Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Allah Maha Baik


__ADS_3

Allah selalu bersama orang-orang yang sabar, dan Ara membuktikannya. Ia ikhlas melewati ketakutannya yang entah sudah berapa jam ia lalui. Hujan sepertinya sudah reda. Keheningan tercipta, hanya ada suara tetesan air yang jatuh ke dalam ember.


Ara mengulurkan tangan, kembali meraih gayung menggunakan kekuatan insting sebab ruangan itu sangat gelap. Pelan ia menenggak air itu.


Air mata sudah mengering, tapi kepala makin terasa pusing. Ara terus berusaha tenang, membayangkan hal-hal indah agar tetap membuat jantung bekerja normal.


Sementara Ceya dan Tala di klinik mulai bersiap untuk pulang ke rumah Ara. Waktu sudah menunjukan pukul 18.30. Hujan deraslah yang menahan kedua gadis itu tak segera ke rumah Ara


“Ara di rumah sendirian jadinya?” tebak Tala.


“Iya. Cepetan yuk ke sana. Mumpung hujan udah reda,” ajak Ceya seraya memasukan ponsel dan charger ke dalam tasnnya.


Tala sendiri segera memakai cardigan hitamnya, gadis itu selalu suka memakai dress tanpa lengan dipadu dengan cardigan. Tampilannya selalu terlihat manis dengan rambut yang tampak digerai indah.


“Ce, berhijab tuh panas nggak?” tanya Tala, keduanya kini sudah meninggalkan klinik tak lupa menguncinya.


“Enggak, aku dari TK udah hijaban. Biasa aja.” Ceya menengadahkan tangannya ke langit. Rintik hujan masih turun ternyata.


“Semudah itu? Aku waktu sekolah aja sering kegerahan kalau hari Jum’at harus pake hijab,” aku Tala tertawa kecil dengan suara serak basahnya.


“Hijab itu kewajiban, Tala. Kamu harus menjadikannya sebagai kebutuhan. Seperti haus yang membutuhkan minum. Seperti kamu yang membutuhkan Bang Rud,” goda Ceya mencolek lengan Tala.


Tala tak menjawab, benarkah ia membutuhkan Rud? Bukan yang lainnya?


“Video kamu yang baru lucu tuh. Yang cowok itu adik kamu?” tebak Ceya membahas video singkat Tala dengan seorang lelaki berambut gondrong yang senyumnya mirip Tala.


“Iya, kenapa? Ganteng ya?” cecar Tala membuat pipi Ceya merona.


“Halah, dia masih anak kicil. Baru lulus SMA, Ceya. Nggak aku kasih dia buat pacaran.” Tala kemudian merangkul bahu Ceya. Langkah mereka semakin dekat menuju rumah Ara.


“Loh, kok masih gelap. Ce?” Tala menghentikan langkah saat mendapati rumah Ara gelap gulita sedangkan rumah yang lain lampunya menyala.


“Teh Ara lupa nyalain lampu, atau ....”


“Ah lama, buruan nyalain senter di hape kamu.” Tala berjalan lebih dahulu.


Dengan penerangan lewat senter pada ponsel, kedua gadis itu masuk dengan langkah hati-hati.


“Ara, kamu di mana?” teriak Tala.


“Teh Ara, Teteh di mana?” teriakan Ceya lebih keras.


Saat harapan itu Ara bentuk dalam do’a tanpa henti. Jawaban datang. Teriakan dua orang yang memanggil namanya saling bersahutan bagai pelangi yang indah setelah hujan.


“Teh Ara, Teh!” Suara Ceya kembali berteriak


“Ra, Ara. Kamu di mana?” disusul suara Tala menimpali.


Ara tersenyum, ia berdiri perlahan mendekati pintu dan menggedornya.


“Ceya, aku di kamar mandi!” pekik Ara bahagia.


"Tala aku di sini!” Ara terus menggedor pintu kamar mandi.


"Ra, kamu kenapa? kekunci apa gimana?" Tala jadi ikut menggedor pintu.


"Tala, panggilin pak satpam buat dobrak pintu," ucap Ara suaranya melemah. Ia rasanya lelah walau hanya untuk bicara. Seingatnya, kamar mandi ini hanya memiliki dua kunci yang tergantung di pintu. Artinya, bila wanita tadi mengambil semuanya, sudah tak ada lagi kunci tersisa.


