
Sebelum lamaran itu terjadi ....
"Aku mau lamar Ara!" seru Aro pada seluruh anggota keluarga, di mana di sana juga ada Akhza yang baru saja datang pagi itu
"Jangan main-main kamu!" bentak Akash.
"Aku serius, Ara nggak percaya kalau aku yang ngomong. Mungkin harus dilamar secara resmi," cetus Aro membuat Akhza beranjak dari duduk dan mendekatinya.
"Gue mau ngomong!" serunya seraya menarik lengan Akhza. "Ikut gue!" sentaknya seraya menarik lengan Aro, memaksa adiknya itu mengikuti langkahnya.
"Eeh Kash, itu berantem nggak nanti?" tanya jidda khawatir.
"Nggak, Mi ... udah biarin aja," sahut Akash memangkas kekhawatiran umminya.
Akhza membawa Aro ke halaman belakang, di sana ia melepaskan pegangannya pada lengan Aro.
"Lo tuh curang banget, sih!" pekik Akhza membuat Aro tertawa.
"Kan udah gue bilang, gue curang!" tantang Aro balas menyoroti tajam netra Akhza yang sedari tadi memandangnya.
Akhza tak lekas menjawab, ia duduk di atas rumput bersandar pada batang pohon mangga yang masih belum berbuah padahal sudah lama ditanam.
Aro mendekatinya, ia duduk di sebelah Akhza. Hatinya merasa menyesal telah berkata kasar.
"Maaf, Bang. Tapi, gue juga sayang sama Ara. Maaf, gue nggak bisa lagi sembunyiin perasaan ini," lirih Aro menepuk bahu Akhza.
Akhza masih tak menjawab, ia meluruskan kakinya yang tadi ditekuk. Cicit burung gereja bersahutan, terbang ke hadapan Aro dan Akhza.
"Bang, gue mau lo ikhlasin Ara ke gue. Gue udah jadi anak durhaka dengan menentang jidda juga umma Zha buat dapetin Ara," bujuk Aro, suaranya melemah.
Akhza menghela nafas panjang. Ia sadari selama ini menyukai Ara, tapi tak pernah berusaha memperjuangkannya. Akhza hanya bisa berkata manis, tapi Aro bisa berlaku realistis.
"Bang, gue maju karena gue juga yakin Ara mau nerima gue. Dia cuma lagi ragu aja," ungkap Aro kali ini berhasil membuat Akhza menengok ke arahnya.
__ADS_1
"Gue akuin, Ara emang kelihatan suka sama lo dari dulu. Sampai detik ini gue nggak bisa lupain Ara. Lo tahu kan, sebaik apa Salasika Arabella itu?" lirih Akhza, matanya memerah.
Keduanya kembali diam, Aro ikut meluruskan kakinya yang terbungkus celana jeans biru. Bahkan ia sudah mengenakan sneaker putih kesayangannya.
"Gue tahu, tapi gue pasti lebih berantakan kalau nggak sama Ara, Bang. Lo tahu dong, gue udah jarang salat, tapi kenapa kalau Ara yang nyuruh gue selalu nurut? Gue butuh Ara, Bang. Selebihnya, cinta gue ke dia juga bukan kaleng-kaleng," ungkap Aro seraya tersenyum.
"Sejak kapan lo suka sama dia?" tanya Akhza menyelidik.
"Gue nggak tahu, semua terjadi gitu aja. Yang jelas, gue resah kalau jauh dari dia."
"Sebesar itu cinta lo ke dia?"
"Lebih besar dari yang lo bayangin, bahkan gue udah mutusin buat berhenti jadi artis sesuai yang dia mau."
Keduanya kembali terdiam, mendalami perasaan masing-masing. Suara kecipak yang diakibatkan oleh ikan koi terdengar di kolam milik Akash. Langit cerah, dengan birunya yang membentang luas. Matahari bersinar terik, jumawa menampakan diri.
Aro menyenggol kaki Akhza dengan kakinya. Akhza diam, Aro mengulang. Akhza masih diam, Aro malah memeluk tubuh abangnya itu.
"Atuhlah, Bang. Restuin gue sama Ara. Lo udah soleh, jangan maruk mau istri soleha juga. Gue juga pengen di sisa akhir hidup gue jadi orang yang bener," pinta Aro membuat Akhza menepuk punggung adiknya itu.
