Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Selalu Masuk Perangkap


__ADS_3

Aro


"Ok, cut! sempurna, Ar!" teriak sang sutradara.


Aro segera mendorong kasar tubuh lawan mainnya, Cahaya Jingga. Artis cantik blasteran Jawa dan Belanda. Matanya indah dengan rambut pirang alami.


Aro membuang kasar permen karet yang ia kunyah saat melakukan adegan paling tidak diingankan itu.


"Rokok, dong!" pintanya pada Omar yang sedang memakan mie instan.


Omar menyerahkan bungkus rokok beserta korek pada artisnya itu.


"Mau balik ke mana, Ar?" tanya Omar.


"Clubbing dulu lah!" seru Aro seraya menaik turunkan alisnya.


"Kagak! lo besok syuting pagi di Kebun Raya," tolak omar.


"Adek gue bales chat nggak?" tanyanya.


"Tadi malah telepon. Katanya mereka udah balik ke rumah. Abang juga ikut," jelas Omar membuat Aro mengangguk.


"Ya udah, balik ke rumah gue aja!"


"Ara udah balik ke rumah bonyok lo," ucap Omar. "Eh mending clubbing dulu, yuk!" goda Omar.


"Kagak, mending balik ke rumah Bogor deh. Biar besok deket ke Kebun Rayanya. Iya, nggak?" Aro meminta persetujuan Omar.


"Deket ke Kebun Raya apa deket ke Ara?" goda Omar, lagi-lagi.


"Jangan sembarangan kalo ngomong, apa urusannya sama Upil?" Aro menyalak seraya meninju pelan perut buncit Omar.


"Hati lo!" sahut Omar seraya berlalu lebih dulu. Ia sempat pamit pada beberaoa kru yang mulai merapikan peralatan.


"Damn!" umpat Aro seraya pamit pada sutradara dan kru kemudian berlari mengejar Omar.


***


Ara


Setelah Sakaf pulang, Ara sempat tertidur di sofa ruang tamu. Ia kemudian dibangunkan oleh Bumi yang menyuruhnya pindah ke kamar. Kue pukis yang sempat membuat fokusnya gagal itu sudah dingin, sedingin yang membelikannya.


Pukul 01.15 saat Ara menatap jam digital pada meja kecil di samping tempat tidurnya. Ara memilih ke kamar mandi membersihkan badan dan mensucikan diri untuk melaksanakan rangkaian ibadah malam.


Ara awali dengan salat taubat, tak banyak hanya dua rakaat, namun khusu dan khidmat. Kemudian ia melanjutkannya dengan salat hajat, berdoa begitu khusu meminta agar sang mama segera dibukakan hatinya untuk meningalkan segala kehidupan kelamnya.

__ADS_1


Setelah itu, Ara melanjutkan dengan salat tahajud. Beristighfar 100 kali setelah membaca do'a lalu dilanjut membaca sholawat nariyah. Hingga akhirnya ia merebahkan diri di atas sajadah tanpa membuka mukenanya.


Sekelebat wajah Vanya terlintas dalam penglihatannya, mungkin karena dalam do'anya nama itu terus-menerus Ara sebut. Hingga akhirnya mata Ara terasa lelah, sayup, redup, selanjutnya tertutup.


***


Aro sampai di rumah sudah hampir pukul 02.30. Dirinya sempat mengabri Bumi akan pulang agar pintu tidak dikunci dan kunci kamarnya juga Bumi taruh di dekat televisi.


"Duluan gih ke kamar gue!" Aro melempar kunci pada Omar yang tangkas menangkapnya.


"Lo mau ke mana?" selidik Omar.


"Bawel lo kayak emak-emak di grup. Sana ke kamar gue!" sentak aro membuat Omar memilih segera pergi.


Aro sendiri mengambil minuman dingin dari kulkas seraya memainkan ponsel. Ia berbalas pesan dengan Jingga, artis itu terus saja mencari perhatiannya.


"Bobrok banget nih cewek," gumam Aro tanpa pikir panjang langsung memblokir nomor Jingga.


Setelah minumannya habis, Aro segera naik ke lantai atas. Tubuhnya sudah sangat lelah dengan mata yang semakin lengekt minta dipejamkan.


Fokusnya teralihkan pada kamar Ara yang pintunya tak tertutup. Lampu masih menyala, membuat Aro dengan leluasa masuk ke dalam kamar adiknya itu.


"Kebiasaan lo, Pil," ucap Aro saat melihat Ara tertidur di atas sajadahnya.


"Untung ada gue, kalo nggak bisa keceklek tuh leher tidur di lantai."


Ara sudah berbaring sempurna. Aro bahkan menyelimuti adiknya itu hingga sebatas dagu.