"Ini listriknya mati semua, Ra!" beri tahu Tala.


"Nyalain sakelarnya ada di luar. Aku udah nggak kuat, Tal. Pengap, gelap," ungkap Ara suaranya maki terdengar tak jelas.


"Ayok! ayok! Ce, kamu panggil satpam aku nyalain sakelarnya."


Tala berlarian ke luar rumah. Ia tadi sudah sempat melihat sakelar terdapat di dekat jendela . Tala menarik kursi santai agar dapat sampai menyalakan saklar. Perlahan ia naik ke atas kursi, dan menggulirkan saklar.


Terlihat lampu ruang tamu langsung menyala. Bersamaan dengan itu, Ceya datang dengan dua orang pria. Yang satu adalah satpam yang bertugas di pos, satu lainnya entah siapa?


"Cepetan, dobrakin pintu kamar mandi!" teriak Tala saat kedua pria itu malah terpaku bukannya masuk ke dalam rumah.


"Ayo, Pak. Cepetan!" teriakan kali ini Ceya yang lontarkan, membuat kedua pria itu segera belari ke dalam mengikuti Ceya dan Tala.


"Teh, awas jangan di deket pintu. Ini mau didobrak sama Pak Satpam!"


Suara Ceya membuat Ara yang sudah lemah duduk bersandar pada pintu segera beranjak. Ia bergerak dengan cara merangkak menuju kembali pada kloset.


"Satu, dua, ti ...." Satpam memberi kode pada kawannya.


Sekali dobrakan tak berhasil.


"Iih yang kuat. Laki masa gitu?" ledek Tala tangannya gemas ingin mencengkeram Pak Satpam yang terlihat gemulai.


"Yang bener, Pak!" sentak Ceya.

__ADS_1


Sementara di kamar mandi, Ara segera kembali memakai kaos kaki yang ia taruh di saku gamisnya. Meski dengan gerakan perlahan, Ara berhasil memakai kedua kaus kakinya. Wanita itu juga kembali memakai inner dan merapikan hijabnya.


Sementara Pak Satpam belum berhasil mendobrak pintu kamar mandi itu. Tala sampai berinisiatif mencari minuman dalam lemari pendingin. Dua buah botol minuman isotonik ia ambil dari sana dan segera menyuruh kedua pria itu untuk meminumnya


"Kalau masih gagal, besok daftar jadi penari balet aja, Pak," sindir Tala membuat Ceya jadi tertawa.


"Keluarin kekuatannya, jangan lempar gaple aja Bapak jagonya!" dari mana Tala tahu Pak Satpam ini senang main gaple?


Perkataan Tala membuat kedua pria itu saling berpandangan, merasa habis ditelanjangi oleh perkataan Tala. Mereka kembali menghitung dan braaaak!


Akhirnya pintu terbuka, Ara sudah terlihat lemah sekali.


"Ara!" pekik Tala segera mendekat ke arah Ara.


"Ce, ayok! bantuin bawa Ara ke luar!" teriak Tala saat melihat Ceya malah bengong.


"Bapak pulang sana, sekarang makasih aja dulu. Nanti kalau Mas Aro udah pulang urusannya dikelarin!" maksud Talau mungkin soal upah.


"Sana pulang, nggak baik bertamu ke rumah istri orang tanpa ada suaminya!" sentak Tala lagi ketika kedua pria itu tak bergerak.


Siapa yang bertamu? Bukankah mereka berdua diundang?


"Pak, makasih ya," ucap Ara dengan suara lemah seraya tersenyum kecil membuat Kedua pria itu mengangguk kemudian pergi.


Tala membawa Ara ke ruang tamu. Ia membantu Ara agar berbaring pada sofa panjang.


"Ce, ambil tisu dong!" teriak Tala seraya membuka kaus kaki Ara, kemudian menarik jarum pentul yang tersemat pada hijab wanita itu.


"Gerah tapi dingin ya, Ra?" tebak Tala seraya mengelap dahi Ara yang berkeringat dengan tisu.


"Aku tadi berusaha tenang aja, Tal." Ara terbatuk, napasnya naik turun karena belum stabil.


"Ce telepon Mas Aro!" pinta Tala.


"Jangan, Ce" cegah Ara.


"Telepon, Ce!" sanggah Tala.


"Nanti dia khawatir," keluh Ara.


