Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Sebab Bahagiamu, Bahagia Kami


__ADS_3

Setelah membujuk Aro dengan sangat alot, Ara akhirnya bisa kembali ke klinik beberapa hari kemudian setelah acara 40 hari putri mereka. Hika tetap harus jadi prioritas, begitu kata Aro. Tentu saja, di klinik, Ara membuat senyaman mungkin ruangannya untuk Hika.


Putrinya itu suka suasana yang terang dan tidak terlalu ramai. Hari pertama berjalan sedikit penuh drama. Mulai dari Hika yang menangis tak mau digendong Fenti saat Ara melayani pasien yang suntik KB. Atau saat Hika yang tak mau lepas dengan kegiatannya, yaitu minum ASI. Padahal Ceya mendadak pulang sebab sakit.


“Kan aku bilang poin utamanya, Hika enggak terbengkalai. Soal pasien bisa kasih ke Ceya.” Begitu sahut Aro saat Ara mengadu pada malam harinya.


“Kamu gitu amat responnya,” keluh Ara memberengut kesal.


Sementara yang diajak bicara masih saja sibuk dengan ponsel. Beberapa kali terdengar mengumpat. Membuat Ara semakin kesal. Wanita itu segera saja naik ke atas tempat tidur. Berbaring miring menghadap putrinya yang sedang tidur pulas lepas diberinya ASI.


Ara berusaha memejamkan mata. Berharap dapat segera terkantuk. Tapi, entah mengapa perasaannya malah sendu. Tak tahu apa sebabnya? Apa karena perkataan Aro barusan?


"Jangan cengeng dong, Ra!” bujuknya pada diri sendiri.


Aro sepertinya duduk di tepi ranjang setelah dari tadi berdiri. Ara dapat merasakannya dari kasur yang bergerak.


“Gitu aja nggak bisa,” gumam Aro terdengar oleh Ara.


Hal itu semakin membuat Ara bertambah sedih, ia merasa tidak dianggap. Kenapa suaminya tidak cerita bila memang ada masalah? Malah mengumpat sedari tadi.


“Jangan suudzon, Ra. Mas Ar mungkin banyak kerjaan.” Ara merayu diri sendiri agar dapat mengerti suaminya.


Bukannya tenang, Ara malah merasakan dadanya terasa sesak. Mendengar suaminya bicara dengan nada sedikit tinggi saja membuatnya serapuh ini?


Tentu saja, ini kali pertama selama jadi suami Aro bicara dengan nada tinggi. Hatinya tentu kaget dan merasa sedih. Ara tadi berharapnya Aro akan memeluknya atau setidaknya memberi dukungan lewat kalimat-kalimat Aro yang biasanya bisa menjadi penawar lelahnya.


Di luar dugaan, Aro malah bicara seolah menyudutkan dan menyalahkan Ara. Seolah ingin berkata, siapa suruh datang ke klinik? Sudah kubilang tugasmu jaga Hika! Seolah seperti itu.


Mata yang tertutup itu nyatanya tak dapat menahan cairan bening yang lolos membasahi pipi. Sekuat tenaga Ara membekap mulutnya sendiri agar tangisnya tak mengeluarkan suara.


Ia merasa kesal, kecewa, dan sedih. Tapi, bukan pada Aro. Bukan seperti itu. Atau malah kecewa pada diri sendiri sebab tak bisa menstabilkan emosi?


Aro meletakan ponsel di atas nakas samping tempat tidur. Ia menggeleng, dengan pening di kepala yang semakin terasa.


"Astagfirullah," desahnya pelan seraya mendekati istrinya.


Ia baru sadar, tadi istrinya itu sedikit merajuk. Perlahan Aro merebahkan tubuh menghadap ke punggung istrinya. Dipikirnya Ara sudah tertidur. Dia dengan sangat hati-hati membalikkan badan istrinya.


Namun, rasanya tubuh Ara berat sekali. Biasanya bila Ara tak sengaja memunggunginya kemudian ia membalikan badannya, maka akan dengan mudah tubuh itu menghadapnya. Kali ini kenapa sulit. Dan, tunggu. Kenapa bahunya bergetar?


Aro beranjak duduk, ia mengusap bahu Ara.


"Ara, kamu nangis?" Aro menyadari perbuatannya tadi tidaklah benar. Ia akui tadi sudah sedikit bicara dengan nada tinggi.


"Maaf, ya ... tadi aku lagi chatting sama Omar. Ada sedikit masalah di toko," jelas Aro.


Pria itu kembali merebahkan diri, kali ini meletakkan dagu di bahu Ara.


"Mau dengar ceritaku?" Tangan Aro bergerak lembut mengusap perut Ara.


