
Waktu melesat bak anak panah. Tinggal menghitung hari Ara sampai pada hari perkiraan lahir. Suaminya sudah mulai riweuh. Sampai memutuskan tak pergi ke toko bila bukan Ara yang memaksanya.
“Lima hari lagi, loh ... aku nggak mau kecolongan,” geleng Aro sambil memegangi buku bersampul pink.
"Ini bisa jadi maju harinya 'kan?" Aro meminta persetujuan Ara.
Ara hanya menggeleng, kenapa jadi suaminya yang panik begitu? Apa lagi bila sedikit saja melihat kaki Ara bengkak. Maka, dia akan sibuk menelepon bidan Army atau dokter kandungan Ara.
“Semua wanita hamil mengalaminya, jangan khawatir,” jelas Bidan Army tenang, saat Aro mengeluhkan keadaan Ara beberapa hari lalu.
“Mas, boleh nggak aku mau ketemu Tante Kinan Tante Kinan itu,” ucap Ara sore itu saat keduanya baru saja jalan-jalan mengelilingi komplek perumahan.
“Mau ngapain?” Aro mengerutkan keningnya, tak paham.
“Kita minta maaf ... takutnya Tante Kinan ada sakit hati sama kita ... biar enggak ada yang ngeganjel di hati,” jelas Ara membuat Aro berpikir sejenak.
“Yakin mau nemuin Tante Kinan?” Aro memastikan.
“Sama Mbak Davina juga ... aku mau minta maaf,” sambar Ara.
Tante Kinan aja belom, nambah lagi Davina.
Aro menggeleng, “ Buat apa, sih?”
“Buat perkataanku tempo hari ... takutnya aku nyinggung perasaannya.” Ara yang sedang duduk hendak beranjak, namun gerakannya dicekal suaminya.
Keduanya sedang duduk di ruang tamu.
“Mau ke mana?”
“Haus, pen minum.” Ara tersenyum memamerkan deretan giginya.
“Aku aja yang ambil.” Aro segera berdiri dari duduknya dan berlari ke dapur.
“Jan lari-lari eh!” teriak Ara.
Dan terdengar suara bruk dari dapur. Kemudian suara air keran mengalir. Lalu suara dentingan piring yang beradu.
“Kebiasaan nutup kulkas begitu banget, rusuh banget sendiri juga," gumam Ara, yakin suara barusan adalah suara pintu kulkas yang dibanting suaminya.
Tak lama pria itu datang membawa air hangat dalam gelas besar serta buah apel merah yang baru ia cuci, belum dipotong.
“Bisa nggak kalo nutup kulkas tuh nggak usah pake bunyi ?” omel Ara.
“Kedengeran ya?” Aro meringis, merasa tertangkap basah.
“Nggak puas kalo nggak bunyi,” sambung Aro seraya memotong apel menjadi bagian kecil-kecil.
“Sama kek lagi sama kamu ... nggak puas kalo kamu nggak bunyi,” lanjutnya berseloroh seraya menyenggol lengan Ara dengan sikunya.
“Iih!” Ara balas memukul lengannya. “Omes,” lanjutnya mencibir.
Aro tertawa, “ Kok tahu o mes?”
“Iih! ngeselin!” Ara memberengut kesal.
“Katanya tadi haus,” komentar Aro seraya mengangkat gelas. “Minum dulu, jan ngomel terus.” Aro menempelkan ujung gelas pada bibir istrinya.
“Aku bisa sendiri!” Ara merebut gelas itu hingga membuat air di dalamnya tumpah ke bajunya.
"Tuh 'kan jadi tumpah!" pekik Ara.
"Aku lagi yang salah?" sindir Aro seraya memakan satu potong kecil buah apel.
Ara membolakan mata, membuat Aro tertawa kemudian mendorong pelan gelas hingga ke bibir Ara.
"Minum dulu!" Aro membimbing Ara agar segera menyesap minumnya. "Atau mau pake cara lain minumnya?" godanya kemudian.
Ara menenggak setengah isi gelas tersebut, rasa hangat menjalari tenggorokan hingga ke perutnya. Nyaman.
