Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Mantan


__ADS_3

"Lo kenapa bisa lupa sih kalau ada syuting pagi?" Omar menyalak, ia yang menempati kursi penumpanv memberi tatapan penuh belati pada Aro.


"Bukan lupa, tapi sengaja," ralat Aro yang sedang menyetir dengan kecepatan tinggi dan nyaris ugal-ugalan.


"Pelan-pelan ka*****!" umpat Omar saat hampir saja Aro menabrak pembatas jalan saat mobilnya menghindari menabrak gerobak penjual bakso.


"Lo bilang harus cepet-cepet, ini gue cepetin masih protes aja lo!" balas Aro tetap fokus ke depan.


Berkali-kali pengendara lain mengumpatnya karena menyalip kendaraan mereka tanpa aturan. Aro bahkan tak segan menyalip mobil truk barang berukuran besar. Ia begitu hanyut dengan jiwa ugal-ugalannya.


Ditemani lagu Heartbrek Anniversary milik Giveon, Aro terus saja melajukan mobil tanpa aturan. Apalagi saat masuk jalan tol, ia lebih seenaknya saja menambah kecepatan mobilnya.


"Ba***ke, kenapa lagunya kayak gini, sih!" umpatnya.


Don't wanna let you out my head


(Tidak ingin membiarkanmu pergi dari pikiranku)


Omar malah sengaja bersenandung. Ia yakin, artisnya itu sedang memikirkan Ara yang saat ditinggalkan tadi sedang bersama Akhza.


I like this everytime


(Aku selalu saja seperti ini)


Baru satu bait, Aro sudah melempar wajah Omar dengan botol air mineral yang isinya masih setengah. Ia tak peduli saat Omar mengeluh kesakitan. Ia hanya kesal mengapa lagunga seperti sedang menyindir keadaan hatinya, patah hati melihat Ara sedang bersama abangya.


"Ganti, Mar lagunya"!


"Udah, fokus nyetir aja. Nggak usah mikirin lagu. Emang apa urusannya apa sih sama lo?"


Heartbreak anniversary do you ever think of me


(Perayaan patah hati kita)


(Apakah kau pernah memikirkanku)


Jalanan lengang membuat Aro semakin leluasa menancap gas, ia bahkan tak segan kembali menyalip truk besar hingga membuat Omar semakin yakin jika Aro memang benar-benar sedang terbakar api cemburu.

__ADS_1


"Cemburu lo sadis ya, Ar. Gue berasa naik roller coaster ini." Omar sampai gemetar ketakutan, sebab ini kali pertama Aro membawa mobil dengan kecepatan tinggi dan tanpa aturan.


Aro sendiri tak menjawab, ia malah lebih ugal-ugalan dengan adanya protes dari Omar. Hingga tiba di lokasi, Omar sampai muntah sebab merasakan perutnya seperti diaduk. Aro sama sekali tak peduli dengan keadaan Omar. begitu turun dari mobil ia langsung masuj ke dalam sebuah rumah yang menjadi lokasi syuting hari itu.


"Ar, kemana aja sih? kita banyak buang waktu buat nungguin lo! udah bikin adegan kayak gini lo paling susah, pake acara molor lagi datangnya!" Sutradara langsung menghujaninya dengan protesan.


Aro sendiri tak menggubris, ia memilih menanyakan kostumnya pada kru lain.


Omar yang baru saja masuk, tak luput dari amukan sang Sutradara. Ia bahkan kena marah lebih banyak sebab dianggap tak bisa menangani artisnya.


"Awas aja tuh kelakuannya sampe dibawa-bawa ke Jogja," ancam sang Sutradara.


"Dia tuh nggak mau sama Jingga mainnya," Omar memberikan alasan mengapa dalam project kali ini Aro terkesan setengah-setengah.


"Bagian sama Jingga udah selesai, buat di Jogja kita punya pemain baru. Pemeran utama wanita yang sesungguhnga," jelas sang Sutradara.


"Siapa?" selidik Omar, curiga bukan artis yang bisa cocok dengan Aro.


"Rea Anggraini."


"Ah gila, dia mantan Aro!" seru Omar seraya menutup mulutnya.


Aro yang kala itu tengah berada dalam fase sedang sayang-sayangnya sungguh hancur ditinggalkan Rea. Melambungkan asa setingi langit, lalu dijatuhkan hingga jurang yang paling dalam sungguh sangat menyakitkan.


