Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Perisai Ara


__ADS_3

Ara tersenyum, "Wa'alaikumsalam, Mas. Makasih udah kembali dan terlihat sehat."


"Kamu bahagia aku sehat?" selidik Aro.


"Nanti kalau sakit pasti aku yang direpotin," ujar Ara membuat Aro menyentil dahinya.


"Gak sopan!" Aro lagi-lagi memukul dahi Ara dengan kontak motor Atar yang ia bawa.


"Tangannya tuh nggak bahagia ya kalo nggak nyiksa aku?" Ara mengusap dahinya yang dua kali diserang Aro.


"Maunya pakai yang lain sih. Tapi, belum boleh," ujar Aro membuat Ara memukul lengannya seraya berjalan terlebih dahulu ke arah motor sambil menggerutu.


"Kayak nenek-nenek ih, marah-marah gitu," ledek Aro memukul kepala Ara dengan helm.


"Tuh, kan!" Ara memegangi kepalanya, "kebahagiaan kamu tuh nyakitin aku ya?" imbuhnya.


"Masa gitu doang sakit?" tanya Aro, dia merasa sangat pelan memukulkan helm ke kepala Ara.


Ara merebut helm dari tangan Aro. "Nih rasain sendiri," Ara memukulkan helm ke kepala Aro berkali-kali, "jangan suka seenaknya sama aku," imbuhnya tanpa menghentikan serangannya.


Aro meminta ampun, namun Ara tak mau mendengar. Kapan lagi ia bisa membalas Aro, begitu pikirnya. Aro menangkap tangan Ara yang tak mau menghentikan aksinya.


"Udah ...." Aro berhasil menangkap kedua pergelangan tangan Ara hingga helm yang dipegang Ara terjatuh.


Keduanya kini berhadapan dengan Aro yang masih memegangi tangan Ara. Detak jantung mereka terdengar saling bersahutan.


Aro belum pernah merasakan ini sebelumnya, bahkan dulu saat bersama Rea, ia tak pernah merasakan debaran hati yang tak karuan seperti ini. Kini, bersama Ara hatinya mengapa terasa mencelos, menjalarkan rasa hangat ke seluruh tubuh lewat aliran darah.


Ara jangan ditanya, ia sedari Sekolah Menengah Pertama memang sudah tak asing dengan perasaan seperti itu. Walaupun kali ini rasanya lebih kuat, lebih meresahkan.


"Ra ...."


"Iya, Mas?"


"Kamu kok ...."


"Aku kenapa?"


"Kamu pakai lipstik?"


Ara buru-buru memalingkan wajahnya, ia alihkan pandangannya ke segala arah. Aro terus menggodanya dengan menyundulkan kepalanya ke kepala Ara.


"Sini lihat lagi, deh!"


"Mas, udah deh. Ayok pergi!" Ara tak mau menampakan wajahnya ke hadapan Aro.


"Kamu dandan buat ketemu aku?" selidik Aro masih terus berusaha agar dapat kembali melihat bibir Ara.


"Kamu kebanyakan main adegan dewasa jadi mesum gitu, Mas!" umpat Ara, entah mengapa ia tak rela menepis tangan Aro yang masih memegangnya.


"Aku cuma tanya, kamu dandan buat aku?" Aro mengulang pertanyaannya.


Ara menggeleng, "Udah, Mas. Ayok pergi!"


Aro sebenarnya ingin lebih jauh menjahili adiknya itu, tapi melihat wajah Ara yang sudah sangat merah ia jadi tak enak hati melanjutkan kejahilannya.


Dengan gerakan perlahan, Aro melepaskan tangan Ara. Ia kembali mengambil helm yang tadi terjatuh lalu memakaikannya pada Ara. Ara diam saja, seperti tersihir oleh Aro yang hari itu terlihat lebih tampan di matanya.

__ADS_1


"Naik motor itu wajib pakai helm," ujarnya seraya menutup kaca helm kemudian menciumnya membuat Ara membulatkan matanya.


Aro segera naik ke atas motor , "Ayo, naik!" titahnya pada Ara yang masih mematung.


"Naik, Ra!" seru Aro sedikit meninggikan suaranya membuat Ara tersadar dan segera naik ke atas motor.