"Ngomong tuh bisa nggak jangan selalu menjurus ke hal-hal kek gitu?" protes Ara.
Aro tertawa, menusuk dengan garpu potongan kecil apel lalu menyuapkannya pada Ara.
"Bisa, nggak?" desak Ara dengan mulut sedang mengunyah.
"Enggak bisa," jawab Aro jujur kemudian dengan cepat segera mengisi kembali mulut Ara dengan apel sebelum wanita itu kembali berucap.
"Ngeselin ih!" Ara memberengut kesal dengan mengerucutkan bibir dan mendelikan mata.
"Aku serius mau nanya." Aro memasukan potongan apel ke dalam mulutnya.
Ara siap menunggu pertanyaan dari suaminya yang sedang mengunyah. Terlihat lucu sebab pria itu mengunyah sambil menahan senyum. Ara curiga dengan pertanyaan yang akan dilontarkan suaminya.
"Jadi nanya nggak?" Ara ikut tertawa saat suaminya malah tertawa juga.
"Iih kan, kan, gak jelas banget!" sungut Ara, kesal. Saat suaminya malah terus tertawa bahkan menyembunyikan wajah dengan kedua tangan.
"Ngomong dulu, baru ketawa!" Ara menarik kedua tangan Aro yang sedang menutupi wajahnya.
"Abis kamu lahir aku puasa berapa lama?"
Tuh kan, aku udah curiga dari tadi. Dasar!
"Tiga bulan!" jawab Ara mantap dengan wajah serius membuat suaminya melongo sedangkan Ara beranjak dan meninggalkan suaminya ke dalam kamar sebab Magrib sebentar lagi menyapa.
An jiiir tiga bulan, cuma bisa liatin doang?
***
Sesuai keinginan Ara, besoknya Aro membawa istrinya itu ke rumah sakit tempat Tante Kinan dirawat. Sekitar pukul 11.00, mereka tiba di RSJ, Grogol, Jakarta Barat.
Keduanya langsung menuju bangsal rawat Tante Kinan. Sebelum diizinkan masuk, mereka berdua menunggu di ruang yang telah disediakan.
Mata Ara tertuju pada gerbang coklat berjeruji dengan tulisan welcome to house of love di RSJ Grogol. Di sana juga nampak tulisan jam besuk yakni, siang pukul 11.00 hingga pukul 12.00 WIB. Lalu sore pukul 16.00 sampai pukul 17.00 WIB.
Tak lama terdengar bunyi kunci dibuka. Lalu seorang penjaga yang merupakan pria memakai batik coklat mempersilahkan Ara dan Aro masuk. Sebelum menemui Tante Kinan, keduanya melakukan register terlebih dahulu.
Tante Kinan nampak sedang duduk di tepi ranjang memakai mukena.
"Keadaannya sudah jauh lebih baik," bisik petugas.
"Jangan lama-lama ya, Mas." Petugas itu mengingatkan.
"Dan, jangan terlalu banyak diajak bicara," pesan petugas sebelum benar-benar pergi.
Ara dan Aro dengan gerak langkah perlahan mendekati Tante Kinan. Ia dirawat di wisma kelas 1 dengan fasilitas yang nyaman.
"Assallamualaikum, Tante." Aro dengan sangat hati-hati menyapa Tante Kinan
Wanita itu mengangkat kepala yang sedari tadi tertunduk. Memandang dengan tatapan kosong pada Ara dan Aro secara bergantian.
"Apa kabar?" tanya Ara ramah dengan senyuman.
Tante Kinan malah menangis, tanpa suara hanya tersedu. Ara dan Aro saling berpegangan tangan. Ada sedikit rasa takut bila Tante Kinan histeris. Tenanglah.
"Tante, saya minta maaf atas semua yang terjadi ...." Meski tak tahu apa salahnya, Aro berkata seperi itu duluan.
"Kita belum saling kenal, tapi Ara tetap minta maaf sama Tante Kinan. Untuk semua yang menyakitkan hati Tante," ucap Ara ikut menangis.
