Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Aku yang Memilihmu


__ADS_3

Ara menunggu Akhza -yang sedang ke warung- di dalam mobil. Dia diserang mual yang hebat. Kakaknya itu tadi menyalakan AC mobil saat perjalanan, dan Ara tak biasa dengan hal tersebut.


"Kamu muntah di sini aja," saran Akhza seraya menyerahkan keresek hitam yang ia beli di warung bersama teh panas dan beberapa biji permen karet.


Teh dan permen ia simpan ke atas dashboard. Kemudian ia duduk di bangku kemudi. Napasnya tak beraturan. Tentu saja dia barusan melangkah lebar-lebar sebelum adiknya mengamuk.


"Aku maunya teh tubruk," protes Ara membuat Akhza berdecak.


Itu teh celup!


Tadi dari ruang tunggu, Ara minta diantar ke luar. Tak kuat dengan aroma rumah sakit yang khas dengan baut obat. Mual ingin muntah menyerang, tapi tak ada yang keluar dari mulutnya.


Oh Ara, kamu merepotkan dan menyebalkan sekali!


"Ra, jangan bikin aku pusing. Yang ada aja!" bentak Akhza.


"Abang ... kok bentak-bentak?" tuding Ara dengan mata berkaca-kaca.


Ok, Za. Sabar. Pertama dia itu lagi hamil. Kedua, lihat, dia mulai membuka ponselnya. Jangan-jangan mau telepon suami bucinnya. Oh tidak, Za! cepat minta maaf.


"Ok, aku minta maaf ... di warungnya nggak ada teh tubruk," jelas Akhza seraya mengambil teh yang masih mengepul itu dari atas dashboard.


"Minum ini dulu," bujuk Akhza dengan nada lembut.


"Ya udah taro aja!" sungut Ara seraya menunjuk dengan dagu ke atas dashboard.


Kenapa dia jadi manja begini? oh iya, lupa. Dia sedang hamil dan dia wanita. Wanita selalu benar.


"Aku ke dalam lagi, ya?" pamit Akhza.


Ara tak lekas menjawab. Ia masih merasa was-was bila sendirian.


"Kasihan Lala sama ibunya," bujuk Akhza.


"Aku pengen beli itu ... tuh denger nggak?"


Tahu bulat, digoreng dadakan lima ratusan


"Nah, beli gih!"


Akhza menggeram, ia kesal sekesal-kesalnya.


"Enggak usah!" tolak Akhza.


Enak aja! elo kenapa-napa gue yang didamprat si bucin.


"Ya udah sana balik, emang kamu nyebelin!" Ara memalingkan wajah. Memandangi deretan mobil lain yang terparkir di area yang sama.


Serah kamu deh, Ra. Pusing ngadepin bumil.


"Aku ke dalam dulu, kalau ada apa-apa telepon!"


Akhza segera keluar dari mobil, sempat menengok sebentar pada Ara kemudian melesat masuk menemui Lala.


dr. Liliana Darby, Sp.KJ


Bukan dokter tampan ternyata. Beruntung ibu Alka tak kecewa, sebab tak bertemu dokter tampan.


"Maaf lama." Akhza menyesal dan merasa tak enak saat kembali, Lala dan ibunya baru ke luar dari ruang pemeriksaan.


"Enggak apa. Udah beres," sahut Lala dengan senyuman.


"Alhamdullillah," balas Akhza.


Setelah urusan selesai dan obat didapat mereka meninggalkan rumah sakit. Lala tadi sempat berbisik pada Ara, ingin membeli bakso kesukaan ibunya sebelum sampai rumah.


Selain tak ingin dianggap berbohong, Lala tak mau ibunya menagih janji.


"Bakso jeletot," ujar Lala saat Akhza bertanya apa nama warung baksonya.


Tiba di tempat tujuan, Ara dan Akhza yang turun untuk membeli bakso. Lala dan ibunya menunggu di mobil. Melihat tempat jualan yang bersih dan nyaman, Ara jadi ikut-ikutan memesan bakso.


Sepuluh bungkus bakso!


"Di rumahku banyak orang," begitu sahut Ara saat Akhza berkomentar kenapa sebanyak itu membeli bakso?


