Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Pesona


__ADS_3

Setelah mengakhiri panggilannya, Aro sedikit merasa lega karena dapat menjelaskan keadaan yang sesungguhnya pada keluarganya. Ia berharap dapat memangkas prasangka dalam benak orang tuanya, terutama Ara.


Sesuai jadwal, sore hari Aro bersiap ke lokasi syuting yang mana tempatnya adalah di titik nol kilometer Jogja. Tempat yang dulu ketika SMA pernah ia kunjungi saat study tour bersama teman sekelasnya dan Rea tentunya.


Aro benar-benar merasa dijebak, pasalnya dulu dirinya dan Rea sedang menjalin hubungan saat datang ke tempat itu. Sekarang mengapa harus ke tempat itu bersama Rea lagi?


"Tempatnya nggak banyak berubah ya, Ar!" seru Rea mengangetkan Aro yang sedang duduk di salah satu kursi yang memang banyak disediakan di tempat itu.


Suasana sore di tempat itu ramai pengunjung, apalagi setelah tahu akan dijadikan sebagai lokasi syuting. Set untuk pengambilan adegan sudah disediakan. Aro dan Rea akan segera beradu akting.


"Ar, kamu punya pacar nggak sih?" tanya Rea, dari gelagatnya ia masih terlihat sangat mengharapkan Aro kembali.


"Punya, calon istri malah!" tegas Aro, ketus.


Aro yang hari itu mengenakan kaos putih lengan pendek dengan celana berwarna mocca serta dipadukan dengan sepatu kets warna putih nampak terlihat segar. Jari-jarinya yang lentik dengan telapak tangan lebar sungguh membuat siapapun ingin berada dalam genggamannya.


Rea menyentuh tangan Aro, reflek Aro menepisnya. Ia melepas kaca mata hitam yang sedang digunakannya demi menegaskan pada Rea bahwa ia terganggu oleh perlakuan gadis itu.


"Jaga sikap lo, Re ...!"


"Sorry, Ar. Aku fikir kita bisa memperbaiki semuanya." Rea berdalih. matanya menatap Aro penuh harap.


"Nggak usah ngaco, Re!" tegas Aro


"Tapi dulu kamu bilang kalau kamu sayang banget sama aku."


"Itu dulu sebelum gue tahu kalo lo udah manfaatin gue doang," ucap Aro, masih saja ketus seraya beranjak melangkah menuju tempat pengambilan adegan. Ia ingin segera menuntaskan syuting hari ini.


Setelah semua set siap, Aro dan Rea segera diarahkan untuk berada di posisi masing-masing. Adegannya adalah keduanya duduk di atas kursi yang sama, dengan Rea yang bersandar di dada Aro.


Semua hanyut oleh adegan kedua bintang tersebut. Pengambilan gambar secara candid sengaja diambil untuk kebutuhan promo, dipastikan sebentar lagi foto itu akan menyebar luas. Dua kali take dan berhasil, Aro melakukannya dengan sempurna.


Seharusnya pada take awal sudah bisa dikatakan berhasil, hanya saja Rea berulah. Saat take ke dua, Aro mengancam Rea jika kembali melakukan kesalahan yang disengaja.


Selesai take di lokasi pertama, kini mereka berpindah ke tempat lain yang tak jauh dari sana. Sebuah lobby hotel tepatnya. Kedua bintang muda itu sempat break sesaat untuk berganti pakaian. Keduanya memakai pakaian formal.


Aro dengan stelan jas dan Rea dengan dress cantik tanpa lengan yang memamerkan punggung mulusnya.


"Si Rea meresahkan, kan?" Omar berbisik saat Aro selesai dengan riasannya.


"Nggak maen gue sama cewe begituan," cibir Aro seraya memutar bola mata jengah.


"Sama yang begimane dong, mainnya?" tanya Omar penasaran.


"Mahija Aro yang penuh dosa ini butuh gadis soleha yang bisa menuntunnya kembali ke jalan lurus," papar Aro membuat Omar tak kuasa menahan tawa.


" Nyadar diri lo penuh dosa?" sindir Omar.


"Kayak lo kagak aja!" sentak Aro.

__ADS_1


"Gadis solehanya, Upil kan?" tebak Omar.


"Namanya Salasika Arabella," ralat Aro, seraya meninju bahu Omar.


"Akhirnya jatuh cinta juga lo sama Upil, lo itu." Omar bersorak, membuat beberapa kru di sekitar memperhatikan kegiatan artis dan managernya itu.


"Ngaco lo, gue bilang gadis soleha. Ngapa jadi ngomongin dia sih?"


Bikin gue kangen aja sama dia.


"Kalau suka tuh harus cepet-cepet diungkapin, saingan lo calon dokter dan pria baik-baik, sholeh. Nggak kayak lo, bobrok, lupa arah kiblat, dan mogok kuliah," papar Omar mengabsen segala keburukan Aro.


Aro sesaat terdiam, ia membenarkan segala yang diucapkan oleh Omar.


"Tapi, tenang. Abang nggak punya sesuatu yang lo punya," hibur Omar pada akhirnya.


"apa?" selidik Aro memicingkan matanya.


"Pesona," jawab Omar cepat seraya mengacak rambut Aro dan membuat pria itu kembali bersemangat dan memupuk congak dalam dirinya. Aro tetaplah Aro. Congak dan sombong.


***


Ara masih enggan beranjak dari atas sajadah setelah salat magribnya. Ia masih ingin menyelesaikan bacaan tasbih, tahmid, takbir, dan tahlilnya. Tasbih digital berwarna merah muda yang melingkar di telunjuknya nampak terlihat manis. Angka-angka terus bergulir seiring bibir yang terus mengucap takbir.