Ara ingin memeluk Tante Kinan, namun urung sebab takut malah mengusik ketenangan wanita itu.Tante Kinan mengangguk dengan sedikit senyum di bibir. Meski gak bicara, terlihat ada sorot damai saat matanya kembali memandang Ara dan Aro bergantian.
Tante Kinan depresi hebat setelah Rea meninggal. Dibantu Davina dan suaminya, wanita itu ditempatkan di RSJ dengan fasilitas terbaik dan nyaman. Dengan pelayanan maksimal, kondisinya terus membaik. Ia bahkan sangat menurut dan mudah diajarkan tentang keagamaan.
Sesuai saran petugas, Ara dan Aro tak banyak bicara. Setelah tangis Tante Kinan mereda. Keduanya pamit pulang.
"Aku lega, lihat kondisi Tante Kinan ternyata nggak semenyedihkan yang aku bayangin." Ara dengan sisa tangisan bicara pada suaminya saat keduanya sudah berada dalam mobil.
"Kamu baik banget, Sayang ... padahal beliau pernah jahat, tapi malah kamu duluan yang minta maaf. Hebat," puji Aro seraya mengacungkan dua jempolnya.
"Minta maaf itu buka perkara siapa yang benar siapa yang salah." Ara mencibir, tak suka dipuji berlebihan.
"Tapi bentuk pengendalian diri agar tak merasa paling benar. Banyak kesalahan yang terjadi akibat ketidaksengajaan. Dan, seringnya nih ya, kita nggak mau ngaku salah atau nggak ngerasa salah."
"Kayak sekarang ini, kita ngerasa benar padahal bisa aja Tante Kinan juga merasa tersakiti. Makanya aku pengen minta maaf duluan."
"Sebelum kita terpisah karena ajal. Sebaiknya kita saling memaafkan. Hidup itu misteri, sementara kematian adalah ketetapan yang hakiki."
Ara menggedigan bahu, ia merasa menjadi presiden yang sedang pidato, sebab sedari tadi suaminya hanya melongo memperhatikannya. Pria itu menumpukan kepala pada setir mobil dengan mata terus tertuju pada Ara. Membuat Ara jadi malu.
"Jangan ngeliatin kek gitu, ih!" Ara menutup wajah dengan sling bagnya.
__ADS_1
"Kamu kalau lagi serius tambah cantik," puji Aro malah membuat Ara semakin menutupi wajahnya.
"Ayo jalan!" teriak Ara mengalihkan pembicaraan.
"Jalan atau aku turun nih?" ancam Ara berpura-pura hendak membuka pintu saat Aro tak segera menyalakan mobilnya.
"Iya jalan ...."
"Ke rumah Mbak Davina!" Ara mengingatkan suaminya itu.
Tiba di rumah Davina, wanita itu nampak kikuk menyambut kedatangan Ara dan Aro. Tak berlama-lama, Ara langsung meminta maaf pada Davina yang disambut baik oleh Davina.
"Harusnya aku yang minta maaf," ujar Davina.
"Ya udah, kita saling memaafkan," balas Ara membuat Davina tersenyum menatapnya.
Keduanya tiba di rumah saat langit mulai keabu-abuan, padahal waktu masih menunjukan pukul 14.00 WIB. Mungkin akan turun hujan. Ara dan Aro disambut oleh ayah dan bundanya begitu turun dari mobil.
"Ara harus mau, ya diem di rumah mami." Ayah seperti biasa tanpa basa-basi.
"Boleh, Mas?" bisik Ara pada suaminya yang sedang duduk di sampingnya.
"Kamu mau?" Aro malah balik bertanya.
Kebiasaan!
"Mau, biar deket ke bidan Army. Soalnya dia riweuh sama bocil katanya kalo harus ke klinikku."
"Ya udah boleh ... boleh banget." Aro mengangguk.
***
Setelah mengemasi segala barang kebutuhan dirinya, Aro dan calon putri mereka. Malam itu juga Ara pergi ke rumah mami.
