Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Promo Novel Attar-Orin-Bintang


__ADS_3

Assalamu'alaikum, aku mau promoin novelnya Attar, nih. Tapi tayangnya di F I Z Z O. Ini sedikit ikhtisar dan bab 1 nya.



"Senja itu indah, meski sesaat, tapi tetap membuat terpukau." Orin menerawang, menatap langit bermandikan cahaya jingga sore ini.


"Duha lebih indah, di sana kamu bisa meminta pertolongan pada Allah atas kesulitan yang kamu alami." Attar menyandarkan punggung pada pagar besi yang menjadi penghalang jembatan penyeberangan orang itu.


"Duha? Maksud Pak Attar Salat Duha? Gimana tata caranya?" tanya Orin penasaran.


"Mau tahu caranya?"


"Mau."


"Ada syaratnya."


"Apa?" Orin antusias menunggu jawaban Attar.


***


As-Syam Mahija Attar (27 tahun) seorang pengusaha yang sudah tujuh tahun menduda dan memiliki putra bernama Bintang (6,5 tahun) membeku hatinya setelah lamarannya ditolak oleh Gaza, wanita yang satu tahun terkahir kembali dekat dengannya setelah dulu mereka sempat satu universitas saat kuliah. Memiliki masa muda yang cukup seru, Attar biasa berganti pacar dengan alasan kasihan bila menolak wanita yang mendekatinya. Sempat serius dengan satu wanita, Attar malah ditinggal menikah. Ia kemudian terjebak pernikahan dengan seorang wanita korban ruda paksa hingga akhirnya lahirlah Bintang, anak lelaki yang menganggap Attar adalah ayah kandungnya.


Hingga suatu hari, Bintang merengek meminta mama pada Attar. Attar pun akhirnya memutuskan menjalin hubungan serius dengan Gaza, sayangnya, Gaza malah menolak lamaran Attar sebab hendak meneruskan kuliah kedokteran ke luar negeri. Dalam situasi seperti itu, sosok Orin hadir dalam hidup Attar. Wanita berambut panjang dengan raut wajah ayu yang tak jemu dipandang. Orin, meski terlihat ceria ia menyimpan kisah hidup yang pelik. Suatu hari, ia dibawa oleh ibu kandungnya yang seorang PSK ke sebuah tempat yang tengah mengadakan pelelangan keperawanan. Orin dijadikan barang dagangan oleh ibunya sendiri. Namun, Sang Khalik sungguh baik pada Orin. Attar datang ke acara tersebut, dan turut ikut menjadi pelelang.


"Satu Milyar, serahkan gadis itu pada saya!"


Apakah keputusan Attar melelang Orin akan membuat hidup Orin membaik? Atau Orin hanya akan menjadi bayang-bayang dari banyaknya wanita yang pernah singgah dalam hidup Attar?


***


Bab 1


"Assalamu'alaikum, permisi, Bapak. Anda saya tangkap sebab telah melakukan kejahatan." Orin, gadis ayu berambut panjang, menyentuh pelan bahu seorang pria berkaus oblong yang utihnya sudah berubah menguning.

__ADS_1


Perlahan, pria bernama Darya yang lahir dan besar di Surabaya, tetapi tumbuh dewasa di kota metropolitan itu menengok ke arah Orin. Bibir penuh pria itu langsung melengkung ke atas, lebih tepatnya menyeringai takut, sebab aksinya sudah diketahui Orin, sang buah hati tercinta.


"Bapak, buang rokoknya," kata Orin lagi sambil melirik ke arah rokok yang baru dihisap setengahnya oleh Darya.


Orin kemudian duduk di samping Darya pada kursi kayu panjang. Mereka tengah berada di sebuah warung kopi tak jauh dari kediaman Darya.


"Assalamu'alaikum, Mpok Jannah." Orin memanggil si pemilik warung dengan suara lantang. Tak lama seorang wanita bertubuh gempal dengan hijab bergo yang populer di tahun 2000-an keluar dari dalam warung.


"Kumsalam, Gadis Senja. Kemane aje lu?" tanya Jannah, ramah. Tangannya sibuk memasukkan rambut yang menyembul di bagian depan bergonya.


"Gadis Senja, Gadis Senja. Anak saya namanya Orin. Adonia Nazma Orin!" Darya menyentak Jannah sambil berdiri. Perut buncitnya ikut bergerak saat barusan bicara.


"Alah, apan si Orin demen waktu senja. Makanya aye sebut Gadis Senja. Anak jaman now, kan, gitu bilangnya, Maszeh Darya yang guantenge pool, tapi sayang kere." Jannah nyerocos membuat Orin tertawa-tawa kecil. Orin sudah hapal, bahwa Jannah selalu bicara ceplas-ceplos. Itu masih mending, Jannah tidak mencubit dagu Darya. Biasanya, wanita itu selalu menggoda Darya.


"Mpok Jannah, nih, enggak bestie, ah, sama Orin. Kenapa bapack-bapack ini Mpok kasih kupi item?" Orin menunjuk dengan dagu pada cangkir berisi kopi hitam yang ampasnya masih mengambang.


"Lah, bikin sendiri ini si maszeh kupinya. Noh, sengaja banget dia pilih yang paling murah." Janah menunjuk pada kopi kemasan dengan bungkus kuning keemasan. "Udah gue bilang nyeduh denkow aja, lu, Maszeh. Nackal, ya!" Jannah mencubit kecil dagu Darya. Pria itu lekas menghindar, merasa risi dengan tingkah janda anak dua tersebut.


"Bapak, kenapa boong, sih, sama Orin?" protes Orin, memasang wajah kesal.


