
Saat tiba di toko, Omar terlihat berwajah segar sedang duduk di kursi yang menghadap meja kasir dengan secangkir kopi yang masih mengepulkan uap.
"Eh tumben ini bumil ikut?" sapanya pada Ara setelah menjawab salam pasangan suami istri itu.
"Mau ke Babby house ceritanya," sahut Ara sembari mengedarkan pandangan pada seluruh penjuru ruangan. "Sekalian deh ke sini dulu," lanjutnya seraya melirik Aro yang sedari tadi merangkul bahunya.
Kemudian Ara diberi pilihan menunggu di ruangan suaminya atau ikut bersamanya untuk mengecek karyawan yang sedang menjahit di lantai dua? Tentu saja Ara ingin ikut dengan suaminya itu.
Sebelum pergi ke lantai dua sebagai tempat jahit pakaian, Omar memberi tahu Aro bahwa pesanan 50 potong gamis yang dipesan ibu-ibu pengajian rekan bunda sudah selesai dan siap diantar. Selain kaus dan pakaian anak muda, tokonya kini menyediakan pula gamis yang dijahit sendiri oleh karyawannya.
"Karena minat terhadap pakaian muslim semakin tinggi." Begitu kata Aro saat istrinya bertanya mengapa menyediakan pakaian muslim?
Berawal dari Alisha, sang sepupu yang mencoba-coba menitipkan brandnya di toko dan ternyata diminati. Oleh Alisha pula, ia dibantu mencari tenaga penjahit yang handal. Diarahkan harus mencari bahan kualitas bagus di mana? Hasilnya, produknya banyak diminati. Harga yang ia tawarkan tidak terlalu mahal, meski bahan berkualitas bagus.
"Karena kalau kita kasih harga terlalu mahal, khawatir yang terjual sedikit. Bukan mau membanting harga milik brand lain, tapi yang penting orang senang memakainya, lakunya banyak dan ada lebihnya untuk gaji pegawai dan kebutuhan lain." Begitu ucapnya saat ditanya oleh bunda kenapa harga jual pakaiannya terbilang murah?
Bisnis yang ia jalankan ini tidak serta merta langsung terkenal dan banyak peminatnya. Ia mengawalinya dengan berbagai perasaan khawatir. Saat memutuskan membuka toko pakaian, targetnya hanya anak-anak muda.
Saat semakin hari, peminatnya semakin banyak. Barulah Aro berpikir untuk membuat brand sendiri dengan kualitas bagus tentunya. Dibantu Alisha yang memang ahli di bidang fashion, warisan dari ummanya, Aro diarahkan untuk memilih jenis bahan yang akan dijadikan baju. Semua tentu butuh proses hingga mencapai titik seperti saat ini. Ia bahkan sempat dicurangi oleh pegawainya sendiri. Bahan untuk pembuatan kaus dibawa kabur. Bahkan, beberapa potong yang sudah jadi juga diambilnya.
Ketika mengawali usahanya, ia harus berjauhan dengan Ara. Tanpa wanita itu memberinya kabar. Bukannya itu sangat menyakitkan?
Untuk membunuh rasa rindu yang terus tumbuh setiap waktu, jadilah dia menyibukkan diri dengan bekerja. Bersama Omar yang selalu setia ia merintis toko mulai dari nol. Popularitasnya sebagai artis, ternyata ada gunanya. Ia tak kesulitan promosikan tokonya di media sosial. Beberapa hari dibuka, tokonya sudah ramai pembeli.
Awalnya Aro hanya menyediakan jaket, kaus, celana, aksesoris seperti kaca mata, topi dan gelang-gelang anak muda.
Setelah toko berjalan dan memiliki banyak pelanggan, ia merambah ke dunia barber**shop. berawal dari seorang bapak paruh baya yang berprofesi sebagai tukang cukur keliling, ia ingat betul pertama kali bertemu pria itu di jembatan OTISTA. Saat itu dirinya dan Omar sedang jalan-jalan sore, lalu bertemu pria itu sedang berjalan gontai menyampirkan tas ransel lusuh dengan cermin besar di tangannya.
