Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Pesonamu Melangut


__ADS_3

"Good job, Ar!" teriak sutradara lalu pria bertubuh jangkung bernama Aro itu berlari dari tempatnya duduk menuju kursi sang sutradara yang memantaunya.


"Ok, beres dong? gue bisa balik?" tanya Aro seraya menggulung lengan kemejanya hingga batas siku.


"Itu siapa? cewek lo?" tanya salah satu kru menunjuk Ara yang sedang duduk di bawah pohon besar.


"Calon istri," jawab Aro iseng, yang malah mendapat respon serius dari para kru dan juga sutradara.


"Tetep ya walau kelakuan naudzubillah in pengennya punya istri yang alhamdullillah in," kelakar kru yang lain dan disambut tawa. Aro hanya menggeleng seraya berpamitan dan segera menemui Ara yang baru saja membeli 2 botol gelembung sabun dari seorang kakek-kakek.


"Apa itu?" tanya Aro saat sudah berada di hadapan Ara.


"Gelembung sabun, Mas," jawab Ara seraya membuka tutup botol yang juga berfungsi sebagai media menggelembungkan sabunnya. Melihat gerakan yang dicontohkan si kakek tadi, nyatanya tidak sulit untuk menghasilkan gelembung sabun dan membuatnya terbang ke udara.


Ara tertawa riang, ia berlari-lari kecil menciptakan gelembung sabun. Mengejarnya, sengaja memecahkan gelembung sabun yang sedang mengudara. Tawanya lepas, ia sampai tak ingat umur, berlaku layaknya anak usia sekolah dasar. Menebarkan gelembung sabun, kemudian menangkapnya. Berlari-lari kecil ke sana ke mari. Tertawa bahagia meski sendiri.


Aro yang duduk di tempat yang tadi Ara duduki hanya memandangnya dari kejauhan. Padahal Ara sengaja beli dua botok untuk digunkan Aro. Pria itu sepertinya enggan menerbangkan gelembung sabun. Sebelum ada yang menyadari keberadaannya, Aro memaki masker dan kaca mata sesuai perintah Ara.


Sadar Aro hanya duduk tanpa menyusulnya, Ara segera kembali ke tempat Aro duduk. "Mas, ayok dong main gelembung sabun!"


"Lo tuh kayak anak kecil aja deh main ginian, nggak mau ah!" tolak Aro seraya menepis botol yang diberikan Ara.


"Bentar doang, Mas. Lagian Mas ngapain ajak aku ke sini kalo nggak main dulu?" todong Ara membuat Aro tak lagi dapat mengelak dan ikut permainan Ara.


Aro meniru apa yang Ara lakukan, keduanya berlari-lari kecil. Aro yang awalnya kaku, semakin lama justru semakin merasa larut dalam permainan. Dia tak ragu melakukan hal seperti Ara, mengejar-ngejar gelembung sabun yang sedang beterbangan, menyentuhnya agar pecah.


"Mas, jangan curang!" teriak Ara saat Aro memecahkan seluruh gelembung yang ia buat.


"Ayok tangkep nih punya gue!" Aro balas teriak seraya membuat gelembung sabun, namun menerbangkannya tinggi sehingga Ara kepayahan saat ingin menyentuhnya.


"Mas, aku nggak setinggi itu buat nangkepnya. Kamu jangan tinggi-tinggi buatnya!" Ara memberengut kesal dan tak sengaja membuat cairan sabun dalam botolnya tumpah saat melompat-lompat menggapai gelembung yang Aro buat.


"Tuh kan, tumpah," sesal Ara dan menyalahkan hal itu pada Aro.


"Ya udah punya gue buat lo ni!" bujuk Aro menyerahkan botol yang masih menyisakan setengah cairan sabun.


Mata Ara tentu berbinar senang, ia langsung menjulurkan tangan untuk meraih botol sabun itu, namun saat hampir dapat, Aro malah menariknya ke udara dan berkata, "kejar dulu, kalo dapet nanti gue kasih," ucap Aro seraya berlari dan membuat Ara menuruti perintah kakak lelakinya itu.


Sudah lelah mengejar, tapi Aro tak bisa diraih. Hampir dapat, namun selalu berhasil mengelak. Hingga tanpa keduanya sadari, mereka sudah berada di pintu keluar dari area kebun raya.


Gelembung sabun di tangan Aro sudah tak menarik lagi bagi Ara. Perhatiannya lebih terfokus pada penjual kue pancong yang sedang dikerumuni pembeli.


