Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Sekeping Hati


__ADS_3

"Salasika Arabella, ngobrol berdua, yuk!" ajak Aro.


Sebelum sempat Ara menjawab, Vanya sudah kembali dari dapur membawa dua piring penuh sosis dan kentang goreng. "Di kulkas adanya ini doang, nggak bisa masak apa-apa," ucap Vanya seraya meletakan kedua piring berwarna putih itu ke atas meja.


"Mami jangan keseringan makan kayak gini, Mi. Aku udah ingatkan berkali-kali, loh!" protes Ara seraya memutar bola mata.


"Iya, Bu Bidan. Mami khilaf, abis kan kayak gini cepat saji dan praktis," seloroh Vanya tanpa ragu mengambil satu potong sosis dan memakannya dalam satu kali suapan. "Ayo dimakan, mumpung masih hangat. Mami ke kamar dulu, ya!"


"Mi, jangan di kamar terus. Kita belum selesai ngobrol, Mi," cegah Ara, namun tak membuat Vanya tetap tinggal.


"Kasih Mami waktu, Sayang. Mami nggak bisa gegabah untuk hal yang besar seperti itu."


Vanya benar-benar pergi kembali ke kamarnya. Ara menatap sedih punggung maminya itu.


"Emang apa, Ra yang kamu bilang ke mami kamu?" Cici ikut penasaran.


"Aku minta mami masuk islam, aku kan udah bilang tadi," ujar Ara dengan nada kesal.


Cici beranjak dari duduknya, ia mendapat panggilan video dari seseorang.


Dengan gaya centilnya Cici menjawab panggilan itu.


"Aku lagi di rumah saudaraku, Sayang. Kamu lagi di mana? kamu tuh gitu, biarin nanti aku ngilang lagi nggak bisa nemuin aku ... aku nggak mau ...."


Suara Cici semakin menghilang bersamaan dengan dirinya yang menjauh, ia masuk ke dalam kamar tamu.


"Ra, heran gue sama sodara lo. Brand dia tuh pakaian muslimah, penampilan dia naudzubillah. Rancangan busana dia tuh khusus buat orang-orang muslim, tapi perancangnya sendiri bau-bau neraka sirotul mustakim," kelakar Omar membuat Ara mendengus kesal.


"Shiratal Mustaqim itu jembatan penghubung antara neraka jahannam menuju surga, bukan nama neraka, dodol!" ralat Aro seraya terkekeh. "Jembatan yang tipisnya melebihi rambut dan tajamnya melebihi pedang, di bawahnya tuh luapan api neraka yang siap membakar siapa saja yang jatuh ke dalamnya. Hanya orang-orang beriman yang dapat melewatinya. Iya 'kan Pil?"


"Itu tahu, kenapa masih aja ngelakuin hal-hal yang tidak mencerminkan orang beriman," ketus Ara membuat Omar tertawa meledek Aro.


"Kak Omar juga, salat itu setelah baca surah pendek ruku' dulu baru sujud."

__ADS_1


"Oncom, makanya kalau gue lagi salat tuh liatin!" ledek Aro.


"Gimana mau gue lihatin kalo elo salatnya aja seminggu sekali doang pas abis mabok," balas Omar meledek Aro.


"Mas! kamu salat seminggu sekali doang?" tuding Ara.


"Enggak, Pil," sanggah Aro seraya menendang dengkul Omar, "ngaco lo kalo ngomong. Gue tiap hari salat meski telat, Pil," ralat Aro.


"Jangan telat juga, Mas!"


"Udah, gue mau ngomong sama lo berdua. Ayok ah!" Aro beranjak sekaligus menarik pergelangan tangan Ara untuk pergi dari ruang tamu. Kepulan asap dari sosis dan kentang goreng sudah semakin menipis pertanda dua makanan itu sudah mulai hangat. Omar leluasa memakannya tanpa ada Aro yang seringkali menyuruhnya diet


Aro membawa Ara ke luar rumah, duduk pada kursi yang terbuat dari kayu jati. Di pinggirnya terdapat meja bulat dengan taplak berwarna putih, namun sudah sangat kotor. Sepertinya sudah lama tak diganti.


Aro menyuruh Ara duduk, sementara dirinya memilih berjongkok di hadapan Ara. "Lo masih marah sama gue?" tanya Aro mendongakan kepalanya agar dapat bersitatap dengan Ara.


"Siapa yang marah? ge er!" ketus Ara membuang oandanganya seraya melipat kedua tangan di dada.


