Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
"Terima Kasih, Ara ...."


__ADS_3

Pagi hari kondisi Ara semakin membaik. Bahkan ia meminta infus dilepaskan saja. Ingin ke luar rumah untuk berjemur katanya. Pusingnya sudah tak seperti tadi malam, hanya saja Ara jadi merasa takut saat masuk ke dalam kamar mandi.


“Mas jangan lama-lama!” tegas Ara saat Aro pamit untuk menemui satpam.


Ia juga berniat memanggil tukang untuk menghancurkan saja kamar mandi di bawah tangga itu.


“Ya udah, aku nggak jadi pergi. Biar orangnya aku suruh ke sini.” Aro tak tega meninggalkan Ara yang masih terlihat ketakutan.


“Nggak apa pergi, tapi jangan lama-lama,” kilah Ara.


Mana bisa tak lama, niat Aro pergi selain menemui satpam juga untuk mendatangi rumah Davina. Ia merasa menaruh curiga besar terhadap wanita itu. Apa yang diincar dari laptopnya selain dokumen naskah?


“Nggak, aku temenin kamu aja,” sanggah Aro seraya kembali duduk di atas tikar yang digelar di teras balkon itu.


“Mas nggak lagi sembunyiin apa-apa ‘kan dari aku?” tuding Ara. Ia seolah dapat membaca kerisauan wajah Aro.


“Nggak ada, Sayang.” Aro menyentuhkan ujung hidungnya ke dagu Ara.


“Jangan bohong,” desak Ara.


“Eh makan dulu ya, iya dong, ya?” bujuk Aro mengalihkan pembicaraan.


“Mau makan apa? Mau pukis ngga? atau bubur kacang ijo? bubur sum-sum, atau mau kue pancong ya?” Aro mengabsen satu persatu makanan kesukaan Ara.


Ara menggeleng, “ Aku mau Mas berhenti jadi ghost writter.”


Lidah Aro kelu, tentu saja ia akan berhenti setelah ini. Sebab, laptopnya saja hilang. Tulisan dia di naskah terakhir masih ada pada laptop. Pikirannya kembali teringat Davina. Ia sudah geram ingin menemui wanita itu.


“Mas, iya nggak?” desak Ara.


“Apa lagi sih yang Mas cari? Cukuplah Mas sibuk di outlet sama di car wash aja, aku enggak mau kalo malem-malem pas tidur ditinggalin. Emangnya aku enggak tahu selama ini kelakuan Mas?” beber Ara.


Aro merasa sedang ditelanjangi sebab ternyata Ara mengetahui kelakuannya yang sering begadang menyelesaikan naskah. Ia tak berniat membohongi Ara, hanya saja sudah terlanjur janji untuk menyelesaikan satu naskah lagi.


“Iya, aku berhenti. Aku janji, aku nggak akan ninggalin kamu malam-malam lagi,” ujar Aro meyakinkan Ara.


Bunda dan mami masih menemani Ara, meski begitu, Ara sepertinya tetap tak ingin Aro meninggalkannya.


“Aku takut Mas Ar ngelakuin hal yang aneh kalau dibiarin keluar, Bun,” bisik Ara pada Bumi yang sedang menyendokan bubur kacang hijau ke dalam mangkuk untuk Ara.


“Aneh apa sih, Sayang? Mas Ar nggak mungkin macem-macem,” sela Bumi.


“Iya, Neng. Aneh-aneh apa sih?” Sita ingin tahu apa yang dipikirkan oleh Ara.


“Aku mau masalah ini jangan sampe ribut ke luar. Ditutup aja, mudah-mudahan orang yang kemarin nyekap aku segera taubat, nggak ganggu lagi.” Setelah Ara pikir, tidak ada gunanya juga memperpanjang masalah ini.


Dirinya sudah baik-baik saja, terlebih tak ada pencurian atau pun kerusakan di rumahnya. Ara tak tahu bahwa laptop Aro hilang.


“Aku takut Mas Ar masih nyelidikin masalah ini. Takutnya nanti malah Mas Ar kenapa-kenapa deh,” Ara mulai parno.


“Jadi udah aja, yang penting kita hati-hati aja deh.” Ara mulai menyendokan bubur ke dalam mulutnya setelah agak dingin.


Aro yang baru saja mandi, ikut bergabung. Rambutnya masih basah, aroma mint langsung menguar di hidung Ara saat pria itu mendekatinya.


“Wangi banget, sih,” ujar Ara dengan rona bahagia. “Sini dong mau cium rambutnya,” lanjutnya seraya menyuruh Aro sedikit menunduk.


Ara penuh sayang mencium kepala Aro. Menenggelamkan wajahnya pada rambut basah itu. “Enak banget sih wanginya.”


“Ra, kamu ...?” Sita menunjuk pada perut Ara.


“Iya, Ra kamu ....?” Bumi ikut penasaran.


