Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Hari Hika


__ADS_3

Hari-hari menjalani waktu sebagai orang tua membuat Ara dan Aro terkadang masuk ke dalam percekcokan kecil. Di mana sang suami yang terlalu santai namun protective sedangkan sang istri yang perfeksionis. Jika bayinya sedang tidur, Ara tak mau ada sentuhan atau apa pun yang mengganggu bayinya. Sedangkan suaminya itu, dengan cueknya akan melakukan apa saja untuk memancing putrinya terbangun.


Ikut berbaring di samping Hika -nama paten dari sang istri- tapi dengan tangan tak mau diam. Menusuk pipi Hika yang bulat memerah. Atau menyusuri dengan telunjuk wajah Hika mulai dari alis, hidung dan membuat putrinya itu menggeliat. Hingga membuka sempurna matanya yang bulat.


Seperti hari itu, saat sang istri sedang memasukan pakaian ke dalam tas besar -besok pagi mereka akan pulang-, pria itu asyik menciumi Hika yang sedang tertidur. Sesekali Ara menoleh ke arahnya seraya menggeleng gemas.


Aro bukan tak sadar sedang diawasi sang istri, ia hanya belum puas bermain-main dengan Hika yang di usia 40 hari ini tambah menggemaskan saja.


Setelah puas mengganggu Hika, tapi putri kecilnya itu tak bangun. Aro beranjak dari tempat tidur mendekati istrinya.


"Aku aja yang rapihkan, kamu istirahat gih!" Aro mengambil baju Hika di tangan istrinya.


"Berdua biar cepet selesai," sanggah Ara.


"Kamu capek?" tebak Aro.


"Enggak, kerjaanku kan cuma makan, nen in Hika, dan tidur. Mana ada capek?" Ara mencium wangi baju Hika kemudian memasukkannya ke dalam tas berwarna biru dengan gambar Teddy bear.


"Teh Fenti sama Ceya udah urus semua keperluan buat besok 'kan?" Aro kembali menggelar syukuran Hika di rumahnya.


"Udah," sahut Ara masih sibuk memasukkan baju Hika ke dalam tas.


"Bahaya nggak sih cukur rambut Hika pas masih kecil gitu?" Aro menatap putrinya yang masih anteng terlelap.


"Enggak," jawab Ara lalu menepuk-nepuk tas yang sudah dia tutup sebab telah penuh terisi baju-baju Hika.


"Jawabnya yang panjang, dong," protes Aro membuat Ara mendesah kecil.


"Ra, kalau ditindik kapan?" Aro masih memasukan bajunya ke dalam koper.


"Nanti aja tiga bulan." Ara kini berpindah memasukan mainan Hika yang dibelikan oleh ayah.


"Ayah nih, Hika masih bayi dibeliin mainan banyak begini," gumamnya seraya menggeleng.


"Aku sebel sama ayah," adu Aro seraya menutup resleting koper. "Ayah tuh nguasain Hika Mulu," imbuhnya seraya membantu Ara memasukan mainan bebek yang bisa berbunyi jika ditekan.


"Kan sayang, Mas. Sirik aja," cibir Ara membuat Aro menarik pergelangan tangannya.


"Eh, kenapa?" Ara kaget diperlakukan seperti itu.


"Kamu sadar nggak sih kita udah lama enggak ...."


Ara mundur hingga punggungnya terbentur body tempat tidur saat suaminya terus mendekat.


"Hika bikin dunia kita beralih ke dia seluruhnya," ucap Aro terus mendekat. "Sampe kadang sekarang aku sering dikasih punggung doang kalo malem."


Ara menelan salivanya, dia tiba-tiba menyadari kesalahannya. Tapi, tunggu. Itu bukan disengaja. Coba dipikir, kadang kalau tidur kan tidak terasa kita melakukan apa dan bagaimana? Apa lagi ketika selesai kasih nen ke Hika dia sering kembali ketiduran sambil duduk dan hal itu bukan sekali dua kali Aro tangkap basah.


"Aku nggak sengaja ngasih kamu punggung, aku nggak sadar loh." Ara membuang sarang laba-laba yang ada di rambut suaminya.


