Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Membenci sekaligus Mendamba


__ADS_3

Hujan sedari sore membuat klinik menjadi sepi, tak ada lagi pasien yang datang. Ara sudah bersiap untuk pulang, sebelumnya ia kembali mengecek ke dalam tasnya, memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Baru akan melangkah dari mejanya, datang seorang pemuda tanggung dengan raut wajah panik dan napas tersengal.


"Ada yang bisa dibantu?" tanya Ara.


Pemuda itu mengangguk, "Saya mau beli tespack, Kak."


Ara mengerutkan kening dalam, ia menyelisik ke wajah pemuda itu dan berkata, "Bawa KTP, nggak?"


"Bawa, Kak," jawabnya singkat seraya merogoh saku celana dan mengambil dompet serta mengeluarkan kartu yang diminta Ara.


"Ammar Sudarsana, 18 tahun tiga bulan yang lalu," gumam Ara.


"Tespack buat siapa?" selidik Ara.


Pemuda itu tak menjawab, ia membuang pandangan ke segala arah menghindari tatapan Ara. Akhirnya Ara memberikan juga apa yang diinginkan pemuda itu. Setelah pemuda itu pergi, Ara ikut beranjak dari mejanya. Ia pamit kepada Bidan Army lalu melangkah keluar.


Tepat saat membuka pintu, mobil Aro baru saja tiba di parkiran. Ara mengerutkan kening dalam, tak percaya bila benar-benar Aro yang datang. Tak lama, kepala Aro menyembul dari pintu mobil. Ia melambaikan tangan, menyuruh Ara cepat masuk.


Ara segera beranjak dari tempatnya berdiri, ia cepat-cepat masuk ke dalam mobil.


"Belom pernah lihat orang ganteng, ya?" tanya Aro saat Ara baru saja duduk.


"Bukan cepet masuk malah bengong," tambah Aro.


"Aneh aja, ngapain Mas jemput aku?" todong Ara.


"Enak aja, siapa yang mau jemput lo? gue dipaksa bunda!" sentak Aro seraya mulai melajukan kembali mobilnya.


"Ish, Nyebelin," gumam Ara seraya mengambil ponsel dari dalam tas yang terus bergetar sedari tadi.


Beberapa pesan masuk dari Cici, Ara segera membukanya.


[Ra, aku udah ketemu pangeranku]


[Dia masih sama kayak dulu]


[Ra, seneng banget nih aku]


Baru saja Ara akan mengetik balasan untu Cici, tangan Aro merebut ponselnya.


"Mas, balikin deh!" teriak Ara.


"Lo tuh nggak sopan, gue nyetir lo malah main hape," ujar Aro seraya memasukan ponsel Ara ke dalam saku celananya.

__ADS_1


"Mas nyebelin, kenapa sih selalu gitu sama aku? kenapa selalu jahat sama aku? kenapa nggak pernah memperlakukan aku dengan baik?" protes Ara bertubi-tubi, entah mengapa Ara berani sekali berkata seperti itu. Mungkin rasa lelah yang menerpa membuat emosinya meluap tak jelas.


"Berani lo ya ngomong gitu?" Aro menepikan mobilnya, ia tersulut emosi karena perkataan Ara.


Dengan gerakan cepat Aro berpindah ke kursi Ara. Tak peduli seberapa sempit, namun ia memaksa duduk di sana membuat tubuh Ara terhimpit ke pintu mobil.


"Sekali lagi ulang omongan lo tadi!" ketus Aro membuat Ara tanpa sadar menuruti perintahnya.


Aro terbahak, kilatan amarah jelas terpancar dari mata bulatnya. Ia meraih pipi Ara dengan satu tangannya, sedikit mencengkram membuat Ara meringis menahan sakit.


"Terus mau lo gue bersikap gimana, hm?" bisiknya, pelan namun, terdengar menakutkan.


"Nggak usah selalu kasarlah sama aku!" sentak Ara, rupanya ia juga masih belum bisa meredam amarah.


"Mau lo gue lembut gitu?" Aro memperjelas kalimat Ara. Tangan satunyaa tergerak melingkar di pinggang Ara.


"Mas, jangan macem-macem!" ancam Ara mendorong tubuh Aro, namun sayang tenaga Aro sekarang sudah kuat, tak lemah seperti semalam.


"Katanya mau gue lembut?"


"Udah, udah ayok jalan lagi!" seru Ara dengan nafas menderu.


Ia merasakan gemuruh dalam dada yang sungguh tak mengenakan. Aroma parfum Aro yang tercium sungguh tak bisa ia pungkiri amat memabukan. Sentuhan tangan Aro yang lembut di pipi dan pinggangnya tak bisa dielakan. Ara membenci sekaligus mendama dalam waktu bersamaan.