"Aku anggap kamu mau dengar, ya." Aro berasumsi sendiri.


"Naren, tahu nggak?" Aro menelan salivanya.


"Kepalaku rasanya mau pecah, Ra. Semalam dia ketahuan make katanya. Eh tahu Naren, 'kan?" Aro masih mengusap perutnya.


Pria itu menghirup aroma telon dari tubuh istrinya. Tidak pernah berubah, wangi menenangkan yang sangat khas.


"Aku nggak nyangka kalau dia gitu. Pantesan badannya cungkring. Duh, padahal dia itu lagi ngejar skripsi. Ceweknya sampe nangis tadi di toko." Aro mengeluhkan perilaku Naren.

__ADS_1


"Dia sekarang dibawa sama keluarganya. Aku nggak tahu tuh nanti jadinya bakal gimana," terang Aro.


Sementara Ara masih terpejam, air mata masih mengalir. Ia bisa merasakannya, tangannya masih membekap mulut meski suaminya sudah tahu dia sedang menangis.


"Wajar jadinya kan kalau aku pusing. Aku trauma sama barang haram itu. Hidupku kacau sempat terjebak dalam kungkungan narkoba. Meski aku sendiri nggak sengaja 'kan." Aro mengenang kejadian beberapa tahun lalu yang menjadi titik balik hidupnya.


Menyadarkan bahwa dia pernah berada pada jalan salah. Petaka yang membawanya kembali pulang ke jalan yang Allah ridai, semoga.


"Kamu tahu nggak sih, Ra. Gimana hancurnya aku saat itu?" kenang Aro.


"Malam-malam yang terasa panjang berada di balik jeruji besi bukan hal yang menyenangkan. Apalagi sambil rindu ke kamu." Wajahnya merangsek ke ceruk leher Ara.


"Kamu kalau liat penampilan aku waktu itu pasti mikir ribuan kali buat nerima aku, Ra." Aro terkekeh, embusan napasnya hangat menyentuh kulit leher Ara.


"Ngarepnya ada bidadari yang nengok, eh malah ditinggal pergi. Tiga tahun pula, apa kabar itu rindu?" seloroh Aro.


Aro beranjak duduk untuk kembali merebahkan diri namun kali ini mengangkat terlebih dahulu kepala istrinya kemudian meletakan pada lengannya.


Ara kini dapat merasakan bahwa yang di belakang punggungnya adalah dada Aro yang liat. Dengan gerakan perlahan, Aro meraih tangan Ara yang masih menutup mulutnya. Diraihnya perlahan jemari itu kemudian ia tautkan dengan jemarinya.


"Aku lagi pusing. Berasa dikejar setan. Takut berurusan sama polisi lagi. Do'ain ya biar aku dan toko kita nggak kebawa-bawa." Aro mencium pucuk kepala Ara. Menyesap aroma rose dari rambut hitam lebat itu.


Hati Ara meluluh. Beruntung dia tadi belum marah pada suaminya. Beruntung memilih diam, jika saja dia tadi ikut mengumpat. Mungkin yang keluar adalah kalimat kotor yang hanya akan membuatnya menyesal.


Baik buruknya kalimat yang kita lontarkan, tidak akan mampu ditarik kembali.


Ara membalikkan badan. Debaran dalam dadanya sudah sedikit normal. Matanya perlahan ia buka kemudian memberanikan diri menatap Aro.


"Maaf nggak bisa ngertiin kamu," dengan suara bergetar Ara bicara.


"Aku yang salah, nggak langsung cerita. Pasti bikin kamu suudzon?" tebak Aro.


"Soal dede yang rewel, mungkin belum terbiasa." Aro mengusap pipi istrinya. Bekas air mata menganak sungai di sana.


"Nanti kalau udah adaptasi pasti lebih tenang."


"Kalau repot jangan dipaksain, aku salah kemarin bilang dede harus jadi prioritas."


"Yang harus jadi prioritas itu, kamu."


"Mas ...." Belum sempat Ara melanjutkan Aro sudah memotongnya.


"Kamu harus tenang, harus bahagia."


"Kamu jantung di rumah ini. Pusat hidup aku dan Hika."


"Kamu prioritasnya, kamu harus bahagia. Maka nanti aku dan Hika lebih bahagia."


"Maaf, tadi bikin kamu kesel." Aro mencium kening istrinya sangat dalam dan lama. Membuat Ara merasa hangat, sangat nyaman.


Ara merangsek menenggelamkan wajah di dada suaminya. Menghirup aroma vanilla banyak-banyak dari tubuh itu. Cukup seperti itu saja hatinya bahagia.


