
Pagi sekali Ara sudah membantu uti Ayas membuat sarapan. Kebiasaan nenek dari lima orang cucu itu tak pernah berubah, selalu mewajibkan setiap anggota keluarga untuk sarapan.
"Uti kenapa nggak mau tinggal di Bogor aja, sih?" tanya Ara yang sedang memotong tempe. Tempe goreng tepung buatan uti selalu jadi juara.
"Kalau Uti di Bogor, di sini siapa yang jaga?" uti balik bertanya, fokusnya masih pada tempe yang sedang digoreng. Aroma daun bawang menyeruak saat tempe hampir matang.
"Kan ada akung, kenapa harus dibuat ribet?" Ara menyelesaikan tugasnya, ia bawa tempe itu ke dekat uti. "Uti nggak pengen deket Ara terus?" tanya Ara selanjutnya.
"Ara aja yang tinggal di sini, gimana?" tawar uti, seraya meniriskan tempe yang sudah matang.
"Mami Ara nanti sendirian di Bogor," sahut Ara memberi alasan, tangannya terangkat mengambil alih serok yang dipegang uti. "Taruh piring ya, Ti?" tanyanya dan diangguki uti.
Ara berjalan ke dekat rak piring dan mengambil satu piring berwarna putih dengan motif bunga pada pinggirannya. Ara taruh satu demi satu tempe goreng berjumlah 6 potong itu. Baru akan menaruh potongan terakhir, sebuah tangan sudah lebih dulu mengambilnya.
"Selamat pagi, Ara ...," sapa si pemilik alis tebal itu, seraya memakan tempe goreng yang ia ambil baru saja.
"Pagi, Mas ...," jawab Ara asal, antara gugup dan aneh.
Semua terasa aneh setelah pernyataan Aro tentang, aku sayang kamu, Ra.
"Jalan-jalan yuk, Ra!" ajak Aro, seraya mengekori langkah Ara yang berjalan mendekati uti kembali.
"Belum sarapan nggak boleh ke mana-mana!" sanggah uti, melirik tajam ke arah Aro.
Aro jahil dengan balas mencium pipi kiri utinya. "Aku perasaan nggak disapa dari kemarin," protesnya seraya merangkul pinggang uti.
"Diam, Mas! nanti kena minyak panas," uti balas protes, tangannya hati-hati memasukkan adonan tempe ke dalam wajan.
Aro melepas rangkulannya, ia berpindah berdiri ke samping Ara.
"Ikut bentar yuk!" bisiknya, tepat di telinga Ara yang terbungkus hijab berwarna coklat muda.
"Nggak mau!" tolak Ara tegas seraya menggeser tubuhnya agar menjauh dari Aro.
"Bentar aja ... ya?" Aro kembali mendekat pada Ara, yang didekati tambah menjauh, menempel ke badan uti.
"Adiknya nggak mau tuh jangan dipaksa, Mas!" tegas seseorang yang baru saja datang, terlihat ujung lengan gamisnya basah.
Aro menoleh ke arah sumber suara yang ternyata adalah bundanya.
"Bunda ... kalau Ara nggak mau tuh bantu bujuk bukan malah gitu," protes Aro membuat uti tertawa, Ara tetap datar. Ia bingung menghadapi situasi seperti ini.
Ia tahu, Aro mana mau dibantah. Penolakannya hanya akan berakhir sia-sia.
"Ayolah, Ra!" sekali lagi Aro mengajak, memaksa lebih tepatnya.
"Ke mana sih, Mas?" pada akhirnya Ara luluh jua.
"Ke KUA ...." Aro menjawab cepat pertanyaan Ara, "kita beli kue pancong kesukaan kamu," imbuhnya membuat Ara memukul lengannya.
"Mas, jangan digodain terus dong adiknya!" Bumi yang sedang membuat teh manis gula batu untuk suami serta yang lainnya mendelik ke arah Aro.
"Udah, Ra ... sana pergi! kamu kira Masmu bisa kamu tolak kemauannya?" tuding uti, kembali melirik sinis pada Aro.
Akhirnya Ara menerima ajakan Aro, dengan catatan urusannya harus penting dan kue pancongnya harus benar-benar ada. Aro tentu mengiyakan, meski tak tahu memang ada tukang kue pancong di sana? Dia tadi hanya asal menjawab.
Keduanya keluar dari rumah berjalan beriringan, tak menyapa Akhza, Atar, Rud dan Akash yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Kalah cepat, Bang!" ledek Atar seraya menendang kaki Akhza, "si curang sih saingannya," imbuhnya seraya tersenyum jahil.