***


Ara cukup lelah hari ini, dia sampai ketiduran di meja kerjanya hingga pukul 21.00. Jika tidak ketahuan oleh Ati mungkin bisa bablas hingga pagi.


Saat sampai rumah, Vanya sampai menodongnya dengan banyak pertanyaan karena lebih dari satu jam Ara telat sampai rumah.


"Tadi ada pasien tambahan, Mi," jelas Ara, berbohong. Ia tak ingin diketahui lelah oleh Maminya.


"Muka kamu kelihatan capek banget," ucap Vanya seraya mengusap pipi Ara. "Pakai make up dong biar nggak pucat."


"Ara pake kok, cuma ya kebasuh lagi kalau lagi wudhu."


"Pakai yang waterproof dong," usul Vanya.

__ADS_1


"Khawatir menghalangi masuknya air wudhu ke kulit, Mi. Sayang kan," sahut Ara membuat Vanya mengerutkan kening dalam.


"Dalam islam, ada yang namanya wudu. Bersuci sebelum melaksanakan salat," papar Ara serius.


"Dalam wudu, kita dilarang main-main sebab sah atau tidaknya salat ditentukan dengan cara wudu yang baik dan benar. Dan salah satu wudu kita diterima yaitu tidak adanya benda yang menghalangi air masuk ke dalam kulit, Mi."


Vanya nampak masih tak mengerti, ditambah dia yang masih setengah hati untuk berganti keyakinan semakin meyakini dalam hati bila islam itu nyatanya rumit. Segala sesuatu ada tata caranya, sungguh akan membuatnya repot. Begitu pikir Vanya.


"Mami boleh lihat keseharian aku beribadah kalau mau belajar, aku tunggu Mami mau mengikuti keyakinanku," ucap Ara seraya berpamitan ke kamar mandi untuk membersihkan badan dan segera beristirahat.


***


Pukul 22.00 Aro baru menyelesaikan syutingnya yang molor waktu. Sang Sutradara sampai merasa tak puas melayangkan protesannya. Hingga syuting usai, ia masih saja mencecari Aro dengan segala wejangan. Padahal syuting hari itu lancar meski ada beberapa adegan mesra antara dirinya dan Jingga.


Sebelum pulang untuk berkemas karena besok pagi-pagi akan melakukan perjalanan ke Jogja, Aro dan Omar menyempatkan diri berkumpul terlebih dahulu bersama kru. Mereka membahas tentang scene apa saja nanti yang akan diambil.


"Jingga nggak ikut, kok. Ini kan syuting yang bagian ending, pemeran wanita sesungguhnya yang masuk," jelas sang Sutradara.


"Sesuai casting awal kan pemeran ceweknya?" tanya Aro, Tak ingin kejadian dengan Jingga terulang lagi.


"Kalaupun diganti, bisa gue pastikan lo bakal suka, Ar," ucap sang Sutradara menggebu-gebu.


"Siapa emang?"


"Rea Anggraini, mantan pacar lo yang bikin dunia lo sempet ancur kan waktu itu?" tebak sang Sutradara membuat Aro yang sedang menenggak air mineral dalam botol sampai tersedak.


"Rea?"


"Iya Rea. Publik tahu lah gimana hubungan kalian dulu. Pas banget Ar, sama judul yang lagi lo perankan, Cinta Bersemi Kembali."


Aro langsung menendang pergelangan kaki Omar sebagai bentuk protes. Lagi-lagi ia tidak diberi tahu soal lawan mainnya.


"Gue juga baru tahu barusan," elak Omar saat Aro hampir saja kembali menendangnya.


Aro sebenarnya sudah melupakan kenangannya dengan Rea yang sempat terukir indah. Rea adalah gadis baik, pembawaannya yang kalem dan selalu santun jelas membuat Aro saat itu jatuh cinta. Tapi, bila sekarang disandingkan kembali dalam satu project, rasanya Aro benar-benar tak ingin.


Hatinya masih menyimpan dendam sebab dulu Rea meninggalkannya dengan alasan tak masuk di akal. Padahal dulu Aro sudah memberikan segalanya perhatian dan kasih sayangnya. Ia mencintai Rea pada masanya, sekarang sudah tak ada lagi rasa itu.

__ADS_1


.


__ADS_2