Sementara Akhza, dia kurang suka. Melihat bakso, dia jadi teringat kebiasaan ayahnya yang mengajak makan mie dengan bakso yang banyak langsung dari dalam panci.


Ok, nanti di rumah harus ajak ayah makan mie bersama dalam panci.


Sementara di tempat lain, Aro, Alka, Ansar, Monde dan Omar sudah sampai di tempat yang dituju.


Mereka langsung mengajak Julus dan Apeng bicara dari hati ke hati. Aro mencoba bersikap hangat, meski sudah geram saat Julus mengatakan keadaan sesungguhnya.


“Jadi kita disuruh Tante Kinan buat jebak Aro setelah dua kali gagal nyelakain istrinya,” papar Julus.


“Dua kali?” Aro menyentak juga akhirnya.


“Yang sekali saat di jalan, tapi sayang kenanya malah ke elo ‘kan?” Julus menyoroti Aro dengan tatapan menantang. Dipikir Aro tak berani menghajarnya.


Pengen banget gue hajar.


“Yang kena itu kembarannya. Yang kalian serang juga bukan istrinya,” jelas Omar.


“Nggak bisa bedain antara Ara sama Tala aja sok sok an mau jadi penjahat,” cibir Omar dengan tawa meledek.


“Mana Madsa?” tanya Monde sambil memukul meja.


“Ayah lagi di kampung,” jawab Julus. Nyalinya tiba-tiba menciut seperti kerupuk tersiram air sambal.


“Telepon, bilang Ansar sama Monde mau bicara!” geram Ansar membuat Julus dan Apeng kelabakan langsung menelepon Madsa.


Lama sekali Ansar bicara dengan Madsa lewat sambungan seluler itu. Hingga akhirnya, giliran Julus yang bicara dengan Madsa.


“Maaf ... salah gue nggak pikir panjang dan nggak cari tahu siapa yang jadi mangsa,” sesal Julus.


“Hari itu elo yang sekap istri gue, hah?”


“Elo yang datang nyamar jadi kang paket?”


“Elo yang tega bikin istri gue ketakutan?”


“Di saat gue, sebagai suaminya nggak pernah seujung kuku pun nyakitin dia!”


“Elo bayangin bang sat!”


“Istri gue dikurung dalam keadaan gelap!”


“Apa elo nggak mikir gimana kalo itu ada di posisi sodara, atau istri elo sendiri!”


Dan, brugh!


Julus ambruk setelah tiga kali pukulan di perut serta dua kali bogem di wajah yang dihadiahkan oleh Aro. Pria bertato ular di lengannya itu tak melawan.


“Dibayar berapa elo buat nyakitin istri gue?”

__ADS_1


“Dia segalanya buat gue.”


“Dia berharga lebih dari apapun, dan elo beraninya nyakitin dia.”


“Bang ke, harusnya elo mo dar!”


Aduuh!


Kini giliran tubuh Apeng ambruk setelah dihajar tanpa perlawanan.


“Cukup, Ar!” cegah Omar saat Aro akan menginjak kaki Julus.


“Ampun, Ar.” Julus mengaku kalah


“Saya nggak tahu kalau ternyata dia ponakan Wa Monde. Saya minta maaf,” sesal Julus memandang ke arah Monde.


Entah apa yang telah dia dan Madsa bicarakan hingga Julus yang biasanya bengis bisa tunduk bahkan tak melakukan perlawanan saat Aro memba bi buta menyerangnya.


Benarkah Ansar dan Monde preman paling ditakuti pada masanya?


Oh, Ara. Beruntung sekali kamu punya Abah seperti Monde.


“Sorry, Ar. Gue waktu itu dibayar kontan sama Tante Kinan,” jelas Apeng.


“Dia sakit hati sebab elo udah laporin Rea ke polisi.”


“Tante Kinan bergantung hidup ke Rea.”


“Sejak Rea dibui, nggak ada lagi uang yang bisa dia dapatkan selain sisa-sisa tabungannya.”


“Dia makin marah saat denger elo udah nikah dan pastinya bahagia.”


Aro mengeraskan rahang mendengar lontaran kalimat Apeng. Dia mengira Davina yang melakukan hal ini. Padahal dulu Tante Kinan baik sekali terhadapnya. Wanita yang sering menyasag tinggi rambutnya itu ramah pada siapa saja.