"Tadi disuruh ayah beresin gudang." Aro menjelaskan mengapa ada kotoran itu di rambutnya.


"Ra, ini ...." Kemudian mengusap bibir Ara dengan punggung telunjuknya, reflek wanita itu memejamkan mata.


Ok, itu jawaban. Yang artinya, iya atau boleh. Aro dengan lembut mendatangi Ara. Memajukan sedikit tubuhnya membuat Ara semakin bersandar pada tempat tidur.


Aro berhasil masuk ke sana, perlahan, sepertinya Ara lupa dengan caranya. Menuntun istrinya untuk kembali rileks menerima setiap rasa yang dia berikan. Melepas sebentar agar Ara bisa bernapas, lalu kemudian mendatanginya lagi. Lebih dalam, lebih jauh hingga tak sadar kedua tangan Ara dengan jemari mungilnya menyelusup pada surai lembut suaminya. Membuat lelaki itu semakin merapatkan tubuhnya dengan sebelah tangan memegangi kepala Ara dan sebelah lagi menyelinap ke balik pinggang istrinya itu.


Aro kembali melepaskan istrinya saat terdengar pergerakan kecil di atas tempat tidur.


"Cuma gerak," bisik Aro. "Ayo napas, dulu!"


Baru saja Ara merasa lega, napasnya kembali terasa dihimpit sebab suaminya datang lagi. Kali ini tak selembut tadi. Aro semakin menuntut, wajahnya terbenam sempurna ke wajah Ara. Hingga ketukan di pintu membuatnya yang sedang merasa seperti di awan, terpaksa menyudahi kegiatan yang telah lama tak dilakukan itu.


"Ra, makan dulu. Udah siang!" teriak bunda dari balik pintu.


"Aku buka pintu dulu," pamit Aro namun masih sempat mengusap bibir istrinya yang terasa panas dan tebal.


"Makan dulu, biar Hika Bunda bawa ke kamar Bunda." Bunda masuk begitu saja ke dalam kamar.

__ADS_1


Perasaannya sedikit pilu melihat tas-tas berisi baju.


"Kalian beneran mau pulang?" tanyanya sedih seraya cepat-cepat meraih tubuh cucunya yang masih terlelap.


"Sayang Enin mau pulang?" Diciuminya wajah Hika yang gembul. Tubuh Hika menggeliat dalam gendongannya.


Ara segera berdiri, mendekati bunda dan memeluk bahunya. "Kan nanti bisa ke sini lagi. Atau Enin yang ke rumah Hika."


"Nanti malem Hika bobo sama Enin, ya. Nennya pake botol. Boleh ya, Bubu?" Bunda memohon pada Ara.


"Boleh Enin, masa enggak boleh." Aro yang menjawab, ia melirik Ara penuh arti dengan senyuman miring yang membuat Ara memutar bola mata.


"Ya udah, ayo makan dulu. Hika sama Bunda dulu."


***


Bagi Bumi, melepas kepulangan anak dan cucunya sangatlah berat. Meski semalam sudah dibuat kelimpungan oleh Hika yang lebih banyak menangis sebab tak sabar ingin nen, padahal ASI masih dalam proses dihangatkan.


"Nanti sering video call, ya, Ra!" pinta bunda.


"Insya Allah, Bunda." Ara yang menggendong Hika mengangguk pelan.


"Jangan nggak diangkat kalau Bunda telepon," pesan bunda.


"Nanti mami sering ke sana," ucap mami.


"Nanti Engki beliin rumah-rumahan, ya ...." Akash tak sabar membelikan rumah mainan yang terbuat dari kayu saat melihatnya di pasar Bogor beberapa waktu lalu.


"Masih kicil, Engki. Maunya rumah beneran aja," canda Aro.


"Oh, pasti. Rumah besar nanti Engki kasih buat Hika."