“Belum, beberapa hari lalu udah aku tes. Masih negatif, padahal udah telat seminggu,” sahut Ara melepaskan kepala Aro.


“Kepala doang yang dicium?” goda Aro kali ini dirinya yang menciumi pipi Ara. Sedikit pun tak segan dengan keberadaan bunda dan mertuanya.

__ADS_1


“Enggak usah ngelunjak, deh!” omel Ara membuat Aro terkekeh.


Dalam benak Aro merasa sebetulnya Ara sudah hamil. Ia merasakan yang beda dari sikap istrinya itu. Ara lebih manja dan mulai sering kelelahan.


***


Sekembalinya dari Subang, Omar langsung pergi ke rumah Davina yang berada di kawasan perumahan elit Cawang, Jakarta Timur. Ia ragu ketika akan masuk ke dalam rumah dengan gerbang tinggi itu.


“Ampun dah ah, si Aro tuh bener-bener maksa kalo nyuruh!” umpat Omar seraya menekan bel.


“Di sini banyak temen Aro nggak ya?” Omar takut ada anjing seperti di perumahan mami Ara tempo hari.


Tak lama pintu dibuka oleh seorang pria yang sepertinya merupakan satpam dilihat dari pakaiannya.


“Mbak Davina ada ‘kan, Pak?” tanya Omar ramah, usaha agar dilancarkan urusannya.


Pria itu mengangguk dan mengantar Omar ke dalam rumah mewah dengan halaman yang cukup luas. Di lahan yang menjadi garasi terdapat tiga mobil sport keluaran terbaru. Terpajang mentereng, seolah meledek Omar yang datang menggunakan taksi online.


"Bisa minder si merah kalau gue bawa ke sini," batin Omar. Si merah adalah sebutan untuk mobi miliknya.


“Pancing tentang naskah udah sampe mana. Kecoh, kalau dia tahu udah sampe akhir itu artinya emang dia dalang dari semua ini.” Begitu pesan Aro saat Omar meneleponnya.


“Pancing pakai naskah baru. Gue udah ngobrol sama dia sekilas. Kalau dia tahu isinya, udah fix emang dia otak dari penyekapan istri gue. Gue gantung mati tuh orang.” Pesan kedua Aro membuat Omar bergidig.


Omar diterima baik oleh Davina yang nampak cantik. Tubuh mungil Davina yang berusia 45 tahun terlihat seperti anak gadis. Tentu saja, wanita itu suaminya kaya raya. Pemilik bisnis property dan departmen store. Dia juga memiliki rumah produksi dan Aro sempat bernaung di bawahnya.


“Aro gimana sih nih nulisnya. Abis nikah malah makin lelet,” keluh Davina yang hari itu mengenakan stelan Gucci terbaru. Di rumah saja pakai Gucci, di luar pakai apa? Pikir Omar.


“Emang sampe mana sih yang terakhir?” Omar memulai aktingnya.


“Ya masih sampai cowoknya yang nyari ibunya ke Yogya, nggak ada lagi,” keluh Davina.


“Kelarin lah, gue udah pengen syuting. Pasti epic banget tuh drama,” ujar Davina berapai-api.


“Yah ancang-ancang, selesai ini bisa langsung kerja sama lagi.” Davina berharap banyak bisa terus kerja dengan Aro.


“Aro mau berhenti,” pancing Omar siapa tahu ada info dari melesetnya lidah Davina.


“Emang seriusan? Yaa, alasan gue pengen ketemu dia makin tipis aja dong. Gue kangen sama bos Lo itu,” bisik Davina.


"Ok, infonya Davina kangen ke elo, Ar. Mampus Lo,” batin Omar.


“Aro udah punya istri, elo juga punya suami,” geram Omar.


“Emang susah banget dari dulu godain Aro. Apa lagi sekarang udah punya istri,” geleng Davina dengan nada kecewa.


“Nyerah aja, suami lo orang kaya. Jangan sampe main gila bisa-bisa Lo kehilangan semuanya.” Omar berusaha mengingatkan Davina.


Setelah obrolan yang tiada ujungnya itu, Omar memilih pamit. Sedikit pun tak ada tanda Davina adalah dalang dari kejadian penyekapan Ara.


Sore hari saat Omar tiba di rumah Aro. Ia susah sekali akan memberikan laporan hasil penelusurannya tentang Davina, sebab Ara terus saja menempel pada Aro.


Wanita itu tak sedikit pun lepas dari suaminya. Aro senang, tapi juga penasaran apa yang akan disampaikan Omar.


Hingga akhirnya Omar terpaksa menunggu sampai waktu Magrib untuk bebas bicara dengan Aro. Itu pun saat perjalanan pulang dari masjid.


“Gimana perasaan lo masuk ke masjid?” ledek Aro, dan Omar mendelik.


“Bang ke, Lo pikir gue gak ke masjid berarti gak solat?”