“Berapa yang Tante Kinan kasih ke elo?” Aro merendahkan emosinya. Ia sudah cukup puas menghajar Apeng dan Julus meski bayangan saat Ara disekap mengiris hatinya.


Apeng menyebutkan nominal, membuat Aro tertawa sumbang.


“Segitu doang?” ledek Aro.


“Elo kerja ke gue bayarannya bisa lebih dari itu!” pekik Aro, sekali lagi ia menendang paha Apeng dan Julus bergantian.


“Mar, balikin duit Tante Kinan. Tambahin kalo perlu.” Dengan sorot mata merah, Aro memandangi Omar.


Oke! Si bucin sedang marah.


Ada satu lagi yang masih mengganjal, dan Aro perlu tahu jawabannya.


“Kenapa laptop gue dibalikin?”


Julus dan Apeng bertukar pandang.


“Kenapa bo nge!” Aro melempar kursi plastik hingga membentur dinding. Tak sabar dengan jawaban dua bi adab itu.


Alka mengulas senyum, jadi seperti itu bila Aro marah? Sesayang itu Aro pada istrinya? Dan gue bahkan nggak bisa perjuangin apa yang selama ini gue kejar?


Ansar dan Monde saling melempar senyum juga, membiarkan sejauh mana Aro melampiaskan kembali emosinya.


Sementara Omar mulai sibuk mengetik pesan, meminta Naren, sang kasir yang bertugas menggantikan Omar untuk mengirim uang ke rumah Tante Kinan.


Julus memandang Apeng, meminta kawannya itu yang menjawab pertanyaan Aro.


“Awalnya kami kasih ke Bu Davina.”


“Nyatanya dia nolak.”


“Dia bilang, meski dia suka ke elo, tapi dia nggak mau licik.”


Mendengar kalimat terakhir Apeng Omar terkekeh.


“Asiik, ehm ... ehm ... perlukah Ara tahu semua ini?” goda Omar dengan menaik turunkan alisnya.


“Berisik!” teriak Aro.


Pria itu menjatuhkan diri ke atas kursi plastik. Mengusap kasar wajahnya yang terasa panas.


“Astagfirullah,” gumamnya dalam hati.


“Andai gue nggak jadi artis. Mungkin hal buruk kayak gini nggak akan nimpa Ara. Maafin aku, Sayang,” rintih Aro dalam hati.


Permasalahan sudah beres. Sebelum pulang, Aro bahkan menekankan pada Julus dan Apeng jangan lagi berani menyentuh keluarganya siapapun yang menyuruhnya. Atau, Aro akan bongkar persembunyian mereka.


“Emang harus dibubarin sih mereka itu,” saran Monde saat perjalanan pulang.


“Elo jangan lagi kebawa arus Apeng, Ka,” tegur Aro pada Alka yang sedari tadi hanya diam.


“Buat aja laporan ke polisi. Ajak warga setempat yang merasa diresahkan oleh mereka,” komentar Ansar.


“Si Madsa sang Ninja emang kudu dibikin nyaho!” seru Monde.


“Udah biarin aja lah. Lambat laun juga mereka keciduk,” sela Aro.


“Buat saya yang penting Ara terjamin keselamatannya.”


Ada sedikit takut dalam diri Aro jika kembali ikut terlibat dalam meringkus penjahat. Cukup sekali Aranya tersakiti, ia tak mau lagi.


Harapannya sekarang segera sampai rumah dan memeluk istri kesayangannya itu.


Ara sendiri tiba di rumahnya saat hampir petang. Setibanya di kontrakan Alka, dia dan Akhza sempat mampir dan berbincang sejenak dengan Lala meski tak banyak yang Lala bicarakan.


Selang beberapa menit Atar dan Fadan kembali. Mereka datang dengan wajah memberengut kesal.


“Mas Ar tuh emang bener-bener penjajah,” adu Atar dengan peluh memenuhi dahi.


“Kita baru sampe Kotu disuruh balik lagi,” sambungnya seraya memutar bola mata jengah.


“Kenapa disuruh balik?” selidik Akhza.


Ayolah boy! Gue pengen ketawa lihat tampang kesel elo. Kutukan banget elo jadi adik gue dan Mas Ar yang lebih seneng liat elo menderita hahaha.