Di luar sedang hujan deras, membuat klinik menjadi sepi. Di ruang bersalin sedang ada pasien yang baru saja melahirkan, Ara turut membantu proses kelahirannya tadi sore.


Bidan Army sangat religius, ia mengutamakan pekerja dan pasiennya untuk salat ketimbang tugasnya. Untuk menunjangnya, Bidan Army sengaja membuat mushola kecil di kliniknya itu. Hal itulah yang membuat Ara nyaman bekerja di klinik Bidan Army.


Ara segera kembali ke meja kerjanya, hujan masih sangat deras mengguyur Bogor malam itu.


Jogja hujan nggak, ya,?


Ingatannya kembali pada kejadian beberapa jam lalu saat di rumah bundanya. Selesai bicara lewat sambungan telepon dengan Aro, Bumi menghujaninya dengan pertanyaan yang membuat Ara merona.


"*Kamu sama mas Ar sekarang kok deket banget, ya?"


"Mas Ar apa-apa selalu ke kamu mintanya*," Bumi memang paling tak bisa menyembunyikan rasa keingintahuannya. Padahal saat itu, Akash sudah memberikannya kode agar tidak terlalu banyak bertanya pada Ara.


"*Ada sesuatu antara kamu sama mas?"


"Jangan main belakang, ya! ingat, Bunda nggak suka anak-anak Bunda main pacar-pacaran*!"


Peringatan sang bunda tentu menohok hati Ara. Ia yang berniat menyuarakan gerakan anti oacaran, malah memupuk cinta di hati oada kakaknya itu. Keduanya bahkan sering menghabiskan waktu bersama dengan Aro yang selalu berbuat seenaknya.


Ara banyak menyesali segala yang terjadi belakangan ini antara dirinya dan Aro. Ia ingat-ingat kembali kontak fisik yang sering dirinya lakukan dengan Aro.


Ampuni hamba yang telah lalai menjaga fitrah, ya Rabb.


"Kamu suka sama mas?"

__ADS_1


"Nggak gitu, Bun. Bahkan aku juga nggak tahu kenapa tiba-tiba mas Ar nyebut, aku kamu saat kita ngobrol. Mas bilang, Bunda yang suruh."


Bumi saat itu mengerutkan kening dalam, ia rasa-rasanya rak pernah menyuruh Aro melakukan hal itu. Dia memang selalu meminta Aro memperlakukan Ara dengan baik, tapi tidak sampai membahas panggilan segala.


"Bunda rasa mas suka sama kamu," tebak Bumi membuat pipi Ara panas.


Ara tak menampik bahwa justru dirinyalah yang sudah memupuk cinta sedari kecil terhadap Aro. Sejak ia mulai mengenal cinta monyet, hanya bayangan Aro yang selalu rerlintas di memorinya. Semakin hari semakin kuat memenuhi isi kepala dan hatinya.


"Bunda nggak usah menerka-nerka sesuatu yang nggak benar adanya," ralat Ara.


"Bunda ini ibu kalian, apa yang kalian rasakan bisa Bunda tahu tanpa harus kalian jelaskan!" tegas Bumi.


Suara sapaan Ati membuyarkan lamunan Ara. Ia sampai hampir terjatuh dari kursi sebab Ati begitu mengagetkannya.


"Ngelamun, ya?" tebak Ati seraya menyeringai.


"Teeeeh, bikin kaget!" seru Ara seraya mengusap dadanya. Di telunjuknya masih melingkar tasbih digital berwarna merah muda itu.


"Udah jam delapan lewat, loh. Kamu nggak pulang?" selidik Ati membuat Ara sedikit tersentak.


"Jadi aku ngelamun selama itu? unfaedah banget ih hidupku," gumam Ara menyesali perbuatannya.


"Kalau dipakai baca Al-qur'an bisa dapat banyak ayat," imbuhnya masih dengan bergumam.


"Eta kalakah ngomong sorangan, arek mulih moal, Raaaa?"


Suara Ati memekikan indra pendengaran Ara. Ia sampai mengusap daun telinganya yang terbungkus hijab putih instan itu.


"Mau, dong. Aku beres-beres dulu deh bentar. Hujannya udah reda ya, Teh?"


"Udah, makanya cepetan pulang. Bisi hujan lagi!"


Ara segera pamit setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal, dia mengulas senyum saat melihat bahwa rumahnya hanya terhalang oleh jalan raya. Cukup meyebrang, dan sudah sampai.


Saat akan menyebrang, Ara melihat seekor kucing berwarna abu dengan perut buncit, sepertinya hamil, tengah tergeletak di bibir jalan. Salah satu kakinya berdarah. Kucing itu mengeong pelan, seperti kesakitan.


Ara mendekatinya, semakin dekat semakin merasa iba.


"Pus, kamu kenapa?"


Kucing itu mengeong, seolah ingin bergerak tapi sulit. Ara menggendongnya tanpa rasa jijik, padahal kucing itu basah dan sedikit bau amis.


"Ikut sama aku ya, Pus?"


Ara mengusap perut buncit kucing itu, jelas sekali itu bukan kucing kampung. Bulunya yang mengkilap dan pendek-pendek sangatlah halus. Wajahnya tembem dengan mata bulat dan hidung yang sangat pesek. Bobotnya sangat berat, Ara sampai kesusahan mendapatkan posisi terbaik saat menggendongnya.


Ara akhirnya benar-benar membawa kucing itu pulang. Padahal pada lehernya terdapat kalung dengan inisial AS.


"Besok semoga kamu cepet ketemu sama pemilikmu. Sekarang ikut aku dulu biar kakinya diobatin yaa," ucap Ara seraya menyebrang jalan.

__ADS_1


__ADS_2