Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Hika atau Dya


__ADS_3

"Aku mau ke toko sebentar ya, Ra," beri tahu Aro seraya menaruh gelas berisi beras kencur ke atas nakas.


Ara yang sedang mengASIhi putrinya hanya mengangguk. Sesekali wanita itu meringis saat sang bayi begitu kuat menghisapnya.


"Mau mandi jam berapa?" Aro menata gelas dan piring kotor ke atas nampan.


Ara tak lekas menjawab, ia kembali meringis karena lagi-lagi sang buah hati menghisapnya sangat kuat. Aro yang kali ini melihatnya reflek mendekat. "Eh apa yang sakit?"


Ara menggeleng, "Enggak, ini dede terlalu kuat nennya. Perih dikit, tapi it's ok."


"Mas berangkat jam berapa?" Ara melepaskan perlahan putrinya dari bagian tubuh yang terasa perih.


Sontak saja bayi itu menjerit histeris karena diganggu dalam kegiatannya.


"Pindah Sayang, Bubunya sakit." Ara memindahkan putrinya ke bagian tubuhnya yang sebelah kanan. "Aduh, pelan-pelan, Nak."


Sekejap tangisannya berhenti ketika kembali mendapatkan apa yang diinginkannya.


Huh! Ara menghela napas lega. Di sebelah kanan lagi-lagi putrinya melakukan kegiatannya dengan tak sabaran. Dengan mata tertutup dan sebelah tangan yang keluar dari bedong serta kakinya yang terus bergerak-gerak di bawah sana, membuat Ara gemas.


"Pelan-pelan, Cantik," bisik Aro di telinga putrinya seraya menghirup aroma sedap dari kepala putrinya. Menenangkan.


"Eh, mau berangkat jam berapa?" Ara mengulang pertanyaannya.


"Kalau liat kalian gini jadi males mau berangkat," jawab Aro malah merebahkan diri samping Ara yang sedang duduk.


Pintu diketuk kemudian seseorang masuk. Adalah bunda pelakunya, dengan senyuman wanita itu membawa nampan berisi nasi putih hangat serta sayur daun katuk dan bekakak ayam kampung.


"Bubu sarapan dulu." Bumi segera menaruh nampan di atas nakas, bersebelahan dengan beras kencur.


"Mamacih Enin." Ara menirukan suara anak kecil membuat bundanya tertawa.


"Bangun dari jam berapa?" tanya bunda seraya mengusap kepala cucunya.


"Jam tiga pas papanya tahajud ikut bangun, kasih nen bobo lagi. Eh baru aja, papanya balik dari masjid bangun lagi. Digangguin 'kan." Ara melirik suaminya yang pura-pura tidur.


"Ayah juga dulu gitu, seneng banget gangguin anaknya lagi tidur," kenang bunda dengan mata berbinar kemudian menatap Aro.


Rasanya baru kemarin ia melahirkan bayi kembarnya. Kini malah sudah punya anak. Ingat masa kecil, membuatnya mengingat Akhza. Dini hari kemarin, sekitar pukul 03.09 WIB, Akhza sudah pergi lagi ke rumah sakit.


"Mas, katanya mau ke toko?" Bunda mengalihkan perhatiannya dengan bertanya pada Aro.


"Males, Bunda." Akhirnya duduk, kemudian melirik ke atas nakas lalu segera beranjak.


Aro berjalan ke arah meja rias, mengambil kursi lalu meletakan di samping tempat tidur. Kemudian dia duduk di sana dan mengambil nasi, hendak menyuapi Ara.


"Kamu udah berapa hari nggak ke toko?" Tanya bunda.


"Sebelum dede lahir aku tiga hari nggak ke toko," gumam Aro.


"Sekarang dede udah dua hari, jadi lima hari deh nggak ke sana," terang Aro, mencubit daging ayam kemudian menaruhnya ke atas nasi dalam sendok lalu menyuapkannya pada istrinya.


"Abis makan minum beras kencurnya, aku buat sendiri loh itu," beri tahunya pada Ara.


Ara hanya mengangguk sebab mulutnya sedang penuh mengunyah.


"Bunda kira, kamu nggak akan mau bikin beras kencur," ledek bunda membuat Aro mendengus.


"Buat anak istri, apa sih yang nggak aku lakuin?" Tentu saja semua ia kerjakan sendiri. Bahkan mencuci pakaian pun ia kerjakan meski di rumah bundanya ada asisten rumah tangga.


"Dasar anak ayah," sindir Bumi tertawa riang.


Sementara Ara fokus mengunyah seraya memegangi miliknya agar tak membuat hidung sang putri tertutup. Di saat seperti itu, masuklah mami Ara. Ia datang membawa botol putih di tangannya.


