Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Tentang Cinta


__ADS_3

Aro mengajak Ara keluar. Ia sungguh dilanda gundah sebab Fadan dan ibunya tidak memberi kepastian.


"Gimana dong, Ra?" tanyanya putus asa, seraya meletakan kepalanya di pundak Ara.


Ara menyingkirkan kepala Aro dari pundaknya dengan gerakan kasar, "Nggak usah nyari-nyari kesempatan!" tegas Ara menipiskan bibirnya.


"Itu muka bener-bener minta diunyel," gumam Aro seraya mengusap wajahnya sendiri. Menghilangkan pikiran kotor dalam otaknya yang selalu bereaksi berlebihan bila berdekatan dengan Ara. Diajak nikah susah banget syaratnya.


"Kamu ngomongin aku ya dalam hati?" tuding Ara memukul bahu Aro, membuat pria itu berdiri dari duduknya, dan kembali mengusap wajahnya.


"Padahal kamu nggak pake baju seksi loh, Ra," ujarnya lirih seraya memukulkan tinju ke udara.


"Mesum!" umpat Ara, "aku harusnya pulang aja nggak usah nemenin kamu!" sesalnya. Merutuki kebodohan sekaligus kesalahannya.


Asstagfirullah ... aku kenapa nggak bisa ngendaliin diri gini. Ini tuh dosa, Ra!


"Udah jangan ngomel!" seru Aro, lalu kembali duduk dan Ara reflek menggeser tubuhnya, "Bantu bujuk Fadan sama ibunya," lanjutnya memohon.


"Kamu kenapa ngotot banget pengen bawa Fadan ke Jakarta?" selidik Ara.


"Biar rezekiku ada gunanya, Ra."


"Aku mau rezekiku bisa digunakan dalam hal kebaikan, dan Fadan adalah orang yang tepat," sambungnya cepat.


"Kenapa nggak di sini aja?" tanya Ara membuat Aro mengerutkan kening tak mengerti.


"Fadan sekolah di sini, Mas bisa kirim biayanya," usul Ara seraya menaikan sebelah alisnya, "nggak ada orang tua yang mau pisah dengan anaknya" imbuhnya.


"Sama aja boong, aku mau dia nempatin rumahku," sahut Aro, dia lagi-lagi menyandarkan kepalanya di pundak Ara. "Aku lagi butuh tempat bersandar, Ra," lanjutnya lirih.


Ara kembali menyingkirkan kepala Aro dari pundaknya."Dia tinggal di rumah Mas juga sama aja boong. Tiap hari rumah itu kosong, nanti Fadan malah kesepian," jelas Ara.


"Kalau masih di sini, aku khawatir dia tetap jualan."


"Nggak apa-apa, kan yang penting sekolah."


"Aku mau dia merasakan kehidupan selayaknya anak seusianya," jelas Aro membuat Ara terpesona. Bukan dengan tampangnya, melainkan sisi lain dari hatinya.


Tapi, tunggu. Mulut itu, tidak bisa dipercaya. Dia juga sebentar lagi pasti membuat Ara kesal.


"Mas, kamu sebenernya mengidap penyakit bipolar?" tuding Ara, "kadang aku merasa kamu itu baik, tapi kalau udah datang nyebelinnya ... kamu bikin aku pengen ceburin aja ke empangnya yangkung Yudis," lanjut Ara berdiri lalu melangkah meninggalkan Aro.


Baru akan masuk ke dalam, Ara tertegun di bibir pintu. Kaget melihat penampilan Fadan.


Anak itu memakai celana hitam panjang dengan kaos panjang berwarna merah. Di pundaknya fersampir tas ransel lusuh. Entah apa isinya?


Aro ikut berdiri di samping Ara. Sama halnya ia rertegun, sampai menutup mulut.


"Saya izinkan Fadan berangkat ke kota," ucap Yati degan suara bergetar. "Fadan bersedia ikut, asalkan ...."

__ADS_1


"Apapu syaratnya, saya bisa berikan."