"Mas, sini!" teriak Ara pada Aro yang berdiri sedikit jauh darinya. Beruntung Aro memakai masker dan kaca mata sehingga membuatnya tak begitu dikenali orang-orang. Ara yang menganjurkannya untuk berpenampilan seperti itu, sebab dirinya tak ingin kembali menjadi juru foto dadakan seperti tempo hari.


"Apa?" Aro menghampiri seraya menyerahkan botol gelembung sabun namun ditepis Ara. "Udah nggak mau! gue buang ya?"


"Jangan dibuang, buat nanti. Tapi, aku minta uang buat beli itu," ucap Ara seraya menunjuk pada tukang kue pancong lalu tangan kanannya menengadah pada Aro.


"Dasar bocah!" ledek Aro tak sadar bahwa dirinya dan Ara hanya terpaut usia beberapa bulan saja. Aro mengeluarkan dua lembar lima puluh ribuan dari dalam dompetnya.


"Satu aja, Mas," tolak Ara dan hanya mengambil selembar uang itu.


"Udah ambil aja, gue pengen sedekahnya segitu. Jangan halangi niat baik gue!" sentak Aro.

__ADS_1


"Tapi ikhlas kan?" selidik Ara menyelisik ke wajah Aro yang hampir tak terlihat.


"Gue ***** bolak balik loh, Ra," sahut Aro memberikan ancaman lewat bisikan.


"Ampun, Mas!" teriak Ara kemudian segera menjauh dari Aro dan menuju tukang kue pancong yang sudah mulai sepi pembeli.


Ara membeli 20 potong kue yang bentuknya sama persis dengan kue pukis itu. Hanya komposisinya yang berbeda. Kue pancong terbuat dari tepung beras yang dicampur santan dan juga ditambah parutan kelapa. Ditaburi gula pasir di atasnya. Harumnya sungguh menggugah saat sedang dipanggang. Saat kecil, Ara seringkali jajan kue ini bersama bundanya di depan TK tempat ia bersekolah.


"Nih, Mas, kita makannya di mana?" tanya Ara setelah selesai membeli kue pancong.


"Itu banyak banget, lo yakin mau ngabisin itu?" Aro mengimentari bungkusan kue pancong yang terlihat oenuh.


"Ini enak, Mas. nanti Mas nggak mau berenti kalo udah makan," sahut Ara seraya pandangannya menyisir ke sekeliling tempat mereka berdiri. Berusaha mencari tempat duduk yang nyaman.


"Di situ yuk, Mas!" tunjuk Ara pada sebuah bangku kosong di dekat gerbang masuk.


Aro tak menjawab, ia lebih fokus pada ponsel yang dipegangnya. Ponsel Ara tepatnya. "Tunggu, duduk di bawah pilar sana aja yuk?" tangan Aro menunjuk ke arah kiri.


"Jauh tahu, Mas," belum apa-apa Ara sudah mengeluh.


"Deket dodol, kita tinggal jalan. Jangan manja deh!" sentak Aro seraya menarik ujung kemeja Ara agar segera melangkah mengikutinya.


"Ya udah nggak usah diseret-serer juga, aku bisa jalan biasa aja!" Ara menyalak saat merasa tak nyaman karena bajunya ditarik Aro.


"Gue lepasin ya, tapi jalannya yang cepet," titah Aro dan dituruti oleh Ara.


Hingga akhirnya keduanya sampai di tempat yang dituju. Banyak pasangan muda mudi duduk-duduk di bawah pilar itu. Sekedar berfoto, mengobrol dan memakan jajanan mereka. Aro masih belum menghentikan langkahnya. Ia masih berupaya mencari tempat yang sekiranya nyaman ditempati.


"Nah di situ yuk!" ujar Aro menunjuk kursi taman yang justru berada agak jauh dari pilar berdiri.


"Yang penting kan bisa duduk Ara, iya kan?"


"Hah! Mas bilang apa barusan?"


"Yang penting bisa duduk, Ara," Aro mengulang kalimatnya.


Cadburry masuk lagi ke dalam microwave ini, meleleh.


Aro segera menarik baju Ara karena gadis itu bukan menyusulnya duduk malah masih berdiri memegangi dadanya.


"Duduk, nanti keburu ditempatin orang!" seru Aro membuat Ara medengus kesal.