"Nanti Mas Aro marah kalau gak dikasih tahu." Tala yang sudah akrab dengan keluarga Bumi, tentu hafal karakter Aro. Bagaimana pria itu sangat menjaga dan menyayangi Ara.


Ceya memilih menelepon Aro di teras rumah, gadis itu berusaha tenang saat menyampaikan kondisi Ara.


"Iyalah Mas Ar tuh beda sama Abang Za yang datar macam papan triplek. Nggak pernah disentuh kali tuh orang satu," sungut Tala seraya mengusap telapak kaki Ara yang dingin. "Ambilin minyak telon, Ce. Di mana Ra minyak telonnya?"


"Di kamar, di meja rias." Masih dengan suara lemah Ara menyahuti pertanyaan Tala.


"Tala, berani ngomongin Abang Za di belakang doang. Di depan mana berani," komentar Ara dengan nada lemah.


"Udah, jangan ngomong dulu!" sela Tala kemudian menerima minyak telon yang diberikan oleh Ceya.


"Ganti baju ya, Ra?" usul Tala.


"Iya ganti, Teh. Aku ambilin ya?" tawar Ceya.


"Ambil di lemari paling bawah, daster yang bahannya adem," pinta Ara membuat Ceya kembali ke kamar Ara.


"Pake lingerie, Ra. 'Kan suami otw pulang, hehehe." Tala menggoda Ara, berharap wanita itu segera melupakan kejadian barusan agar kondisinya cepat membaik.


"Bukan waktu yang tepat, Tal." Ara menggeleng.


Tala jadi tak enak hati, Ara malah terlihat sedih. Ia seharusnya tak banyak bicara dulu.


Ceya kembali membawa baju daster berwarna putih. Saat Tala menerima baju itu, wanita itu langsung tersenyum. "Ini pasti oleh-oleh dari Bang Rud. Dari Bali 'kan, Ra?"


Ara mengangguk tersenyum, ia mendapatkan daster itu dari Rud. Sekitar tiga bulan yang lalu saat pria itu dan Ayesha serta Laut menghadiri pernikahan sepupu Ayesha.


"Aku juga punya," gumam Tala. Ara tak menanggapi, ia masih sangat lemas.


Dibantu Tala, Ara melepas gamisnya. Dia merasa lebih baik setelah berganti pakaian. Wanita itu meminta Ceya mengambilkan selimut serta hijab instan. Tanpa menolak Ceya langsung kembali ke kamar dan mengambilkan apa yang Ara inginkan.


"Bunda mau ke sini katanya, Ra," beri tahu Ceya setelah membaca pesan dari Bumi tapi menggunakan nomor Akhza.


Meski Akhza menyebalkan, sebagai rekan kerja Tala tetap menyimpan kontak pria itu.


Ara hanya menanggapi dengan senyuman. Ia kini jauh merasa lebih baik. Hangat dan lega. Ia pikir akan terjadi hal yang buruk pada dirinya, tapi ternyata Allah Maha baik. Ara dengan cepat bisa menormalkan kembali dirinya. Detak jantung mulai memompa dengan stabil. Dadanya mulai terasa longgar. Terlebih aroma minyak telon membuatnya lebih rileks.


Setelah meminum air hangat, Ara berusaha untuk beranjak. Ia ingat belum salat Isya. Bahkan Asar dan Magribnya terlewat.


"Udah kuat, Ra?" tanya Tala khawatir.


"Istirahat aja dulu, Teh," saran Ceya demi melihat wajah Ara yang masih pucat.

__ADS_1


"Kamu pasang infus aja ya, Ra?" tawar Tala.


"Iya, periksa juga tekanan darahnya Tal. Aku ambilin ya alat-alatnya di klinik?" Ceya menawarkan diri.


"Tunggu bunda aja, aku takut sendirian," aku Ara membuat Tala mengangguk.


"Aku pengen pindah ke kamar," pinta Ara. Kemudian Tala dan Ceya memboyong Ara pindah ruangan.


Di kamarnya, Ara merasa nyaman. Tidur di atas kasur yang empuk dengan aroma lavender pada seprai dan sarung bantalnya.


Tak lama, suara ribut-ribut dari luar tertangkap oleh indra pendengaran Ara, Ceya, dan Tala.


"Bunda deh kayaknya?" tebak Tala seraya beranjak dari duduknya kemudian berjalan ke luar kamar.


