Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Kunci Kamar


__ADS_3

Aro sampai di Klinik pukul 20.15, tentu telat 15 menit. Ara sudah tak di sana. Menurut Ati, Ara sudah dijemput oleh ayah dan bundanya. Aro kembali masuk ke dalam mobil, sepanjang perjalanannya tadi ia terus memikirkan perkataan Cici tentang perasaan Ara terhadapnya.


"Lo beneran suka sama gue?" monolog Aro sebelum akhirnya kembali melajukan mobil untuk segera pulang.


Bait demi bait lagu Always milik Isak Danielson menemani perjalannanya dari Klinik menuju rumah. Entah apa penyebabnya, saat ini ia ingin sekali melihat wajah Ara.


So say be always, always


Say it will be you and me


To the old days


Kita akan selalu bersama selamanya, selamanya


Katakan kau akan bersamaku sampai hari tua kita


Lirik yang ia senandungkan seolah ikut mewakili perasaannya. Benarkah yang dikatakan Cici? bila benar, apa dirinya juga merasakan hal yang sama? Senyumnya terus mengulas tipis di bibirnya yang tetap merah alami meski perokok berat.


Through the high and the lows


We'll be always


Melalui suka dan duka


Kita akan selalu bersama


Sampai pada bait itu, Aro tiba di depan Kafe ayahnya. Ia segera turun dari mobil. Membanting pintu mobil demi perasaan yang ingin cepat bertemu dengan Ara. Ia masuk ke dalam rumah lewat pinggir Kafe meski jaraknya berarti lebih jauh sedikit. Pengunjung Kafe masih ramai, itu sebabnya ia enggan masuk lewat Kafe.


Pintu utama rumah dikunci dari dalam, tak sabaran Aro mengetuk pintu. Menggantinya dengan gedoran dan teriakan salam berharap cepat ada seseorang yang menyahuti dan membukakan pintu untuknya.


Dia merogoh ponsel dalam saku celananya, namun sayang ternyata ponselnya kehabisan batre, membuatnya tak bisa melakukan panggilan pada siapapun.


Ia kembali menggedor pintu, mengucap salam dengan cara berteriak. Berhasil, seseorang yang ia yakini adalah Akhza menyahuti salamnya dan membukakannya pintu. Benar, kembarannya yang selalu nampak sendu itu adalah yang membukakan pintu.


"Abang lihat Upil nggak?" todongnya pada Akhza yang masih mengenakan koko dan sarung.


"Ke rumah tante Vanya sama ayah dan bunda," jawab Akhza yang wajahnya masih terlihat pucat.


"Ngapain?" tanyanya seraya melangkah menuju sofa ruang tamu dan diikuti Akhza.


"Bahas yang tempo hari diceritain Ara kali," Akhza duduk di samping kembarannya yang sudah lebih dulu duduk.


"Kok lo nggak ikut?" Aro melirik dengan ujung mata pada kakaknya itu. Perbedaan jelas terlihat, dirinya sang pembuat dosa sedangkan abangnya itu si soleh yang selalu memperbaiki diri.

__ADS_1


Untuk pertama kalinya, Aro merasa kalah dari Akhza. Ia merasa insecure sebab Ara pasti lebih suka abangnya yang rajin ibadah itu, sama seperti Ara. Satu sisi dalam benaknya ia ingin meyakini ucapan Cici, tapi dalam sisi yang lain, rasanya tak mungkin sebab dia sadar betul sebobrok apa dirinya.


"Lo masih sakit, Bang?" tanyanya sebab melihat Akhza yang masih pucat.


"Pusing, cuma butuh istirahat dikit," sahut Akhza seraya memijat keningnya.


"Lo sakit apa sih, Bang?" Aro lama-lama khawatir melihat kondisi kakaknya itu. Ia bahkan merubah posisi duduk agar bisa menghadap pada Akhza.


"Asam lambung, gue suka lupa sarapan dan kadang cuma makan roti pas makan siang," jelas Akhza.


"Sesibuk itu ya koas?" tanya Aro mulai penasaran dengan kehidupan abangnya.


"Jadi artis juga sibuk 'kan?" Akhza balik bertanya seraya melirik Aro, "sampai sering telat salat, cuti kuliah pula."


"Soal salat gue akuin iya sering telat, dan kuliah nanti gue lanjut kok," Aro membela diri.


"Jangan terlalu banyak berleha-leha. Dunia nggak sebecanda itu, ada akhirat yang lebih kekal yang nggak bisa dengan diri yang polos saat kita menghadap-Nya."


"Lo lagi ceramah?" tebak Aro seraya menyelisik dalam wajah Akhza yang sangat mirip dengannya.


"Gue peduli makanya ngingetin lo, kasihan ayah bunda udah berusaha memberikan yang terbaik tapi kitanya malah banyak ngelakuin dosa."


"Gue udah gede, dosa gue tanggung sendiri. Gue nggak bakal bawa-bawa ayah dan bunda," Aro mulai tersulut amarah. Hatinya yang batu sebab sudah mulai melalaikan salat begitu sulit menerima nasihat dan peringatan.