"Belum tentu dia yang menang," sahut Atar.
"Udah pasti menanglah, genjatan senjata terus. Lo diem mulu," Rud ikut menimpali.
"Nyerah aja, Bang. Teh Ara tuh suka juga sama mas Ar," saran Atar membat Akhaza melemparnya dengan bantal kursi. Kesal bercampur iri. Menyedihkan.
Bumi datang membawa nampan berisi teh manis, bersamaan dengan Laut dan Ayesha yang juga ikut bergabung.
__ADS_1
"Kenapa dilempar bantalnya?" tuding Bumi pada Atar, salah sasaran.
"Abang, Bun. Bukan aku," sanggah Atar dengan wajah takut, membuat Bumi tertawa.
"Mama di dapur siapa yang bantuin, Dek?" tanya Ayesha, hendak duduk tapi berdiri lagi.
"Sendirian, Ara dibawa pergi sama Ar," jawab Bumi cepat, membuat Ayesha pamit pada Laut untuk pergi ke dapur membantu uti.
"Nikahin, aja Kash! nggak baik kalau mereka terus kayak gitu," Laut memperingatkan.
"Lo pikir gue nggak pengen nikahin mereka? anaknya aja yang ribet, yang cowok terlalu banyak becanda, yang ceweknya terlalu sulit percaya ... susah ketemu jadinya," papar Akash membuat Bumi memukul lengannya.
"Udah pada tua itu bicaranya berubah dong!" serunya, menatap Laut dan Akash bergantian.
"Iya, ih ... kalau mas Ar sama teh Ara nikah nanti pasti punya anak dan Ayah jadi kakek, masa udah jadi kakek masih lo-gue terus ngomongnya?" protes Atar panjang lebar membuat Akhza beranjak dari duduknya.
Tidak bisa dipungkiri, hati Akhza terbakar cemburu yang hebat. Sejak kecil, memang selalu Aro yang lebih unggul darinya. Akhza selalu merasa, ayah bunda memang lebih memprioritaskan Aro. Mungkin karena sikap keras Aro yang membuat kedua orang tuanya selalu mengiyakan keinginan Aro.
Bumi dan Akash saling berpandangan. Saat beranjak, terlihat jelas raut sedih dan kecewa pada wajah Akhza. Akash memberi isyarat lewat mata agar Bumi mengikuti Akhza. Bumi mengangguk, ia susul sulungnya yang berjalan ke arah luar itu.
Akash sadar, Aro memang sudah sangat mendominan Akhza sedari bayi. Masih lekat di ingatan, bagaimana seringnya Bumi selalu mendahulukan Aro dalam berbagai hal. Aro memang selalu berkuasa sedari bayi. Bukan menutup kemungkinan, kali ini juga, dalam urusan percintaan lagi-lagi Akhza akan kalah dari Aro.
Sementara itu, di lain tempat. Aro dan Ara masih berjalan bersisian menyusuri pinggiran jalan yang masih sepi. Biasanya kalau sudah agak siang dan matahari meninggi, banyak petani yang akan menjemur bawang di tiap sisi jalan.
"Mas, emang Mas tahu KUA di mana?" tanya Ara menghentikan langkah, "aku capek, Mas," imbuhnya seraya bersandar pada pohon lengkeng besar di pinggir jalan itu.
Aro segera menarik pergelangan tangan Ara, "Banyak semut, Ra ...."
Ara dengan cepat menarik kembali tangan yang sedang dipegang oleh Aro. Ia menjadi salah tingkah. Berkali-kali membetulkan letak hijab dan mengibaskan rok bagian belakangnya. Membuat Aro tertawa lalu mengusap pucuk kepalanya.
"Jangan manis-manis, Ra," ucap Aro lirih, memandang sayu ke arah Ara yang kini juga memandangnya. "Kenapa kamu suka banget bikin aku terus merasa enggan buat menjauh?" lanjutnya seraya duduk di pinggir jalan.
Ara melongo, ia masih berdiri mencerna kata-kata Aro. Sebelah hatinya merasa memang Aro serius, selebihnya tetap merasa itu hanya bualan.
"Kita ngobrol di sini aja," ucap Aro seraya menarik rok Ara, "sini duduk!" titahnya membuat Ara menurut.
Setelah Ara duduk, Aro tak serta-merta bicara. Ia ingin kali ini Ara benar-benar serius menanggapi setiap kalimat yang akan diucapkannya.
Ara menautkan jemari, berkali-kali saling meremas membunuh rasa bosan. Aro tak kunjung bicara. Ia hanya sibuk menuliskan sesuatu di atas aspal jalanan menggunakan ranting. Membuat suara srek berkali-kali terdengar.