Ia dan Omar kemudian sama-sama memakai jasa pria itu untuk memangkas rambut. Hasilnya, ternyata bagus dan rapi. Pria itu juga pandai pijat refleksi. Tercetuslah ide yang awalnya sangat becanda dan receh dari Omar untuk membuka barbershop.
"Elo tega liat bapak-bapak itu keliling panas-panasan padahal kemampuannya bagus." Omar saat itu membujuknya untuk membuka barber**shop dan menjadikan sang tukang cukur keliling sebagai karyawan.
Saat dibicarakan dengan pria itu, tentu saja beliau setuju. Bahkan, ternyata putranya juga sempat bekerja di barbershop. Namun, sudah berhenti sebab sakit. Saat ingin kembali, posisinya sudah digantikan oleh orang lain.
Jadilah usaha yang berawal dari sekedar candaan itu terbentuk. Di luar dugaan, bahkan bulan berikutnya Aro sampai merekrut karyawan lagi karena pelanggan semakin banyak yang datang.
Berhasil dengan kedua usahanya, ia merambah usaha pencucian mobil dan motor. Alasannya membuat usaha tersebut berawal dari kasihan pada putra satpam komplek yang kesulitan mendapat pekerjaan dengan ijazah SMA.
"Keahlian anak saya cuma cuci mobil, dari kecil sudah sering nyuciin angkot trayek Cibinong." Begitu kata sang satpam komplek saat Aro bertanya apa keahlian putranya.
"Aku baru tahu kalau serame ini, Kak," komentar Ara setelah ia ikut dengan Aro ke tempat pencucian mobil dan motor juga barbershop.
"Pesona keartisannya kebawa sampe sekarang, Ra," seloroh Omar.
"Masih suka ada cewek-cewek yang deketin, nggak?" bisik Ara saat suaminya serius menerima telepon dari rekannya sementara dirinya duduk bersama Omar di balik meja kasir.
"Menurut lo?" tanya balik Omar diakhiri tawa.
Tawa Omar yang membuat mood Ara tiba-tiba memburuk. Terlebih saat di tempat pencucian mobil dan motor tadi ada beberapa wanita yang menunggu di ruangan. Meski, Aro tak menyapa mereka.
Saat Aro menghampiri Ara, ia merasakan ada yang beda dari raut wajah istrinya itu.
"Hei, kenapa? bosen?" tebaknya seraya menjawil kedua pipi istrinya.
"Mas, orang lain bikin tempat pencucian mobil tuh nggak pake ruang tunggu deh," protes Ara.
"Ya walaupun ada, standar aja nggak pake sofa bagus sampe sediain air minum segala," lanjutnya.
Aro masih tak mengerti ke mana arah pembicaraan istrinya.
"Kan ruangannya dipake buat simpen sabun, oli, aksesoris, dan barang-barang lain bukan khusus buat pelanggan doang," jelas Aro seraya meraih tangan kiri Ara lalu menggenggamnya.
"Itu juga salah satu trik biar ramai pengunjung. Bukankah pelanggan adalah raja?"
"Lagian aku nggak pernah stay di sana. Aku kebanyakan di sini sama Omar," lanjutnya yang mulai paham istrinya sedang cemburu.
"Aku nggak suka lirik barang haram," bisiknya membuat darah Ara jadi berdesir.
Sejurus Ara menoleh hingga pandangan mereka bertubrukan.
"M-maksudnya?" Ara mengerjapkan mata saat wajah Aro semakin mendekat.
Tak peduli dengan keberadaan Omar di antara mereka. Omar sendiri sudah biasa dengan kelakuan keduanya. Jiwa jomlonya saja yang meronta-meronta.
Dunia gue sibuk ngurusin elo, sampe jomlo terus dah.