“Cuma elo yang tahu.” Aro menepuk bahu pria tambun itu.


“Gue rasa bukan Davina pelakunya,” beri tahu Omar dia berusaha cepat menyampaikan info sebab tadi Ara sudah mewanti-wanti agar jangan terlalu lama.


“Tahunya dari mana?” tanya Aro.

__ADS_1


“Dia nggak ada bahas isi naskah, malah suruh elo cepet beresin naskah ini dan buat lagi yang baru.” Omar memasang tampang serius.


“Susah Ar selidikin siapa pelakunya,” keluh Omar.


“Ara juga nggak mau ramein masalah ini. Dia bilang kita lebih hati-hati aja. Makanya, gue rada lama nih ya nggak ke toko. Elo urus aja ya semuanya?” pinta Aro.


“Enak banget hidup lo, bikin anak aja pengennya. Ngurusin kerjaan kagak mau!” umpat Omar


“Bang ke, istri gue lagi sakit!” balas Aro.


“Enggak percaya gue elo bisa nggak apa-apain. Mustahil!”


“Kotor banget pikiran Lo, Mar!” Aro menendang dengkul Omar yang terbalut sarung.


Mereka menghentikan obrolan tentang Davina sebab sudah sampai di rumah dan Ara sudah setia menunggu kedatangan Aro di bibir pintu.


Dalam hati Aro masih penasaran, tapi penelusurannya belum menjelaskan siapa pelaku penyekapan Ara dan apa motifnya?


Hingga beberapa hari kemudian, pagi-pagi sekali saat Aro membuka pintu, laptopnya sudah ada di depan pintu. Utuh tak ada kerusakan tanpa lecet sedikit pun. Pria itu cepat membawany ke lantai dua rumahnya. Tak ingin Ara tahu.


Keadaan Ara juga sudah membaik, hanya saja dirinya masih takut bila masuk kamar mandi. Padahal kini kamar mandi tempat Ara dikurung sudah tak ada.


Aro lebih banyak menghabiskan waktu menemani Ara. Dia bahkan sering menemani istrinya itu di klinik.


"Mas, ini kan udah dua minggu setelah aku tes. Besok aku pengen tes lagi. Tapi, takut," ungkap Ara sambil memegangi alat tes kehamilan yang menurutnya paling akurat.


"Aku aja deh yang tes, kamu cukup taro aja air pipisnya di wadah. Gimana?" tawar Aro.


"Mas nggak jijik?" Ara sedikit tak enak bila suaminya itu yang melakukannya.


"Kenapa harus jijik. Aku suka ke kamu luar dalam. Semua milik kamu aku suka, apa lagi ...." Aro melirik dada dan bagian bawah tubuh Ara.


"Iiih dasar!" umpat Ara mengacak wajah Aro dengan kedua tangannya.


Seperti yang sudah disepakati, esoknya Aro benar-benar meminta Ara buang air kecil dan menempatkannya pada wadah uang disiapkan Aro.


"Udah, Mas," beri tahu Ara saat suaminya itu menunggu di depan pintu kamar mandi memegangi alat tes kehamilan.


Aro sendiri sebenarnya gugup. Ia sedari terus berdoa dalam hati semoga hasilnya positif. Dengan tampang yang dibuat santai, Aro masuk ke kamar mandi dan mulai mengaplikasikan alat tes kehamilan itu.


Ia tunggu beberapa saat hingga hasilnya adalah,


"Ra, ini artinya positif 'kan?" Aro memberikan tespack itu pada Ara.


Air mata ara menyesak merambai-rambai pada pipinya. Rasanya banyak bunga-bunga bertebaran di sekelilingnya. Hatinya diliputi hangat yang amat.


"Aku hamil, Mas!" pekik Ara seraga mengusap perut yang masih rata.


"Alhamdullillah," keduanya kompak berucap.


Aro segera membawa tubuh istrinya itu ke dalam pelukan. Ia menghujani pucuk kepala Ara dengan ciuman. Tak sampai di situ, wajah basah Ara tak luput dari ciuman bertubi-tubi hingga tubuh istrinya itu ia peluk kembali lebih erat.


"Terima kasih, Ara. Terima kasih sudah rela mengandung zuriatku. Semoga Allah selalu melindungimu," ucap Aro yang malah membuat Ara kembali menangis haru.


Setelah rasa takut yang dialaminya berlalu, Allah ganti dengan kebahagiaan yang tak terhingga nilainya. Ketika Ara dengan ikhlas menerima musibahnya kemarin, kini Allah memberinya kejutan manis dengan hadirnya janin dalam perutnya.


"Terima kasih, sudah mencintaiku sebaik ini, Mas," balas Ara dalam pelukan suaminya.


.


.


.


. Bab selanjutnya semoga segera meluncur juga 🤗

__ADS_1


__ADS_2