"Mas, kenapa diem aja?" pada akhirnya Ara yang memulai bicara.
"Aku ingin bicaraku kamu dengar, Ra," jawab Aro seraya melepaskan ranting dari tangannya.
"Kapan aku nggak dengar kamu, Mas?" tuding Ara, sedikit menyalak sebab tak suka dengan perkataan Aro yang menuduhnya seperti itu.
"Aku serius sayang sama kamu, Ra. Kenapa kamu anggap semua itu lelucon?" desak Aro, berhasil menatap dan mengunci pandangan Ara.
Bibir gadis itu bergetar hebat, menahan tangis akibat sesuatu yang merambati hatinya. Ara kenapa mudah sekali mengeluarkan air mata?
"Ra, aku harus gimana biar kamu percaya. Aku sayang kamu, Ara ...." Aro berucap penuh penekanan dengan mata berkaca-kaca.
Ara bukan lagi, air matanya sudah memupuk. Itu bisa saja luruh, namun Ara tahan.
"Pengakuanmu membuatku takut, Mas. Aku takut itu hanya mulut manismu, sementara aku sudah lebih dulu jatuh terlalu dalam," aku Ara membuat Aro terperangah.
"Aku takut saat aku menoleh, sesungguhnya kamu telah pergi kembali. Dunia kita berbeda, Mas. Aku dan kamu nggak sejalan. Itu akan sulit," papar Ara membuat Aro tak mengerti.
"Apa sih, Ra?" tanyanya, lagi-lagi dengan penuh penekanan, "kita sama, apa yang membuat kita lain?" lanjutnya mendesak Ara untuk segera menjawab.
Hari semakin siang, keadaan sekitar mulai ramai. Beberapa anak yang memakai seragam Sekolah Dasar melewati keduanya. Mereka berjalan bergerombol, sekitar empat orang. Saling melempar canda, dengan sengaja menaik turunkan tali tas ransel yangntersampir di pundak agar menimbulka suara dari dalam tas. Gesekan antara buku dan tempat pensil sepertinya.
"Apa yang kamu harapkan dariku, Mas?" tanya Ara. Jawaban Aro yang akan menentukan keputusannya kemudian.
Aro tak lekas menjawab, tentu ia gamang. Menikah bukan prioratsnya saat ini. Ia masih memiliki kontrak kerja dengan salah satu rumah produksi. Syuting film akan segera dilakukan. Ia tak ingin konsentrasinya terpecah.
"Hubungan yang jelas, ikatan yang membuat aku bisa menahanmu untuk tetap di sisiku meski aku sedang tak benar-benar di dekatmu," jawab Aro membuat Ara tertawa sumbang.
__ADS_1
"Kamu siap menikahiku, Mas? Sebab hanya pernikahan yang bisa membuatku benar-benar dapat terus berada di sampingmu," ujar Ara, serius.
Aro tak lekas menjawab, apa itu yang dikatakan Ara dengan dunia kita berbeda? Bukan tak siap, hanya saja Aro sedang ingin fokus pada pekerjaannya. Film yang akan ia bintangi selanjutnya merupakan project yang sudah ia tunggu beberapa waktu lamanya. Bahkan sang sutradara menyiapkan waktu khusus agar Aro terlihat dewasa secara alami untuk masuk ke dalam karakter yang akan ia mainkan.
"Aku siap, tapi tunggu beberapa waktu lagi, Ra," pinta Aro, mengiba.
"Cintaku tak sebecanda itu, Mas. Aku bukan seperti wanita kebanyakan yang bahagia mendengar pernyataan cinta hanya demi sebuah ketidak pastian. Nikahi aku secepatnya atau lupakan saja semua perasaanmu!" tegas Ara seraya berdiri, mengibaskan rok kemudian berlari.
Jawaban Aro sudah cukup membuatnya berfikir untuk tidak terlalu jauh lagi menyelami perasaannya. Jelas keduanya berbeda, Ara bukan gadis yang hanya butuh sekedar ucapan cinta. Seperti yang telah ia katakan pada uti, tak ingin membangun cinta di atas dosa.
Ara semakin jauh berlari meninggalkan Aro. Sementara Aro masih duduk tak bergeming.
"Gue ditolak?" gumamnya seraya merasakan dadanya yang berdenyut nyeri.
Rasa yang belum pernah selama ini ia dapati. Rasa yang lebih sakit dari sebuah komentar negatif Sutradara atas hasil kinerjanya.