"Dede masih nen?" tanyanya seraya naik ke tempat tidur dan duduk di samping Ara.


"Ini virgin coconut oil, buat pijat dede sebelum mandi," terang mami menunjukan botol putih itu.


"Aku juga minum ini pas masuk usia kandungan lapan bulan," beri tahu Ara.


Mami hanya mengangguk kemudian menoleh pada bunda.


"Kak Bumi dicari abang tuh. Katanya temani ke rumah Haji Unsri buar pesen kambing."


"Kambing?" Bunda mengerungkan alis.


"Buat akikah dede," terang mami.


Bunda menepuk jidat, "Ya Allah, lupa aku."


"Enin pergi dulu ya, Cantik," pamitnya seraya mencium pucuk kepala cucunya yang masih anteng dengan kegiatannya.


Aro yang mendengar kata akikah, jadi risau sedangkan Ara masih belum menghabiskan sarapannya. Aro meminta izin pergi sebentar dan menyarankan agar mami menyuapi Ara.


"Enggak!" sanggah Ara.

__ADS_1


"Aku maunya Mas yang suapin," lanjut Ara.


Ara sebenarnya hanya beralasan, sebab semalam suami dan ayahnya itu sempat berdebat tentang akikah putrinya. Ayah inginnya diadakan Ahad ini, tepat satu minggunya kelahiran Mahika Briana Samadya. Sedangkan Aro berniat mengadakannya nanti saja di rumah mereka. Setelah Mahika 40 hari.


Perdebatan tak sampai di situ, ayah yang ingin membeli kambing dengan uangnya sendiri membuat Aro kesal.


"Aku papanya, tanggung jawabku membeli kambing." Aro melawan ayahnya.


"Ayah kakeknya, berhak memberikan yang terbaik untuknya," balas ayah tak mau kalah.


Dengan hati gusar, Aro terus berusaha konsentrasi menyuapi istrinya hingga piring itu licin tandas.


"Ayamnya masih mau, Mas," rengek Ara, sengaja.


Dengan telaten Aro menyuapi Ara ayam bekakak itu. Sesekali dia suapkan pula pada mulutnya.


"Nanti biar aku yang masakin sarapan buat Mas," tawar Ara.


"Enggak usah!" sanggah Aro memasukan suapan terakhir bekakak ayam pada mulut istrinya.


"Kamu abis ini minum beras kencur, mandi trus berjemur. Akau sarapannya gampang, bisa sendiri," jelas Aro mengabsen kegiatan yang mesti dilakukan Ara setelah selesai makan..


Bayi mungil dalam pangkuan kembali tidur. Mami mengambilnya ke dalam dekapannya. Membuat Ara bernapas lega, sedikit bisa meregangkan otot.


"Pegel juga, ya," selorohnya seraya merentangkan tangan.


"Minum!" Aro menempelkan ujung gelas berisi beras kencur ke bibir Ara.


Ara menenggaknya sekaligus hingga licin tandas, bila disisa-sisa nanti malah terbuang. Rasa hangat dari kencur dan manis dari gula menjalar dari kerongkongan hingga perut.


"Mandi sekarang, aku siapkan air ya!" Aro melupakan perkara kambing dan ayahnya. Tak yakin juga bisa menang melawan Ayah.


Selepas air siap sedia, Ara segera mandi. Kali ini tak ingin dibantu lagi oleh suaminya. Ia sudah bisa sendiri. Bahkan mengoleskan ramuan ke perut serta memakai bengkung saja ia bisa sendiri.


Selesai mandi dan rapi, barulah bayinya terbangun kembali. Si kecil itu tak menangis, hanya membolakan mata dengan tangan dan kaki yang terangkat.


"Lincah banget ya," komentar mami yang sedari tadi menunggui cucunya tidur.


"Aku dulu gini, nggak?" tanya Ara membuat maminya menunduk.


Pasalnya, saat Ara semerah itu dirinya tak pernah melihatnya. Ara yang menyadari ucapannya salah, lekas mengusap punggung tangan maminya.


"Eh maaf, Ara nggak maksud begitu."


Mami menggeleng, "Mami nggak mau sekejap pun melewatkan pertumbuhan dede. Izinin mami buat terus nemenin dede dan kamu, ya?" pinta mami dan tentu diangguki Ara.


"Cantik Papa udah bangun lagi?" sapanya membuat Ara melerai pelukan terhadap maminya.


"Mas mau berangkat sekarang?" tanya Ara.


"Nanti dulu, lihat dede selesai mandi," kilah Aro.


"Ya udah mami mandiin dedek dulu deh, kamu siapin keperluan suami kamu aja."


Mami kemudian beranjak ke kamar mandi, menyiapkan air untuk mandi cucunya.