“Tuh.” Atar mengangkat kepalanya dan ditujukan pada Ara yang sedang tersenyum pula, gemas dengan si bungsu.


“Jangan sampai Abang yang anter pulang katanya,” lanjut Atar membuat Ara tertawa.


Udah aku duga Mas, mana bisa kamu biarin aku sama Abang berduaan doang.


Akhirnya Ara pulang bersama Atar dan Fadan sedangkan Akhza kembali pulang sendiri dengan motor Atar.


Mas Ar segitunya curiga ke gue. Hahaha, kalau gue yang jadi suami Ara belum tentu kayaknya gue secinta itu ke Ara. Apa lagi dengan kondisi gue yang susah ungkapin perasaan. Ara bisa makan hati bersuamikan gue. Atau gue emang udah nggak ada rasa sama Ara? Baguslah, Za.


Ara menyempatkan diri mengantar dua bungkus bakso untuk Fenti dan Ceya sebelum sampai ke rumah. Setelahnya ia cepat ke rumah berharap Aro sudah menunggunya.


Nihil.


Rumah masih terkunci rapat, ia kecewa dan langsung merasa sedih.

__ADS_1


[Mas kenapa belum pulang?]


[Masih di mana?]


[Cepet pulang!]


[Aku nggak mau ditemenin Atar!]


Rentetan pesan Ara kirim tanpa mendapat jawaban. Ia tak tahu bahwa di bagian bumi lain, suaminya sedang mem ba bi buta menghajar Julus dan Apeng bergantian.


Hingga ia selesai mandi, belum juga Aro kembali. Mungkin setelah Isya’ pikir Ara, tetap saja tak ada tanda-tanda kepulangan suaminya itu.


Pesan masih belum dibaca. Bahkan bakso yang ia taruh di atas meja makan sungguh enggan ia cicipi. Sedangkan dua bocah sudah mendengkur halus di sofa ruang tamu.


“Ini sih jadi aku yang temenin mereka, bukan mereka yang temenin aku,” keluh Ara seraya kembali ke kamarnya.


Dia mencoba memejamkan mata setelah menaruh baju ganti suaminya di kursi yang menghadap meja rias.


[Sayang, bajunya udah aku siapin di kursi. Aku tidur.]


Ara kembali mengirim pesan pada suaminya dan berharap dibalas.


Hello Ara, kamu udah kayak anak SMP aja. Suami kamu itu mungkin lagi sibuk. Tidur!


Hingga tak sadar Ara terlelap setelah berkali-kali mengganti posisi tidur. Dari miring kiri, miring kanan. Terlentang sampai. Oh, tidak! Jangan tengkurap Ara.


Akhirnya dia tidur dengan posisi terlentang tanpa selimut menutupi tubuhnya. Daster Teddy bearnya menyingkap hingga menampakan paha mulus nan putihnya.


Keadaan itu tentu menjadi pemandangan indah bagi suaminya yang baru datang. Ia menggeleng ke arah istrinya dan segera menutup tubuh itu dengan selimut.


Ingin rasanya langsung saja memeluknya, namun Aro sadar belum membersihkan diri. Apa lagi tadi Ara mengirimi pesan bajunya telah disiapkan. Itu artinya, dirinya harus mandi sebelum menempati tempat ternyaman mereka.


Gemericik suara air dari kamar mandi membuat Ara terusik. Ditambah tenggorokan yang kering serta perut yang terasa perih semakin memaksanya untuk berhenti dibuai lelap.


Ara menyimpulkan senyum demi melihat keranjang sudah terisi pakaian kotor suaminya. Artinya, suaminya sudah pulang. Ia cepat beranjak. Berdiri tepat di depan pintu, hendak memberi kejutan untuk suaminya.


Hingga Aro membuka pintu kamar mandi dan berdiri di bibir pintu, Ara cepat memeluk suaminya itu.


“Mas, pulangnya lama banget,” keluh Ara dalam pelukan Aro.


Aro tentu membalas pelukan istrinya, ia usap penuh sayang surai lembut istrinya itu. Handuk bekas mengeringkan rambut ia lempar ke dalam keranjang agar dapat leluasa memeluk istrinya.


“Udah makan belum?”


Ara menggeleng.


“Udah minum susu?”


