
Beberapa hari berlalu, Ara nyatanya tak ingin menemui Aro. Ia mengurung diri di kamarnya. Bahkan enggan untuk berkunjung ke rumah Bumi. Ia hanya keluar untuk ke klinik, tarawih juga ia kerjakan seorang diri. Ara hanyut dalam lara yang menyakiti relungnya. Ia memilih sibuk merayu Sang Pemilik Kehidupan.
Pada Vanya dan Sanu, Ara berkata baik-baik saja. Ia bahkan hanya buka puasa dan sahur dengan air putih dan kurma. Ara hanyut dalam sedih yang berkepanjangan. Sepanjang apa? Sepanjang sungai nil, mungkin.
Sementara beberapa hari ini, Akash selalu mendatangi Aro yang mendekam di kantor polisi setempat. Akhza tak luput memberi dukungan. Siang itu bersama Omar, pria yang selalu menampakan wajah serius, datang menemui kembarannya untuk yang kedua kalinya.
"Kalau emang Rea kayak gitu, dia wajib dijebloskan ke penjara juga," celetuk Akhza.
"Kumpulin dulu buktinya, Bang," tukas Aro.
"Cuma Abang yang bisa mancing Rea ke permukaan," timpal Omar.
"Mancing gimana?" sela Aro seraya mengerenyitkan dahinya, sangat dalam.
"Abang deketin Rea, dia pasti bisa jatuh hati sama elo, Bang!" seru Omar membuat Akhza mendengus.
"Ide bagus, Mar," puji Aro
"Jangan ngaco. Gue nggak mau," kilah Akhza seraya memutar bola matanya.
"Elo tega, Bang biarin Rea terus ngedarin barang haram itu?" tuding Omar penuh penekanan.
"Kenapa harus gue?" tanya Akhza, telunjuknya mengarah pada dirinya sendiri.
"Lo mirip sama Aro. Si Rea, obsesi banget ke Aro. Dia pasti mau sama elo, Bang!" pikir Omar membuat Aro juga mengangguk, setuju dengan Omar.
"Apalagi kalau elo kasih dia sentuhan dikit aja, mati dia di tangan elo, Bang," timpal Aro membuat Akhza bergidig ngeri.
Omar terus saja merayu Akhza agar pria itu mau mengikuti sarannya menjebak Rea. Berbagai dalih Omar layangkan. Hingga jurus terakhirnya yaitu, tentang Rea yang bisa saja merusak generasi masa depan dengan menjual tanpa batas obat-obatan terlarang.
Oji menceritakan segala kebusukan Rea pada Aro. Dari Oji, Aro tahu bahwa mantan kekasihnya itu telah lama menggunakan barang haram tersebut dan jahatnya, beberapa bulan terakhir Rea lah yang sering memasok dirinya barang haram itu.
Akhza akhirnya bersedia menjebak kembali Rea, ia bahkan meminta bantuan pihak kepolisian dan BNN agar ikut serta membekuk Rea dan jaringannya. Namun, hal itu tak serta merta membuat ringan hukuman Aro, Oji dan satu lagi kawan mereka. Hukum tetap berlanjut bagi mereka, terutama Oji, sebab saat diperiksa lebih lanjut, dalam saku celananya pihak berwajib mendapati dua linting barang haram tersebut.
Saat Akhza akan pulang, Aro sempat menahannya sebentar untuk bicara empat mata dengan kembarannya itu.
"Elo mau ambil Ara dari gue, Bang?" tuding Aro dengan tampang sedih. Hopeless.
"Kenapa lo mikir gitu, Mas?" sela Akhza, kaget.
"Gue udah nyakitin dia," sesal Aro menggasak kasar wajahnya. "Bukannya lo bilang bakal ambil Ara kalau gue nyakitin dia?" lanjut Aro dengan suara bergetar.
"Come on, Bro!" seru Akhza menepuk pundak adiknya, "lo nggak salah, lo dijebak," lanjutnya seraya mengguncang bahu Aro.
"Ara sampe sekarang gak mau nemuin gue, Bang," adu Aro.
"Nggak mau nemuin bukan berarti marah, nanti gue temuin dia," sela Akhza.
"Jangan!" larang Aro, " cemburu gue lo deket-deket sama dia," sambung Aro menonjok lengan Akhza.
"Aelah, suudzon amat tuh otak. Gue mau tahu kenapa dia nggak mau nemuin elo," jelas Akhza.
"Nggak maen baper ya, Bang!" ancam Aro.