"Besok ke toko aja, Mas. Aku 'kan nanti ditemenin mami di rumah," bujuk Ara saat keduanya sedang dalam perjalanan menuju rumah mami.
"Nggak usah riweuh," sambungnya lagi dengan tangan terus mengusap perutnya.
Kalau boleh jujur, saat ini ada sedikit mulas yang menyerangnya. Ara berusaha tak meringis, bisa heboh suaminya.
"Enggak mau, udah deh ... semuanya aman kalau ada Omar," sanggah Aro tanpa menoleh ke arah Ara.
Baguslah, barusan Ara meringis menahan mulas.
Tiba di rumah mami, ternyata sudah ada bunda dan Tala di sana. Ketiga wanita beda usia itu menyambut Ara dengan penuh kehangatan.
"Aku ke mar duluan, ya, Sayang ...." Aro berlalu sambil mengecup kening Ara setelah menyalami mami dan bunda.
"Mami temenin beresin baju, Mas ...." Mami mengikuti langkah Aro yang menyeret koper dan satu tas bayi berukuran besar.
Ara segera duduk karena merasa kembali mulas.
"Aku tadi mules dikit ... tapi berusaha tutupin biar Mas Ar nggak riweuh dan panik." Ara membuang napas perlahan.
"Kontraksi palsu keknya," lanjut Ara seraya membuka hijabnya.
"Bunda juga dulu gitu pas mau lahiran Abang Za sama Mas Ar," kenang Bunda.
Momen indah saat melahirkan bayi kembarnya yang dihiasi drama oleh suaminya. Akankah kini putranya seriweuh suaminya juga?
Mendengar Abang Za, Tala mengigit bibir atas dan bawahnya bergantian.
Kenapa hatiku bergetar hanya karena denger namanya disebut? Abang ....
"Eh, Tala kok bisa ada di sini?" Mulas Ara kembali hilang, ia merasa lebih baik.
"Ini ...." Tala memperlihatkan surat undangan pernikahannya.
"Wawaw wiwaw ... aku nggak bisa jadi bridsm0aid dong!" pekik Ara.
"Cepet sehat setelah lahir ... kamu harus dateng pokoknya!" balas Tala dengan mata yang tiba-tiba digenangi cairan bening.
"Mau kado apa nih?" seloroh Ara lebih fokus pada surat undangan dari pada wajah merah Tala.
Ara tak lekas mendapat jawaban, saat menoleh Tala malah sedang menutup mulut dengan sebelah tangannya membuat bunda yang duduk di sampingnya menarik Tala ke dalam pelukan.
"Bun da ... ak ku ...."
Tentu, Tala menangis tersedu sedan dengan bahu berguncang hebat. Ia mencengkram erat bahu Bumi dengan kedua tangannya.
"Sa-kit, Bun," gumam Tala di sela isak tangis yang membuat Bumi ikut meluruhkan air mata.
Bumi tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak bisa.
Ara menatap interaksi keduanya dengan tatapan tak mengerti. Ia bingung dengan keadaan yang ada di hadapannya. Pernikahan semestinya membuat bahagia bukan?
***
Semalam Ara kesulitan untuk memejamkan mata, meski napasnya tak seberat biasanya. Ia mulai merasakan tak enak. Saat hendak wudu untuk salat tahajud, ia mendapati lendir kental berwarna kecoklatan pada pakaian dalamnya.
Ia segera menghubungi bidan Army dan menceritakan kondisinya. Punggung dan perut bagian bawahnya terasa sakit. Ditambah pinggang yang terasa panas hingga ke perut. Ia juga merasa ada tekanan di sekitar bagian panggul.
"Buruan ke klinik, saya juga on the way abis ini."
Ok, Ra ... kalem.
Saat suaminya pergi ke masjid, ia segera menemui mami yang masih di atas sajadah dengan menggunakan mukena.
"Mami ...." Ara berjalan perlahan menuju maminya.
Mami berdiri melihat wajah Ara yang pias.
"Mami, Ara minta maaf ya ... maaf buat semua salah Ara ke mami ...." Ara memupuk air mata.
