawab. Ia segera merapikan barang-barangnya sebab ayah dan bunda sudah menunggunya.
"Aku pulangnya besok, Bun," beri tahu Aro, yang malah duduk santai.
"Naik apa?" tanya Bumi
"Nanti Omar ke sini buat jemput," sahut Aro yang mulai mengantuk.
Ara tak berani bertanya mengapa Aro tak ingin pulang hari itu. Ia memupuk curiga, mungkin Aro beralasan saja karena belum menghisap rokok seharian ini. Dirinya pasti akan diam-diam merokok setelah ayah dan bunda pergi.
Ara mengatur siasat, bagaimana caranya agar dirinya juga tidak pulang? Gadis itu ingin memastikan, calon suaminya, tidak akan melakukan hal-hal yang unfaedah.
Dengan pura-pura mendapat telepon dari Sheina, Ara masuk ke dalam kamar. Sebetulnya benar-benar menelepon, hanya kejadiannya dibuat seperti Sheina yang melakukan panggilan bukan dirinya.
"Aku nggak bisa ikut pulang," beritahu Ara, "mau ke Sheina, bantu terjemahin tugas adek," imbuhnya memperjelas ungkapannya.
Aro yang pura-pura tidur tersenyum, ia yakin Ara tak ingin pulang karena dirinya.
"Kenapa kalian nggak bilang dari tadi?" Bumi mengomel, memandang ke arah Aro, "nggak usah pura-pura tidur!" serunya.
Sementara keluarga yang lain bersama uti sudah berkumpul di luar.
"Awas kalau ini hanya akal-akalan kalian berdua!" tegasnya, mengancam. "Bunda nikahin kalian detik itu juga," sambungnya seraya menunjuk muka Ara.
Ara hanya tertawa sumbang, berkilah dengan berkata kejadian ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Aro.
Setelah itu Bumi keluar, tentu Ara terlebih dahulu mencium tangannya. Aro, si aktor itu benar-benar tetap berakting tidur hingga Bumi dan yang lain pergi dan Ara serta uti kembali masuk.
***
"Mas, bangun!" Ara menciprati wajah Aro dengan air bekas wudu. Sebentar lagi magrib.
Aro mengerjapkan matanya, kepalanya terasa pusing dan lehernya sakit.
"Jam berapa?" tanyanya beranjak duduk menyandarkan punggung ke kursi. Masih lemas.
"Hampir magrib," sahut Ara seraya kembali menciprati wajah Aro dengan air yang tersisa. "Wudu dulu, salat magrib!" lanjutnya.
"Lapar, Ra ...."
"Abis salat makan."
"Kamu yang masakin, ya?" pintanya lalu berdiri dan merenggangkan otot-ototnya seraya menutup mulut yang menguap.
__ADS_1
"Kalo nanti udah nikah gini kali, ya?" khayalnya memandang Ara dengan senyum miring. "Di rumah berdua doang, enak banget sih."
"Ngaco!" umpat Ara kemudian pergi meninggalkan Aro.
Aro tertawa, dia selalu suka melihat rona merah bercampur raut kesal Ara ketika dirinya menggoda gadis itu. "Bikin candu liat muka gemesin kamu, Ra ...."
Pria itu berlalu menuju kamar mandi untuk mengambil wudu. Wudu? salatnya jarang dan sudah lama pula tidak mengerjakannya. Ia melakukannya hanya karena disuruh Ara.
"Memulai sesuatu yang udah lama ditinggalin emang susah." gumamnya seraya masuk ke dalam kamar mandi.
***
Ara menggoreng ayam serundeng resep andalan utinya, dan menjadi favorit seluruh keluaraga, termasuk Aro.
"Udah persis suami istri ya, kita?" godanya seraya berdiri di samping Ara yang sedang memasak.
"Aku bilang uti ya, kalo macem-macem!" ancam Ara menunjuk wajah Aro dengan spatula yang dipegangnya.