"Tadi katanya mau ngasih Ara buat gue?" goda Akhza dengan senyum jahil.
"Gue jadi ngerasa nggak pantes buat Ara," keluh Aro, sedih.
"Bikin diri lo jadi pantes. Ambil hikmah dari kejadian ini. Allah nggak mungkin kasih musibah tanpa ada sesuatu yang bisa kita pelajari di dalamnya. Allah sayang sama elo, Allah sengaja bikin elo seolah patah, biar elo nggak lebih jauh salah langkah."
Kalimat Akhza menohok hati Aro. Ia baru kali ini merasa sangat dekat dengan Akhza. Kali ini juga ia merasa harus menuruti kata Akhza.
"Balik, Mas ... Allah lagi nuntun elo ke jalan yang diridhoi-Nya. Nggak semua orang dapat kesempatan, hidayah itu harus dijemput gak bisa lo cuma nunggu. Keburu mati yang ada," rentetan kalimat Akhza semakin membuat Aro tersadar betapa selama ini ia menjauhi Sang Khalik.
"Bang, apa emang cuma elo yang pantes dampingin Ara? Gue makin ngerasa insecure," lirih Aro.
"Ara cintanya sama elo, matanya gak bisa bohong tiap kali dia mandang elo. Berjuanglah jadi yang terbaik buat Ara, jadi imam yang pantes buat dia. Sekarang mungkin waktu yang tepat, Mas," tukas Akhza merangkul bahu Aro.
"Makasih, Bang. Sorry selama ini sering banget ngerasa kalo elo nggak sayang sama gue," ucap Aro membuat Akhza melepaskan rangkulannya.
"Idiih, emang gue nggak sayang. Masih normal gue," sanggah Akhza kemudian tertawa dan hal itu menular pada Aro.
Hari itu, untuk pertama kalinya dalam hati Aro berujar gue sayang banget sama lo, Bang Za.
***
__ADS_1
Akhza
Sepulang dari menjenguk Aro, pria yang kini masih belum bisa menata hati untuk gadis lain itu, benar-benar menemui Ara. Ia datang ke rumah Ara membawakan kue pancong kesukaan gadis itu.
"Kue pancong kismis kesukaan Ara!" serunya saat Ara baru keluar dari kamar.
"Senyum dong adik Abang yang ...," hampir Akhza menyebutkan kata cantik, namun ia segera bungkam.
"Yang apa?" selidik Ara yang wajahnya nampak kusut.
"Yang apa maunya?" goda Akhza.
"Gak usah becanda," gerutu Ara seraya berjalan ke arah dapur, lalu akhza mengikutinya.
Ara menarik salah satu kursi dan duduk di sana. Akhza melakukan hal sama, keduanya duduk berhadapan. Menu buka puasa sudah terhidang di meja. Bakwan sayur atau Ara menyebutnya Bala-bala hangat dan sambal kacang serta bihun goreng yang harusnya jadi kesukaan Ara. Kali ini apa masih bisa ia santap dengan lahap?
"Ra, jangan bermuram durja terus," tutur Akhza seraya meletakan bungkusan kue pukis ke atas meja.
"Maksud Abang apa?" sela Ara dengan tatapan menuding.
"Biasa aja matanya, Abang jadi takut," celetuk Akhza membuat Ara yang sedang menatapnya membuang pandangan ke arah lain.
"Aku harus gimana, Bang?" keluh Ara matanya mulai memanas. "Aku kangen banget sama mas, tapi aku terlalu takut buat nemuin dia," lanjutnya dengan suara lirih menahan tangis.
Akhza menelan salivanya, hatinya berdenyut sakit mendengar Ara mengakui kerinduannya pada Aro. Diam-diam Akhza masih sulit menepikan perasaannya.
"Mas Ar sedih kamu nggak datang, Ra," beri tahu Akhza, berusaha ikhlas. "Dia berantakan tanpa semangat dari kamu," sambung Akhza.
"Aku malu, Bang ... malu sama Allah," sesal Ara dengan kedua netra dibingkai air mata.
"Kenapa Ra?" tanya Aro.
"Aku merasa terlalu banyak melakukan dosa. Aku dan Mas Ar sering jalan berdua, Bang. Aku senang saat mas berkata manis padaku. Diam-diam, aku bahagia saat dia mengelus kepalaku. Aku bahkan sering memandanginya dengan hati yang terus berdesir hebat, aku telah berdosa, Bang. Aku dan Mas Ar sudah membangun dosa dengan begitu kokoh selama ini. Kami sebut itu cinta. nyatanya hanya kumpulan dosa tak kasat mata."