"Sayang? kamu udah kerasa?" Mami menangkap kedua pipi Ara. Ara mengangguk tenang.
"Maafin, Ara ...."
"Sayang, yang banyak salah itu Mami ke kamu ... kamu terbaik, nggak sekali pun bikin salah ke mami." Mami menciumi wajah Ara.
"Mami telepon Bunda, ya?" Mami segera mengambil ponsel di atas nakas kemudian menghubungi bunda.
Sementara itu, Ara kembali ke luar kamar mami. Ia pergi ke dapur, dengan mulas yang belum hilang, wanita itu memutuskan membuat roti panggang untuk suaminya sarapan.
Dengan gerakan perlahan, lima timpuk roti bakar Ara siapkan di atas meja makan bersama teh manis gula batu.
Dia harus sarapan sebelum tahu kondisiku.
Tak lama mami menghampiri Ara bersamaan dengan suaminya yang baru datang dari masjid.
"Mas, sarapan langsung deh," tawar Ara menyembunyikan rasa panas pada punggung, pinggang hingga perutnya.
Pria itu tentu tak membantah. Ia duduk pada kursi yang menghadap meja makan dan mulai melahap roti buatan istrinya.
"Perlengkapannya udah siap?" bisik mami.
Ara mengangguk, "Di tas dedek udah lengkap."
Sementara suaminya begitu serius dengan makanannya. Selang beberapa menit pula terdengar salam dari arah ruang tamu. Itu ayah dan bunda.
"Aku ke depan dulu lihat bunda," pamit Ara dan diiyakan oleh Aro. Ia masih menikmati tehnya.
Sementara Ara menemui bunda, mami ke kamar Ara mengambil tas perlengkapan bayi.
Bunda nampak cemas, ia langsung mengusap punggung Ara begitu wanita itu menghampirinya.
"Panas ya? sakit?" Bunda tampak khawatir.
"Gurih, Bunda," seloroh Ara membuat Akash malah tertawa.
"Bunda ... Ayah," gumam Ara kemudian duduk lalu diikuti oleh kedua orang tuanya.
Kini Ara duduk diapit oleh ayah dan bunda.
"Maafin Ara yang banyak salah ini, Yah, Bun." Ara menoleh bergantian kedua sosok yang sangat dicintainya.
"Makasih udah sayang ke Ara dengan cara terbaik," lanjut Ara dengan air mata meluruh sempurna.
"Sayang, kamu nggak pernah bikin salah ke kita." Bunda jadi ikut menangis dan merangkul bahu Ara.
"Udah, Sayang ... Ayah nggak tega, ayok cepet kita ke klinik aja. Ara jangan mikir macem-macem ... kita semua nggak pernah merasa Ara berbuat salah. Justru kita yang harusnya minta maaf, mungkin selama ini kurang baik dalam mendidik dan memberi kasih sayang." Akash mengusap pucuk kepala putrinya itu.
__ADS_1
"Enggak!" sanggah Ara cepat.
"Kasih sayang Ayah dan Bunda adalah yang terbaik ... bahkan Ara takut nggak bisa balesnya," lanjut Ara masih menangis.
"Sayang, dengan kamu mengandung cucu kami itu udah sangat luar biasa ... kamu udah memberikan yang terbaik untuk kami." Bunda menciumi wajah yang basah oleh air mata itu.
"Kamu udah berhasil bawa Mas Ar buat kembali ke jalan yang benar, itu hal yang paling nggak bisa kami balas dengan apa pun ... kamu menyelamatkan hidup Mas Ar, sesuatu yang bahkan nggak bisa ayah dan bunda lakukan."
"Bukan aku yang bikin Mas Ar berubah, tapi doa Ayah dan Bunda yang udah mengetuk hatinya. Aku cuma perantara," kelit Ara kemudian meringis karena mulasnya semakin menjalar.
"Kita pergi sekarang?"
"Sebentar, Ara ke Mas Ar dulu." Ara berdiri setelah mulas kembali hilang.
Pria yang ingin ia temui baru saja selesai mencuci tangan pada wastafel. Ia sedikit bingung saat Ara tersenyum padanya.
