Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Selamat Bertambah Usia


__ADS_3

Aro memang penuh kejutan, dia berkata setelah dari Jogja akan langsung pergi ke Wonogiri, tapi nyatanya pagi-pagi sekali dirinya sudah berdiri saja di halaman rumah Ara. Membuat Ara yang hendak menyapu halaman merasa kaget dengan kehadiran pria dengan tubuh menjulang tinggi itu.


"Wonogiri kamu tuh di sini, ya?" setengah menyindir Ara bertanya pada pria itu.


"Kalau ada kesempatan buat pulang dulu, kenapa nggak dimanfaatkan," tukas Aro seraya memiringkan kepala lalu menyundulkannya pada kepala Ara. Pria itu selalu menyebalkan.


"Lagian ngapain bolak-balik?" todong Ara, mengusap kepalanya sendiri.


"Cie diusap, biar berasa ngusap kepala aku, ya?" tebak Aro, membuat Ara malah memukul kaki Aro dengan sapu yang dipegangnya.


"Percaya diri kamu kebanyakan, Mas!" seru Ara berdecak sebal.


"Ibunya Omar meninggal, Ra. Alhamdullillah aku bisa pulang dulu," beritahu Aro yang malah membuat Ara semakin memukulinya.


"Ada orang meninggal kok dikata alhamdullillah?" geram Ara seraya menggeleng, tak mengerti lagi apa isi kepala calon suaminya itu.


Calon suami? ya nyatanya pria congak dengan over percaya diri itu calon suami Ara.


"Ya innallillahi, abis itu baru alhamdullillah. Kan jadi bisa kasih alasan buat minta pulang dulu ke kru," kilah Aro seraya merebut sapu dari tangan Ara dan menyandarkannya ke dinding.


"Mana coba lihat telapak tangan kamu!" Pandangan Aro mengarah pada tangan Ara.


Ara reflek menengadahkan kedua tangannya, telapak tangan mungil yang nampak, membuat Aro tersenyum dan meletakan kotak kado kecil di atasnya.


"Selamat bertambah usia, Ra. Terima kasih sudah memberiku jalan untuk masuk ke hidupmu," ungkap Aro membuat mata Ara langsung berkaca-kaca.


Ara reflek menggenggam kotak pink berpita merah marun itu. Ada kartu kecil yang tersemat di sana.


Selamat bertambah usia, Salasika Arabella


Terima kasih sudah hadir di antara kami


Dengan cinta,


Mahija Aro


Ara membaca lamat-lamat kartu ucapan itu. Singkat, namun terasa manis. Hingga ia mengulang membacanya beberapa kali. Terlebih ada nama Mahija Aro. Nama yang juga terukir di hatinya.


"Mas, kamu ... terima kasih, Mas," terbata dengan suara lirih menahan tangis, Ara bicara.


Aro tersenyum, ia sebenarnya hampir putus asa saat beberapa hari yang lalu Omar menelponnya tentang keberangkatan ke Jogja. Ia sudah resah saja karena tak bisa mengucapkan langsung selamat bertambah usia kepada Ara.


Ucapan yang baru kali ini dapat ia ungkapan. Ucapan yang selama ini selalu tertahan di tenggorokan ketika ayah dan bunda serta keluarganya mengucapkan itu.


Kini, Aro jadi yang pertama. Sebuah ucapan indah dan hadiah manis yang entah isinya apa?


"Pas kru ngasih ijin Omar dan aku buat pulang dulu, aku langsung setuju. Awalnya aku mau ikut ke Subang sama Omar, tapi dia emang sahabat terbaik. Dia malah nyuruh aku buat nemuin kamu karena dia tahu hari ini kamu ulang tahu," cerita Aro panjang lebar.


"Tapi aku nggak bisa lama, Ra. Jangan bilang-bilang ke bunda aku pulang, ya!" pesan Aro membuat Ara mengangguk.


"Terima kasih, Mas. Semoga ketulusan kamu mendapat sebaik-baiknya balasan dari Sang Maha pemilik kehidupan," ungkap Ara.


"Aamiin, Ra ... Allah sudah membalasnya. Kamu balasan terbaik dan terindah, Ra ...."


Ara tak menjawab, ia memilih membuatkan Aro teh manis dan sarapan karena pria itu berkata jam sembilan akan berangkat lagi.


Meski menyebalkan, nyatanya sikap-sikap mengejutkan Aro selalu berhasil membuat Ara luluh.


Pria itu meninggalkan Ara kembali dengan perasaan berat. Kali ini dia benar-benar pergi dengan waktu yang cukup lama.