Ara segera beranjak, hendak mencarikan baju untuk suaminya. Namun, Aro melarangnya. Menyuruh Ara untuk tetap di samping putri mereka.


Aro mengambil pakaian sendiri di dalam lemari. Selesai memakai baju ia segera naik ke atas tempat tidur dan memperhatikan putrinya yang sedang Ara buka pakaiannya.


"Tambah endud ya pipinya?" Aro menusuk pelan pipi putrinya.


"Nennya kuat banget," ujar Ara seraya tersenyum ke arah putrinya yang mulai telanjang.


"Bubunya harus banyak emam," bisik Aro beralih mendekati Ara dan mencium pipi istrinya itu.


Saat mami kembali, cucunya sudah siap untuk dimandikan. Wanita itu memijat sebentar tubuh cucunya sebelum membawanya ke kamar mandi. Ara segera beranjak hendak menyiapkan pakaian bagi putrinya, namun lagi-lagi dicegah Aro.


"Aku aja, Sayang. Aku tahu kok susunan baju dede."


Benar saja, Aro ternyata tepat mengambilkan pakaian putrinya. Hingga saat mami kembali bersama putri mereka, pakaian itu sudah siap di tempat tidur.


Ara segera mengambil putrinya dari gendongan mami, telaten ia mengeringkan tubuh makhluk kecil itu dengan handuk. Sementara, mami pamit keluar. Membawa serta piring dan gelas kotor.


Aro seksama memperhatikan Ara mengurusi bayi mereka. Ada perasaan hangat dalam hatinya melihat begitu sabar Ara memperlakukan putrinya.


"Bubu pinjem tangan Dede, sebentar ya?" izin Ara saat hendak memasukan sarung pada tangan putrinya.


"Anak pintar, solehanya Bubu dan Papa." Ara kembali memasukan sarung pada tangan putrinya.


Selesai berpakaian, Aro segera menggendong putrinya untuk berjemur. Ara dengan langkah perlahan mengikuti suaminya itu.


***


Perdebatan kambing akikah masih jadi hal pelik. Pemenangnya memang ayah, meski Aro mengalah dengan perasaan tak puas.

__ADS_1


"Nanti kita potong kambing lagi aja di rumah kalau Mas mau," bujuk Ara keesokan harinya.


"Nanti sekalian cukur rambut dedek. Sekalian kenalin dedek ke tetangga kita di sana," lanjut Ara membuat suasana hati Aro semakin mencair.


Esoknya lagi pria itu sudah kembali semringah, ikut sibuk mempersiapkan tempat untuk syukuran akikah putri tercintanya.


"Ayah beli kambingnya dua loh," beri tahu Akash yang hanya ditanggapi oh oleh Aro.


Bukan tanpa alasan ayahnya membeli dua ekor kambing. Agar semua kebagian, begitu katanya.


"Wah, puput puseurnya di hari ketujuh berarti nih, ya." Paraji yang turut diundang dalam acara akikah sedang menaruh tali pusar putri Ara ke dalam tas kain. Kemudian, ditutup menggunakan bungkusan kasa dan ditambah dengan uang logam.


Paraji mengikatkan benda tersebut pada perut bayi Ara. Tujuannya agar pusar tidak menyembul ke luar.


"Nah, Neng ... kamari pan entos nejrag bumi ku halu tea, nya. Ayeuna mah sok bagikeun bubur beureum jeung bubur bodasna. Ulah hilap dipasihan ngaran." (Kemarin kan sudah memukul bumi pakai tongkat. Sekarang bagikan bubur merah bubur putih. Jangan lupa kasih nama) Paraji mengingatkan tradisi Sunda dalam merawat bayi setelah lahir selanjutnya.


Ara dengar dari cerita Aro saat mengubur ari-ari, ia diminta paraji untuk menambahkan garam, asam, gula merah dan kunyit. Juga beberapa helai kain warna warni. Menurut paraji hal itu agar kelak besar bayi mereka akan terlihat cantik memakai baju berwarna apapun. atau model apapun.


Saat dipijat tiga hari setelah melahirkan, Ara juga diminta Paraji untuk memukulkan halu (berupa tongkat tebal dari kayu) ke arah bumi. Saat itu Ara melakukannya persis di samping putrinya. Ara memukulkan alu sebanyak tujuh kali. Menurut paraji, tujuan dari adat ini adalah untuk menjadikan putri Ara kelak menjadi anak yang pemberani dan tidak mudah takut.


"Tapi keukeuh, anging Allah anu kawasa. Anu uninga ka na kahirupan urang sadaya." (Tapi tetap hanya Allah yang berkuasa atas kehidupan kita semua) Begitu ucap paraji saat itu. Sebab Ara terlihat ragu saat melakukannya. Ia yakini, bahwa hanya Allah satu-satunya tempat meminta pertolongan.