"Insya Allah, Mas," ralat Ara cepat seraya mendekat ke arah Yati dan merangkul bahunya yang ringkih.


"Ibu sudah yakin?" tanya Ara tersenyum hangat.


"Asalkan Fadan jangan sampai meninggalkan salat dan mengaji," ujarnya menatap Ara kemudian beralih memandang Aro.


"Mas Ar itu pintar mengaji, neneknya seorang ustazah," sindir Ara dengan lirikan jahil. "Iya kan, Mas?" lanjut Ara membuat Aro merasa sedang dikuliti.


Salat dan mengaji dua hal yang sudah lama asing dengannya. Kalau salat, ok. Meski di akhir waktu dan hanya waktu-waktu tertentu. Sedangkan mengaji? dia lupa kapan terakhir membuka Al-qur'an.


Fadan berpamitan pada ibunya, melepas segala rindu yang sudah menyapa meski belum terpisah.


Ara dan Aro ikut berpamitan, tak lupa Ara kembali mengingatkan Yati tentang trik membuat cilok yang lezat. Setelah menunggu beberapa saat, datanglah Omar menjemput mereka.


Yati mengikhlaskan kepergian Fadan. Ia sadar, dirinya pun tak bisa mencukupi segala kebutuhan Fadan. Melihat raut wajah sedih Yati, Aro berjanji akan sering mengajak Fadan berkunjung.


Aro memutuskan untuk kembali malam itu juga. Setelah berpamitan pada uti, tepat pukul 23.00 mereka meninggalkan rumah uti.


"Besok jangan telat, Ar!" Omar mengingatkan.


"Nggak ada alasan lo capek dan ngantuk," lanjutnya seraya masih fokus pada jalanan.


"Hmm, gue ngerti!"


Ara yang duduk dengan Fadan di kursi belakang, penasaran apa yang akan Aro lakukan besok pagi? Tapi, gadis itu tak berani bertanya. Hingga akhirnya Aro terperanjat, ia dengan gerakan cepat merangkak pindah ke kursi belakang. Memaksa duduk di samping Ara.


"Mas, aku sesak ini!" protes Ara, mendorong bahu Aro agar menjauh.


"Ssst ...." Aro meletakan telunjuk di bibirnga, seraya melirik ke arah Fadan yang sedang tertidur.


"Anak kita lagi bobok, Mommy jangan berisik."


Pukulan sangat keras mendarat di kepala Aro, sumpah sakit.


"Sakit, Mom ...," rengek Aro dengan seringai jahil.


"Kak Omar, kalau ada kali atau sungai yang airnya deras kita mampir dulu, Kak!" teriak Ara pada Omar.


"Mau ngapain? buang air besar?" sahut Omar,


"Buat ngehanyutin artis kamu ini!" seru Ara yang malah mendapat usapan di kepala dari Aro.


"Yakin mau aku hanyut?" tanyanya menatap penuh kehangatan.


Ara memukul lengannya, dan menyuruhnya kembali pindah ke depan atau dirinya yang pindah. Namun, Aro tetap tak bergerak. Dia malah tertawa dengan terus menatap Ara.


"Mas, aku nggak nyaman," keluh Ara, sudah kehabisan akal untuk mengusir Aro.

__ADS_1


"Dengar, besok pagi aku mau ke Bandung. Jadwal promosi dimajuin. Bawa Fadan ke rumah kamu. Aku percayakan urusan sekolah dia ke kamu. Kamu nggak setuju kan kalau Fadan tinggal di rumah aku?"


Ara mengangguk, kemudian menggeleng. Ia silangkan kedua tangannya di dada. Menghindari bersentuhan dengan Aro yang malah terus menghimpitnya.


"Anak pintar," ujarnya dengan mengusap pucuk kepala Ara. "Aku janji setelah film terakhir selesai. Kita nikah, Ra," lanjutnya dengan penuh keseriusan, kemudian kembali pindah ke kursi depan. Sempat kembali menoleh ke belakang dan mengedipkan sebelah mata pada Ara.