Keduanya mulai larut menikmati kue pancong. Menikmati keindahan kota meski hanya sebatas pemandangan angkot dan kendaraan pribadi yang hilir mudik. Orang-orang yang lalu lalang di sekitaran mereka. Tertawa, bercanda, saling mengejar. Kegiatan foto-foto yang terlihat sangat membahagiakan, seseorang bergaya kemudian yang lain memotret. Dilihat hasil fotonya, jika bagus maka akan mengangguk senang. Jika masih kurang pas makan akan mengulang kembali bergaya.


Ara terus mengedarkan pandangannya, banyak yang berubah dengan kotanya kini, meski tugu sebagai simbol kotanya masih berdiri kokoh. Dulu di sebelah kanan belum menjulang tinggi hotel, pun pilar itu belum ada.


"Kita orang sini tapi aku baru pertama kali deh, Mas ke sini," ucap Ara yang sudah merasa kenyang sebab menghabiskan 10 potong kue pancong.


"Lo tuh terlalu anak mami, apa-apa gimana bunda aja," ledek Aro yang langsung dihadiahi cebikan oleh Ara.


"Lo udah kennyang?"


"Udah, abisin aja!"

__ADS_1


"Lo baik-baik aja kan?"


"Baik, alhamdullillah sehat wal 'afiat."


"Kalo lihat itu lo kuat 'kan?"


Aro menunjuk pada dua orang yang sedang duduk di bangku tak jauh dari mereka. Seorang wanita mengenakan rok pendek dengan kemeja lengan panjang yang digulung hingga siku dan seorang pria mengenakan jeans panjang dipadu dengan hoddie hitam yang menutupi kepalanya.


"Emang siapa mereka?" tanya Ara merasa tak kenal.


"Lihat, yuk! biar lo tahu siapa mereka,"


Ara menurut, ia ikut beranjak dari duduknya dan berjalan bersisian dengan Aro. Keduanya pelan melangkah, semakin dekat dengan dua orang itu dan Ara mulai mengenali suara wanita yang sedang tertawa itu.


"Cici ...."


"Ara ...."


"Siapa, Fre?" dan suara laki-laki itu Ara juga mengenalinya.


Kedua orang itu menoleh pada Ara dan juga Aro. Yang wanita terlihat senang, dan yang laki-laki justru terlihat gelagapan.


"Kamu ngapain di sini, Kak?" tanya Ara pada laki-laki itu.


"Kamu kenal, Ra? ini Sakaf yang selalu aku ceritain!" seru Cici dengan wajah berbinar bahagia.


"Sebaiknya lo gagalin rencana nikahin adek, gue, ba****t!" umpat Aro tanpa aba-aba meninju pipi Sakaf dengan sekuat tenaga.


"Mas, jangan!" teriak Ara segera menahan Aro yang kembali akan menghajar Sakaf.


Dua kali sudah Sakaf dihajar oleh kakak calon istrinya meski kali ini oleh orang yang berbeda.


"Apa maksudnya, Yang?" tanya Cici dan membuat Ara tertawa kecut.


"Kenapa Kakak nggak bilang sih kak kalo udah punya pacar?" Ara menyalak seraya melepaskan tangan Aro yang tadi ia tahan.


"Ini ada yang harus diluruskan, kejadiannya tidak seperti yang kamu bayangkan," Sakaf membuat pembelaan.


"Gue nggak mau lo nikah sama dia!" bisik Aro pada Ara yang masih shock.


"Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Kita cari tempat yang enak," tutur Sakaf seraya mengalihkan pandangan ke sebrang jalan, "kita ngobrol di sana," tunjuknya pada sebuah mall besar.


Ara, Cici dan Aro menyetujui, keempatnya berjalan beriringan dengan benak penuh tanya. Cici merasakan ketakutan yang amat, ia tak ingin kisah pilunya dipisahkan dengan Sakaf kembali terulang seperti saat mereka kecil dulu.


Ara sendiri bertekad tak ingin melanjutkan pernikahannya bila ternyata Sakaf sudah memiliki kekasih. Dalam langkahnya, Ara terus menoleh ke arah Aro. Perasaannya menghangat, Aro nyatanya begitu peduli padanya. Ara sekarang mengerti, mengapa Aro mengajaknya ke tempat itu.


Jangan buatku jatuh lebih dalam bila rasa kita nyatanya tak sama. pesonamu selalu melangut, membuatku hanyut. Tapi dirimu sulit digapai, terlalu menjulang tinggi.


. Like


. Komen


. Vote

__ADS_1


. Kasih hadiah


__ADS_2