Saat Ara sudah duduk menyamping, Aro mengontak motornya, namun tak langsung melajukannya.


"Ra, kamu dandan buat aku bukan?" lagi-lagi Aro bertanya hal serupa seperti sebelumnya.


"Bukan, aku dandan buat diriku sendiri."


"Kirain buat aku," tebak Aro membuat Ara memukul punggungnya dan menyuruhnya segera melajukan motor.


"Ra ...."


"Apa lagi sih, Mas?" desak Ara seraya mengeratkan gigi karena kesal.


"Kamu cantik," sahut Aro kemudian melajukan motornya membiarkan Ara melongo seraya memegangi dadanya.


Sepanjang perjalanan yang tak terlalu jauh, tak ada perbincangan di antara keduanya. Aro masih membenahi hatinya yang berantakan sebab dikatai cantik oleh Aro. Dia sibuk berusaha membujuk didirnya sendiri untuk tetap bersikap wajar.


Hingga tiba di pelataran Kafe ayah mereka, Ara tak yakin wajahnya sudah kembali normal. Sebab panas di wajahnya masih sangat terasa. Ara turun dari motor dan merapikan kembali gamisnya yang sedari tadi ia gulung.


Aro melakukan hal yang sama, iapun turun dari motor kemudian membuka helm. Rambut depannya semakin panjang, seperti biasa menutupi mata.


Saking gugupnya, Ara sampai kesusahan membuka tali pengait helm. Aro yang melihatnya tertawa, padahal tinggal diangkat salah satu ujungnya kemudian ditarik hingga terlepas.


Aro mendekati Ara, ia mengetuk helm yang masih digunakan Ara.


"Sini, gitu aja nggak bisa!"


"Udah, ayo masuk!" ajak Aro setelah mengaitkan kembali helm pada setang motor.


Ara menurut ia berjalan di belakang Aro, namun langkahnya terhenti saat melihat sebuah mobil mewah yang sangat ia kenali.


"Mas, tunggu!" serunya seraya menarik kemeja belakang Aro, membuat langkah kakaknya itu terhenti.


"Mas, itu mobil umma Zha kan?" Ara menunjuk pada mobil hitam yang nampak berkilat terkena sinar matahari.


Aro mengangguk, "Nggak usah takut."


"Bukan takut, tapi nggak enak," ralat Ara.


"Kasihan bunda udah kangen sama kamu," bujuk Aro agar Ara mau masuk.


Bukan tanpa alasan mengapa Ara tak ingin masuk dan bertemu Zahra. Mereka terkadang agak lain dalam memperlakukan Ara. Ara selalu merasa tersisihkan jika keluarga besar ayahnya itu sudah berkumpul. Apa lagi jika ada Hamiza, putra Zahra yang usianya setahun di atas dirinya. Pria itu biasanya banyak menyindirnya.


"Mas, aku nggak mau masuk," Ara tetap bergeming.


"Ada aku, nanti kalau Hamiza ngomong macem-macem aku hajar dia. Aku belain kamu sekarang," ucap Aro tetap membujuk Ara.


Aro sadar dirinya dan Hamiza saat kecil sering kali mengerjai dan mengatai Ara dengan hal yang tak baik. Kini, lain ceritanya. Aro tidak mungkin membiarkan Ara disakiti oleh Hamiza.


"Ayok, bakpia sama kain batik kamu udah nungguin loh," beritahu Aro agar Ara segera menepis kekhawatirannya.


"Ya udah, ayok!" dengan perasaan berat hati Ara mengikuti langkah Aro.

__ADS_1


Keduanya berjalan bersisian dengan Ara yang sesekali menghentikan langkah, namun segera ditarik oleh Aro. Ara selalu merasa tak enak dengan keluarga besar Akash. Zahra memang baik padanya, sering memberinya pakaian muslim hasil rancangannya. Namun, di lain waktu ada saja hal ataupun perkataannya yang tak mengenakan.


Sampai di depan pintu utama, Ara kembali menghentikan langkahnya karena mendengar suara gelak tawa dan obrolan yang saling bersahutan dari dalam ruang tamu.


"Mas, kayanya beneran ada Bang Hamiza deh?"