Kedua sudut bibir Ara sampai terangkat menerima perlakuan Aro. Ia benci tapi suka.


***


Setelah mengantar Ara hingga ke depan pintu kamarnya, baru Aro kembali pulang. Ia sempat bilang akan langsung pulang ke rumahnya. Pria itu juga berpesan agar memberitahukan pada ayah dan bunda tentang kepulangannya, namun harus kembali ke Bandung besok pagi karena urusan pekerjaan.


Ada rasa sedih saat Ara melihat punggung Aro menghilang masuk ke dalam mobil. Membayangkan Aro berdekatan dengan gadis lain selalu membuatnya sesak. Itulah sebabnya selama ini ia tak berniat sedikitpun menggunakan sosmed dan menonton televisi.


Ia menghindari hal-hal yang dapat membuat hatinya cemburu tak jelas. Meskipun, tetap saja berita-berita buruk itu selalu tertangkap indera pendengaran dan indera penglihatnnya.


Ara mengantar Fadan masuk ke dalam kamarnya setelah memastikan mobil Aro hilang di pelataran rumahnga. Seaneh itu cinta, tadi Aro yang mengantarnya hingga depan kamar. Sekarang dirinya yang mengantar kepergian Aro hingga masuk mobil. Meski Aro tak melihatnya.


Ara belum membangunkan maminya yang tidak mengetahui kedatangnnya. Berkat kunci cadangan, Ara dapat membuka pintu rumah.


"Ini kamar Mbak?" tanya Atar, canggung.


"Iya, mulai sekarang jadi kamar kamu," sahut Ara seraya membersihkan kasur dengan sapu lidi.


"Dan, panggilnya Teteh aja. Aku nggak biasa dipanggil Mbak," ralat Ara, menpuk kedua telapak tangannya, "beres, kamu bisa langsung tidur," lanjutnya seraya membantu Fadan melepas ranselnya.


"Teh Ara tidur di mana?" Fadan enggan menempati kasur yang sangat terlihat nyaman itu.


"Teteh nanti tidur sama mami, kamu tenang aja."


"Makasih, Teh."


"Sama-sama, sekarang istirahat. Besok kita harus daftar sekolah. Beli baju seragam. beli alat tulis, pokoknya besok jadwal kita padat," jelas Ara mengabsen satu persatu kegiatan yang akan mereka lakukan.


Fadan menurut, ia akhirnya merebahkan tubuh ke atas kasur. Nyaman dan hangat, itu yang pertama ia rasakan.


Kasur yang empuk dan baru pertama kali ia mencobanya. Membuat Fadan malam itu tidur dengan seulas senyum di bibir.


Ara mengetuk pintu kamar maminya. Beberapa kali, barulah maminya itu segera membuka pintu.


"Sayang, kamu kenapa malam begini sampenya?" cecar Vanya seraya membiarkan Ara mencium punggung tangannya.


"Ada yang mau aku ceritakan ke Mami," ujarnya seraya masuk ke dalam kamar.


Tanpa melepas hijabnya, Ara berbaring di atas kasur maminya.


"Mau cerita apa?" tanya Vanya ikut berbaring miring, menyangga kepala dengan sebelah tangan. Tangan lainnya ia gunakan untuk mengusap pipi Ara


Ara mulai menceritakan tentang Fadan. Anak itu akan tinggal bersama mereka hingga waktu yang tak bisa ditentukan. Vanya tidak keberatan, justru merasa aka ada teman nantinya. Ia tak sabar bertemu Fadan, namun Ara bilang Fadan sudah istirahat.

__ADS_1


Akhirnya, Vanya kembali berbaring dan mulai memejamkan mata. Ara melakukan hal sama, namun saat ia akan terlelap merajut mimpi. Getaran ponsel dalam saku gamisnya membuat ia duduk dan meraih benda pipih itu.


[Selamat tidur calon istri. Istirahatlah setelah hari panjang yang kita lalui. Terima kasih sudah jadi partner terbaik hari ini. Terima kasih sudah memenangkan hati ini.]


__ADS_2