"Allah melarang hambanya mendekati sesuatu yang haram bukan? insya Allah aku pasti jauhin. Aku maunya deketin kamu aja, udah jelas kehalalannya." Wajahnya semakin mendekat membuat Ara refleks tutup mata.
Jangan sekarang, dong!
Melihat ekspresi istrinya yang malu-malu takut, Aro malah tertawa dan menjauhkan diri. Membuat Ara membuka mata dan menyembunyikan senyum dengan mengusapkan telapak tangan kanannya ke bibir.
"Jangan khawatir," ucap Aro mengusap punggung tangan Ara yang masih ia genggam. "Cuma kamu yang bisa mengalihkan duniaku," lanjutnya membuat Ara mengangguk.
"Apalagi kalau sedang ...." Aro menaik turunkan alisnya membuat wajah Ara memerah.
"Mas, nggak enak didenger kak Omar!" Ara membolakan matanya, hapal betul apa yang akan diucapkan suaminya.
"Enggak denger kok, Ra. Cuma jadi pengen muntah aja," sindir Omar membuat Ara dan Aro saling pandang dan tertawa.
Atensi ketiganya teralihkan pada seseorang yang baru saja datang. Wanita bertubuh mungil yang berlari-lari kecil serta berteriak.
"Omar, Aro ....!" Gayanya lincah bak personel girl band.
Wajahnya cantik dengan rok mini dan kaos ketat membungkus tubuhnya.
Omar keluar terlebih dulu dari meja kasir.
"Davina!" sapa Omar saat wanita itu tiba di hadapannya. Keduanya bersalaman dengan Davina yang nampak genit. Mengedipkan sebelah mata, selalu begitu. Membuat Omar meringis.
Aro tak lekas beranjak dari tempatnya duduk. Ia malah menjatuhkan kepalanya ke pundak Ara dan bergumam, "ngantuk banget."
Membuat Ara mengusap lembut pipinya. Namun, suara Omar yang memanggilnya membuat Aro terpaksa beranjak.
"Aku ke Omar dulu." Namun, ia sendiri ragu sebab jelas-jelas sudah tahu siapa yang datang.
Males banget ketemu dia.
__ADS_1
"Ra, yang barusan datang itu Davina," beri tahu Aro.
"Temen Mas yang penulis juga?" tebak Ara.
"Sekarang bukan lagi," sanggah Aro.
"Dia ... gimana ya." Aro ragu menjelaskan tentang siapa Davina.
"Dia suka ke kamu?" tebak Ara dengan mengulum senyum.
"Aku udah bisa tebak dari awal Davina Davina itu sering maksa Mas lanjutin nulis." Ara beranjak dari duduk sambil mengusap perut.
"Aku yakin kamu nggak tertarik sama barang haram, sana temuin! Mungkin mau pesan gamis," seloroh Ara membuat Aro yakin untuk beranjak dan menemui Davina.
Kali ini elo harus sadar, Davina.
Davina dan Omar sedang berdiri di depan rak topi dan sabuk. Wanita itu menjajal satu persatu topi yang sebenarnya lebih cocok digunakan oleh pria.
"Aro, apa kabar?" sapa Davina ramah saat Aro tiba.
"Alhamdullillah, baik." Aro menjawab dengan ekspresi datar.
"Mar, gue sama Aro pengen ngobrol empat mata." Davina melirik Omar.
"Omar tetep di sini atau elo aja yang pergi!" tegas Aro.
Davina kaget, biasanya Aro tak menggunakan kata elo gue saat bicara.
"Ada apa?" desak Aro, ingin Davina cepat bicara lalu pergi.
"Cuma mau ngasih tahu kalau Tante Kinan sekarang dirawat di RSJ." Davina dengan sengaja menyelipkan rambut ke belakang telinganya.
"Kamu nggak usah cemas dia nggak bakal ganggu lagi."
"Meski dia tanteku, aku tetep nggak suka caranya yang licik."