Aroma ayam goreng yang sangat lezat memanjakan indera penciuman Aro.
"Nikah sekarang aja, yuk!" tak henti menggoda, Aro benar-benar mendapati pukulan dari Ara. Gadis itu tanpa ampun memukulkan spatula ke lengan Aro. Meninggalkan jejak kuning dari kunyit di kulit putih Aro.
"Jangan galak-galak! nanti malah susah move on kalau udah jatuh terlalu dalam," bisik Aro diakhiri tawa seraya berlalu menghindari serangan spatula.
Uti ikut bergabung untuk makan setelah Ara memanggilnya. Ketiganya makan diselingi obrolan ringan. Aro berka-kali menendang kaki Ara, jahilnya memang sulit ditepikan. Melihat gadis itu melotot dan menggeram, membuatnya semakin bahagia.
Selesai makan dan mencuci piring, Aro mengajak Ara untuk pergi sebentar. Ara sempat menolak, tapi bukan Aro namanya jika tidak bisa memaksa.
"Asem banget, nih. Anter yuk!" bujuknya, dia minta diantar ke warung untuk membeli rokok. "Ada yang mau aku omongin juga, aku minta pendapat kamu," jelasnya membuat Ara tertarik untuk mengiyakan permintaannya.
Keduanya berjalan bersisian menuju warung yang tak jauh dari rumah uti. Ara berkali-kali mengeratkan cardigan rajut yang dipakainya sebab hawa dingin yang diakibatkan hembusan angin berkali-kali menyerangnya.
Ara menggeleng, "Udah kenyang, Mas," tolaknya seraya mengambil kotoran, sarang laba-laba, di rambut Aro. "Buruan beli rokoknya!" lanjutnya membuang kotoran itu.
"Sweet banget sih calon istri," pujinya seraya mengusap rambut yang barusan dipegang Ara.
Ara tertegun, kenapa dirinya harus melakukan itu? Ia merutuki kebodohannya. Memukul pelipisnya dengan tinjunya sendiri.
Aro segera mengajaknya pergi dari warung setelah mendapati apa yang diinginkannya.
"Kurangin satu-satu setiap harinya, Mas!"
"Aku hampir dua hari ini nggak ngerokok," sahut Aro, mulai menyulut rokoknya.
Keduanya berjalan menuju arah pulang, namun Aro tertegun dan mencekal lengan Ara.
"Ra, aku pengen bawa Fadan pulang. Aku pengen nyekolahin dia lagi," ungkapnya membuat Ara melongo dan menutup mulutnya.
Ara melepaskan lengan yang tengah dipegang Aro, ia berjalan mengelilingi Aro.
"Kerasukan setan mana, Mas?" selidik Ara, ia mengetuk dagu dengan telunjuknya berkali-kali.
"Kamu minta diserang, ya?" tebak Aro menarik pinggang Ara, namun reflek Ara bagus. Ia dapat menghindar bahkan sempat menendang dengkul Aro.
"Jangan macam-macam!" tegasnya, dengan senyum miring.
"Aku serius, Arabella ...."
"Serius?" Ara mendekat, ia tepuk pipi Aro menggunakan ponselnya. "Malaikat mana yang menyadarkanmu?"
__ADS_1
"Ara, serius!"
"Ok, serius. Jadi gimana, ini bukan bagian dari pencitraan?" tuding Ara.
"Gila ya, sebejad itu aku sampai mau berbuat baik aja dicurigai?" protes Aro memasukan bungkus rokok ke dalam saku celana kemudian meletakkan kedua tangan di bahu Ara.
"Aku serius, kamu mau bantu?" pintanya dengan suara parau. "Kita ke rumah Fadan sekarang?" ajaknya membuat Ara menganguk kemudian menepis kedua tangan Aro yang berada di bahunya.
Keduanya berjalan, tanpa pikir panjang padahal perjalanan cukup jauh.