"Ra, apa aku seburuk itu hingga kamu nggak mau nerima aku?" monolog Aro, tanpa sadar Ara sudah meninggalkannya sedari tadi.
Gadis itu terus berlari, membiarkan air matanya luruh sendirinya. Ia tak mengusap dan tak jua menahannya. Ia biarkan semua mengalir, luruh, dan berharap perasaannya akan ikut hanyut bersamaan dengan derai air matanya.
Sempat berhenti sebentar saat atap rumah uti mulai terlihat. Tak mungkin masuk ke dalam rumah dengan keadaan menyedihkan.
Ara berdiam sejenak, mengatur nafas seraya menormalkan kembali emosinya. Ia kibaskan berkali-kali ujung hijab ke wajahnya. Berharap tak ada sembab di matanya. Sebelum kembali beranjak, ia menoleh ke belakang. Sempat khawatir mengapa Aro tak jua terlihat?
"Apa dia bunuh diri?" tanya Ara pada dirinya sendiri
"Ara ...." kemudian memukul-mukul kepalanya sendiri lalu menggeleng dan berjalan normal memasuki halaman rumah uti.
Pohon mangga masih setia menjulang tinggi, pesonanya sebagai penghasil buah yang amat manis masih menjadi yang terdepan. Setiap kali sudah tiba waktunya berbuah, selalu jadi yang paling dinanti oleh setiap orang.
Setelah mengucap salam, Ara masuk ke dalam rumah. Tak ia dapati siapapun di ruang tamu maupun ruang keluarga. Ara terus berjalan hingga sampai di dapur. Keluarganya sedang sarapan.
"Ada kue pancongnya?" tanya uti seperti sebuah sindiran.
"Uti kayak nggak tahu mas Ar aja, mana pernah dia bicara serius," jawab Ara seraya menarik kursi kosong di sebelah Akhza, kemudian ia duduki. Hanya kursi itu yang kosong.
"Kalian dari mana?" tanya Laut, menyelidik.
"Lari pagi, eh yang ngajak malah lari dari kenyataan," jawab Ara seraya menerima gelas berisi air putih yang disodorkan Bumi. "Makasih, Bunda Sayang," ucap Ara dengan senyuman kemudian selanjutnya meminum air itu. Terasa segar di tenggorokan.
Selanjutnya Bumi menyuruh Ara untuk segera memakan sarapannya, mereka harus segera bersiap untuk pergi ke makam. Agar tak terlalu sore saat kembali ke Ibu Kota.
***
Hingga semua sudah siap untuk pergi ke makam, Aro belum juga kembali. Sepenggal rasa sesal terbesit di hati Ara, ia mulai menerka yang tidak-tidak.
"Kamu kemana, Mas?" gumamnya seraya mondar-mandir di teras rumah sambil terus menatap ke ujung jalan. Berharap dapat melihat sosok itu pulang.
"Ra, mas Ar bawa hape nggak?" tanya Bumi yang sudah bersiap, bibirnya dihias lipmatte pink.
"Kayaknya enggak, Bunda."
"Tadi sebetulnya kalian ke mana?" selidik Bumi.
"Kita cuma duduk di pinggir jalan, bicara sesuatu, lalu Ara pulang lebih dulu. Ara kira mas akan cepat menyusul, tahu gini pasti Ara tadi ajak mas pulang juga," sesal Ara. Kekhawatirannya ditangkap oleh Bumi.
"Bukan apa, kita kan mau nyekar. Takutnya keburu siang dan panas juga," jelas Bumi tangannya meraih jemari Ara yang sedang meremas ujung hijab.
"Nggak usah khawatir, mas Ar pasti baik-baik aja," hibur Bumi.
"Ara tadi nolak, mas, Bun," ujarnya dengan mata kembali berkaca-kaca.
.
.
.
__ADS_1
Haii geng, susah bener ya kemarin mau ngetik ini doang padahal. Btw, tradisi nyekar atau ziarah ke makam leluhur atau sanak saudara yang udah lebih dulu meninggal di daerah kalian apa namanya? nyekar ini masih sangat kental di daerahku. Bahkan setiap hari jum'at pagi masih sering dilakukan. Nggak hanya sebelum puasa atau saat lebaran aja.
Ngomong-ngomong lebaran, nggak kerasa kita udah dua minggu ya puasa. Ara juga udah terbang lama di dunia perhaluan ini. Sejauh ini gimana nih kesannya menemani Ara? Aku tunggu komennya ya gengs, sebab insecure lagi-lagi melanda jiwa lemahku. Seperti kata mas Ar, Aku sayang kamu, gengs. Sending virtual hug 🥰🥰🥰❤️❤️❤️❤️