"Jadi, Mas nggak ditemenin kak Omar?" selidik Ara.


"Iya, tapi nanti di sana banyak kru kok yang bantu," sahut Aro berusaha memangkas kekhawatiran Ara.


"Jaga diri ya, Mas. Jangan mudah percaya pada orang baru," nasihat Ara.


Setelah taksi online pesanannya tiba, Aro segera berangkat. Meskipun berat hati saat melihat Ara yang menitikan air mata untuk kepergiannya.


Ara terus memandangi kepergian Aro hingga punggung lelaki itu hilang masuk ke dalam mobil.


Mobil mulai melaju meninggalkan halaman rumah Ara. Membelah jalanan Bina Marga menuju tol Jagorawi. Hari itu matahari bersinar terik, jumawa menampakan sinarnya.


Baru masuk gerbang tol, Aro sudah terlelap. Dia kembali terjaga saat sudah sampai di Bandara. Menunggu beberaoa saat hingga akhirnya kembali terbang menuju Wonogiri, bukan Jogja, menumpang salah satu maskapai terbaik milik negeri ini.


***


Aro tiba paling akhir di sebuah kampung yang akan ia tinggali selama 20 hari ke depan bersama kru dan yang lainnya. Kali ini ia akan memerankan tokoh seorang preman yang mencari jalan taubat. Mirip-mirip dengan kehidupan pribadinya.


Kampung yang masih asri dengan keadaan lingkungan yang belum terlalu banyak tercemar polusi. Karena jauh dari hotel dan penginapan, mereka menyewa sebuab rumah warga yang bangunannya masih sangat sederhana.


Bangunan yang terbuat dari kayu, amat sederhana namun sangat membuat nyaman. Karena jumlah mereka banyak, ada dua rumah warga yang mereka sewa.


Kabar buruknya, di tempat ini sinyal susah didapat. Aro sampai kelimpungan sebab hingga pagi lagi, ia belum bisa menghubungi keluarganya dan juga Ara.


"Kalau mau cari sinyal bagus harus ke kecamatan Manyaran, Mas," begitu ucap Mbak Erna, pemilik rumah yang sedang ditempati oleh Aro.


Pagi itu, Erna membawakan sepiring pisang goreng yang masih mengepulkan asap. Pisang yang diambil dari hasil berkebun orang tuanya. Menurut Erna rasanya sangat manis, lain dari yang lain.


Beberapa orang kru, sedang berkumpul di sebuah pos ronda tak jauh dari rumah yang ditempati Aro. Salah satu di antara mereka melambai pada Aro. Aro tentu mengangguk, dengan membawa piring berisi pisang goreng, Aro melangkah dan bergabung bersama mereka.


Ada dua pemuda dan juga tiga orang kakek-kakek warga asli yang sedang ikut bergabung bersama kru. Ketiadaan Omar nyatanya sungguh membuat Aro kewalahan.


"Lo kalau butuh apa-apa bilang gue aja, Ar!" tawar Oji, asisten pribadi Ayuni Hardian, lawan main Aro kali ini. Artis cantik bermata hazel yang didapuk sebagai duta anti narkoba. Ketenarannya menjadi artis, tak menghambatnya untuk tetap menuntut ilmu. Kabarnya. Ayuni masih tercatat sebagai Mahasiswi di sebuah Universitas negeri di Ibu Kota. Pintar, cantik, ramah dan berbakat. Predikat yang disandang Ayuni, membuatnya dirasa pantas memerankan tokoh gadis desa anak kiayi yang cintanya akan diperjuangkan oleh Aro.

__ADS_1


"Gue berusaha buat mandiri, tapi kalau kepepet boleh deh gue minta tolong," ucap Aro membalas senyuman Oji.


Biasanya Aro tak suka berbaur, sebab ia tahu seberapa menyimpang kelakuan teman-temannya itu. Tapi, kali ini tidak ada salahnya dia bergabung, asal jaga diri dan jangan terpengaruh, begitu ucap Omar saat mengingatkan Aro.


Terlihat oleh Aro, ketiga kakek itu sedang meracik tembakau lalu diletakan di tengah kertas papir dan digulung menyerupai rokok.


"Itu cara mereka biar tetep ngebul, murah meriah," bisik Oji membuat Aro hanya mengucap oh.


Setelah ikut larut dalam obrolan dengan hanya menanggapi lewat anggukan dan senyuman, Aro segera bersiap karena syuting akan segera dilakukan di sebuah air terjun yang terletak beberapa kilometer dari tempat mereka beristirahat.