"Enggak boong, Orin Sayang, Cantiknya Bapak. Lagian kupi sama rokoknya belum Bapak sentuh, tuh, Orin liat sendiri." Darya menunjuk cangkir kopinya.


"Tapi rokoknya udah Bapak isep setengah, kan?" sambar Orin, kesal.


"Kalau mau debat cagub dan cawagub mending pada pulang, deh. Duh, gue pusing dengernya." Jannah melerai perdebatan Orin dan Darya, membuat Bapak dan anak itu akhirnya pamit.


Rumah Darya berada di sebuah gang sempit pinggiran kota Jakarta. Sudah enam bulan ini ia hidup sendiri setelah Orin tinggal di tempat kerjanya.


"Kamu apa kabar, Rin?" tanya Darya yang lengannya tengah digandeng Orin. Mereka melangkah pelan menuju rumah.


"Baik, Pak. Cuma lagi galau aja," sahut Orin lemas.


"Galau kenapa? Abis putus sama pacar?" Darya melirik putrinya yang menurutnya cantik jelita bak bidadari jatuh dari khayangan. Meski Darya tak tahu rupa jelas bidadari itu seperti apa.

__ADS_1


Orin menggeleng, bersamaan dengan mereka tiba di depan sebuah rumah kecil nan sederhana. Darya tak pernah mengunci rumah bila bepergian, lagi pula tak ada barang berharga di sana.


"Terus kenapa galau? Abis ditolak cowok?" tanya Darya lagi saat dirinya dan Orin masuk. Orin langsung menyingkap gorden merah dengan motif angsa yang mungkin mewah pada masanya.


"Kata orang-orang, kalau mau sukses, jangan libatin cowok dalam proses pendewasaan, dan Orin setuju itu. Jadi, tebakan Bapak dua-duanya salah. Orin bukan galau karena cowok." Orin mengambil sarung kumal yang ada di sudut ruangan.


"Maaf, belum sempat Bapak taruh ke keranjang baju kotor," ucap Darya cepat. Soal beres-beres rumah, Orin memang yang mengambil alih tugas itu. Ia akan pulang sepekan sekali untuk mencuci pakaian Darya dan memasak tempe orek kesukaan pria dengan bentuk hidung menyerupai jambu *** itu.


"Terus apa yang membuatmu galau? Ulah mama lagi?" tebak Darya. Dalam hati, pria itu berharap Orin menyangkal ucapannya.


"Iya, mama minta aku buat jad__"


"Ah, lapar. Rin, Bapak lapar. Bisa masak sekarang aja, enggak?" Bagi Darya, mendengar kenyataan mantan istrinya yang kini jadi seorang wanita penghibur, dan mengajak Orin melakukan hal sama, selalu menorehkan kesakitan tersendiri untuk hatinya.


"Bapak tenang aja, Orin enggak akan mau ikutin jejak mama, meski Orin pernah hidup dari uang hasil keringat haram mama."


"Rin, dia mamamu. Enggak pantas kamu bicara buruk seperti itu. Bapak enggak pernah ajarin kamu untuk membenci mama. Kalau ada yang harus disalahkan, salahkan saja Bapak. Bapak si dungu ini, cuma mampu kerja sebagai tukang becak, dan Ba__"


"Bapak!" Orin memangkas ucapan Darya dengan memeluk tubuh pria itu. "Bapak hebat, siapa bilang Bapak salah?"


"Kamu jangan kurang ajar sama mamamu, ya," ucap Darya sambil mengusap kepala Orin yang rambutnya hitam legam nan panjang. "Kamu masih pake sampo yang seribu dapet empat, Rin?"


Kesedihan Orin buyar dengan celotehan Darya tentang sampo. Orin melerai pelukan pada tubuh gempal sang ayah, kemudian meninju perut gendut pria itu. "Dasar perusak suasana, orang lagi sedih juga."


Darya terkekeh. "Anakku, selama wifi tetangga sebelah sandinya bisa dibobol, selama es cekek harganya masih serebuan, tak patut kita bersedih hati. Dua tiga ikan berenang, buatlah hati kita senang!"


Darya berjalan menuju kamarnya sambil bertepuk tangan. Sebelum masuk ke mulut pintu, Darya bilang pada Orin jangan lupa salat ashar terlebih dahulu sebelum masak dan mencuci bajunya.


Orin sendiri lekas mengindahkan titah Darya, ia salat di ruang tamu. Kemudian memasak tempe orek kering yang bisa tahan hingga seminggu, tetapi biasanya tiga hari saja sudah habis dimakan Darya. Setelah masak, Orin mencuci pakaian kotor Darya, lalu ia pergi ke loteng rumah untuk menjemurnya.


Kata orang, rumah Darya mirip kandang burung, bentuknya tak jelas dengan hanya satu pintu tanpa jendela. Darya sengaja membuat loteng untuk menjemur pakaian. Masih kata orang juga, pantas, Seruni meninggalkan Darya, habisnya Darya itu modal tampang saja. Akan tetapi, tak mampu mencari pekerjaan yang bagus.


Selesai menjemur, Orin tak lekas turun dari loteng. Ia antusias menatap langit yang tengah bermandikan cahaya jingga keemasan. Bibir Orin merekah manakala melihat matahari perlahan tenggelam, jingga mulai hilang, dan hitam datang.

__ADS_1


"Memang cuma senja yang tahu caranya berpamitan dengan indah," gumam Orin.


"Rin, buruan turun, solaaat magrib!" Suara Darya membuyarkan lamunan Orin.


__ADS_2