Setelah seluruh keluarga puas menciumi Hika, Ara dan Aro segera pamit. Tak dipungkiri, keduanya juga merasa sedih harus meninggalkan rumah ayah bunda. Sebulan lebih mereka di sana, apa lagi dengan Ara yang diperlakukan bak ratu oleh bunda dan juga mami. Tak sekali pun menyentuh cucian piring mau pun baju. Bahkan kini, nenek Ara sudah mengirimkan asisten rumah tangga dari Cicurug untuk membantunya di rumah.


"InsyaAllah orangnya cekatan." Begitu ucap Nenek saat beberapa waktu lalu berkunjung menengok Hika bersama Abah Monde.


"Bada Asar acaranya, Ar. Teteh udah siapin semuanya. Tinggal uang buat ditaruh di kelapanya yang belum." Laporan dari Fenti membuat Aro mengangguk puas.


"Kateringnya dari Bunda Fai," terang Fenti. Bunda Fai itu mama dari Ceya.


"Ayah kamu enggak kesinggung?" selidik Fenti.


"Aku juga mau kali Teh ngeluarin duit sendiri buat acara anakku. Kalau pesen dari ayah alamat nggak mau dibayar lagi," jelas Aro.


"Tapi enggak apa-apa?" Fenti merasa tak enak, sebab dirinya yang mengatur keseluruhan acara.


"Enggak, santuy. Nanti sore juga mereka ke sini." Aro pamit ke kamar sebab akan berganti pakaian dan menuju mushola komplek untuk melaksanakan salat.


Lewat pukul 14.00 tamu undangan yang merupakan saudara dekat mulai berdatangan. Mulai dari Zahra sekeluarga. Lengkap dengan anak dan cucunya.


"Sanu hamil lagi, loh!" beri tahu Zahra pada Ara.


"Hika juga nanti nggak lama lagi punya adik," seloroh Aro yang sedang memasukan uang ke dalam amplop.


"Ara masih masa nifas, woy!" timpal Miza.


"Oh iya, Abi enggak bisa datang. Lagi ninjau lokasi buat bikin car wash sama temen Mas Ar katanya." Beri tahu Zahra seraya mengeluarkan sebuah kotak perhiasan dari dalam tas mahalnya.


"Dari Abi buat Hika." Zahra menyodorkan kotak itu pada Ara.


Ara menerimanya dengan tangan gemetaran. Matanya berkaca-kaca, bahagia dikelilingi orang-orang baik.


"Bilang makasih ke abi ya, Uma." Ara membuka kotak itu.


Sepasang anting giwang, gelang imut dengan nama Hika di bagian dalamnya dan kalung dengan liontin ukiran nama Hika.


"Ini bagus banget, Uma." Ara meraih kalung yang terbuat dari emas putih itu.


"Kata abi cincinya menyusul. Masih dipesan," beri tahu Zahra.

__ADS_1


"Ini aja udah cukup," sela Ara.


"Abi juga bilang, nanti setiap Hika bertambah usia perhiasannya boleh ditukar," jelas Zahra semakin membuat Ara merasa terharu.


Ayah dan bunda datang bada Asar. Berbarengan dengan para bapak yang akan melakukan pengajian dan Marhaba sore itu.


Hika memakai baju yang dijahit langsung oleh Alisha. Lengkap dengan hijab yang nampak pas di kepala Hika.


"Tapi, nanti pas Marhaba dan diayun hijabnya harus dibuka. Kan rambutnya biar digunting." Akash mengingatkan.


Seluruh keluarga sudah berkumpul, kecuali Mama Eca sekeluarga yang sedang ke Bandung. Ada acara katanya di sana.


Begitu Marhaba dilantunkan, Aro menggendong Hika untuk mengelilingi para jamaah dan pemuka agama. Di belakangnya ada ayah yang membawa nampan berisi bokor (piring cekung besar terbuat dari tembaga) yang di dalamnya terdapat air kembang tujuh rupa. Kemudian ada gunting yang digantungi dengan gelang Hika. Lalu kelapa muda yang dibolongi tengahnya. Pada sisi kelapa, ditaruh uang dengan berbagai pecahan. Mulai dari seratus rupiah zaman dulu, lima ratus rupiah, seribu, dua ribu, lima ribu, sepuluh ribu, dua puluh ribu, lima puluh ribu dan seratus ribu. Uang-uang tersebut dibuat seperti bendera pada buluh bambu.