"Jagain Salasika Arabella. Dia kesayangan kita, gue berusaha lepasin dia. Tapi, inget, Sekali lo nyakitin dia, jangan harap lo bisa dapat kesempatan buat dapetin dia lagi!" tegas Akhza dengan sorot mata teduh.
Aro malah kembali memeluknya dengan perasaan hangat. Ia sadari, selama ini hanya kurang komunikasi dengan abangnya itu. Menjadikan semuanya kaku.
"Makasih, Bang. Mungkin lo nanti dapetnya cewek yang otw soleha, Bang. Biar ada tantangannya hidup, lo," cetus Aro melerai pelukannya.
Akhza kemudian meninju bahu Aro, ia acak rambut adiknya yang sudah disisir rapi itu membuat sang adik berteriak jangan, "Dasar artis!" cibir Akhza seraya berdiri lalu mengulurkan tangan agar diterima oleh Akhza.
"Selamat berjuang, Ara itu spesial. Dia harus bahagia," lontar Akhza.
Aro meraih tangan Akhza lalu berdiri, " Gue berusaha jadi yang terbaik buat dia."
"Jadilah seteduh-teduhnya tempat buat dia bernaung, jadilah langit untuk Ara!" titah Akhza seraya merangkul pundak adiknya dan kembali masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Selain menerima semua ini Akhza bisa apa? Di saat Ara sendiri memang memilih Aro, dia tak bisa memaksakan kehendak. Bukankah jika memaksa Ara bersamanya itu namanya obsesi, bukan cinta?
***
Setelah bicara dengan Akhza, Aro pamit untuk bekerja. Dia dijemput oleh Omar untuk segera pergi ke CCM, salah satu Mall terbesar di Jl. Tegar Beriman No.1, Cibinong, Bogor, Jawa Barat.
Ia berpesan pada bundanya agar menyiapkan hampers secantik mungkin untuk Ara. Bumi sempat protes, namun Aro dengan kecupan bertubi-tubi di wajahnya membuat Bumi luluh. Akhirnya hari itu ia disibukan dengan mempersiapkan hampers untuk Ara bahkan membohongi Ara dengan bilang ada urusan di Kafe karena tak bisa mengantar Ara dan Vanya ke Masjid.
"Abang baik-baik aja, 'kan?" tanya Bumi saat melihat Akhza sedang berbaring di sofa ruang televisi sedangkan yang lain sibuk mengurusi akan memakai baju apa nantinya.
"Baik, kok Bunda," jawabnya dengan senyuman.
"Maafin, Bunda," lirih Bumi, ia juga tahu bahwa anaknya itu sedikit terluka. "Bunda lihat Ara juga suka sama Mas Ar dan Bunda nggak mau berdosa membiarkan keduanya lama-lama melajang. Apalagi Abang tahu sendiri, mas Ar kayak gimana."
"Aku sama mas Ar udah bicara heart to heart, Bunda jangan cemas. Aku berusaha ikhlas," kilah Akhza seraya beranjak dan mendekati Bumi yang masih berdiri
"Do'akan ada Salasika Arabella selanjutnya untuk aku," bisiknya seraya merangkul pundak Bumi.
Bumi mengangguk dan langsung memeluknya. Ia mengusap punggung Akhza berkali-kali.
"Terima kasih, Sayang. Kamu sudah berbesar hati," ungkap Bumi.
"Aku ini pecundang, sedangkan mas Ar pejuang. Aku nggak bisa belain Ara saat dipojokan, tapi mas Ar, dia bahkan sigap melakukannya."
"Kalian sama-sama hebat!"
"Kekalahan akan tunduk pada orang yang percaya diri. Dan, mas Ar sudah membuktikannya," ujar Akhza melerai pelukannya.
Ia tersenyum memandangi wajah bundanya, "Cukup do'akan aku agar besok saat mencintai seseorang, aku lebih berani memperjuangkannya."
Bumi mengangguk. Ia bangga memiliki putra yang sangat kuat dan mampu menerima dengan ikhlas takdirnya. Mungkin Akhza cerminan dirinya saat dulu dengan ikhlas melepas Akash.
Percayalah, apa yang sudah Allah takdirkan untukmu tidak akan melewatimu barang sekejap. Dan apa yang bukan takdirmu, tidak akan pernah singgah walau sekuat tenaga kau dekap.
__ADS_1
Please, aku pasti bikin abang bahagia juga kok. Siapa yang mau otw soleha boleh ditemenin abang nih 🥰🥰