Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Kenapa Sesakit Ini?


__ADS_3

Selesai salat subuh, Ara mulai merasa panik. Ia ingin sekedar mengirim pesan pada Aro, tapi rasanya sulit. Berkali-kali mengetik pesan, namun kemudian dihapus kembali. Ia yang masih mengenakan mukena, berjalan mondar-mandir di kamarnya seraya memegang ponsel.


Sesekali termenung, merangkai kata dalam otak kemudian diketik pada layar ponselnya. Matanya memicing, membaca pesan, kemudian memggeleng. Kembali mondar-mandir, ponsel ia ketuk-ketukan ke dahi, sebelah tangannya berkacak pinggang.


Lelah mondar-mandir, Ara memilih membuka jendela kamar lalu berdiri menghadap keluar. Nampak langit masih gelap, tapi kicau burung mulai bersahutan. Sudah hampir 30 menit ia berlaku seperti itu. Jarinya kembali mengetik pesan. kali ini harus jadi, begitu tekadnya.


Setelah pesan terkirim, Ara segera memasukan ponselnga ke dalam lemari. Pasalnya, ia malu sendiri saat membaca isi pesan yang ia kirimkan. Ia memilih keluar dari kamar untuk membuat sarapan dan menemui Vanya.


***


Aro sudah bersiap, tanpa mandi tentunya. Entahlah, pria itu tidak suka yang kotor-kotor, namun dirinya sendiri jarang mandi.


"Lo mah nggak mandi juga tetep kelihatan keren, Ar," puji Omar yang sedang mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil.


Aro yang sedang menalikan sepatu hanya tersenyum miring. Pasalnya, semalam ia tak dapat tidur nyenyak. Tempat yang tak nyaman dan pikirannya yang tak tenang penyebabnya.


"Gimana rasanya mau ketemu mantan?"goda Omar.


Aro mendengus, tangannya terangkat hendak meninju Omar namun getaran ponsel pada saku celana membuatnya urung akan niatnya. Omar sendiri memilih ke kamar Aro untuk segera berganti pakaian.


Aro membulatkan mata saat membaca pesan yang pengirimnya masih ia namai Upil.


[Assallamu'alaikun, Mas. Hati-hati, ya. Aku tunggu kepulanganmu. Jangan lupa salat!]


Ia mengerjapkan mata, sekali lagi membaca pesan itu. Isinya memang tidak berubah, tetap sama. Hatinya berbunga, Ara bisa semanis itu. Ia mulai mengetik balasan, tentu harus lebih manis.


[Wa'alaikumsalam, Ra. Do'akan aku ya, semoga lancar dan cepat pulang. Jangan pergi jauh-jauh ya, Ra!]


Aro memasukam kembali ponsel ke dalam saku celananya, penampilannya sudah rapi. Kacamata, masker, topi dan hanya mengenakan kaos hitam lengan pendek. Bersamaan dengan Aro yang berdiri, Omar keluar dari kamar Aro dengan aroma parfum yang langsung menyeruak.


"Kayak anak perawan aja, lo!" teriak Aro seraya menutup hidungnya. Aroma parfum yang berlebihan justru membuat tak enak saat terhirup.


"Berisik!" balas Omar, "kita udah ditungguin nih, by the way, si Rea meresahkan bro."


Aro malas menanggapi celotehan Omar. Ia sungguh tak ingin lebih lama terjebak pekerjaan dengan Rea. Dulu keduanya memang dinobatkan sebagai pasangan terfavorit. Setiap ada event selalu bersama. Film mereka laris manis hingga ditonton sebanyak 6 juta orang. Pengkhianatan yang dilakukan Rea membuat Aro tak bisa lagi tetap di samping Rea. Hingga kini, ia rasanga muak mengingat kenangan masa lalunya.


"Ayok!" Seru Omar seraya menepuk bahu Aro kemudian melangkah.

__ADS_1


Salah satu Bandara milik Ibu Pertiwi adalah tujuan mereka. Menurut info yang didapati Omar, hanya tinggal dirinya dan Aro yang belum sampai di Bandara.


Keduanya melangkah cepat keluar dari rumah, kali ini Omar yang mengemudikan mobil. Jalanan pagi hari masih sedikit lengang, membuat Omar leluasa membelah jalanan dengan kecepatan tinggi. Dibanding Aro, Omar lebih lihai dan lembut mengemudikan mobil. Meski mengebut, ia tahu aturan.


Setelah menempuh waktu yang tak terlalu lama, keduanya sampai di salah satu Bandara. Benar saja, di sana sutradara dan kru sudah menunggu kedatangan Aro. Nampak seorang wanita dengan rambut sebahu yang dicat brown terlihat mencolok di antara para kru yang didominasi oleh kaum pria.


Wanita itu Rea, perawakan tinggi berisi dengan kulit putih dan jelas terawat. Wajahnya nyaris tanpa noda sedikitpun padahal hanya dirias make up tipis.


Aro dan Omar segera meminta maaf atas keterlambatan. meski sebetulnya penerbangan masih 20 menit lagi.


"Gimana kabarnya, Ar?" Rea menyapa Aro terlebih dahulu.


Aro mengganguk, "Baik," jawabnya singkat tanpa senyuman.


"Omar, apa kabar?" Rea memeluk Omar, keduanya cium pipi kiri dan cium pipi kanan membuat Aro mendengus kesal.