"Nanti lagi kalau ada apa-apa langsung cerita," ucap Ara.


Hei! gimana suami kamu mau cerita. Baru dia tadi mau bicara kamu duluan yang ngadu?


Aro mengangguk, "Iya."


"Naren emang orang mana?" Ara sedikit menjauhkan diri dari dada suaminya.

__ADS_1


Aro menyebutkan sebuah nama komplek perumahan di Cibinong. "Ayahnya salah satu pejabat pemda. Ibunya, salah satu manager restoran makanan cepat saji. Orang-orang sibuk."


"Terus?" Ara masih penasaran.


"Termasuk broken home nggak sih menurut kamu?" Aro memijat lembut punggung istrinya.


"Kurang bersyukur aja itu anak, sama kek cowok di hadapan aku ini. Dulu, dia sering banget salahin bunda sama aku pas jadi badboy nanggung." Ara membuat pola bulat di dada Aro dengan jari telunjuknya.


"Kok nanggung, sih?" Aro mencubit gemas punggung Ara.


"Nggak badboy badboy amat tapi meresahkan. Suka tiba-tiba muncul di kamar anak gadis orang. Kalau ngomong, takaran glukosanya udah nggak keukur. Ish!" kenang Ara, antara gemas dan rindu masa-masa itu.


"Masa separah itu sih, Ra?" protes Aro


"Idih nggak nyadar!" ketus Ara memukul dada suaminya.


Aro mengaduh pura-pura kesakitan. Suaranya sedikit keras. Hal itu membuat putri kecil mereka terusik. Awalnya hanya sebuah gerakan menggeliat, disusul rengekan, kemudian menangis histeris. Minta nen.


"Anak kamu tuh!" canda Aro.


"Ih, anak kamu!" balas Ara kemudian keduanya tertawa dan segera berbalik menuju Hika.


"Aduh soleha kok nangisnya kencang sekali?" Ara memijat sebentar miliknya untuk kemudian menggendong Hika yang masih saja histeris, hingga mulutnya mencapai apa yang diinginkannya barulah dia diam.


Aro beranjak, mengelus sekilas kepala Ara dan mengecupnya kemudian beranjak tanpa bilang mau ke mana. Tak lama dia kembali dengan dengan minuman sari kacang hijau yang sudah diberi sedotan.


"Minum!" Aro memegangi sedotan dan mengarahkannya pada mulut Ara. "Sedot, malah diem."


Ara tertawa, "kaget." Kemudian menyedot minuman kesukaannya itu.


Sementara Hika dengan mata yang kembali terpejam menyesap miliknya dengan sangat kuat dan dalam. Kakinya tak mau diam dengan tangan erat memegangi piyama yang dikenakan Ara.


"Takut lepas ya, non? kenceng banget megangnya!" seloroh Aro membuat Ara tertawa. Hatinya bisa berubah baik secepat itu.


Ia memandangi wajah suaminya yang terus menggoda Hika. Merasa beruntung memiliki suami yang selalu siap menemaninya dalam kondisi apa pun.


Semoga masalah Naren cepat selesai, Mas


***


.


.


.


.


Terima kasih yang masih membersamai Ara hingga kini. Dari dia dipanggil upil sampe sekarang jadi bubu. Sudah jauh juga ya perjalanan mereka. Sudah mulai enekkah? saat tiba-tiba di beberapa episode partnya jadi panjang banget. Haduh, maafkeun gengs.


Bulan keempat Ara wara-wiri di jagad hiburan (gaya banget 😝). Harus segera diselesaikan seperti janjiku 🤗. Btw, soal neng Tala itu ... Nanti aku buat rumah sendiri yaaww (maafkeun ini selalu maksa buat nulis terus pedahal masih tahap belajar banget. Ibaratnya kek bayi baru brocot. Kalah sama Hika juga)


Ada yang mau ikut nanti ke tempat abang? Semoga ada Hahaha.


Oh iya apa kabar juga Bang Alka? kok nggak ada yang nanyain sih? 😔 Itu Ayuni si artis lingeri melorot (eh ... Duta sampo anti kutu gaes ... duh bukan lagi ... Ayuni itu artis baik. Cantik dermawan pula 🤗) Adakah juga yang mau ikut membersamainya?


Hatur nuhun banyak-banyak sudah mau mampir di mari, dah. Terima kasih buat bunga, buat kopi buat vote dan buat waktunya meluangkan membersamai bacaan ini. Masih banyak kurangnya, sangat banyak. Jadi, maafkan segala salah aku yaa gaes.


Love kalian banyak-banyak pokoknya 🤗😘🥰

__ADS_1


__ADS_2