"Caraku dan cara Rea suka ke kamu beda."
"Dia obsesi, tapi aku tulus."
Hello!
Suka ke suami orang dengan keadaan elo yang bersuami dibilang tulus?
Tulus dari segi mananya?
"Kamu tahu 'kan, preman itu sempet kasih laptop kamu ke aku." Davina masih melanjutkan bicara sementara Omar dan Aro saling bertukar pandang dengan wajah sama-sama meringis.
Jijay
"Tapi aku nggak mau karena, aku tulus ke kamu." Davina menelan ludah kemudian melepas topi yang bertengger di kepalanya.
"Aku lega udah sampein ini ke kamu," ucap Davina diakhiri helaan napas panjang seraya mengembalikan topi pada tempat semula.
"Tidak sepantasnya seorang wanita yang bersuami bicara seperti itu pada pria beristri," sanggah Aro.
Davina tertawa, ia bergerak satu langkah ke hadapan Aro. Reflek Aro mundur.
"Suka doang, Ar. Emang kamu nggak bosen sama istri kamu?" tuding Davina membuat Aro muak.
Sementara, di balik rak topi dan sabuk itu berdiri Ara yang sedari tadi mendengarkan ucapan mereka. Ada sakit yang mengiris hatinya mendengar perkataan Davina. Tapi, juga bahagia sebab suaminya benar-benar tegas menghadapi Davina.
"Istri gue itu secantik bidadari. Mana bisa gue bosen. Yang ada gue nggak pernah mau jauh dari dia." Aro mengeraskan rahangnya, kedua tangannya mengepal.
Kalo cowok, udah gue hajar, lo!
Pertahanan rasa percaya diri Davina goyah, ia tentu kesal dengan apa yang diucapkan Aro. Jauh-jauh ia datang dari Jakarta hanya untuk menemui Aro. Berharap Aro simpati padanya karena telah menolak laptop yang ditawarkan dua preman tempo hari. Hasilnya, ia malah dicampakkan. Sakit. Memalukan.
Mana boleh gue ditolak begini!
"Ya ... aku tahu ... udah pernah lihat juga ... padahal cuma mau ngajak main-main." Davina mengulurkan tangan hendak menyentuh tangan Aro namun gerakan tangannya menggantung di udara sebab terdengar suara benda jatuh.
Ara tak sengaja menjatuhkan sebuah tas. Ia awalnya tak ingin menguping, tapi penasaran juga apa yang ingin dikatakan Davina?
"Elo mending pergi. Gue bisa aja bilang ke Pak Pandu tentang kelakuan buruk elo. Emang gue nggak tahu elo ada main sama anak SMA?" ancam Aro membuat nyali Davina menciut dan hancur bak kertas dilalap api.
Davina melangkah pergi dengan lutut gemetar. Sungguh ucapan Aro sepertinya tidak main-main. Tentu saja dia takut suaminya tahu apa yang selama ini ia lakukan. Davina sempoyongan berjalan menuju pintu ke luar.
Tinggal beberapa langkah lagi wanita itu menarik pintu kaca. Sebuah sapaan lembut seseorang menahannya.
"Tunggu, Mbak Davina." Adalah Ara yang bicara.
Davina sontak menoleh, ia langsung disuguhkan dengan senyuman manis seorang wanita yang ia kenal sebagai istri Aro.
Wanita beruntung.
"Saya nggak sengaja denger omongan Mbak ke Mas Ar." Ara mengulurkan tangan, "saya Ara. Istrinya Mas Ar. Dan, ini calon bayi kami," lanjut Ara seraya mengusap perut dengan tangan kiri.
Davina menerima uluran tangan Ara. Dengan wajah meringis ia menyebutkan namanya.
"Davina Hasyim."
"Mbak Davina, terkadang untuk sebagian orang, milik orang lain itu terlihat menarik ketimbang milik sendiri," ucap Ara membuat Davina menunduk.