"Mas, udah kenyang?" tanya Ara menahan air mata untuk tak luruh kembali.
"Alhamdullillah." Aro balas tersenyum.
Ara semakin mendekat, ia mengalungkan tangannya pada leher Aro.
"Nunduk dikit!" titahnya membuat Aro menurut.
Ara menciumi dahi, mata, dan kedua pipi suaminya.
"Mas, maafin aku yang banyak salah ... aku suka bentak-bentak, suka suruh-suruh, suka gaje, suka melotot, suka maksa, suka ngebantah ... maaf," bisik Ara mengabsen segala tingkah buruknya.
"Sayang, kamu kok tiba-tiba ...."
"Oh Ya Allah ... sekarang kita ke klinik!"
"Maafin aku dulu," sergah Ara.
"Iya, aku maafin ... tapi kamu nggak pernah bikin salah. Aku suka semuanya yang kamu bilang tadi."
"Kenapa malah suka?"
"Karena kamu gitu cuma ke aku dan di hadapan aku ... itu artinya kamu sepenuhnya percaya sama aku. Dan cuma aku satu-satunya orang uang bisa bikin kamu jadi diri kamu sendiri tanpa bersembunyi."
Ara mengangguk setuju, di hadapan suaminya dia bisa menjadi dirinya yang sejati. Sisi manjanya, sisi marahnya, ia keluarkan semua
"Kita pergi sekarang!" Aro melepaskan perlahan tangan Ara yang melingkar di lehernya
"Mas jangan panik, nggak boleh riweuh," pesan Ara.
Jadi ini yang mau lahiran sebenarnya siapa? siapa yang mestinya ditenangkan?
"Oke, aku stay calm ... ayok berangkat!" Aro malah terlihat linglung. Bahkan ia tak sadar masih mengenakan sarung, koko dan lengkap dengan peci.
Keduanya berjalan perlahan meninggalkan dapur. Di ruang tamu, bunda, mami dan ayah sudah menunggu.
"Doain0 ya semuanya ...." Ara menatap satu-persatu orang-orang yang sedang menatapnya penuh khawatir.
Aro sudah tak kuasa menahan paniknya. Tangannya gemetaran menggandeng Ara. Peluh di dahi mengucur begitu saja. Ia bahkan merasakan lututnya lemas. Sementara Ara terlihat lebih rileks. Wanita itu berjalan memegangi perut dibopong suaminya menuju klinik yang ada di seberang rumah.
Saat tiba di klinik, Bidan Army sudah siap dengan segala sesuatunya. Ia segera memeriksa keadaan fisik Ara.
"Hebat bisa setenang ini," puji Bidan Army pada Ara setelah mendapati Ara dalam keadaan baik. Tensi dan lain-lain dalam keadaan normal.
Ara hanya tersenyum, ia padahal sedari tadi hanya memangkas rasa yang sungguh sulit dijabarkan. Sayangnya pada bunda dan mami memuncak begitu saja. Seperti ini yang dulu mereka rasakan saat akan melahirkan. Apa lagi membayangkan mami yang hanya didampingi teman-temannya. Melahirkan Ara dengan kondisi tertekan.
Ara memeluk satu persatu orang-orang di hadapannya sebelum berbaring untuk periksa dalam sesuai arahan bidan Army.
"Aku sayang kalian," ungkapnya.
Saat akan naik tempat tidur, ia merasakan ketubannya pecah. Ditandai dengan cairan hangat menjalari pahanya. Namun tak berani berkata, biar saja nanti bidan Army tahu sendiri.
"Ra ... bukaan 9 ... kamu apa-apaan bisa setenang ini?" geleng Bidan Army.
"Ati, Ceya, Hesti, siap-siap ... keluarga agak menjauh ke belakang sedikit ... Mas Ar pegang punggung Ara, ya ...." Bidan Army memberi arahan.
Bunda dan mami menuruti apa kata bidan Army. Sementara ayah memilih keluar.
"Aku salat duha dulu," bisik ayah pada bunda.