Lagi-lagi Ara menggeleng.


“Kok nakal sih? Nggak kasihan ke dedek?”


Aro mendorong pelan tubuh istrinya.


“Mau makan apa?” Pipi mulus itu Aro usap penuh sayang.


“Mau makan kamu,” sahut Ara.


Ara! Apa-apan kamu?


“Makan aku butuh energi, jadi kamu harus makan yang lain dulu.” Aro mencium sekilas ujung hidung Ara.


“Aku mau nasi goreng sama teh manis gula batu. Tapi, Mas yang buatin!” seru Ara seraya mengalungkan tangannya ke leher Aro.


Tentu saja Aro menuruti keinginan Ara, meski pada akhirnya Ara juga menghabiskan bakso yang dibelinya setelah dipanaskan dan segelas susu juga licin tandas dari gelas ia habiskan.


Sehingga acara memakan suaminya, haha. Tentu hanya wacana dan Ara kembali lelap setelah perutnya kenyang.


Ara tidur pulas hingga saat bangun pada pukul 03.15, ia mendapati suaminya sedang memandanginya dengan mata berkaca-kaca.


“Mas ....” Suara serak khas bangun tidur Ara membuat Aro terperanjat.


Aro cepat mengambil air mineral di atas nakas, segera membuka tutupnya dan menyuruh Ara minum.


“Mas nggak tidur?” Suara Ara kini telah kembali normal.


“Udah, Cuma tadi jam dua kebangun,” jawab Aro kembali menutup botol itu dan menyimpannya pada tempat semula


“Mas udah salat tahajud?” Indra penglihatan Ara menangkap sajadah yang masih tergelar dan suaminya juga mengenakan koko putih dan sarung hitam sebagai bawahan.


“ Saat taubat, Sayang.” Aro tersenyum getir.


“Nyesel banget dulu kenapa milih jadi artis. Sampe bikin nyawa kamu jadi taruhannya di masa sekarang.” Aro menarik tubuh istrinya ke dalam pelukan.


“Ngomong apa sih?” Ara tak mengerti.


Aro perlahan menceritakan kejadian tadi sore. Semua ia jelaskan kecuali bagian Davina yang menyukainya.


Semoga Davina segera taubat.


“Allah terlalu baik sama aku,” ucap Aro setelah agak lama berdiam.


“Aku dikasih jodoh sebaik kamu. Bahkan aku harus saingan sama abang, dan dengan egoisnya aku rebut kamu dari dia.” Aro menghirup harum rambut istrinya.


“Aku tahu, Abang pasti terpuruk.”


Elo adik terjahat, Ar. Bahagia dia atas air mata Abang sendiri.


Hello! Ara yang milih gue.


“Tapi aku maksa dia buat lepasin semua perasaannya ke kamu dan dengan teganya membatasi jarak kalian,” bisik Aro.


“Itulah sebabnya aku selalu takut kamu berduaan sama abang. Aku sadar, udah rebut kamu dari dia.”


Ara menggeleng dalam pelukan suaminya itu.


“Kamu nggak rebut aku dari siapapun. Aku sendiri yang milih kamu, Mas.”


“Bahkan, kamu satu-satunya cowok yang aku rasa paling ganteng saat SMP.”


“Aku pikir, dulu mimpiku ketinggian pas mulai ngerasa suka ke kamu.”


“Aku sempat merasa kerdil sebab berani jatuh cinta sama seorang bintang.”


“Aku cuma bisa lihat kamu dari kejauhan, tanpa berani berusaha cari perhatian.”


“Bahkan, aku sempat rela terus-menerus jadi bahan kejahilan kamu yang penting bisa deket kamu.”


“Mas, aku yang lebih dulu jatuh cinta ke kamu. Jadi, jangan berpikir kamu merebutku. Hatiku sudah terpaut jauh sebelum kamu bilang cinta ke aku.”


“Aku mencintaimu, Mas. Sangat.”


Pelukan Ara yang diiringi tangis semakin erat dirasakan Aro. Ia tak menyangka bahwa istrinya yang seolah pantang mengumbar cinta itu sudah mengutarakan perasaan terdalamnya.


“Aku lebih mencintaimu, Ara,” balas Aro dengan kedua ujung mata yang basah.

__ADS_1


__ADS_2