
Dalam lelapnya, Ara merasakan ada sentuhan hangat di pipi yang membuatnya terganggu dan membuka mata. Senyum menawan dengan barisan gigi putih langsung ia tangkap oleh indera penglihatannya begitu matanya terbuka.
"Mas tuh jahil banget deh, ah!" Ara kesal karena merasa tidurnya terganggu. Ia menegakan badannya dan bersandar pada belakang kursi.
"Kamu kalau tidur suka sembarangan," ujar Aro seraya ikut menegakkan badannya.
"Daripada Mas yang kalo ngomong sembarangan," balas Ara dengan suara khas bangun tidurnya.
"Jangan nangis lagi, Ra!"
"Omongan mereka tuh nggak pantes dapet air mata kamu."
"Kamu harus bahagia!"
Rentetan kalimat Aro membuat Ara malah ingin menangis, air matanya kembali menggenang dan siap luruh kapan saja. Padahal tadi dia sudah menangis, ingin mengabaikan, tapi hati rasanya teriris. Perih dan sesak.
Melihat netra Ara yang memupuk air mata, Aro jadi iba. Ia beranjak dari duduknya dan berjalan ke dalam kamar Ara. Di kamar yang sangat harum aroma bayi, ciri khas Ara, Aro mencari tisu, tadi dia sempat melihatnya.
Setelah mendapatkan apa yang dicarinya, aro mengambil benda lembut berwarna putih itu dan kembali ke balkon rumah.
Ara masih kuat dengan pertahanannya, bisa dipastikan matanya sangat perih. Aro segera mengusapkan tisu pada mata Ara, dia hapus genangan itu sebelum luruh membasahi pipi mulus Ara.
"Jangan nangis, nggak penting!"
"Aku nggak masalah kalau ada yang bicarakan keburukanku, tapi kalau mendengarnya langsung seperti tadi rasanya hati aku sakit banget," papar Ara, lagi-lagi air matanya menggenang.
Aro menepuk bahunya "Butuh sandaran, nggak?"
Ara menggeleng, "Jangan suka becanda!" sentaknya kemudian malah memukul bahu Aro dan yang dipukul malah tertawa seraya mengeluarkan kotak bakpia keju dari dalam papper bag.
"Aku juga nggak minta dilahirkan kayak gini, kalau semua anak boleh menentukan takdir, aku akan minta dilahirkan dari Bunda Siti Khadijah," ungkap Ara, suaranya bergetar masih menahan tangis.
Alih-alih menjawab, tangan Aro malah memegangi bakpia, siap menyuapi Ara.
"Ak ...."
"Makan ...!"
Belum sempat Ara melanjutkan kata, Aro sudah lebih dulu menyuapkan bakpia ke mulutnya. Membuat Ara mau tak mau menggigit ujung bakpia itu dan mengunyahnya.
"Jangan nangis lagi kecuali bahuku yang menjadi sandaranmu!" seru Aro seraya kembali menyuapkan bakpia ke mulut Ara, yang disuapi menurut saja.
Mereka tak lagi bicara, hanya saling diam dengan Aro yang terus menyuapkan kue itu pada Ara. Seperti biasa, Ara tak bisa menolak, selain enak, kue itu juga membuat perasaannya menghangat. Entah kuenya, atau yang menyuapinya.
"Sekarang giliran bayarannya," ujar Aro menengadahkan tangan kananya ke wajah Ara.
"Kamu tuh sebentar manis, sebentar nyebelin," cibir Ara seraya merogoh tas slempang yang sedari tadi ia sampirkan di pundaknya. Ara sedikit mengaduk-aduk isi tasnya hingga mendapatkan benda yang dicarinya. Sebuah dompet kecil berwarna hitam. Diambilnya uang lembaran seratus ribu dan memberikannya pada Aro.
"Cukup nggak?" tanya Ara.
"Bayarannya cukup kamu ikut aku sore ini ke suatu tempat," Aro mendorong tangan Ara yang sedang memegangi selembar uang merah itu. "Aku nggak butuh uangnya."
"Aku kerja, Mas," sanggah Ara seraya kembali memasukan uang ke dalam dompet. Bagi Ara seratus ribu itu sangat berarti.
"Tuker shift sama temen kamu bisa, kan?" bujuk Aro seraya mengambil remahan bakpia di ujung bibir Ara.
"Mas ih!" Ara menepis tangan pria yang mengenakan kemeja putih itu, "modus banget," imbuhnya seraya menyapu ujung bibirnya dengan punggung tangan.
"Ayok telepon temen kamu!" suruh Aro, ia jahil menarik bagian depan hijab Ara, padahal susah payah Ara membentuknya dengan sempurna. "Besok aku sibuk kerja lagi, hari ini doang liburnya," lanjutnya kemudian mengeluarkan rokok dari saku celananya.
