Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Mimpi Terindah


__ADS_3

Melayang aku


Kau buat kuterbang tinggi di awan


Terhanyut aku


Setiap kudengar syair cintamu


Nyatakah semua


Yang terjadi pada setiap hariku


Kuterhanyut saat kau berjanji


Dan kau wujudkan mimpi yang terindah


Di setiap malam agar aku tersenyum


Terjaga dari tidurku


Dan kau jadikanku ratu di kerajaan cintamu


Agar aku pun bahagia


Hidup berdua denganmu selamanya


(Tofu-Mimpi terindah)


Lagu indah menemani pagiku. Aku adalah salah satu manusia paling beruntung di muka bumi ini. Hidupku dikelilingi banyak orang yang mencinta, terutama suamiku. Sebut saja namaku Ara. Kini aku sedang hamil dengan usia kandungan 39 minggu, detik-detik jelang melahirkan. Ini adalah anak kelimaku.


Suamiku tak pernah main-main dengan ucapannya tentang ingin memiliki banyak anak dariku. Empat anak kami adalah perempuan. Yang pertama tentu jadi bintangnya. Namanya Mahika Briana Samadya, dia kuat tapi sederhana sesuai namanya.


Yang kedua, ini yang paling lucu. Aku bahkan baru diberi tahu oleh suamiku nama bayi kami setelah tujuh hari kelahirannya. Manika Calya Ratuhayu, aku sempat protes. Kenapa harus Ratuhayu? aku tak mau nanti anakku bersikap manja dan selalu ingin diperlakukan bak Ratu. Namun, anggapanku terpatahkan setelah kini usianya sudah delapan tahun dua bulan. Nika, begitu kami menyebutnya. Tumbuh jadi anak yang sempurna dengan sikap rendah hatinya. Dia selalu menarik perhatian kami. Dia cantik dengan mata bulat warisan uyutnya. Semua anakku bermata bulat , tak ada yang sipit sepertiku.


Putri ketiga kami bernama, Sakya Hening Tasmirah. Sesuai namanya, Hening. Dia sangat pendiam. Cenderung tak banyak permintaan, walau memang usianya baru empat tahun. Terlepas dari itu, Hening sungguh mempesona kan aku dan suamiku. Dia yang paling gerak cepat saat azan berkumandang. Sibuk mengajak kami salat.


Putri keempat kami bernama, Kanya Savita Asadya. Ini proses melahirkannya sungguh unik. Suamiku malah sedang mendampingi istri kakaknya yang sedang melahirkan juga saat itu. Aku melahirkan di klinikku sendiri, dibantu bidan senior yang dulu membantu kelahiran Hika.


Saat ini, aku baru selesai membuat sarapan. Empat orang anak dengan menu berbeda. Tentu saja, saat anak pertama begitu senang makanan pedas. Yang nomor dua sampai empat harus jangan sedikit pun ada rasa pedas. Apalagi si kecil Kanya. Bayi berusia dua tahun kurang itu sudah bisa makan nasi, tapi harus selalu dengan orek telur. Ditaburi kecap di atasnya dan kerupuk udang. Dia kebanyakan bergaul dengan papinya, kakak ipar ku. Begitu kata Mas Ar.


Hika nasi goreng pedas, ayamnya harus disuwir. Hayu sukanya nasi putih dengan bumbu serundeng ayam, tapi tak suka dengan ayamnya. Hening paling praktis, dia cukup tempe goreng. Dan bayi besarku, dia makan apa saja. Termasuk aku, eh. Sungguh dia bisa makan apa saja. Bahkan saat piring-piring keempat putrinya tak dihabisakan oleh sang empunya, dia akan memberikan jasa menghabiskan makanan. Herannya, perutnya tidak buncit. Oh tentu, dia rajin olahraga. Termasuk pagi ini, katanya mereka berlima akan pergi ke Bogor untuk lari pagi dan membeli kelinci.


Ok, tapi ke mana mereka saat ini? Aku lagi yang harus mengingatkan. Kulangkahkan pelan kakiku menaiki undakan tangga. Oh, ya. Kami kini pindah rumah. Sudah tak lagi di Bojong Gede. Sejak setahun yang lalu kami mengisi rumah jida. Jida kini sudah tiada, beliau telah berpulang mendahului kami. Meninggal dengan cara yang indah. Sehabis mandi, setelah wudu selesai salat duha.


Ku ketuk pintu bercat putih dengan tulisan nama anak pertamaku terpampang nyata di sana. Mahika Briana Samadya (Kakak pertama. Dilarang masuk bila tak bawa umpan) Umpan maksudnya adalah makanan ringan. Putriku itu suka sekali dengan choco chips dan cracker.