"Semoga beres dalam sehari ya, syuting di sana," ucap Sang Sutradara penuh harap.


Adegan yang akan dilakukan adalah, Aro yang berperan sebagai tokoh Fabian, menolong Ayuni yang berperan sebagai Maryam, yang tengah tenggelam di sungai deras.


Ayuni sudah nampak cantik dengan gamis marun dan hijab syar'i warna senada. Walaupun aslinya gadis itu tak berhijab, tapi ia terlihat sangat mendalami karakter tokoh Maryam. Gadis cantik yang membuat Fabian jatuh cinta saat menolongnya yang sedang terhanyut di sungai.


***


Sementara itu, setelah kepergian Aro, Ara segera membawa kotak hadiah itu ke kamarnya. Ia tak sabar ingin melihat apa benda yang Aro hadiahkan untuknya itu?


Perlahan Ara membuka simpul pita dan mulai membuka tutup kotak itu.


Bukan barang mewah, tapi langsung membuat Ara jatuh cinta. Sebuah foto berukuran 2R yang dibingkai oleh figura berwarna merah muda. Foto dua orang anak kecil yang sedang duduk di atas rumput hijau.


Itulah foto masa kecil keduanya di halaman rumah jidda. Mungkin saat itu usia Ara baru sembilan bulan dan Aro sudah satu tahun lebih. Keduanya duduk dengan tangan Aro yang seolah sedang mengelus kepala Ara dan Ara menunduk tersenyum dengan kedua tangan saling bertautan yang ia simpan di atas pangkuannya.


Sebuah lipatan kertas kecil tersemat kembali di dalam kotak.


Buat diceritain ke anak cucu, kalau Mommy itu memang senengnya diunyel-unyel sedari kecil.


Ara tertawa seraya memeluk foto itu. Ia tak menyangka bila Aro masih menyimpan kenangan mereka berdua. Namun, tawa itu memudar saat mengingat berapa lama waktu yang ia habiskan tanpa Aro.


"20 hari pasti terasa lama, Mas. Apalagi dengan komunikasi yang gak lancar," gumamnya dengan raut sedih.


***


Hari mulai petang saat proses syuting selesai. Ayuni memang aktris berbakat, ia bisa Aro ajak kerjasama agar proses syuting cepat berlalu dan mendapatkan hasil yang memuaskan.


"Sebagai Fabian, lo keren sih, Ar," puji Ayuni yang sedang mengeringkan rambut menggunakan handuk kecil. Bibirnya berubah keunguan sebab menahan dingin.


"Akting lo yang bagus, jadi kita bisa saling ngimbangin," timpal Aro seraya meneguk teh manis hangat yang diberikan oleh Oji.


"Semoga projek kita lancar ya, Ar. Walaupun ini kerja sama kita yang pertama, tapi gue harap kita bisa bangun cemistry yang kuat," ungkap Ayuni penuh semangat.


Aro hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia dan Oji sudah memutuskan untuk pergi ke kecamatan Manyaran. Sama seperti Aro, Oji juga ingin menghubungi seseorang. Akhirnya, saat kru lain kembali ke perkampungan. Aro dan Oji dengan menggunakan sepeda motor pergi ke tempat yang dituju.


Tak butuh waktu terlalu lama, keduanya sampai di sebuah warung mi ayam di tempat itu. Benar saja, sinyal mulai stabil dan Aro bahagia bisa langsung menghubungi Ara.


Namun, sayang. Saat memanggil nomor Ara ternyata ponsel gadis itu mati atau bagaimana sehingga tidak dapat dihubungi. Pesan yang ia kirim juga hanya centang satu.


"Kenapa Ar?" tanya Oji yang baru saja selesai menelpon seseorang.


Baru akan menjawab, seorang ibu berhijab hitam datang menghampiri.


"Selamat datang di warung mie ayam Bu Untari," sapa wanita itu ramah membaut Aro dan Oji balas tersenyum hangat dan mengangguk.


"Untung ngomongnya bahasa indonesia yang baik dan benar," bisik Oji membuat Aro menahan tawa hingga membuat Bu Untari jadi curiga.


"Mase saking pundi (Masnya asal mana)?" tanya Bu Untari membuat Aro dan Oji saling sikut bingung menjawab apa, hingga ada tiga orang pria yang datang sebagai pengamen menghampiri mereka.


"Assalamu'alaikum. Bu Untari, izinkan kami ngamen di sini, ya ...." ucap salah satu dari tiga orang pengamen itu.


Bu Untari mengangguk ramah, dia selalu mengizinkan pengamen manapun untuk menghibur pembelinya.