"Jauh juga ya, Mas," keluhnya begitu sampai di depan rumah Fadan.
"Nanti pulangnya dijemput Omar. Mau digendong?" Aro menepuk punggungnya membuat Ara malah memukul punggung itu kemudian berjalan lebih dulu ke arah rumah Fadan dengan menghentakan kaki.
"Shit! itu muka minta diunyel-unyel," gumanya lalu tertawa sumbang dan menyusul langkah Ara yang telah masuk ke dalam rumah Fadan sebab pada salam dan ketukan pertama, Yati langsung membukakan pintu.
Di atas tikar lusuh Ara, Aro, Yati dan Fadan duduk melingkar mengelilingi teko berwarna emas, oleh-oleh dari makkah saat saudara pergi menunaikan ibadah haji.
"Ra, gimana ngomongnya?" bisik Aro menyikut perut Ara.
Ara tak menjawab, ia juga tak menoleh pada Aro. Yati dan Fadan sampai keheranan.
"Mbak Ara kenapa?" tanya Fadan.
"Iya, kalian sebenarnya ada apa kemari lagi?" selidik Yati, wajah tirusnya terlihat pucat dengan tubuh yang kurus.
"Maaf sebelumnya, Bu. Ini aku sama Mas Ar mau tahu sesuatu sih tentang keluarga Ibu," tutur Ara hati-hati.
"Ayah Fadan sudah meninggal sejak 5 tahun yang lalu, terkena paru-paru basah," ungkap Yati, tampak tegar dengan seulas senyum di bibir.
"Keluarga kami di sini banyak, hanya kami hidup dengan keadaan pas-pasan," lanjut Yati menatap putranya lalu mengusap lembut kepalanya. "Hanya Fadan harta berharga yang saya miliki," tambahnya dengan suara parau.
"Fadan kenapa nggak lanjut sekolah?" tanya Aro, mulai terpancing ikut bicara. "Sekolah Dasar kan gratis," imbuhnya memandang ke arah Fadan.
"Tapi buku, baju dan uang jajan sehari-hari apa bisa gratis juga?" desak Yati, sementara Fadan mnenunduk.
"Fadan mau bersekolah lagi, nggak?" pertanyaan itu Ara tujukan pada Fadan langsung.
"Jawab, jangan takut!" seru Yati, seolah tahu apa yang akan dikatakan Fadan.
Alih-alih menjawab, Fadan malah menangis tanpa suara. Namun justru menyiratkan betapa dalam luka yang ia pikul.
"Mas Aro mau biayain sekolah Fadan, asal Fadan niat buat sekolah lagi," jelas Ara seraya memandang pada Aro. Aro menyorotinya dengan tajam Ia berkata tanpa suara hanya dengan gerakan bibir, ngomong.
"Iya, gimana, Bu, Dan?" terbata Aro bertanya pada ibu dan anak tersebut.
"Maaf bukan saya ingin merendahkan kalian, saya hanya terlanjur sayang pada Fadan. Fadan anak baik, harus sekolah dan melanjutkan ke jenjang-jenjang pendidikan yang lebih tinggi," papar Aro membuat Yati berkaca-kaca dan menutup kedua mulutnya.
Yati ikut menangis tanpa suara seperti Fadan. Di satu sisi merasa senang, sisi lainnya merasa takut merepotkan.
"Kalian berdua baik sekali, tapi kami tidak enak baru saja kenal sudah banyak merepotkan," tutur Yati, tangannya mengusap punggung Fadan yang sudah reda tangisnya.
"Dari mana pula Mas Aro menilai Fadan baik?" tanya Yati membuat Aro tertegun.
Ternyata urusan ini tak semudah yang dibayangkan. Aro sampai menelan ludah berkali-kali untuk menyiapkan jawaban.
Makasih selalu setia menunggu
Like dan komen jangan lupa
__ADS_1