Tak ada jawaban, aku ketuk pintu kamar putri keduaku. Manika Calya Ratuhayu (Kakak kedua, dilarang masuk kalau masih bau) Siapa pun yang masuk ke dalam kamarnya harus dalam keadaan bersih dan wangi. Kecuali aku, haha.


Masih tak ada jawaban. Maka, kuputuskan mengetuk pintu kamar Sakya Hening Tasmirah (Kakak ketiga, dimohon mengucap salam sebelum masuk) Gadis berusia empat tahun itu sebetulnya belum meminta kamar, bahkan masih sering tidur bersamaku atau pun kakak pertamanya. Suamiku tetap membuatkan kamar untuknya. Dia tak ingin ada kesenjangan sosial katanya, baiklah Mas.


Mereka tak ada di lantai atas, kuputuskan kembali turun dan tinggal satu kamar yang belum aku datangi. Kamar Kanya Savita Asadya (Kamar fake, aslinya masih bobo sama papa dan bubu) Jelas ini ulah Hika. Dia semua yang mengatur kata-kata di tiap pintu kamar adiknya.


Benar saja, pintu dibuka oleh suamiku. Di tersenyum melihat keberadaan ku. Tanpa merasa risih menciumi wajahku.


"Aku masih bau, Mas," tolakku dengan mendorong dadanya. Lagi pula, lihatlah! para anak gadis sedang melotot ke arah kami.


"Kalian Bubu cari masih unyel-unyelan di kamar. Ayo sarapan dulu, katanya mau ke Bogor beli kelinci?"


Aku meraih si kecil Kanya, tapi ia menolak digendong. Lebih memilih digendong Hika. Gadis berusi 8 tahun itu selalu taktis dalam membantuku mengasuh Kanya. Ia sudah bisa diandalkan.


Kami akhirnya memutuskan untuk sarapan. Kemudian mereka pergi ke Bogor membeli kelinci tanpa aku. Entahlah, aku malas bergerak. Tiduran lebih asyik sepertinya.


***


Aro melangkahkan kaki dengan gegas mengikuti ke tiga putrinya ke tempat penjualan kelinci. Dia kewalahan mengimbangi energi tiga buah hati yang kompak mengenakan hijab biru langit tersebut. Sementara si kecil tak ia lepaskan dari gendongan.


"Aku kelincinya mau dua ya, Pa?" pinta Nika.


"Aku tiga ya, pah?" Hika tak mau kalah.


"Hening mau berapa?" Aro mengusap pucuk kepala Hening yang tak banyak bicara.


"Satu aja, Pa." Hening tersenyum.


"Anak cantik ini mau berapa?" Aro bertanya pada putri kecil yang sedang ia gendong.


"Cepuluh," jawabnya seraya mengangkat kesepuluh jarinya.


Mereka tiba di tempat yang dituju, toko yang sebenarnya menjual berbagai jenis pakan. Ada kucing, berbagai jenis burung, juga ikan dijual di sana.


"Mang sabaraha hijina?" (Mang, berapa seekornya?) Aro menunjuk pada kelinci.


"Sapasang mapuluh rebu, A," (Sepasang lima puluh ribu, A) jelas sang penjual.


"Kudu sepasang, Kitu?" (Harus sepasang, gitu?) Kanya dalam gendongan tertawa-tawa melihat kelinci kecil itu.

__ADS_1


Hika sudah jatuh cinta pada kelinci berwarna putih dan coklat. Sedangkan Nika sibuk meneliti kucing juga burung yang ada di toko tersebut. Hening hanya tersenyum, sambil menatap kelinci hitam yang diam saja dalam sebuah kandang.


"Nggak bisa tiga Kak, belinya," terang Aro pada Hika.


"Kalau mau, empat aja. Gimana?" saran Aro membuat Hika berpikir sejenak.


"Dede kelincinya dua aja, ya?" Aro bicara pada gadis kecil dalam gendongan.


"Iya, dua aja?" Kanya setuju seraya mengangkat kelima jari tangannya.


"Dua tuh segini, Dede," ralat Nika seraya mengacungkan jari tengah dan telunjuknya.


"Kalau gini lima," lanjut Nika menyentuh pergelangan tangan Kanya yang masih terangkat.


"Lima, nam, jujuh, lapan, cemilan, cepuluh, dua puluh, tida puluh, empat puluh, mapuluh ... uuuh ...." Kanya berhenti mengoceh. Ia meletakan telunjuk di bibirnya.


"Mau mimi?" tebak Aro.