"Alhamdullillah, ya Ar, kita satu project lagi setelah lama banget nggak ketemu," ucap Rea seraya hendak memeluk Aro, namun Aro menepisnya.


"Jaga sikap lo, Re!" tegas Aro pelan, namun langsung menusuk kalbu Rea. Sorot tajam dengan telunjuk terangkat cukup menjadi bukti bahwa Aro tak suka Rea bersikap seperti itu.


Jelang beberapa menit. pesawat mereka sudah bersiap. Semuanya beranjak untuk segera berangkat. Aro sengaja berjalan paling belakang. Selain membaca pesan, ia juga menghindari berdekatan dengan Rea. Dulu sempat memuja, tapi kini lain lagi ceritanya.


***


Dengan menumpang salah satu maskapai penerbangan ternama, tepat pukul 08.10 mereka tiba di salah satu Bandara di Kota Jogja. Kedatangan mereka disambut banyak fans serta pewarta berita baik dari media cetak maupun online.


"Ar, lo pegang tangan Rea, pura-pura Ar!" titah sang Produser, tentu saja membuat Aro emosi. Ia paling tidak suka membuat settingan semacam itu.


Tiba-tiba Rea sendiri yang bergelayut manja di lengan Aro, dia bisa-bisanya berbisik mengatakan bahwa ini bagian dari akting dan Aro diam saja bila tak ingin dicap sebagai laki-laki kasar oleh fansnya yang jumlahnya mengalahkan jamaah pengajian jidda. Mereka tidak tahu seperti apa sosok yang dipuja dan dielu-elukannya itu. Hanya si pembuat dosa ulung yang aibnya sedang ditutup oleh Allah.


"Ar, i love you ...!"


"Ar, lihat sini, Ar ...!"


"Ar, ganteng banget sih?"


Teriakan para fans begitu memecah telinga, ditambah dengan pewarta berita yang sekonyong-konyong menghadang langkahnya dan memberinya pertanyaan bertubi-tubi.

__ADS_1


"Apa kalian CLBK?"


"Jadi kalian udah jadian lagi?"


"Kemana saja Mbak Rea baru kelihatan?"


"Kalian selalu tampak cocok."


Aro sudah sangat kesal dibuatnya, ingin berontak tapi tak mungkin. Ia hanya khawatir bila hal ini disiarkan di televisi bisa-bisa seluruh keluarganya tahu, termasuk Ara.


Aro segera meminta untuk cepat meninggalkan Bandara, ia sudah sangat ingin menghubungi Ara. Sayangnya, sesuai agenda mereka mengadakan ramah tamah dahulu dengan fans dan pewarta berita untuk beberapa menit ke depan.


Sudah pegal rasanya wajahnya selalu menampakan senyum. Rea sendiri seperti sengaja mengambil kesempatan. Ia tak sedetikpun melepaskan diri dari lengan Aro. Rasanya sudah ingin Aro lempar saja tubuh wanita itu. Ia tersenyum ke arah kamera dan seenaknya saja menjawab saat pewarta berita menanyakan tentang hubungn keduanya. Rea memberi jawaban seolah mereka memang kembali menjalin kasih.


***


"Artis Mahija Aro kembali mesra dengan mantannya yang bernama Rea Annggraini. Pagi ini rombongan para pemain film Cinta Bersemi Kembali ini tiba di Jogja untuk melakukan proses syuting. Nampak Aro, begitu pria kelahiran Bogor 22 tahun silam ini disapa, terlihat bergandengan dengan lawan mainnya sendiri yang sempat menjadi kekasihnya saat SMA. Keduanya terlihat serasi dengam warna pakaian senada. Yang satu nampak cantik dan satunya nampak keren."


Suara reporter sebuah stasiun televisi yang sedang ditonton Vanya begitu terasa sakit di telinga Ara yang sedang membuat sarapan di dapur. Pisau yang ia gunakan untuk memotong bawang merah terlepas begitu saja dari genggaman. Hatinya seketika hancur mendengar berita itu. Tanggul air matanya runtuh manakala suara berikutnya kembali terdengar.


"*Jadi ini resmi balikan nih sesuai dengan judul filmnya?"


"Kita lihat saja ya, Kak. Iya kan, Ar*?"


Ara sudah tak selera lagi melanjutkan memasak. Hatinya begitu sesak, berkali-kali ia memukuli sendiri dadanya berharap si sesak segera pergi. Ara pergi ke kamar mandi, membuka air keran. membiarkannya mengalir padahal ember sudah terisi penuh.


Rasanya baru kemarin ia berpikir bahwa Aro juga menyukainya, tapi kenapa hari ini ia dikejutkan oleh kenyataan yang lain. Ara berjongkok dan bersandar pada daun pintu. Ia tumpahkan segala sesak dengan menangis sejadi-jadinya tanpa suara.


Dadanya naik turun seirama dengan sedu sedannya, berkali-kali mengusap air mata dengan ujung hijabnya. Tenggorokannya tersengal, sangat sakit ketika berusaha menelan salivanya sendiri.


Ya Rabb, apakah mencintai salah satu hamba-Mu rasanya sesakit ini? Rengkuh aku Yaa Rabb, hilangkan segala rasa untuknya. Biarkan hanya pada-Mu aku serahkan sebesar-besarnya cintaku


.


.


Like dan komennya kakak. Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2