"Di mana kamu katakan itu dosa, Ra? aku yakin kalian nggak pernah berbuat lebih dari yang Allah haramkan?" tebak Akhza dengan hati yang diam-diam cemburu.
"Bukankah pandangan juga zina? bukankah rasa ingin terus bersama juga dosa? Kami bukan muhrim tapi senang mengumbar kata cinta."
"Aku selalu bilang ke adik-adik dalam grup chat bahwa cinta adalah fitrah. Ia ada memang sengaja dicipta oleh Allah. Allah tidak pernah sia-sia dalam menciptakan segala sesuatunya. Termasuk juga soal cinta. Cinta merupakan salah satu potensi naluri yang ada pada setiap manusia. Bukan tanpa sebab adanya cinta. Allah hadirkan ia untuk menjaga kelestarian makhluk yang bernama manusia."
"Tapi aku sendiri telah salah kaprah memaknai cinta, Bang. Aku dan Mas Ar sudah terlampau jauh terlena dalam semunya cinta," sesal Ara.
"Aku mau memperbaiki diri hingga Allah sendiri yang mempertemukan kami," celetuk Ara seraya mengusap kedua ujung matanya yang berair.
"Kamu nggak mau nemuin Mas Ar?" tanya Akhza, tak percaya.
Ara menggeleng, "Aku rasa ini teguran buat aku dan Mas Ar agar kami dapat memperbaiki diri lagi, Bang."
"Mas lagi butuh dukungan," tukas Akhza.
"Aku selalu mendoakannya," balas Ara.
"Tapi dia butuh support yang lain," sela Akhza.
"Nanti aku titip sesuatu buat Mas," timpal Ara yang kemudian percakapan mereka berhenti sebab adzan magrib telah berkumandang.
***
Malam harinya, Bumi dan Akash datang menemui Ara. Sementara Akhza selesai buka puasa, memilih segera kembali pulang ke Jakarta sebab ia harus segera ke Rumah Sakit lagi.
"Ara marah sama mas?" tanya Bumi.
Ara menggeleng, " Nggak marah, Bun. Ara cuma takut kedatangan Ara malah membuat dosa kami makin menumpuk."
"Maksud Ara apa?" Bumi mengusap punggung tangan anak gadisnya itu.
Ara lalu menjawab semua keingintahuan Bumi persis dengan apa yang sudah ia sampaikan pada Akhza tadi sore. Lamat-lamat Bumi dan juga Akash meresapi setiap kata gadis itu.
"Tapi kamu nggak marah kan sama mas?" tebak Akash membuat Ara menggeleng.
"Ada yang mau Ara sampaikan ke mas?" tanya Bumi.
"Banyak, Bun. Nanti Ara titip sesuatu buat mas."
Ara membuktikan ucapannya, ia benar-benar menitipkan sebuah hampers manis untuk Aro. Entah apa isinya sampai harus dikemas dalam wadah secantik itu. Kotak berwarna biru langit dengan pita warna senada di atasnya.
__ADS_1
Titipan tersebut Akash berikan pada Aro esok harinya. Dengan tangan gemetaran Aro membuka simpul tali pita tersebut. Aroma minyak telon sangat dominan terhirup saat Aro mengelurkan satu persatu benda dari dalam kotak itu.
Sajadah, Al-qur'an, tasbih, dan minyak telon. Lalu sapucuk surat yang Ara kemas begitu manis. Kertas berwarna biru langit yang Ara gulung kemudian diikat menggunakan pita warna senada. Aro tertarik untuk membuka surat itu terlebih dahulu.
Hatinya berdebar saat baru membuka simpul pita, tangannya jadi gemetaran saat dengan sempurna kertas bertuliskan aksara tangan Ara terpampang nyata di hadapannya.
Assalamu'alaikum, Mas.
Apa kabar? aku berharap Mas menjawabnya dengan kalimat 'aku baik-baik saja' dan tentu senyuman
"Aku baik, Ra. Kamu apa kabar?" gumam Aro, kemudian melanjutkan membaca surat dari Ara.
Aku rindu, aku lara.
Menit-menitku hampa, bergulung duka.
Apa kamu merasakan yang sama?
Rasanya, sakit dan nelangsa.
Aku lewati beberapa hari dalam nestapa
Rasanya sedih ini hanya aku yang punya.