"Mimi ael bilu manis, Tataa ... Tata ... ael bilu," pinta Kanya menepuk pelan kepala Hika.


Hika mengerti, ia segera mengeluarkan botol minum milik Kanya dari dalam ransel. Air manis biru, begitu Kanya menyebutnya. Adalah campuran air bunga Teleng dengan gula batu.


Ara sudah rajin memberikan air bunga Teleng dimulai ketika Hika masih balita. Saat itu, Hika selalu ingin mencoba minuman ringan yang sering dinikmati oleh Aro. Untuk mensiasatinya, Ara membuat rebusan air bunga Teleng yang dicampur dengan gula batu. Hika suka, dan manipulasi itu terbiasa Ara lakukan hingga sekarang. Kanya suka sekali air biru manis. Ia kira itu sama dengan minuman ringan yang sering dinikmati oleh orang dewasa.


Kanya menyesap penuh minat minumannya. Sepertinya ia manut saja dipilihkan kelinci oleh kakaknya.


"Udah tentukan pilihan?" tanya Aro, menatap satu-satu putrinya.


"Aku dua aja, deh, Pa," ujar Hika.


"Aku juga dua aja." Hening sudah menentukan pilihan.


"Aku boleh empat nggak, Pa?" pinta Nika.


"Boleh," sahut Aro kemudian mengambil botol minum Kanya yang gadis kecil itu berikan padanya.


"Atu cepuluh Papa," celetuk Kanya.


"Mau yang mana?" tanya Aro.


"Cemuamua ... bilu, melah, tuning, ijo, belek, geley, nepi, palpel, led, yeyow, cemuamua." Kanya merentangkan tangannya dan menunjuk kesemua kelinci yang banyak itu.


"Warnanya cuma, putih, coklat, abu, sama hitam ... Dede mau yang mana?"


"Kakak yang coklat sama abu. Teteh yang hitam sama abu. Mbak yang putih sama coklat. Dede mau yang kayak siapa?" jelas Hika.


"Atu mau semuamua Tata ... Baa, Teteh," jelas Kanya.


"Berarti beli empat aja, Pa buat dedek?" saran Hika.


"Nanti bubu marah, nggak?" Hening berkomentar.


"Kan bubu bilang jangan kebanyakan nanti kotorannya bikin bau," lanjut Hening mengingat pesan bubunya.


"Kita saling dua aja, gimana?" Hika memandangi Nika dan Hening.


"Kenapa nggak empat aja kak, aku sama dedek. Kakak sama Mbak," saran Hening. Dia tak ingin membuat bubunya kewalahan nantinya .


"Aku nggak mau kalau kayak gitu," tolak Nika. Gadis itu menatap kelinci yang sudah ia pilih.


"Ini udah cocok," rengeknya seraya berjongkok memeluk kandang kelinci itu.


"Kotor dong, Mbak," omel Hika.


"Ya udah, satu orang dua kelinci. Punya Dede samain aja kayak Kakak, gimana?" Aro memangkas keadaan yang mulai memanas.


Hening akhirnya setuju juga. Setelah membayar kelinci pada sang penjual, Aro menelepon Omar untuk segera menjemputnya.


Sembari menunggui Omar, Aro dengan Kanya dalam gendongan berjalan sedikit menjauhi toko itu menuju toko florist yang berada tak jauh dari posisinya berdiri. Ia rasa harus membelikan Ara sesuatu juga.


"Papa beli bunga cuma satu, kita nggak dibeliin?" tuding Nika yang baru saja tiba. Ketiga gadis itu ternyata membuntuti langkah Aro.


"Mau bunga juga?" tawar Aro.


"Iya, kan sebagai dayang kita juga mau diperlakukan kayak ratu. Jangan bubu aja," protes Hika.


"Ok, pilih. Teteh pilih juga," suruh Aro pada Hening yang sedang memajukan bibirnya menggoda Kanya.


"Atu mau juja Papah. Mau temuamua." Itulah Kanya, dia selalu bilang semuanya bila meminta sesuatu. Semuanya artinya banyak.


"Saling satu aja, De," saran Hening.


"Mbak mau yang warna apa?" tanya Hika pada Nika.


"Kakak yang mana?" Nika balik bertanya

__ADS_1


"Mbak, kalo Kakak nanya bisa nggak langsung jawab?" protes Hika.


"Aku maunya yang hitam, tapi karena nggak ada putih aja, deh." Nika meringis mendapat protesan Hika.


"Aku juga putih, ya, Pa." Hening menunjuk mawar putih yang sudah dikemas itu.


"Kakak juga putih, deh. Dede putih juga ya?" Hika menatap Kanya yang sedang bergumam, entah apa.