Selesai didandani oleh paraji, Ara menggendong bayinya sebab makhluk kecil itu sudah meronta-ronta minta nen.


"Saha namina?" (Siapa namanya) tanya paraji, seraya membereskan alat-alat bekasnya mengurusi tali pusar putri Ara.


"Mahika Briana Samadya," jawab Ara yang sedang fokus mengASIhi putrinya.


"Panggilannya apa?" tanya Paraji lagi.


"Hika," jawab Ara seraya tersenyum, bayinya sudah dapat mencapai kegemarannya.


"Dya," tangkas Aro yang baru kembali dari luar, badannya sedikit bau kambing.


"Iih Hika, dong!" teriak Ara karena suaminya masuk ke dalam kamar mandi.


"Dua-duanya juga bagus," lerai paraji seraya pamit untuk ke luar dari kamar Ara.


Di dapur, bubur merah dan bubur putih sudah dikemas untuk dibagikan ke tetangga. Bumi juga menyiapkan bubur itu untuk dibagikan di komplek perumahan Aro.


"Udah siap nih, anterin sekarang gih. Kasih aja ke Pak Satpam nanti dia yang bagiin," jelas Aro pada Atar seraya memakai kaus.


Ara keluar dari kamar menggendong putrinya yang ikut riweuh tak mau tidur.


"Eh, Cantik Enin enggak bobo?" Bumi meraih tubuh mungil cucunya.


"Bunda udah cuci tangan belum?" tanya Aro dan langsung mendapat cubitan di perut dari Ara.


"Bunda barusan abis Duha, udah wudu juga. Kamu pikir?" sentak Bumi membuat Aro meringis dan ditertawakan oleh Ara.


"Kamu makan bubur dulu gih, Bunda mau bawa dede ke yuyut di ruang tamu," terang Bumi kemudian melangkah membawa cucunya untuk menemui mama dan ummi.


"Mau makan apa?" tanya Aro pada istrinya yang malah celingukan.


"Aku nggak mau makan bubur manis begini ... bubur ayam maunya," pinta Ara dan langsung suaminya itu berangkat untuk mencari apa yang diinginkan istrinya.


Sementara Aro pergi, Ara ikut bergabung di ruang tamu. Ternyata di sana ramai. Termasuk ada Teh Fenty yang sedang memijati kaki uti.


Paraji juga ada di sana, mengobrol dengan Zahra yang ternyata sudah saling kenal sejak lama. Katanya dulu sering bertemu di Empang saat mereka masih kecil.


"Cuma nasib saya jadi tukang urut, sedangkan Zahra jadi istri Bos," seloroh Paraji itu membuat mereka tertawa.


Hika kini sudah berada dalam gendongan Nadia, wanita itu tetap cantik meski usianya tak lagi muda.


"Gantian dong, gendong Hikanya," celetuk Alisha yang sedari tadi tak kebagian menggendong Hika.


"Sebentar dong Lica, Onty kan jauh, ketemunya jarang." Nadia memberi alasan.


Alisha berdecak kesal, pasalnya jika ada Aro kesempatan menggendong Hika semakin menipis. Sepupunya itu sangat protective terhadap putrinya.


Akhirnya acara pengajian digelar bada Zuhur. Ada sekitar 60 orang ibu-ibu pengajian yang diundang hari itu. Tak lupa juga 50 orang anak yatim ikut meramaikan acara.


Ara menggendong Hika ke hadapan ibu-ibu pengajian. Di tengah-tengah ibu-ibu yang duduk melingkar itu, ditaruh bambu melintang yang dihias dengan makanan ringan dan buah-buahan yang dibungkus dengan plastik putih. Di bawahnya ditaruh makanan berat berupa nasi dan lauk pauk. Di bambu yang sama, dibuat ayunan dari kain untuk menimang Hika. Selama prosesi pengajian dan doa digelar, bayi itu anteng ditaruh di sana. Sesekali hanya menggeliat kemudian Ara akan menepuk-nepuk pahanya.


Abang Za sibuk merekam kegiatan itu, sesekali kameranya ia sorotkan lebih lama pada Tala yang tampak cantik mengenakan abaya putih dengan pashmina warna senada.


"Pepet terus sebelum bendera kuning berkibar," bisik Aro yang tahu kelakuan kakaknya itu.


Akhza hanya berdecak kesal, ia merasa ditelanjangi sebab ketahuan oleh Aro.


.


.


.

__ADS_1


Maaf bila ada kesalahan dalam penulisan, silahkan langsung ditegur, ya. Mamacih enin online 🤗😘


__ADS_2