Diawali oleh pak Ustaz yang menggunting rambut Hika. Pertama-tama, gunting dicelupkan pada air kembang tujuh rupa. Kemudian rambut Hika digunting sedikit lalu rambut itu dimasukan ke dalam kelapa. Begitu seterusnya hingga semua para jemaah menggunting rambut Hika. Sementara Abang Za yang berjalan di belakang ayah bertugas menyemprotkan minyak wangi pada baju para jemaah.


Hampir magrib acara itu selesai. Selesai diayun, Hika sedikit rewel. Mungkin bayi itu merasa tak nyaman dengan kehadiran banyak orang.


"Kenapa ya?" Aro khawatir putrinya kesakitan.


"Ini sih gerah nih kayaknya ... Bubu ganti ya, bajunya." Ara mulai melepas satu-persatu pakaian Hika.


"Lap pakai tisu basah, Bu," saran Aro.


Ara mengangguk kemudian beranjak hendak mengambil pakaian Hika.


"Sini aku yang lap." Aro mengelap tubuh Hika yang tangisnya mulai reda. Malah tertawa-tawa.


"Eh beneran gerah ya tadi?" Aro tertawa riang saat putrinya juga tertawa-tawa lagi.


Ara kembali dengan membawa baju ganti untuk Hika. Mengecek popok untuk memastikan sudah penuh apa belum?


"Masih bisa deh," gumamnya kemudian cepat memakaikan kembali baju pada putrinya.


"Naaah udah ganti, mau apa sekarang?" goda Ara padahal dia tahu putrinya itu ingin nen.


"Mau main sama Papa," sahut Aro cepat.


"Ya udah main sama Papa, Bubunya pergi, ya." Ara pura-pura hendak beranjak, namun tak jadi sebab tiba-tiba saja Hika histeris. Reflek membuat Ara segera meraihnya dan mengeluarkan bagian tubuh miliknya yang menjadi favorit Hika.


***


Akhza termenung sendiri di balkon rumah Aro. Pria itu teringat kejadian beberapa waktu lalu saat mendapati Tala berbicara sendiri tentang perasaanya.


Di kursi yang pernah diduduki Tala, Akhza terpekur. Menyandarkan bahu ke belakang kursi dengan mata terpejam. Sulit baginya melupakan apa yang telah terukir dalam di hatinya. Bahkan semuanya kandas saat belum dimulai.


Sempat kesal dengan gadis itu, seolah menarik ulur hatinya. Namun, ketika tahu alasannya. Akhza yakin, Tala adalah pihak yang paling tersakiti. Saat ini dia merasa menjadi manusia paling bodoh sedunia. Paling pecundang seantero jagad raya. Dirinya bahkan tak bisa menarik Tak dari kungkungan duka yang membuat gadis itu akan berlama-lama hidup dalam nestapa.


"Kalau jodoh pasti nggak ke mana, Bang!" Akash yang baru datang menepuk bahunya.


"Apa sih, Ayah," cibir Akhza seraya menegakan badan.


"Sebelum bendera kuning berkibar, Bang." Ayah menyodorkannya tinju, Akhza membalasnya.


"Hati setiap manusia itu memiliki pasangan. Sejauh apa pun mereka melangkah, bila memang sudah ditakdirkan berpasangan. Suatu saat pasti kembali. Intinya, yakini aja dia jodoh kamu," hibur Akash.


"Jangan bikin aku berharap. Udah jelas nggak akan terjadi," sanggah Akhza.


"Kata siapa?"


"Kata aku."


"Kamu nggak mau belajar dari Ayah dan bunda."


"Itu beda, Ayah!" sergah Akhza.


"Dibikin sama, dong, boy!" kekeh Akash.


Namun, tak lagi ditanggapi Akhza. Dia memilih kembali menyandarkan punggung dan memejamkan mata. Semoga bisa ikhlas, lagi.

__ADS_1


__ADS_2