"Dia lagi nyanyi apa sih, Pah?" Hika bertanya pada Aro yang mungkin tahu apa yang sedang digumamkan adik kecilnya.


"Lagu yang suka kalian tonton animasinya itu ... adik kakak yang sering tengkar itu," jelas Aro tak ingat apa nama judul animasinya.


"Oh, Nusa dan Rara?" pekik Nika.


"Ssstt, jangan teriak!" larang Hika.


"Udah, ambil satu satu bunganya. Punya bubu tolong dipegangin sama Teteh, ya, Teh?" Aro melirik Hening yang masih saja menggoda Kanya.


"Iya, Papa," sahut Hening seraya menerima dua tangkai mawar putih dari papanya.


Setelah membayar lima tangkai mawar putih pada sang penjaga florist, Aro beserta anak-anaknya kembali ke toko kelinci tadi. Tak lama, Omar pun datang. Dia ternyata membawa serta buah hatinya. Jadilah sebelum pulang, Aro kembali membeli sepasang kelinci untuk Raffan, putra Omar yang berusia delapan tahun.


"A Raffan, boleh nggak Kak Hika sama Dede duduknya di depan?" pinta Aro.


"Boleh, om," angguk Raffan, anak itu sangat manis. Kulitnya sedikit gelap dengan postur tubuh yang lebih tinggi dibanding usianya. Dirawat baik oleh Teh Fenty setelah ibunya tiada. Dan Omar, tetap setia tak menikah lagi setelah istrinya meninggal lepas melahirkan Raffan.


***


Ara ternyata sedang mandi ketika Aro dan anak-anak sampai di rumah. Kanya tertidur pulas, dan dibaringkan di kamar Hika sesuai permintaan gadis itu. Aro memasuki kamar yang sudah rapi, sepertinya Ara habis mengganti seprai dengan yang baru sebab saat Aro merebahkan tubuhnya, harumnya pewangi pakaian masih sangat tajam.


Aro teringat bunganya, ia kembali ke ruang tamu dan mendapati setangakai mawar di meja. Ia segera mengambil dan menuliskan sesuatu di atas kertas HVS.


Dear, Ara. My Adore ....


Terima kasih sudah menjadi istriku


Terima kasih telah melahirkan anak-anakku


Aku mencintaimu setiap hari, tak pernah tidak


Bersamamu, setiap hari adalah istimewa


Denganmu, hariku penuh warna


Kamu seolah Allah ciptakan khusus untukku


Aku bahagia bisa menjadi yang pertama dan terakhirmu


Ara, mari menua bersama


Membesarkan empat putri dan satu putra kita


(Boleh nambah lagi nggak sih, Ra?)


Semoga kita selalu berjalan menapak pada taqwa


Bersama dalam iman yang kuat dan sama


Tegur aku bila mulai salah, mulai lengah


Sebab aku tanpamu, apa jadinya?


Love you, My Ara.


Aro meletakan secarik kertas dan setangkai bunga itu di atas meja rias. Ia lalu bergegas ke halaman belakang menemui ketiga putrinya yang pasti sedang sibuk dengan peliharaan barunya.


Benar saja, kakak pertama sedang sibuk mengejar satu kelinci yang lepas dari kandangnya. Sedangkan Hening hanya duduk di atas hamparan rumput dengan kandang kelinci di sampingnya. Kelinci Hening sedang anteng memakan kangkung. Kangkung yang baru saja mereka beli dari penjual sayur keliling.


"Papa, telepon papi Abang dong!" pinta Hika.


"Suruh papi ke sini sama Abang juga. Aku mau kasih lihat kelinciku," lanjut Hika.


Aro menurut, ia segera menghubungi kembarannya itu.


"Heh, sini lo sama si ganteng. Hika ada perlu katanya. Awas kalo enggak!"


Sambungan dimatikan secara sepihak. Aro tak tahu bahwa di lain tempat, abangnya itu masih bergelut di atas tempat tidur bersama istrinya.


"Ampun, punya adik akhlaknya minim banget!" umpatnya kesal. Bisa-bisanya Aro mengganggu akhir dari kegiatan sakralnya bersama sang istri.


"Apa katanya, Bang?" Sementara sang istri hanya tergelak.


"Hika nyuruh aku ke sana katanya, kamu ikut juga, yuk!"


Tentu saja wanita cantik itu mengangguk, ia segera membungkus tubuhnya dengan selimut dan berlari lebih dulu ke kamar mandi. Akhza hanya tertawa melihat tingkah istri yang dinikahinya enam tahun lalu itu.

__ADS_1


__ADS_2