"Gue sayang dan peduli sama lo, makanya ngomong kayak gini. Kita bisa aja jadi sebab orang tua kita masuk surga begitupun sebaliknya. Gue rasa lo juga udah ngerti sendiri. Pulang, Mas, sebelum melangkah terlebih jauh," ucap Akhza seraya beranjak sebab tak ingin bertengkar dengan Aro yang ia sadari mulai tersulut emosinya.


***


Jadilah akhirnya keluarga Sakaf dan keluarga Ara sepakat membahas kelanjutan hubungan Ara dan sakaf di rumah Vanya.


"Ara minta maaf, ya, Bun. Ara ingin Kakak juga menikah dengan wanita yang dicintai dan mencintainya," begitu ucap Ara saat ditanyai mengenai keinginanya tentang hubungannya dengan sakaf.


"Tapi hal ini jangan sampai membuat hubungan kita jadi renggang, ya, Kash," pinta Raga penuh rasa hormat.


"Anggap aja memang bukan jodoh, siapa tahu nanti Ainun yang bisa berjodoh dengan salah satu si kembar," harap Rain, ibu dua anak yang masih terlihat cantik di usia yang tak lagi muda.


"Haduh, putra saya belum ada yang jadi orang, sedangkan Ainun sudah sukses menjadi Apoteker hebat," sanggah Akash merendah.


"Wah, Mas Aro kan sudah sukses jadi artis. Tampan, santun, dan berbakat. Apalagi yang mau dicari?" puji Rain membuat hati Ara tiba-tiba kalut. Bagaimana bila benar-benar lelucon mereka dijadikan kenyataan?


"Iya, Ainun juga sering kali memuji mas Aro. Anak itu ngefans sekali pada mas Ar," Ragga ikut menimpali.


Ara sudah tak enak diam, dia sampai ingin rasanya segera bertemu Aro. Entah apa penyebabnya?

__ADS_1


"Ya sudah, jangan jadi kaku gini, dong!" seru Bumi.


Tak lama, keluarga Sakaf pamit untuk pulang. Sakaf menyempatkan diri meminta maaf secara khusus pada Ara. Ara tentu hanya bisa memaafkan, dia sendiri tak terlalu memusingkan hal itu. Dari awal Ara memang hanya mengikuti keinginan kedua orang tuanya. Bukan karena memang suka pada Sakaf. Bahkan ara takut demi mendengar derap langkahnya pun.


Setelah keluarga Ragga pulang, pembahasan beraalih pada masalah yang sedang Vanya hadapi. Akash bersedia menanggung segala urusan hutang piutang Vanya dengan catatan Vanya harus bisa berubah dan menuruti apa yang jadi keinginan Ara.


"Saya menyesal, Bang, Kak," Vanya bicara penuh penyesalan.


"Kamu harus hargai Ara, Nya. Dia sayang sama kamu, dia ingin yang terbaik buat kamu," Bumi meyakinkan Vanya.


"Usia kamu sudah tak muda lagi, apalagi yang mau kamu cari?" Akash ikut menimpali.


"Saya serahkan semua sama Bang Akash dan Kak Bumi, termasuk penjualan rumah," Vanya pasrah.


"Mami, makasih. Ara sekarang bisa tenang Mami udah mau ngambil keputusan kayak gini," ungkap Ara memeluk Vanya penuh sayang.


Bumi yang duduk di sofa lain sungguh merasa cemburu, Aranya sebentar lagi akan pindah. Tak lagi serumah dengannya.


"Jangan sedih, Sayang. Kamu bisa tiap hari mendatangi Ara," bisik Akash pada Bumi.


Setelah itu, mereka sepakat untuk segera pulang dengan Ara yang memilih untuk menginap di rumah Vanya sekaligus membantu Vanya berkemas.


***


Aro masih memikirkan perkataan Akhza. Seburuk itukah dirinya di mata sang kakak?Aro Menggasak kasar surai hitamnya, kepalanya terasa mau pecah.


Ia memutuskan untuk pergi ke atas, tidur di kamar Ara sepertinya akan menjadi pilihan paling menyenangkan.


Tiba di kamar adiknya itu, Aro langsung memutar knop pintu, namun ternyata dikunci. Aro berkali-kali kembali memutar knop, tapi nihil, pintu memang dikunci.


"Cari ini, Mas?" tanya Akhza dengan nada meledek seraya menunjukan kunci kamar Ara yang berada digenggamannya.


"Siniin, Bang!" pinta Aro menegadahkan tangannya.


"Nggak bisa, gue masih suka sama dia. Gue nggak biarin lo terus-menerus ngerjain dia," Akhza memasukkan kunci itu ke saku pinggir celananya.


"Sekali-sekali gue lah, Mas, yang curang. Kita lihat siapa yang menang!" Akhza tersenyum mengejek seraya memiringkan kepalanya.


.


.


Like

__ADS_1


Komen


Vote


__ADS_2