Ara beranjak, ia tak bisa menolak permintaan kakaknya itu. Ara menjauh dari Aro untuk segera menghubungi Ligar, meminta temannya itu untuk double shift. Ligar ternyata tak menolak, ia sanggup sebab dirinya sendiri besok akan ada acara makan malam bersama keluarga Regas, kekasihnya.
Selesai menelepon Ligar, Ara juga menghubungi Vanya. Ia bertanya apa maminya itu sudah makan?
Sempat berbincang sebentar mengenai kucing, dari maminya Ara tahu bahwa kucing itu sudah bisa berjalan normal. Ara mengucap hamdallah mendengarnya, sungguh Allah Sang Maha Pemilik kehidupan. Dari-Nya musibah datang, oleh-Nya musibah hilang.
__ADS_1
Ara kembali ke kursi yang tadi ia duduki dan mendapati Aro sedang menghisap rokok seraya memutar musik dari ponselnya.
Memenangkan hatiku bukanlah
Satu hal yang mudah
Kau berhasil membuat
'Ku tak bisa hidup tanpamu
Ara duduk kembali sambil menyoroti Aro dengan tatapan tak suka. Aro yang sadar mendapati Ara yang menatapnya sinis mengerutkan dahinya seraya memukulkan ponselnya ke pipi Ara.
"Kenapa?"
Ara menggeleng, "Aku nggak suka Mas merokok terus. Kataku apa kemarin?"
Aro menghela nafas, ia baru ingat akan ucapan Ara tempo hari tentang dirinya yang melarang Aro merokok.
"Susah, Ra. Kamu ngggak ngerasain sih," keluh Aro, ia mengeraskan volume musik yang diputarnya.
Menjaga cinta itu bukanlah
Satu hal yang mudah
Namun sedetik pun tak pernah kau
Berpaling dariku
Beruntungnya aku
Dimiliki kamu
"Bisa, Mas. Di Puskesmas depan ada loh terapi buat bikin berhenti ngerokok, temenku pembimbingnya," beritahu Ara, berharap semoga Aro tertarik.
Aro tersenyum, "Ya udah kalo gitu aku terapi aja ke kamu, gimana?" Aro menaik turunkan alisnya seraya kembali menyulut rokok.
Kamu adalah bukti
Dari cantiknya paras dan hati
Kau jadi harmoni saat kubernyanyi
Tentang terang dan gelapnya hidup ini
"Kamu mau nemenin aku nggak?" Aro bertanya balik, tangannya jahil menarik hijab yang sedang Ara gunakan untuk menutupi wajahnya. Ara buru-buru menepisnya, membuat Aro tertawa sebab merasa puas membuat Ara terganggu.
"Lama-lama tangannya aku ikat pakai rantai kapal ya, Mas!" ancam Ara, "Nggak bisa diem banget!" imbuhnya seraya membetulkan posisi hijab yang sedang ia pegangi untuk menutup wajah.
Ponsel Aro masih terus mengalunkan nada indah yang seolah mewakili perasaannya terhadap Ara.
Kaulah bentuk terindah
Dari baiknya Tuhan padaku
Waktu tak mengusaikan cantikmu
Kau wanita terhebat bagiku
Tolong kamu camkan itu
"Aku maunya diikat pakai ikatan batin, Ra," sahut Aro seraya membuang rokoknya sembarang.
Ia merubah posisi duduknya jadi menghadap pada Ara, ia lipat kakinya jadi bersila.
"Ra, kamu pernah sakit hati nggak sama aku?" tanyanya serius, alunan musik menjadi backsound kebersamaan keduanya.
__ADS_1
"Maksud Mas apa?" Ara sungguh merasakan debaran dalam hatinga kembali tak karuan, berantakan setelah susah payah ia benahi tadi.
Tangan Aro terangkat menepuk bahu Ara, "Maafin aku ya, Ra. Udah sering jahat sama kamu, aku nggak pernah benar-benar benci sama kamu,"
Ara gelagapan, hijab yang menutupi wajahnya sampai terlepas sebab tangannya gemetaran. Ara membuang pandangannya ke segala arah, ia tak ingin menatap mata Aro yang sedang menatapnya.
"Apa sih, Mas? ngapain ngomong kayak gitu?" Ara pura-pura membetulkan letak hijabnya yang sebenarnya sudah rapi, membuat Aro tertawa karena gemas melihat gadis itu begitu salah tingkah.
"Aku cuma mau maaf kamu, Ra." Aro mengambil tangan Ara yang sedang saling bertautan, namun Ara menepisnya.
"Mas, aku nggak mau dipegang-pegang!" sentak Ara membuat Aro kembali menjauhkan tangannya.