"Gue minta lo jangan pergi dari rumah bunda, ya," Aro memohon, tangannya melingkar di perut Ara dengan dagu ia letakkan di pangkuan Ara.


"Bilang dulu lo nggak akan pergi dari rumah bunda. Kalopun rumah ini dijual, mami lo bisa tinggal bareng bunda," usul Aro tanpa merubah posisinya.


"Mas, please, Mas, jangan kayai gini."


Aku nggak mau kamu denger jantungku yang berdetak cepat ini. Aku nggak mau kamu rasakan debaran dadaku yang lebih hebat dari gemuruh ombak di pantai ini. Aku bukan karang di lautan yang kuat dibentur deburan ombak berkali-kali. Aku hanya Ara, selalu kalah oleh deburan di dada.


"Mas, udah jangan kayak gini aku bilang!" Ara memukul-mukul kedua bahu Aro yang malah berdiri menggunakan dengkul hingga kini beralih memeluk Ara dan meletakan dagunya pada ceruk leher Ara yang terbungkus hijab besar itu.


"Emang seorang kakak nggak boleh meluk adiknya, Pil?" Aro mencari kebenaran atas perlakuan yang ia perbuat.


"Mas, aku nggak mau!" Ara sekuat tenaga mendorong bahu Aro, membuat Aro akhirnya melepaskan pelukannya dan sengaja menjatuhkan diri hingga dirinya terlentang di atas lantai.


Aro merentangkan tangannya, ia pejamkan matanya rapat-rapat. Kedua kaki ditekuk, dengan menumpangkan kaki kiri ke sebelah kanan.

__ADS_1


"Pil, jangan pindah. Jangan pergi dari kita, dari gue. Jangan, Pil!" ucap Aro lirih membuat hati Ara luluh, namun tak ingin kalah.


"Aku mau mami bisa berubah, Mas. Mami nggak akan bisa berubah kalau nggak ada yang ngontrol, aku pindah nggak jauh. Pasti selalu ke rumah bunda tiap hari."


"Nanti lo kecapean, nggak ada yang masakin. Nggak ada yang merhatiin gizi lo. Lo udah kurus gitu, mau tambah kurus lagi?"


"Mas, jangan bicara seolah-olah kamu peduli sama aku. Sejak kapan kamu nggak setuju aku pindah? bukannya dari dulu kamu satu-satunya orang yang nggak pernah suka aku ada di antara kalian?"


"Lo nggak usah ngalihin pembicaraan, dodol!"


Aro beranjak duduk, ia bersingsut mendekati Ara. Kali ini giliran kedua kaki Ara yang ia peluk.


"Lo makin gede makin aneh, segala yang gue ucap selalu dianggap serius. Lo nganggep gue kakak nggak sih, Pil?"


Jangan jatuhkan aku lebih dalam lagi pada perasaan yang salah dan terlarang ini. Jangan baik padaku bila nyatanya itu hanya ilusi.


"Maaf, Mas. Keputusanku udah bulat. Aku harap Mas bisa ngerti. Aku harus ada di samping mami."


"Nyokap lo udah jahat, dia bahkan udah buang lo dan sekarang lo malah diribetin sama dia!"


"Mas, jaga ya bicara kamu. Aku nggak suka mamiku dijelek-jelekin kayak gini. Jangan mencari kesalahan orang lain untuk membenarkan pendapatmu, Mas!"


Aro melepaskan pelukan pada kaki Ara. Ia beranjak berdiri, namun kemudian membungkuk seraya berbisik, "Gue mau gagalin pernikahan lo, lo tunggu aja. Gue tahu siapa Sakaf itu sebenernya. Lo bakal kaget kalau tahu juga, dan saat itu terjadi gue harap lo masih ada di dekat gue. Lo bakal tahu siapa gue sebenernya, Pil!"


Kalimat yang sangat penuh penekanan itu hampir membuat jantung Ara lepas dari tempatnya.


Aro meninggalkan Ara dalam kebisuan, dia gagal membujuk Ara untuk tetap tinggal di rumah bundanya. Aro segera mengajak Omar pergi dari rumah itu sebab dirinypun harus segera tiba di lokasi syuting sebelum magrib.


Mobil Aro meninggalkan pelataran rumah Vanya. Aro pergi tanpa pamit. Membawa sekeping hati Ara yang semakin hari semakin tak bisa menepikan nama Aro di dalamnya.


.


.

__ADS_1


.Jangan lupa like dan komennya kakak.


__ADS_2