"Aku lebih rindu kamu, Ra," lirih Aro seraya mengusap ujung matanya yang berair kemudian berpindah pada bait selanjutnya.
Mas, sadarkah ini akibat kesalahan kita?
Allah mungkin sengaja membuat kita terpisah untuk memberi kita waktu meresapi dosa-dosa kita. Berapa waktu yang kita lewati dengan mengukir dosa? kita berdua berjalan bersama tanpa sadar meniti kepingan kisah menjadi setumpuk dosa.
Kita berdua asyik mengumbar cinta padahal kita bukan pasangan halal. Mata kita saling memuja tanpa sadar itu adalah zina. Hati kita terus mendamba tanpa sadar setan sedang bersorak ria. Kita sudah keliru, terlampau salah.
Aro berhenti sejenak karena hatinya diliputi sesak yang amat. Ia merasa tersentil dengan goresan pena Ara yang dibacanya.
"Astagfirullah, ampuni hamba ya Rabb," batin Aro memegangi dadanya kemudian melanjutkan membaca surat itu.
Mas, mari saling memperbaiki diri. Aku nggak datang bukan karena marah, bukan karena tak peduli. Aku hanya membatasi diri dari sebab yang mungkin akan semakin mempersulit jalan kita untuk bersama. Mari raih kembali ridha Allah, Mas. Bersama goresan aksara ini aku sisipkan beberapa benda yang semoga bisa menjelaskan betapa aku merindukanmu.
Sajadah ini adalah tempatku bersujud, di atasnya sudah banyak terukir do'a dengan air mataku. Semoga bisa membuat Mas terus bersujud di atasnya.
Al-qur'an ini yang paling sering aku pake, Mas. Bacalah selalu, semoga Allah mengabulkan do'a-do'a kita.
Tasbih ini saksi bisu tiap kali aku berdzikir. Dia sudah lusuh oleh jemariku. Semoga setiap kamu memegangnya saat berdzikir, bisa memberikan kekuatan untuk terus memohon ampunan.
Dan satu lagi minyak telon, hehehe. Artikan sendiri ya, Mas.
Jangan pernah berfikir untuk menyerah padaku, jangan pernah berfikir aku menjauhimu. Aku akan selalu ada meski bukan dalam bentuk rupa dan sapa. Aku selalu ada dalam bentuk do'a.
Mari saling memperbaiki diri, semoga saat bertemu nanti kita adalah insan yang paling mencintai Allah dan Rasul-Nya.
Salam manis, yang selalu menunggumu.
Salasika Arabella, Upil kamu, Mas hehehe.
Tiba di akhir aksara yang Ara tuliskan, air mata deras membanjiri kedua pipi Aro. Pria itu berkali-kali beristighfar. Kata-kata Ara telah menyentuh hatinya yang selama ini memang terlalu lena dengan duniawi.
Selepas Akash pulang, Aro segera memilih untuk berada di atas sajadah yang Ara berikan. Ia berharap Allah menerima taubatnya. Bibirnya bergetar saat membuka Al-qur'an yang telah lama tak ia baca. Kalam-kalam Allah yang indah, hari itu berhasil Aro lantunkan untuk pertama kalinya setelah sekian lama tak ia lakukan. Aro kembali, pulang menuju ridha Allah.
***
"Abang pokoknya pura-pura aja tanya-tanya ke Rea soal kehidupan Aro. Buruan sekarang, tuh pas dia keluar dari sana!" titah Omar pada Akhza.
Setelah beberapa hari berlalu Akhza dan Omar melancarkan aksinya menjebak Rea. Hari itu mereka berada di pelataran sebuah Kafe di kawasan Kebon Jeruk.
"Gue males, Mar deket-deket cewek tarzan begitu," tolak Akhza.
"Tarzan?" ulang Omar.
"Lihat, cuma tarzan yang pake baju dada sama paha kemana-mana," ungkap Akhza.
"Buruan, Bang keburu dia masuk mobil!" sentak Omar seraya mendorong tubuh Akhza dan mau tidak mau pria itu akhirnya berjalan menuju Rea yang sedang membuka pintu mobilnya.
"Assalamu'alaikum. Rea ...."
.
__ADS_1
.
Terima kasih buat semua dukungan yang teman-teman berikan. Maaf bila terlampau banyak kesalahan. Silahkan langsung menegurku bila kurang setuju dengan setiap aksara yang aku torehkan. Ke mana menegurnya? ke mana saja yang penting kita bertemu dan saling bertukar suara. Love, love kakak semuanya.