Aro enggan kembali keluar, ia memilih membaringkan tubuhnya di samping Ara


Aro berbaring miring menghandap Ara. Gadis itu nampak tenang dan damai saat sedang tidur. Wajahnya memang mencerminkan bagaimana hatinya. Lembut dan hangat.


Niat Aro yang awalnya hanya ingin merenggangkan otot justru malah membuatnya terkantuk dan hanyut untuk larut dalam lelap.


Hingga detik selanjutnya, tinggalah suara hembusan nafas keduaya yang saling bersahutan. Lelap membawa lelah, terpejam dalam malam yang beranjak dini hari.


Ara


Ara mengerjapkan mata saat merasa jemarinya adan yang memegang. Ia segera membuka matanya dan duduk dengan perasaan kaget, "Astagfirullah!"


Dia meraba tubuhnya sendiri yang masih lengkap menegenakan mukena.


"Alhamdullillah," ujarnya lega. "Mas, kamu tuh bener-bener, pengen banget aku getok aja sih kepalanya."


Ara beranjak demi melihat jam sudah menunjukan oukul 04.20. Dia segera berlarian ke kamar mandi untuk wudu.sebab ta ingin tertinggal adzan shubuh.

__ADS_1


Pas dengan dirinya yang keluar dari kamar mandi, adzan shubuh berkumandang. Sebelum melaksanakan salat, engan jahilnya Ara mencipratkan air bekas wudu yang masih tersisa di tangannya pada wajah Aro.


"Mas Ar, bangun!" ucapnya seraya terus mencipratkan air yang masih tersisa itu. "Mas, bangun! take, Mas!" godanya membuat Aro akhirnya membuka mata dan beranjak duduk.


"Udah shubuh, salat dulu, Mas!" seru Ara saat Aro kembali menjatuhkan diri ke aras kasur.


"Bentaran dong, Pil," jawabn Aro dengan suara serak.


Ara hanya menggeleng seraya mengambil mukena baru dalam lemarinya. Ia tak ingin kehilangan waktu berjumpanya dengan Sang Pencipta.


Aro masih saja belum bangun padahal Ara sudah selesai dari salatnya. Ara melepas mukena dan melipatnya rapi seraya kembali menaruhnya ke dalam lemari.


Dia kembali membangunkan Aro, "Mas, bangun!" kali ini seraya menusuk pipi Aro menggunakan ponselnya.


Aro tentu menggeliat, ia bangun walau matanya masih sangat lengket.


"Jam berapa?" tanya Aro dengan nyawa yang masih belum kumpul semuanya.


"Jam lima, udah buruan salat sulu sana!" Ara menarik ujung kaos kakaknya itu agar segera beranjak.


"Pinjem handuk, Pil. sekalian gue mau mandi."


Ara segera beranjak mencari handuk dalam lemarinya, namun Aro memilih segera ke kamar mandi. Pria itu dari gelagatnya seperti sengaja hendak mengerjai Ara.


Selagi Aro mandi, Ara segera merapikan tempat tidurnya. Ia terpaksa mengganti spreinya sebab bau rokok yang ditinggalkan Aro begitu menyengat tertinggal di sana.


"Pil, ambilin baju gue dong di kamar!" teriaknya membuat Ara geram tapi juga tak bisa menolak.


"Iya, udah jangan teriak lagi aku mau ambil sekarang nih!"


Dengan menghentakan kaki, Ara pergi menuju kamar Aro. Dia membuka lemari yang terbuat dari kayu jati dan mengambil kaus lengan pendek beserta celana. Ara juga tak lupa mengambil sarung dan koko. Yang terakhir Ara agak sedikit ragu saat akan mengambil pakaian dalam milik kakaknya itu.


Ia bahkan membuka laci tempat penyimpanan pakaian dalam Aro dengan memalingkan wajah. Meraba sebentar, lalu setelah memastikan pilihannya benar, Ara membawa pakaian itu kembali ke kamarnya.


Baru sampai di kamar, Aro kembali berteriak meminta diambilkan handuk. Ara segera memberikannya dengan memalingkan wajah. Jahilnya Aro, saat Ara menyodorkan handuk itu ia dengan sengaja memegang pergelanga tangan Ara.


"Mas, jangan tarik tanganku!"


"Oh itu tangan? kirain apa!" seru Aro segera melepaskan tangan Ara dan dengan cepat mengenakan handuknya.


Ara kembali fokus merapikan temapt tidurnya. tadi sebelum pergi masih asa stu bantal yang belum diberikan sarung.


Dari luar, Bumi tiba-tiba masuk. Betapa kaget menyaksikan Aro yang hanya mengenakan , handuk dan Ara sedang memeluk soreinya yag kotor.


"Kalian abis ngapain?" tanya Bumi membuat Aro dan Ara saling berpandangan.

__ADS_1


__ADS_2