"Gimana Ara?" tanya Bumi yang berjalan beriringan bersama Sita dengan wajah sama-sama cemas.


"Udah lebih baik, Bunda," beri tahu Tala.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Sita penasaran.


"Aku belum tanya ke Ara, dia masih lemah," sahut Tala membuat Bumi dan Sita segera masuk ke dalam kamar.


Kedua wanita paruh baya itu langsung berhamburan memeluk Ara bergantian.


"Sayang, ada yang sakit, Nak?" Wajah Bumi cemas dengan mata yang menahan tangis.


"Apa yang dirasa, Sayang?" Sita mengusap pipi Ara layaknya memperlakukan seorang bayi.


"Pusing, lemes, rasanya badan bergoyang, sama ...." Ara memupuk air matanya.


"Sama apa?" desak Sita.


"Kangen ke Mas Ar," rengek Ara membuat Sita dan Bumi saling berpandangan kemudian menggeleng bersamaan.


Setelah Ara ditemani bunda dan mami, Tala dan Ceya segera ke klinik mengambil alat untuk memeriksa keadaan Ara. Di teras rumah, kedua gadis itu berpapasan dengan Akhza yang memasang wajah datar.


Tala pikir, setelah kejadian kemarin Akhza akan berubah. Tersenyum saat bertemu misalnya? Tapi, pria itu tetap datar seperti papan triplek menurut Tala.


Tala berusaha mengacuhkan pria itu, namun dalam hati terus mengumpat Akhza.


Dasar triplek kusut!


Tanpa saling mengobrol, Ceya dan Tala lekas membawa alat-alat yang dibutuhkan untuk menginfus Ara. Stetoskop dan tensimeter digital tak lupa mereka bawa.


Mereka segera kembali setelah alat yang dibutuhkan lengkap. Saat akan diperiksa oleh Akhza, Ara menolak. Ia lebih memilih Tala yang melakukannya.


Ada hati yang harus dijaga, meski dia sebatas kakak. Mungkin seperti itu batin Ara.


Setelah dipasang infus dan diketahui tekanan darah Ara ternyata tidak terlalu rendah, barulah Bumi dan Sita dapat bernapas lega.


"Detak jantungnya juga bagus, kok. Ara emang pintar nih menguasai diri. Menyembuhkan diri sendiri," puji Tala seraya merapikan kembali stetoskop dan tensimeter.


"Kalian istirahat gih di kamar atas, aku ada bunda sama mami kok." Ara memandang Tala dan Ceya bergantian.


Ceya dan Tala tentu mengangguk. Kedua gadis itu memang sungguh sudah sangat lelah.


Ara masih enggan bercerita tentang apa yang terjadi. Bumi juga menahan untuk tak bertanya meski sudah sangat penasaran.


Pukul 23.20 Aro baru datang. Dengan wajah cemas memasuki kamar. Ara saat itu sudah tidur. Sedangkan Bumi, Sita dan Akhza masih terjaga. Akhza duduk di kursi yang terdapat di pojok kamar sedangkan Sita dan Bumi duduk di tepian kasur. Dari tadi Sita tak henti mengusap telapak kaki Ara.


"Mending mandi dulu, Mas. Biar seger." Bumi mencegah Aro saat pria itu hendak memeluk istrinya.


Aro menurut, meski dengan perasaan kalut ia melakukan dengan cepat kegiatan mandinya. Setelah berganti pakaian menggunakan celana selutut dan kaus putih gombrong favoritnya barulah ia mendekati Ara.


"Siapa yang pasang infus Ara?" Aro memandang sinis pada Akhza.


"Talaaaa, bukan gue!" teriak Akhza memutar bola mata, kesal.


"Dia udah cerita apa yang terjadi?" tanya Aro pada Bumi, tak selera menanggapi Akhza yang memilih keluar dari kamar.


"Belum, mungkin sama kamu dia baru mau cerita." Bumi menoleh pada Sita. Lewat gerakan mata mengajak Sita untuk ke luar.


Aro segera merebahkan diri di samping Ara. Ia pandangi wajah istrinya yang terlelap tenang.


"Sayang, maaf ...." Aro menghujani wajah cantik itu dengan ciuman. Betapa tadi pikirannya sangat kacau saat perjalanan pulang. Kini sedikit lega saat melihat istrinya tidur tenang.


.


.


.


Bab selanjutnya otw juga 🤗

__ADS_1


__ADS_2