Aro dari kejauhan sudah ingin menghampiri Ara dan Davina. Ia takut Davina menjahati Ara.
"Udah, kita tonton aja dulu," cegah Omar.
"Tapi, Mar ...." Aro memaksa ingin mengajak Ara pergi dari tempatnya berdiri saat ini.
"Padahal sejatinya, apa yang kita punya juga bisa saja menarik di mata orang lain. Yakinlah, banyak orang yang ingin hidup seperti Mbak Davina. Jangan merendahkan harga diri Mbak hanya demi sesuatu yang bisa menghancurkan hidup Mbak sendiri."
"Cintai apa yang Mbak punya, maka hidup Mbak pasti jauh lebih bahagia dan merasa cukup. Terima kasih sudah suka sama suami saya. Tapi, maaf suami saya cuma satu saya nggak bisa bagi untuk siapa pun."
Davina tiba-tiba saja berkeringat, perkataan Ara begitu halus namun sungguh bertalu-talu menyentuh hatinya. Ia teringat wajah suaminya, Pandu. Bagaimana cara Pandu mencintai dan mengasihinya, terbaik.
"Coba Mbak tatap suami Mbak saat tidur. Lihat guratan wajahnya yang udah seharian kerja. Lihat lengan dan punggung tangannya yang menyembulkan urat karena lelah bekerja."
__ADS_1
Ara merangkul bahu Davina yang semakin menunduk. Entah karena malu, marah, atau apa?
"Saya yakin, hati Mbak ini pasti terenyuh melihatnya. Apapun masalah yang sedang Mbak hadapi, semoga cepat selesai." Tangan Ara yang melingkar di bahu Davina dengan lembut mengusap bahu itu.
"Masalah itu dihadapi dan diselesaikan. Bukan ditinggalkan dan dibiarkan." Ara melepaskan rangkulannya. Sedikit menjauhkan badan, memberi Davina ruang untuk bergerak atau malah melangkah pergi?
Davina tentu melangkah pergi membawa rasa malu. Dia sempat berpikir bahwa Aro akan dengan mudah menerimanya.
Prok! prok! prok!
Suara tepuk tangan Aro dan Omar menghampiri Ara yang masih berdiri di tempatnya.
"Gue kira elo mau nyakar Davin, Ra," seloroh Omar membuat Ara menggeleng.
"Ngotorin tangan aja," sahut Ara dengan nada kesal.
"Aku ke ruangan kamu ya, Mas," pamit Ara.
Aku cemburu mendengar ada wanita yang bilang suka ke kamu, Mas.
Tiba di ruangan suaminya yang tak terlalu luas, Ara segera kembali menutup pintu namun sebuah dorongan lembut pada pintu membuat benda itu malah terbuka lebar.
"Mas Ar," gumam Ara.
Aro tersenyum, kemudian menutup pintu dan menguncinya.
Kok dikunci?
"Kamu hebat bisa setenang tadi," puji Aro.
"Aku sedang menjaga apa yang kupunya." Ara tersenyum simpul.
"Aku seneng dijagain kayak gitu." Aro merangkul bahu istrinya.
"Ish, apa sih?"cibir Ara seraya menggedigan bahu, berharap tangan suaminya terlepas dari sana.
"Kayaknya cuma di sini yang belum jadi jejak kenangan kita," seloroh Aro menunjuk pada tempat tidur single size berukuran 90x200.
Hello, itu terlalu sempit nggak sih?
"Kita hati-hati ... sebentar ...." Aro memandang istrinya dengan tatapan sayu, dan penuh keinginan.
"Tapi ...." Ara ragu.
Hei, aku nggak bawa ganti.
"Omar nggak pernah tidur di sini. Kamar mandinya di dalem, tuh!" menunjuk dengan dagu ke pintu kamar mandi. "Emang nggak ada bathub-nya, tapi air hangatnya siap sedia kok."
"Tapi, bukan itu ...."