Aro sendiri segera melakukan apa yang diperintahkan bidan Army. Telapak tangannya sibuk mengelap peluh di dahi Ara. Berusaha tenang, sebab sudah berjanji pada Ara untuk tak panik.
"Sebentar lagi, nih, Ra ...."
"Posisi duduk aja ya, Ra ... paham kan? kaki ditekuk. Mas Ara pegangin punggung Ara!" Sekali lagi bidan Army memberi arahan.
Tentu saja, Ara sudah mulai merasakan ingin buang air besar. Ia mengambil napas teratur dengan dibisiki zikir oleh suaminya
"Allahu Akbar."
"La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzalimin."
"Astaghfirullahaladzim Innallaha Ghofururrohim."
Saat dorongan itu semakin kuat, Ara terus beristighfar dan tak henti berzikir.
"Aku mencintaimu, Ara ... kuat, Sayang," bisik Aro di sela zikir nya.
"Oke, Ra ... lengkap!" pekik Bidan Army setelah beberapa saat jalan lahir sudah terbuka sempurna.
Ara sendiri sudah merasakan ada dorongan dari dalam sedari tadi, namun ia tahan.
"Dorong, Ra ....!"
"Bismillahirrahmanirrahim ... emmh."
Sementara Aro dengan memegangi punggung Ara terus melantunkan zikir dan tak lepas menciumi pucuk kepala istrinya itu.
"Lagi, Ra ...." Bidan Army senang sebab kepala dede sudah mulai terlihat
"Bismillahirahmanirahim, Allahu Akbar ...."
Dan, menangis lah sekencang kencangnya bayi yang selama ini ditunggu-tunggu. Lahir dengan selamat dan normal. Empat hari lebih maju dari Hari perkiraan. Setelah menunggu beberapa saat, Bidan Army memotong tali pusat. Lalu mengeringkan bagian tubuh bayi dari darah dan lendir.
"Ce ...." Bidan Army menyerahkan bayi itu pada Ceya untuk ditimbang.
"Wow, empat kilo pas!" Ceya mengembalikan bayi pada Bidan Army.
"IMD ya, Ra ... buka baju atasnya. Hijabnya buka aja dulu," saran Bidan Army.
Ara sungguh berantakan, bahkan rambutnya banyak yang menyembul ke luar.
Bayi merah itu segera diletakan Bidan Army di atas perut Ara. Ia dengan mata tertutup berdecap berusaha meraih apa yang ingin diraihnya. Aro tentu memandang penuh sayang pada putri kecilnya itu.
"Saya ambil ari-ari ya, Ra ...."
Sementara Ara dan Aro saling pandang sambil melempar senyum bahagia lalu sama-sama memandangi putri kecil mereka. Buah hati, buah cinta Ara dan Aro.
"Wow, Ra ... sedikit harus dijahit ... babby terlalu besar ternyata, bikin sedikit robek. Hanya sedikit," beri tahu bidan Army.
"Alhamdullillah"
Ruangan itu dipenuhi rasa syukur bertubi-tubi. Aro kemudian merengkuh wajah istrinya lalu menghujaninya dengan ciuman.
"Terima kasih Ara ... terima kasih, Sayang ... selamat, sudah menjadi bubu ... bubu yang paling cantik dan hebat." Dan ciuman itu terus berlanjut tanpa peduli pada Bidan Army yang di bawah sana sedang menjahit miliknya.
"Hanya tiga jahitan, Ra ... hebat kamu!" puji Bidan Army.
Kemudian bunda dan mami bergantian memberi Ara selamat. Meski masih lemah, Ara tentu tak lupa terus mengulas senyum.
"Siapa namanya, Mas?" tanya Bumi.
"Mahika Briana Samadya."
"Anak kuat yang tetap sederhana."
Sementara bayi merah yang telungkup di perut Ara terus berusaha menggapai apa yang ingin digapainya.
.
.
.
Kalau ada yang keliru tolong diberi tahu ya...
__ADS_1
Maaf lagi-lagi kepanjangan partnya 😅😅