"Udah, nggak usah takut!" Aro menyemangati Ara.


Ia kembali menarik jilbab Ara agar bergerak mengikuti langkahnya. Patah-patah Ara ikut melangkah. Keduanya mengucap salam dan langsung disambut baik oleh Bumi.


Aro dan Ara bergantian menyalami para orang tua. Di sana juga ternyata ada jidda dan Ayesha. Setelah menyalami semuanya, Ara diajak duduk dekat Ayesha sementara Aro duduk di atas karpet dekat Hamiza.


"Ara, kamu cantik banget. Lama ya nggak ketemu sama Tante," Ayesha menyapa hangat Ara seraya erat memeluknya.


"Eh gimana, gimana, kamu udah pernah ikutan seminar apa aja?" tanya Ayesha antusias.


"Belum, Tan. Bulan depan sih kata Bidanku ada seminar, aku belum sempet ikutan," jawab Ara.


"Seminar apa, Ra?" Zahra ikut bertanya.


"Tentang kebidanan Umma, biar lebih mateng lagi pengetahuan kebidanannya," jelas Ara sangat hati-hati jika bicara pada Zahra.


"Oh iya, Ara sekarang udah jadi Bidan, ya?" Alisha yang sedang bergelayut manja pada lengan Bumi, aunty tercintanya, ikut bicara.


Ara menganguk, "Baru 4 bulan lulus, Kak."


"Udah kerja?" tanya Alisha, dirinya sendiri kini menjadi seorang Dokter gigi.


"Udah, Kak. Di klinik deket sini," jawab Ara yang kini duduk di samping Ayesha.


"Ara nggak jadi nikah, ya?" tebak Alisha, gadis itu sedari kecil memang selalu ceplas ceplos saat bicara, tak berfikir apakah lawan bicaranya suka atau tidak.


"Iya, Kak. Bukan jodoh mungkin," sahut Ara.


"Siapa juga yang mau berjodoh sama lo, Ra. Malu kali nanti pas akad walinya pake wali hakim. Nanti semua orang bertanya-tanya kenapa? iya kan, Mas?" Hamiza menyikut perut Aro.


Aro langsung tersulut emosinya, jika dulu dirinya juga sering menghina Ara, kini ia justru jadi orang yang paling tak ingin Ara tersakiti.


"Lo fikir, Mas. Cowok mana yang mau sama Ara? udah nggak jelas mana bapaknya, cantik juga enggak," ledek Hamiza membuat Aro justru melayangkan tinjunya pada pipi kiri Hamiza.


Semua orang berteriak histeris seraya berdiri, tak menyangka jika Aro akan melakukan hal itu.


"Jaga omongan lo, ba****t!" umpat Aro kembali meninju pipi kanan kakak sepupunya itu.


Bumi segera mendekati Aro, dan memeluknya. Pun dengan Zahra yang langsung menangkup kedua pipi putranya itu.


"Mas, lo belain adik pungut dari pada kakak sepupu lo sendiri?" tuding Hamiza seraya memegangi pipinya. Matanya menyoroti Aro penuh kebencian.


"Jaga mulut lo, siapapun gak ada yang boleh ngatain Ara," sahut Aro yang masih dipeluk oleh Bumi.


"Udah, kalian kenapa jadi bertengkar?" lerai jidda.


"Bang Miza nggak pantes bicara seperti itu, dan Mas Ar, kalau mau bela Ara nggak udah dengan kekerasan," ucap jidda menggebu-gebu.


Aro melepaskan diri dari pelukan Bumi, kemudian ia menarik pergelangan tangan Ara yang sedang dirangkul oleh Ayesha.


"Ayok, Ra!"

__ADS_1


Ara tak melawan, para orang tua juga tak melarang kepergian mereka. Aro berlari kecil memaksa Ara juga melakukan hal yang sama. Ia membawa Ara menaiki undakan tangga menuju lantai atas. Entah akan ke mana ia membawa Ara? yang pasti pergi dari Hamiza yang telah menyulut amarahnya.


Aku tunggu komennya kak, biar semangat ngetiknya. Jangan diem-diem bae, ayam tetangga aku kemaren diem bae tauknya lagi .........


__ADS_2