"Nanti aku beli yang baru, pakaian dalem 'kan?" tebak Aro.
Udahlah, nggak ada lagi alasan buat nolak. Kamu menang, Mas!
***
Seperti biasa, selesai kegiatan membuai istrinya Aro akan segera membersihkan diri sedangkan Ara akan istirahat beberapa saat. Terlebih dia tak mau mengenakan lagi pakaian yang sama setelah mandi.
"Aku ambil baju dulu buat kamu." Lalu mengecup pucuk kepala dan bahu yang masih berkeringat itu. Cantik.
Rambutnya jelas masih basah saat ke luar ruangan. Tentu saja Omar mengolok-oloknya.
"Simpen hair dryer satu lah di kamar!" teriak Omar saat Aro berjalan menaiki undakan tangga untuk ke lantai dua.
"Disetrika yang rapi, kalo udah beres bawa ke meja kasir," pesan Aro seraya menyerahkan gamis dan hijab yang ia pilihkan untuk Ara.
Setelah karyawannya mengangguk, baru ia pergi. Tujuannya sekarang adalah toko perlengkapan bayi untuk membeli minyak telon dan pakaian dalam istrinya. Tak susah ia mendapatkan kedua barang yang dibutuhkannya.
Saat kembali, istrinya sudah duduk di tepian kasur dengan rambut basah dan hanya handuk yang melilit tubuhnya.
"Kenapa nggak dikunci?" Aro kaget dengan penampilan istrinya sementara pintu tak dikunci.
"Siapa yang berani masuk kalo di dalam kamar ada istri bosnya?" cibir Ara seraya berdiri mengambil papper bag yang ia yakini pakaian untuknya.
Selesai membalut tubuh dengan gamis berwarna kuning dan hijab warna senada, Ara meminta segera diantar ke babby house. Dia tak ingin kemalaman.
"Cendol Elizabeth dulu, baru Babby house!" tegas Ara sebelum suaminya melajukan mobil.
Semoga suasana hatinya bisa semakin membaik setelah belanja kebutuhan bayi.
Tiba di toko itu, air muka Ara berubah lebih ceria. Apalagi setelah meminum es cendol tanpa cendol. Aneh.
"Mas, baru lihat bajunya aja udah bahagia banget. Apa lagi kalau dede udah lahir," ucapnya sembari memegangi jumpsuit lucu berwarna pink. Dia peluk lalu ciumi baju itu.
Selesai memilih pakaian dan keperluan bayi, Aro membawa istrinya pulang. Ia memilih istirahat di rumah saja setelah kejutan Davina yang tiba-tiba datang ke toko. Rasanya dia hanya ingin menghabiskan waktu bersama Ara.
"Ra, kamu suka liatin aku kalau lagi tidur?" tanya Aro penasaran apakah istrinya itu melakukan apa yang ia katakan pada Davina tadi siang?
Ara yang sedang melipat mukena selepas salat isya' tertawa menanggapi pertanyaan suaminya .
"Yaah ketahuan deh aku suka liatin kamu kalo lagi tidur." Lalu ikut naik ke atas tempat tidur dan duduk di samping suaminya yang sedang menyandarkan punggung di sana.
"Semoga apa yang telah Mas usahakan untuk keluarga kita bisa menjadikan sebaik-baiknya pahala buat diri Mas."
"Terima kasih, meski sudah lelah dengan urusan kerjaan masih mau nyempetin bantu kerjaan di rumah."
"Kamu, terbaik."
Ya Allah, berikanlah kami taufik untuk mencari nafkah dengan ikhlas dan cara yang halal sehingga kami pun terbebas dari siksa neraka dan dimasukkan dalam surga.
.
.
.
Maaf kalau terlalu panjang, semoga nggak bikin gumoh.
__ADS_1
Terima kasih untuk segala bentuk dukungannya akak dan mama-mama kece. Love kalian sekebon stoberi 🤗🥰😘