"Aku serius minta maaf, Ra. Aku mau kita baikan, aku mau kamu nggak marah-marah terus sama aku. Aku mau kamu peduli sama aku. Aku mau dianggap baik sama kamu," pinta Aro dengan segala keegoisannya.
Ara tertawa, kemudian memberanikan diri menghadap pada Aro.
"Aku selama ini selalu baik sama kamu, aku selalu peduli," ucap Ara tangannya jahil membalas menyentil ujung hidung Aro, "Kamu yang nggak pernah peduli dan nggak baik sama aku," imbuhnya sekali lagi menyentil ujung hidung itu.
"Jadi kita baikan?"
"Aku selalu baik, Mas," jawab Ara cepat kemudian beranjak dari kursi dan berdiri, merapikan gamis bawahnya.
"Aku mau ke bawah ambil minum," pamit Ara seraya berlalu membuat Aro seketika berdiri dan mengikuti langkahnya. Ia tak ingin Ara kembali dikatai oleh Miza, meski saudaranya itu sudah berjanji akan bersikap baik pada Ara.
Suara percakapan masih saja terdengar di ruang tamu, Ara sedikit mengendap-endap saat mengambil minum. Ia tak ingin terlihat oleh siapapun. Tak ingin lagi mendengar hal-hal tak baik.
Ara duduk di salah satu kursi yang menghadap meja makan. Meminum air putih dingin yang menyegarkan. Aro yang baru datang, ikut duduk pada salah satu kursi, merebut gelas yang sedang dipegang Ara dan meminumnya, membuat air putih dalam gelas itu tandas tiada sisa.
"Ngapain sih ngikutin?" tanya Ara, merasa risih selalu diekori Aro
"Memastikan kamu nggak ada yang ganggu," sahut Aro cepat.
Derap langkah seseorang terdengar mendekati keduanya, Ara dan Aro sontak menoleh ke sumber suara yang ternyata adalah Bumi.
"Mas, ditunggu ayah di atas tuh! Mau ada perlu katanya," beritahu Bumi pada Aro, tangannya mengelus sayang kepala Aro.
"Rambutnya udah panjang ini, Mas!" serunya seraya mencium pucuk kepala putranya itu, "Potong ya, Bunda nggak suka anak ganteng Bunda berantakan gini," imbuhnya seraya merapikan letak rambut Aro.
"Iya, Sayangku," balas Aro seraya mencium kedua pipi bundanya kemudian pergi menemui ayahnya sesuai titah sang bunda.
Seperginya Aro, Bumi menempati kursi bekas Aro duduk. Ia tersenyum ke arah putri kesayangannya yang juga balas tersenyum.
"Duh, punya kucing nggak bilang-bilang sama Bunda," sindir Bumi seraya mengusap punggung tangan Ara.
"Pasti Atar yang bilang, ya?" tebak Ara dan diangguki oleh Bumi.
"Bunda dulu sempet pengen pelihara kucing, tapi dilarang sama ayah," cerita Bumi, mengenang ketika masa kehamilan anak kembarnya betapa manja sikapnya terhadao Akash. "Padahal kan lucu, ya?" lanjutnya membayangkan anak kucing yang gemuk dengan pipi bulat dan hidung pesek.
"Pelihara sekarang aja," usul Ara.
"Kalau sekarang inginnya pelihara cucu, bukan kucing," timpal Bumi membuat Ara mengerutkan kening.
"Bunda kecewa aku nggak jadi nikah?" tuding Ara seraya menyelisik ke wajah bundanya itu.
"Enggak, bukan gitu," sanggah Bumi, "maaf sebelumnya, tapi boleh Bunda tahu sesuatu tentang perasaan Ara?"
Ara mengerutkan kening, belum mengerti arah pembicaraan bundanya. Ia masih menunggu Bumi yang sepertinya susah akan mengucapkan kalimatnya.
***
Maafkan bila selama ini aku bikin cerita yang ngebosenin ini, maaf mungkin belum bisa apik dan mengaduk oerasaan kalian. Btw, cerita hari ini terispirasi dari curhatanku dengan seseorang kemarin sore.
Mana ya orangnya? baca nggak ya? komen nggak ya? ngelike nggak ya? makasih kakak baik hati yang selalu respek sama aku. Respek nggak kak?
Makasih semuanya, tolong ingatkan aku bila aku mulai salah arah, jangan meghilang apalagi pergi. Buat Hamiza dan keluarga Akash pengen banget ngasih pelajaran, mungkin next episode.
__ADS_1
Makasih semuanya, semoga kalian nggak kecewa sama storyku ini. Aku sayang banget sama kalian. Like dan komen kalian selalu berharga untukku. Laf u all