"Mau gue lembut kan?" bisik Aro, sekali lagi.


Saat semakin Aro mendekatkan kepalanya ke wajah Ara, reflek mata Ara tertutup.


"Jangan, Mas!" bisik Ara disertai bibir yang bergetar dan tak lama tangisnya pecah.


Aro tak peduli, ia semakin mendekatkan wajahnya. Meletakan keningnya di kening Ara. Ara semakin kencang menangis dengan mata terpejam, kedua tangannya mencengkram kaus pada bagian dada Aro.


"Mas, jangan!" lirih Ara saat merasaka tangan Aro semakin erat mencengkram pinggangnga. Ara semakin tersedu sedan, membuat Aro tersadar. Ia segera melepaskan tubuh Ara. Dengan kasar menarik diri dari kursi Ara dan kembali ke kursinya.


Ara bernafas lega, meski belum dapat meredakan tangisnya. Aro sendiri berkali-kali mengusap wajahnya kasar. Ia mengacak rambutnya sendiri. Menyesali perbuatannya, mengapa bisa melakukan hal bodoh seperti itu.


Untuk beberapa saat hanya hening yang tercipta, Ara masih saja menangis. Aro mengatur nafasnya, ia tak ingin Ara tahu bahwa dirinya merasa bersalah.


"Udah nangisnya!" titahnya.


Ara tak mengindahkan perintah Aro, dia masih saja terus sesenggukan dengan kedua tangan saling bertautan, jemarinya meremas satu sama lain.


"Araaaa, udah!" tanpa sadar Aro menyebutkan nama Ara.

__ADS_1


"Salasika Arabella, udah! gue minta maaf!" seru Aro.


Tak bisa dipungkiri hati Ara menghangat mendengar namanya disebut oleh Aro.


"Udah atuh, Ra. Udah!" kali ini bahkan Aro mengusap punggung tangan Ara, semakin membuat hati ara menghangat.


Ara mulai memguasai diri, ia memejamkan mata dan mengatur nafasnya. Aro mengambil tisu di jok belakang mobilnya. Tangannya terangkat menyapukan tisu ke wajah Ara yang banjir air mata.


"Nanti gue harus jawab apa kalo bunda tanya mata lo sembab?" tanya Aro saat Ara membuka matanya.


"Nanti biar aku yang jawab," sahut Ara.


"Kita makan di mana dulu deh, lo nggak mungkin pulang dengan keadaan kayak gini," usul Aro.


Ara mengangguk, ia juga harus memikirkan jawaban apa yang akan diberikan pada Bumi saat ditanya matanya sembab.


"Mau makan di mana?" tanya Aro.


"Aku mau makan bakso," sahut Ara.


"Iya di mana?" desak Aro


"Jalan aja dulu, nanti aku kasih tahu tempatnya," jawab Ara tak berani menoleh ke lawan bicaranya.


Aro kembali melajukan mobilnya, membelah jalanan yang semakin ramai, namun lancar. Hujan sudah reda menyisakan titik gerimis yang yang romantis. Ara menyandarkan kepalanya pada pintu mobil, kedua tangannya memeluk tubuhnya sendiri. Entah apa penyebabnya dia saat ini tiba-tiba merindukan Vanya. Sudah sebulan tidak berjumpa sebab maminya itu sibuk mengurusi beberapa toko yang kini ia kelola sendiri setelah orang tuanya meninggal.


Aro melirik Ara, perasaan bersalah tiba-tiba memupuk dalam dirinya. Untuk pertama kalinya Aro merasa kasihan melihat Ara.


"Pil, ini kita makin jauh loh. Mau makan di mana?" tanya Aro memangkas keheningan.


"Tuh di depan," tunjuk Ara pada sebuah warung bakso.


"Rame banget itu, Pil," keluh Aro memelankan laju mobilnya.


"Mas pake masker aja biar nggak mengundang keributan," ujar Ara.


Aro menepikan mobilnya kemudian memarkirkan dengan sempurna tepat di depan warung bakso.


"Bisa rame banget gini?" tanyanya.


"Baksonya enak, Mas. Udah Ayok turun!"


Aro masih duduk, padahal Ara bahkan sudah masuk ke dalam warung. Ia takut orang-orang mengenalinya. Risih sekali pastinya, tapi demi menebus rasa bersalahnya pada Ara ia akhirnya memutuskan turun dari mobil tanpa mengenakan masker seperti saran Ara.

__ADS_1


.


. Jangan lupa like dan komennya.


__ADS_2