"Eh, Mase saking pundi?" Bu Untari mengulang pertanyaan.


"Bu Untari nanya, Mas ini asal mana?" ucao salah seorang pengamen itu membuat Aro dan Oji tertawa.


"Kami asal Jakarta, bu. Maaf, jadi gak ngerti bahasa sini," beritahu Oji. Bu Untari tersenyum simpul,


" Ajeng peseng nopo, Mas?" tanya bu Untari lagi membuat sang pengamen kembali menerjemahkan kata-kata bu Ustari.


"Katanya mau pesan, apa?" ucap pria tadi.


"Mie ayam spesial pake bakso dua yah, bu!" seru Oji kemudian membuat Bu Untari segera melangkah dan berjanji tidak akan lama.


Pengamen yang berjumlah tiga orang itu mulai membawakan lagu. Satu orang sebagai vokalis, satu pemetik gitar dan satu lagi penabuh gendang. Memang musisi jalanan yang sangat profesional, mereka membawakan lagu i'm yours milik jasson Miraz. Membuat Aro dan Oji ikut bersenandung sambil menikmati mie ayam yang baru dihidangkan oleh bu Untari.


Selesai menyanyikan lagu itu, Aro dan Oji meberikan masing-masing uang 50 ribuan sebagai imbalan. Saat mereka bilang jumlahnya berlebihan, Aro dan Oji sepakat berkata bahwa lagu yang mereka bawakan sangat menghibur.


Saat pengamen menawarkan diri untuk menyanyikan lagu lagi, Aro memiliki sebuah ide di kepalanya.


"Nama band kalian ini apa?" tanya Aro penasaran.


"Pabo, Mas. Saya Akmal, dia Dana dan satu lagi Harpa," papar pria bernama Akmal.


"Temani saya nyanyi mau nggak? saya mau kirim video buat calon istri saya," pinta Aro pada Akmal.


"Boleh, Mas boleh. Mau lagu apa? lagu tentang rindu ya, Mas?" tebak Akmal.


"Mas punya referensi?" Aro balik bertanya.


"Lagu Ade Govinda dan Andi Fadly Arifuddin, Tanpa batas waktu. Mau, Mas?" tawar Akmal dan diangguki Aro. Sebab dirinya juga menyukai lagu itu.

__ADS_1


Setelah menempati posisi masing-masing. Akmal dan kawan-kawannya itu mulai bernyanyi dengan Aro yang tanpa malu ikut melantukan syair indah itu. Oji berbaik hati merekam kegiatan Aro. Pria itu sesekali menatap ke arah layar kamera ponsel, seolah sedang menatap Ara.


Aku masih ada di sini


Masih dengan perasaanku yang dahulu


Tak berubah dan tak pernah berbeda


Aku masih yakin nanti milikmu


Aku masih di tempat ini


Masih dengan setia menunggu kabarmu


Masih ingin mendengar suaramu


Cinta membuatku kuat begini


Aku merindu


Kuyakin kau tahu


Tanpa batas waktu


Kuterpaku


Aku meminta


Walau tanpa kata


Cinta berupaya


Engkau jauh di mata tapi dekat di doa


Aku merindukanmu


Aku masih di dunia ini


Melihatmu dari jauh bersama dia


Walau pasti kuterbakar cemburu


Tapi janganlah kau ke mana-mana


Aku merindu


Kuyakin kau tahu


Tanpa batas waktu


Kuterpaku


Aku meminta


Walau tanpa kata


Cinta berupaya


Aku merindu


Kuyakin kau tahu


Tanpa batas waktu


Aku terpaku


Aku meminta


Walau tanpa kata


Cinta berupaya


Engkau jauh di mata tapi dekat di doa


Aku merindukanmu


Aku merindukanmu


Aku merindukanmu


.


.


Huaaaaa, akhirnya bisa up juga.


Makasih buat Mbak Erna dan Ibu Untari yang mau aku gedor-gedor yaaa. Ini lagu request dari seseorang yang ehm ehm itu. Maaf, Aro nggak bisa naik panggung ya kak. Semoga sesuai dengan keinginan kakak.


Terima kasih untuk like, komen, dan dukungannya.


Selamat hari raya idul fitri (takut gak keburu up besok)


Mohon maaf lahir dan batin. Maafkan aku banyak salah, banyak kekurangan. Salam sayang, salam manis dari aku buat kakak-kakak semua yang tersayang.

__ADS_1


Sehat-sehat selalu ya kaaaak


Sumber: Musixmatch


__ADS_2